MERCIA

MERCIA
73. Aku Istrinya.



"Clara apa kau sudah mengetahui keberadaan August?" tanya Hedya.


"Belum."


"ini sudah tujuh minggu setelah kepergiannya, apakah sesuatu terjadi padanya?"


"Kau bicara apa Hedya?"


"Lady Lyra."


"Ibu."


"ini semua karena bibi yang membohonginya untuk pergi mencari bunga itu." Hedya tampak kesal.


"Bibimu pasti punya alasan, Moonheaven tidak ada, bunga itu sudah punah." kata Lyra.


"Bagaimana jika ia berhasil mendapatkan bunga? apa kalian berdua tidak memikirkan nantinya ketika melihatmu sudah sehat sedia kala, apa yang ia dapatkan dengan bertaruh nyawanya akan menjadi sia-sia?"


"Hedya apa maksudmu, apakah kau ingin aku sakit?"


"Ibu maafkan aku, bukan itu maksudku, aku hanya memikirkan perasaan August, ketika mengetahui kebenarannya bahwa ia sudah dibohongi." kata Hedya lalu pergi.


"Hedya..!"


"Anak itu.."


"Maaf lady Lyra, aku rasa Hedya ada benarnya. jika Moonheaven telah hancur dan bunga itu memang benar-benar sudah punah, aku rasa tidak akan jadi masalah, yang menjadi masalah adalah jika ia tanpa diduga ia berhasil mendapatkan bunga itu." kata Clara.


"Kau juga berpikir seperti itu Clara?"


"Walau kemungkinan itu sangat sangat kecil, tetapi kemungkinan itu tetap masih ada, aku permisi dulu Lady Lyra." kata Clara lalu pergi.


"Ahhh.. mengapa aku tidak memikirkan ini sebelumnya, bahkan Oracle juga memiliki bunga itu, aku harus bicara dengan wanita aneh itu."


Sementara itu di kota Royan.


"Rafael kau benar.., aku sudah menyelidikinya tapi hasilnya jauh lebih mengejutkan dari yang kau katakan sebelumnya." kata Valery.


"Le.. lebih mengejutkan?" Rafael terkejut.


"Dia bukan hybrid seperti yang kau katakan, dia memiliki darah Proxima murni."


"ti.. tidak mungkin.., aku sangat mengenalnya dia tidak punya kekuatan apapun."


"Aku juga tidak mengerti, kau baca saja berkas ini." kata Valery lalu memberikan dokumen pada Rafael.


"SR?" tanya Rafael.


"Super Rahasia."


Rafael membuka lembaran dokumen itu satu persatu, apa yang di katakan Valery memang benar ini sangat di luar dugaan.


"Bagaimana kau mendapatkan dokumen ini?"


"Kau tak perlu tau, Biro Hedya pun tak tau keberadaan dokumen ini."


"kita harus memberitahunya." kata Valery.


"Aku tak yakin.., aku takut dia.."


"Hey.. dia punya hak untuk mengetahuinya, aku sendiri yang akan memberitahunya asalkan kau setuju."


"Hmm.. baiklah terserah padamu saja."


"Kalau begitu aku pamit pergi."


"Hey tunggu apakah kau pergi ke kuil Murcia?"


"Aku hanya pergi kesana jika ia sudah kembali." kata Valery lalu pergi dengan mobilnya.


"kenapa para wanita sangat menyukai si brengsek itu, apa aku harus membunuhnya agar wanita-wanita itu mengejarku." gumam Rafael.


tiba-tiba terdengar suara wanita di belakangnya.


"Aku akan meracunimu sebelum kau membunuhnya."


Rafael terkejut ia membalikan badannya.


"NORAA..!"


"Se.. sejak kapan kau ada di sini?"


"Sejak kau meratapi kehidupan percintaanmu yang sangat menyedihkan itu."


"Hey.. kau jangan salah paham, aku adalah seorang gentleman sejati, aku hanya menunggu wanita yang tepat untuk menjadi ratuku." kata Rafael.


"Ya.. ya.. teruslah bermimpi."


Sebuah limousine hitam berhenti di depan mereka. seseorang keluar dari mobil itu.


"Leo?" Rafael dan Nora bersamaan.


"Selamat siang tuan Rafael dan Nona Nora."


"Hey panggil nama kami saja tanpa embel-embel." kata Nora.


"Maafkan aku, Tuan Ellias memintaku untuk menghormati tuan Mercia dan temannya melebihi dirinya, aku pun senang melakukannya." kata Leo.


"Baiklah, lalu apakah kebetulan kau menemui kami?" tanya Rafael.


"Tuan Ellias memintaku untuk menjemput kalian berdua, beliau sudah mencoba menghubungi kalian tapi tak bisa dihubungi."


"Teleponku tertinggal di rumah." kata Rafael.


"bateraiku habis." kata Nora.


"Tidak apa-apa, tuan Ellias sudah menduga beberapa kemungkinan itu, sebaiknya kita segera berangkat." kata Leo.


Rafael dan Nora mengangguk mereka akhirnya pergi menaiki mobil limousine hitam itu menuju kediaman Ellias.


**


Mercia dan Sylvana berjalan menelusuri lorong lainnya, hampir seperti lorong pertama di kanan kiri mereka terdapat patung besar yang juga berfungsi sebagai tiang penyangga. Mereka akhirnya sampai di ujung lorong. rasa terkejut kembali datang mereka tak percaya apa yang ada di hadapannya.


Mereka kembali berada di sebuah tebing yang sangat tinggi, lebih tinggi dari tebing gunung emas sebelumnya, di depan mereka terdapat sembilan air terjun dengan beragam ukuran terlihat beberapa pelangi tercipta akibat pantulan cahaya matahari, di belakang air terjun terdapat padang rumput yang membentang luas, beberapa ekor kuda terlihat berlari-lari, tiba-tiba kuda itu mengeluarkan kedua sayapnya lalu terbang tinggi, tampak di kejauhan istana yang sangat besar kuning berkilau seperti terbuat dari emas. pemandangan itu membuat August dan Sylvana tercengang.


"Mercia aku tidak melihat tempat ini ketika di atas tadi."


"Tentu saja.., karena tempat ini bukan Proxima."


"Apakah kau yakin? tempat ini juga mempunyai dua buah matahari." Sylvana menunjuk arah matahari.


"Apa kau tak memperhatikannya Sylvana?"


"Apa maksudmu?"


"Tempat ini memang memiliki dua matahari, tetapi berbeda dengan Proxima, jika kau lebih teliti Proxima memiliki matahari yang besar di depannya sedangkan tempat ini kebalikannya matahari kecil itu ada di depan, kita juga sudah tak berada di gunung emas lagi."


"Lalu dimana kita sekarang?"


"Aku sama sepertimu Sylvana, tidak tau."


"Apakah ini Moonheaven? tapi aku merasa asing dengan tempat ini, sewaktu aku kecil tak pernah melihat tempat ini."


"satu-satunya cara kita mengetahuinya adalah pergi ke arah istana itu, mungkin kita akan menemukan jawaban, tapi sebelum itu tutupi wajahmu."


"apa kau malu berjalan bersamaku?"


"Aku dengan senang hati menggandeng tanganmu ketika berjalan bersama, tapi bukan itu maksudku, siapapun mereka yang tinggal di tempat ini kita tidak tau apakah mereka pembenci elf atau bukan."


"Baiklah, aku mengerti." Sylvana menata rambut panjangnya hingga kedua telinganya tertutup rambutnya, lalu ia memakai tudung di kepalanya.


August memperhatikan Sylvana melakukan semua itu dengan tersenyum.


"Ada apa?" tanya Sylvana.


"tidak.. tidak ada apa-apa."


"Kau sangat aneh, sekarang bagaimana?" tanya Sylvana.


"Kau tetap cantik."


"Kau bicara apa? aku tanya sekarang bagaimana kita pergi ke istana itu?" tanya Sylvana berusaha menutupi wajahnya yang memerah.


"Apa kau bisa melompat ke seberang sana?"


"Aku bisa melompatinya, tapi rambutku akan berantakan lagi."


"Lalu bagaimana? apa mau naik ojek online?"


"naik apa?"


"Lupakan aku asal bicara."


"Kau gendong aku."


"Lagi?"


"Naik ke punggungku."


Tanpa kesulitan August sampai di seberang, August menurunkan Sylvana.


"kita tidak terbang agar cepat sampai kesana?"


"kau hanya ingin kugendong bukan?"


"Hahaha."


"sudah jangan bercanda, kita berjalan biasa saja."


"Hey bukankah katamu kau akan menggandeng tanganku?"


"kau.." August meraih tangan Sylvana. mereka berjalan bersama.


'kalian berdua benar-benar membuatku muak'


'diamlah sonja, kau tidak akan mengerti.'


'aku tidak percaya manusia bodoh ini memegang telingaku.'


'hey ini telingaku juga.'


'Kau seorang dark elf Sylvana.'


'Apa dark elf tak boleh jatuh cinta?'


'aku benar-benar ingin muntah.'


"hahaha."


"Mengapa kau tertawa?" tanya August.


"ohh.. maaf aku sedang bicara dengan Sonja di pikiranku."


"Apa katanya?"


"tidak banyak, dia mengatakan tempat ini sangat indah."


"Wow.. aku tak menyangka dia juga punya sisi lembut."


'Sylvana keluarkan aku, aku akan meninju wajahnya.'


"Hahaha.. kau belum mengenalnya saja."


Bagi August sebenarnya ia sebelumnya sangat terkejut ketika mengetahui Sylvana memiliki kepribadian ganda terlebih bagian lain dari dirinya itu bisa muncul dengan wujud wanita berambut merah yang mempunyai kekuatan yang sangat besar. August tak akan pernah menyangka kedatangannya di dunia Proxima membawanya ke sebuah petualangan yang menguras emosinya.


Ketika sudah cukup lama mereka berjalan, di belakang mereka terlihat seorang pemuda menaiki gerobak yang di tarik seekor kuda, tampak di belakang gerobak itu terdapat sayuran serta buah-buahan.


Gerobak itu berhenti di samping mereka berdua.


"Apa kalian berdua butuh tumpangan?" tanya lelaki itu.


"Mercia lihatlah itu." Sylvana menunjuk sesuatu di belakang gerobak itu.


August terkejut. "bunga edianna."


Sylvana mengangguk. Lelaki itu pun tersenyum melihat ke arah yang di tunjuk Sylvana.


"Aku tak menyangka kalian mengenali bunga itu." kata lelaki itu.


"Boleh aku tau siapa namamu?" tanya August.


"Namaku Ralf"


"Aku Mercia dan ini..."


"Sylvana.. aku istrinya."


Glek. August menelan ludah mendengarnya.


"Haha.. sudah kuduga kalian tampak mesra sekali."


"Darimana asal kalian?" tanya Ralf.


"Kami berasal dari kota Royan." jawab August.


"Hmm.. aku tak pernah mendengarnya, apakah kalian bukan berasal dari dunia ini?"


"Kau.., bagaimana kau bisa tau?"


Ralf hanya tersenyum. "aku juga tau istrimu itu adalah seorang elf."


"Hah..!"