
Beberapa hari kemudian.
Universitas Royan.
Nora mendapati Julia terlihat murung di sudut cafeteria. ia lalu menghampirinya.
"Kau tak mengikuti kelas?" tanya Nora.
"Aku malas." kata Julia.
"Dimana August?" tanya Nora.
"Jadwal kelasnya tak banyak, biasanya ia pulang lebih awal, ke tempat Mr. Borris atau pergi bersama Aira." kata Julia.
"mukamu jelek sekali apa kau bertengkar, dengannya?" tanya Nora.
"tidak.. aku hanya sedang malas" kata Julia datar.
"ngomong-ngomong kau tau dimana Aira tinggal?" tanya Nora.
Pertanyaan Nora sedikit membuat Julia terkejut mendengarnya.
"aku tak tau, mengapa kau menanyakannya?" Julia balik tanya.
"aku hanya merasa sedikit aneh melihat gadis itu." kata Nora.
"Aneh..? maksudmu? kata Julia bingung.
"apa kau tak memperhatikan, Jadwal kelasnya sama dengan pacarmu, ia tiba di kampus pun setelah August tiba, dan selama di kampus ia hanya berinteraksi dengan pacarmu itu." kata Nora.
"kau mengira ia akan merebut August dariku?" tanya Nora.
"aku rasa tidak." Jawab Nora.
"Lalu apa maksudmu?" tanya Julia semakin penasaran.
"dia seperti penjaga, ia tak membiarkan ada orang yang mencoba mendekati August untuk menyakitinya." kata Nora.
Jika orang lain mengatakannya Julia pasti tak akan menggubrisnya sedari awal, tapi ia sangat percaya Nora, Instingnya luar biasa. Julia mengetahui Nora penggemar buku dan film Sherlock Holmes atau detektif lainnya, hal itu mempengaruhi kepribadiannya. terlebih ketika malam penculikan August, ia tetap tenang tidak gegabah, bahkan ketika para penculik itu pergi Nora tidak buru buru pergi melapor atau mengikuti para penculik, justru ia memeriksa tempat kejadian dan menemukan kotak musik yang menjadi kunci di temukannya August, walaupun Julia tak tau bagaimana Aira menemukannya.
"apa alasanmu menyimpulkan seperti itu?" tanya Julia.
"Ketika Bryan membenturkan tubuhku ke loker aku melihat August berada di samping kananku, dan Aira berada di tengah kerumunan, tetapi ketika August menendang Bryan, ketika aku terjatuh aku melihat Aira sudah berada di belakang August."
"Walau kejadian itu begitu tiba tiba aku masih bisa melihatnya." kata Nora.
"aku pun merasa ia memang sedikit aneh, namun tidak terlalu memikirkan sejauh itu." kata Julia.
"aku mencoba berinteraksi dengannya beberapa kali, namun sepertinya ia selalu menjaga jarak, ia tak pernah menjawab dimana ia tinggal." kata Nora.
"kau ingin aku menanyakan pada August?" tanya Julia.
"tidak.. tidak perlu, aku bisa mencari tau sendiri." kata Nora dengan penuh semangat.
"kau memang penggila misteri. ngomong-ngomong, mengapa kau menceritakan ini semua padaku?" tanya Julia.
"sudah empat hari ini ia tak terlihat di kampus, mungkinkah sesuatu terjadi padanya?" gumam Nora.
bel berbunyi.
Nora meninggalkan Julia, masih ada dua kelas yang harus ia hadiri hari ini, sementara Julia mengambil ponselnya mengirim pesan kepada August lalu berjalan malas menuju mobilnya untuk pergi meninggalkan kampus.
HAACHII..
"sepertinya aku demam" kata Aira.
"Kau jangan banyak alasan, kemampuanmu memang payah" kata Aruna.
Aira dan Aruna kembali berlatih. dalam beberapa hari kekuatan mereka telah kembali dan meningkat.
**
"Bos kau memanggilku?" tanya August.
August yang semula ingin pulang ke rumahnya, harus memutar arah ketika Mr. Borris menelpon meminta dirinya untuk datang ke gudang.
"Hey August masuklah, aku butuh bantuanmu." kata Mr Borris.
"ada apa bos?" tanya August.
"aku memeriksa laporan pengiriman dan aku menemukan ada satu barang yang belum terkirim, pemilik barang itu menelpon kantor ini untuk meminta segera mengirimkannya, jika ia tak menerimanya pukul delapan malam ini, ia akan menghancurkan bisnis kecilku ini."
"jika menunggu kurir lainnya kembali akan memakan waktu, karena itu aku menelponmu, aku ingin masalah ini cepat beres. maukah kau mengantarnya?" tanya Mr. Borris.
"tentu saja" jawab August.
"kemana harus aku kirim paket itu bos?
"alamat paket itu di.." Mr. Borris terkejut setelah melihat alamatnya.
"ada apa dengan alamatnya bos? tanya August penasaran.
"Ah.. sebaiknya aku cari orang lain saja" kata Mr. Borris.
"Bos tenanglah, biar aku akan mengantarkan paket itu." kata August.
"Tidak.. tidak.. ini sangat berbahaya, seharusnya aku melihat alamatnya terlebih dahulu sebelum menelponmu." kata Mr. Borris.
"Bos, tidak akan terjadi apa apa." kata August.
Mr. Borris menarik nafas panjang.
"Baiklah, tapi kau harus segera mengabariku jika sudah selesai atau terjadi kendala."
"Baik Bos terima kasih!" jawab August.
August segera pergi mengirimkan paket itu dengan skuter listrik miliknya. perjalanan ke zona hitam selalu lancar, karena hampir tak ada yang mau pergi kesana.
August selalu senang jika mendapatkan job darurat seperti ini, ia bisa mendapatkan dua ratus sampai tiga ratus dollar untuk satu atau dua paket yang diantar.
pukul tujuh malam August sudah tiba di kawasan kumuh, ia hanya perlu mencari sebuah motel, karena alamat tujuan terdapat catatan dua puluh meter seberang motel. tentu ini sangat memudahkan mencarinya.
August menghentikan skuter miliknya lalu bertanya kepada salah seorang penjaga.
"Permisi benarkah ini gedung merah nomor 66, ada kiriman paket untuk Tuan Gorran."
penjaga itu menekan alat di telinganya melaporkan kepada kawannya di dalam bangunan. tak berapa lama August pun di persilahkan masuk.
Seorang penjaga di dalam menyambutnya lalu mengantarkan August ke sebuah ruangan di lantai dua.
Ketika memasuki bagian dalam gedung itu, August merasa terintimidasi dengan tatapan membunuh para penjaga. namun setelah ia menaiki tangga menuju lantai dua August mulai merasa sedikit tenang. penjaga itu lalu meninggalkan August di depan sebuah ruangan.
tok.. tok.. tok..
seorang berjubah hitam dengan tudung di kepalanya membukakan pintu. August sekilas melihat wajah orang itu terlihat sangat pucat sebelum ia menundukan wajahnya kembali dan mempersilahknnya untuk masuk.
August melihat seorang pria yang sangat besar dengan mengenakan mantel bulu sedang bermain mini golf.
"Maaf aku ingin mengantarkan paket untuk Tuan Gorran, apakah anda Tuan Gorran?."
Lord Gorran melihat jam di tangan kirinya.
"Mordo berikan anak itu uang seribu dollar!" perintah Lord Gorran.
Mordo berjalan mendekati sebuah lukisan, ia menggeser lukisan tersebut, tampak sebuah brankas tersembunyi di baliknya. setelah memasukan kode ia membuka pintu brankas lalu mengambil uang seribu dollar lalu ia serahkan kepada August.
August tercengang.
"u.. uang apa ini?" tanya August gemetar.
"tenanglah, kau berhasil menang taruhan, sebelumnya aku bertaruh pada Mordo, jika paket itu datang sebelum jam delapan aku akan memberi uang seribu dollar untuk kurir yang mengantar, saat ini baru jam 7.35 kau menang.
"Masukan uang itu dalam tasmu!" kata Lord Gorran.
dengan gemetar August memasukan uang itu ke dalam tasnya. ia benar benar tak mengerti dan juga tak ingin membuat orang-orang ini marah. August hanya mengikuti perintahnya.
"Ma.. maaf Tuan Gorran bisakah anda menandatangani tanda terimanya." ucap August.
"kau buka dulu paketnya baru aku tanda tangani" kata Lord Gorran.
August ingin menolak, tapi ia pikir tidaklah bijak. ia pun membuka bungkus paket itu perlahan, setelah bungkus paket itu disingkirkan tampak sebuah peti hitam. ia ingin menyerahkan peti itu, tetapi Lord Gorran memberi isyarat untuk terus membukanya.
August membuka peti kecil itu, tiba tiba sebuah jarum kecil keluar menancap di dada August.
"ahh.. a.. apa ini..?" kata August.
seketika tubuhnya limbung, pandangannya gelap, ia pun roboh tak sadarkan diri.
Melihat August pingsan Lord Gorran tersenyum puas.
Mordo menghampiri August yang sudah tak sadarkan diri, ia menaruh telapak tangannya dua puluh sentimeter di atas jarum hitam, jarum itu terangkat tanpa ia menyentuhnya lalu masuk kembali ke dalam peti kecil. peti itu ia serahkan kepada Lord Gorran.
"Master, racun pelahap jiwa sudah masuk berada di tubuh anak itu, apa rencanamu sekarang?" tanya Mordo.
"Lepaskan anak itu, biarkan kekuatan kristal itu melawan racun itu. aku tak ingin mengambil resiko wanita itu dan temannya datang menyelamatkan anak ini bila kita menahannya." kata Lord Gorran.
"Baik master." kata Mordo.
Mordo kembali menghampiri August, ia mengambil botol kecil dari balik pinggangnya, ia membuka penutupnya lalu menggeser geser di sekitar lubang hidung August.
August tersadar ketika mencium aroma menyengat. ketika ia tersadar, ia terkejut lelaki berwajah pucat itu berada di depannya.
"a.. apa yang terjadi.., apa yang kalian lakukan padaku?" kata August.
Mordo tidak menjawab, ia hanya menyerahkan tanda terima paket yang sudah di tanda tangani. August pun tidak melihat pria besar di sana.
"pergilah" kata Mordo datar.
August mengambil tanda terima itu, lalu bergegas pergi meninggalkan gedung merah tersebut dengan banyak pertanyaan di benaknya.