MERCIA

MERCIA
50. Putri Para Naga.



"Kita sepertinya mendapatkan mangsa besar bos, lelaki itu aku melihatnya di rumah makan, ia punya banyak koin emas, dan wanita itu sangat menggairahkan." kata seorang yang tubuhnya terlihat bungkuk.


"Hahaha.. kau benar sekali Jabal, jika kalian membunuh lelaki itu aku akan membagi wanita itu kepada kalian semua setelah aku puas."


"siapa kalian?, kau pikir aku apa, aku hanya akan melayani calon suamiku ini saja." kata Amara menunjuk August.


'calon suami?' pikiran August melayang, bukan karena memikirkannya malam pertama, melainkan, biaya sewa gedung, katring, seserahan, apalagi jika calon mertua request organ tunggal. mungkin aku harus menghubungi Ellias untuk meminjam uang. eh tunggu ini proxima bukan bumi tidak ada organ tunggal.


"aaawww" jerit August ketika Amara menyubit pinggangnya.


"mengapa kau diam saja, apa kau sedang memikirkan malam pertama kita menikah?" tanya Amara.


"Sebaiknya kalian menyingkir, jangan halangi kami atau kalian menyesal!" kata August tak menjawab pertanyaan Amara sambil mengusap pinggangnya yang dicubit Amara.


'wanita ini tega sekali, nyubit saja pakai tenaga dalam' pikir August mengerahkan energi penyembuh. terasa sangat panas sekali.


"tidak ada yang boleh lewat tanpa izinku, aku Lodax penguasa hutan ini."


"berhentilah membual, jangan coba menghalangi kami untuk menikah atau kalian semua aku bunuh." ancam Amara.


'wanita ini mengapa selalu membahas pernikahan' pikir August.


"BRENGSEK!" JABAL..!


Jabal mengangguk dia dan delapan orang lainnya serentak berlari menyerang August dan Amara. ketika August bersiap menahan serangan mereka, Amara menghentakan tongkatnya ke tanah, ukiran naga yang ada di tongkat putih itu bergerak masuk ke dalam tanah. tak lama tanah yang berada lima meter di depan Amara retak munculah ular naga berwarna biru seukuran batang pohon kelapa menelan Jabal dan lainnya.


Lodax melihat kejadian itu sangat ketakutan, ia berlari meninggalkan tempat itu dengan kecepatan seperti cheetah, ular naga itu melihat, lalu membuka mulutnya keluar semburan cahaya biru mengarah ke Lodax, Lodax diam tak bergerak tubuhnya telah menjadi batu hitam.


Ular naga itu kini melihat August yang tercengang dengan rahang terbuka, lalu terbang mendekat.


"Dia calon suamiku, Rogg kembalilah sekarang!" kata Amara.


Ular naga itu kembali masuk ke dalam tanah, lalu muncul kembali dari ujung tongkat itu berputar dan menjadi ukiran seperti semula.


"kau baik-baik saja?" tanya Amara.


August tersadar dari lamunannya.


"ya.. kau.. kau.. sangat hebat." kata August.


mereka pun melanjutkan perjalanannya kembali, kali ini August lebih banyak diam, pikirannya berkecamuk.


'apakah aku benar-benar akan menikahi wanita ini? dia memang mirip Julia, tetapi dia bukan Juliaku. bagaimana jika ia tau jika aku adalah makhluk bumi? bagaimana jika dia mengetahui bahwa aku berteman dengan Aruna wanita bertombak yang membutakan matanya. apa ia akan kecewa lalu menyuruh naga itu membunuhku?'


"Mengapa kau diam?" tanya Amara.


"a.. aku ingin menanyakan sesuatu" kata August.


"apa yang ingin kau tanyakan?"


"mengapa kau ingin aku menikahimu?" tanya August.


"bukankah sudah jelas, kau harus bertanggung jawab karena telah menyentuhku."


"tapi aku tak sengaja, itu juga tidak akan membuatmu hamil.. apa kau tidak pernah di sentuh sebelumnya?" tanya August.


Amara menghentikan langkahnya.


"kau pikir aku wanita apa? sengaja atau tidak kau lelaki pertama yang melakukannya." kata Amara matanya mulai basah.


"Maafkan aku, aku hanya takut mengecewakanmu dan membuatmu menyesal." kata August.


"lanjutkan saja perjalanannya." pinta Amara.


"Hey Amara, dua matahari itu sudah mau tenggelam, apa kita tetap meneruskan perjalanan atau mencari tempat bermalam?" tanya August.


"Berbahaya bila berjalan di malam hari, di sini banyak gua kita akan bermalam di salah satu gua itu. apa kau bisa melihat gunung dari sini?" tanya Amara.


"sedikit." jawab August matanya menatap tajam dada Amara.


"ambil jalan menuju sungai." kata Amara.


Tak lama mereka tiba di tepi sungai.


"mengapa kita berhenti di sungai ini?" tanya August.


"ada gua di tebing kau pasti bisa menemukannya." kata Amara.


August mengamati tebing di kanannya terlihat mulut gua yang tidak terlalu besar.


"mulut gua itu memang kecil tapi di dalamnya cukup luas, di dalam sana juga ada batu api jadi tak perlu repot mencari kayu bakar." kata Amara seperti mengerti apa yang dipikirkan August.


"baiklah kita ke gua itu sekarang." kata August.


"mandi dulu." kata Amara.


glek. August menelan ludah.


"ki.. ki.. kita akan mandi bersama?" tanya August gugup.


"bagaimana aku mandi tanganku terikat denganmu?" kata August kesal.


"buka semua pakaianmu untuk jaminan, baru aku lepaskan rantainya." kata Amara.


"ini sangat konyol." kata August.


"aku ini buta kau tak perlu malu." kata Amara.


walau sedikit canggung, August membuka seluruh pakaiannya lalu langsung melompat ke dalam sungai.


'hmm.. air sungai ini aneh sekali, baunya wangi juga bisa menghilangkan rasa lelah.'


malam pun tiba August dan Amara sudah berada di dalam gua. mereka berbaring di dekat perapian.


"Hey Amara adakah cara lain untuk mengobati matamu?" tanya August.


"aku tidak tau, aku pun ingin menanyakan kepada pamanku"


"dimana keluargamu?"


"kedua orang tuaku sudah tiada, aku hanya memiliki paman dan dua orang sepupu, lalu engkau." kata Amara nafasnya mulai berat.


"Kedua orang tuaku pun sudah tiada, hanya ada teman-temanku. ngomong-ngomong tongkatmu luar biasa, jika aku tidak melihatnya sendiri, aku pasti tidak akan percaya ada naga bersemayam di tongkat itu, apa nama tongkatmu itu?" tanya August.


tak ada jawaban.


"Hey Amara apa kau tertidur?"


"Amara.."


August menengok sebelah kanannya, tampak mata Amara telah terpejam dengan nafas yang berat. August mengusap kepala Amara.


"kau sangat mirip sekali dengan Julia." August bicara sendiri dengan pelan setengah berbisik.


"Amara seandainya kau mengerti.. aku sudah berjanji untuk tidak menjalin hubungan dengan siapapun, sebelum membalas kematiannya."


"aku bukan berasal dari bangsa petarung sepertimu, aku takut kau akan kecewa dan merasa terhina bila kau tau siapa aku sebenarnya."


"ada tanggung jawab besar dipundakku saat ini, aku tidak tau apakah aku berhasil atau tidak, banyak yang menginginkan aku mati, dan aku tidak ingin orang-orang yang dekat denganku mengalami nasib seperti Julia."


"Amara jika kau memang takdirku, aku dengan senang hati menikahimu."


"selamat tidur." August mengecup kening Amara.


Rasa kantuk mulai menyerang, August pun terlelap. tak lama kemudian Amara bangkit, ia menyentuh kening August tampak sinar putih memancar dari jari telunjuknya, lalu ia mengusap tongkatnya, tongkat itu berubah menjadi seekor ular naga biru terbang melayang-layang di dinding gua lalu turun diantara Amara dan August yang terbaring tertidur pulas.


"Rogg apa kau yakin?" tanya Amara pada naga biru itu.


"aku sangat yakin tuan putri, kami para naga bisa melihat sesuatu yang kalian manusia tidak bisa." kata Rogg.


"Raja Nyx akan menjelaskannya padamu putri." kata Rogg.


"kalau begitu aku akan mengeluarkan Nyx." kata Amara lalu mengambil sebuah mutiara dari balik bajunya lalu ia letakan di atas telapak tangan August.


Mutiara itu melayang mengeluarkan cahaya kemilau keemasan, lalu pecah dan muncul seekor naga emas.


menatap August. sementara naga biru menundukan kepalanya ketika naga emas itu muncul.


"Nyx jelaskan padaku!" kata Amara.


"Putri Amara aku punya kabar baik dan kabar buruk untukmu, Mana yang kau ingin dengar terlebih dahulu?" tanya Nyx.


"kabar baik Nyx." kata Amara.


"Dia adalah jiwa yang terpilih" kata Nyx lalu menghembuskan nafasnya ke arah August. asap tipis dari naga emas itu kini menyelimuti August. perlahan terlihat bayangan samar August menggunakan sebuah baju yang terbuat dari emas menyerupai sisik naga dan di tangan kiri August muncul sebuah perisai segitiga.


"itu.. bukankah itu mithril emas dan perisai cahaya?" kata Amara takjub.


"Benar putri, Mithril itu milik Pendragon, tuan dari para naga, sedangkan perisai itu milik Calanis sang ratu cahaya, putri Amara kau telah menemukan tuanku." kata Nyx.


Amara tersenyum. "lalu apa kabar buruknya Nyx?"


"Putri Amara.., aku dengan berat hati mengatakan bahwa ia bukan takdirmu!"


Senyum Amara langsung menghilang, butir air terjatuh dari sudut kedua matanya.


"katakan Nyx siapa yang akan menjadi takdirnya?" tanya Amara.


"Phoenix" kata Nyx.


"jadi ramalan itu benar.., Nyx lindungi dia." kata Amara.


"Putri Amara kau adalah keturunan Pendragon tuan para naga, perkataanmu adalah perintah untukku." kata Nyx. naga emas itu terbang berputar-putar kembali, lalu masuk ke dalam perisai segitiga di tangan kiri August dan menghilang. aura kebiruan pada perisai itu sebelumnya juga ikut menghilang berganti berwarna keemasan. naga biru juga ikut menghilang kembali ke dalam tongkat putih Amara.


Amara mengusap kepala August, jadi kau adalah manusia bumi itu, dengarlah aku tak pernah menganggap hina bangsa kalian, sekarang aku tau kebenarannya, tanggung jawabmu sangatlah besar, kau akan memberi kedamaian untuk dunia kami. aku Amara putri para naga berjanji akan mengerahkan seluruh naga dari tujuh dunia untuk membantumu menghancurkan iblis. hingga saat itu tiba aku akan setia di sisimu menantimu dalam kemustahilan. Amara mencium bibir August dengan mata yang berlinang.