
"Ahh.. Dimana aku?"
"Kau sudah sadar?"
"Bukankah kau ketua Myla?"
"Benar.., jika aku tak salah kau yang bernama Aruna." kata Myla.
Aruna mencoba bangkit, namun tubuhnya masih terasa lemah.
"Tenanglah, jika aku ingin menyakitimu, aku tak perlu repot-repot untuk mencoba mengobatimu."
"aku sudah mengirim utusan pada Nefia agar mereka menjemputmu."
"Tidak.. aku belum bisa kembali, aku harus ke kerajaan Galan." kata Aruna.
Myla sedikit terkejut.
"Mengapa kau ingin pergi kesana?" tanya Myla.
"Mercia memintaku, aku juga harus bertemu dengan Aira."
"Untuk apa kau menemui Aira?" tanya Myla.
"Aku yang menyuruh menemuinya." kata seorang wanita yang tiba-tiba muncul diikuti puluhan orang di belakangnya.
"Ketua Nefia." kata Aruna.
"Tenanglah Aruna, semua akan baik-baik saja."
"Myla"
"Nefia.., lama kita tak berjumpa."
Nefia mengangguk, ia lalu mendekati Aruna, lalu memberikan sebuah pil berwarna biru. Aruna mengambil dari tangan Nefia lalu menelannya.
"katakan apa yang terjadi?" tanya Nefia.
"Ketua, ketika aku dalam perjalanan aku bertemu dengan Mercia, dia bersama seorang dark elf bernama Sylvana."
"Dark elf?" Nefia terkejut.
"mereka mencari Moonheaven." kata Myla.
Aruna dan Nefia menatap Myla dengan terkejut.
"Kau mengetahuinya?" tanya Nefia.
"Nasyra putri Thurinor yang memberitau kami." kata Myla.
"Bagaimana Mercia mengenal orang dari dunia Enigma?" tanya Nefia.
"Ia tak sengaja menemukan jalan masuk kesana, ia juga telah membuat kekacauan di kerajaan Healon, membuat Thurinor bertekuk lutut padanya."
Nefia menggelengkan kepalanya hampir tak percaya mendengarnya.
"Aruna dimana Mercia sekarang?" tanya Nefia.
"Terakhir kami bertemu di kota Innodale, kami mendapatkan masalah, Mercia mencoba mengatasinya, aku ingin membantu, tapi ia melarangku lalu memintaku untuk pergi ke kerajaan Galan membantu Aira, dia berpesan aku dan Aira menunggunya di sana."
"Lalu bagaimana kau bisa terluka?" tanya Myla.
"Maaf, aku tak bisa menceritakannya, tapi ada yang jauh lebih penting dari itu semua."
"Ada apa Aruna?" Nefia terlihat gusar.
"Ketua Nefia.., Ketua Myla.. aku mohon hilangkan perselisihan diantara klan Armeda, ramalan itu benar-benar sudah terpenuhi, ketua.. aku sudah melihatnya.. aku sudah bertemu dengannya.., dia sudah muncul.."
"Apa maksudmu? siapa yang kau maksud?" tanya Nefia.
"Phoenix."
**
"Murid durhaka.., kau benar-benar menyerangku? apa kau pikir bisa mengalahkanku, aku yang mengajarkan semua yang kau bisa." Gessora sangat marah.
"aku menghormatimu sebagai guruku, tetapi itu sudah hilang ketika kau ingin membunuh adikku."
"Dan kemampuanku tidak semua kupelajari darimu!" kata Minerva lalu menggerak-gerakan tangannya.
Tubuh Gessora terhempas kesana kemari menghantam batu, bangunan di sekitarnya.
Bak.. buk.. bak.. buk..
Gessora menyilangkan kedua tangannya di dadanya, tubuhnya seketika kembali diam.
"Dari mana kau mempelajari tangan iblis?"
"Bukan urusanmu." jawab Minerva.
"Hehehe.." mata Gessora menyala merah.
Kali ini tubuh Minerva yang terhempas seperti yang di alami Gessora.
Helena melihat pertarungan itu segera menghujamkan tongkatnya ke tanah.
Bumm..
Daya kejut ketika tongkat itu menancap ke tanah sanggup melemparkan seluruh makhluk dan mayat penyihir, begitu juga Gessora, membuat Minerva terbebas darinya. Sonja mengeluarkan panahnya, ia membidik awan hitam, anak panah di busurnya menyala merah lalu melepaskannya. anak panah melesat dengan kecepatan super dan ketika menyentuh awan hitam terdengar ledakan menggelegar bersamaan sebuah kilatan petir bergerak menghantam tubuh Gessora.
BLEGARRR...!
Gessora kembali terpental, tubuhnya gemetar mengeluarkan asap. awan hitam seketika menghilang, cahaya matahari telah merubah makhluk berkepala anjing kembali menjadi debu begitu pula dengan mayat-mayat para penyihir.
"Kau sudah kalah Gessora, jiwamu yang kau simpan dalam gua cermin telah dihancurkan." kata Helena.
"Tidak mungkin, aku tidak mungkin kalah."
Gessora melompat ke arah Freya untuk menghisap energinya, Helena dengan sigap mengarahkan tongkatnya sinar pitih keluar menangkap dan menahan tubuh Gessora, Sonja kembali melepaskan anak panahnya menghujam jantung Gessora.
wuutt.. jleb.. aghhh..
Minerva segera menghentakan tangannya kedepan, sebuah piringan cahaya berwarna putih kebiruan melesat mengenai leher Gessora, tubuh Gessora mengejang sesaat lalu ambruk, kepalanya menggelinding dengan mata melotot, Gessora telah tewas.
Minerva segera berlari ke arah Freya yang masih tak sadarkan diri.
"Freya.. bangunlah.. semua sudah berakhir."
Helena menghampiri Freya, dua jarinya ia letakan di kening Freya, kening Helena bersinar terlihat simbol bulan sabit mengeluarkan sinar putih, semua para penyihir tercengang melihatnya, serentak mereka berlutut.
"Penyihir agung." ucap mereka bersahutan.
Minerva sendiri akhirnya mengakui siapa Helena sekarang.
"Helena, setelah semua ini, aku dan Freya akan mengikutimu." kata Minerva.
"Kami semua juga akan mengikutimu." kata penyihir lainnya serentak.
Helena terkejut ketika membalikan badannya dan melihat mereka semua berlutut.
"Bangunlah kalian semua, kalian lihat lelaki yang terbaring itu? Namanya Mercia, kristal suci memilihnya untuk membebaskan Proxima cengkraman iblis, aku akan selalu berdiri di sampingnya, tentukan posisi dimana kalian berdiri, bersamanya atau bersama Clawrit." kata Helena.
"Bagaimana denganmu Minerva? jalan mana yang akan kau tempuh?" tanya Helena.
Semua mata memandang Minerva.
"a.. aku.. em.. Freya adalah penyihir putih dan aku tidak seperti dirinya, a.. aku tidak tau dimana aku harus berdiri.. a.. aku.."
"Kak.. aku tak peduli apa yang telah kau lakukan, perbedaan penyihir putih dan hitam hanya sebatas tindakan, kau harus merelakan kepergian orang tua kita, dan memaafkan semua orang juga dirimu sendiri." kata Freya yang akhirnya tersadar.
"Freya.. kau.. kau baik-baik saja?" tanya Minerva dengan air mata yang mulai menetes.
"Berjuanglah bersama kami semua melawan Clawrit." pinta Freya.
"Aku berjanji akan melakukannya, kita akan hidup dan mati bersama." kata Minerva memeluk Freya.
"Apa yang akan kita lalukan sekarang Lady Helena." tanya salah satu penyihir.
"Panggil saja aku Helena, aku masih orang yang sama, Minerva dan Freya tetap akan menjadi penjaga Innodale, mulai saat ini persiapkan diri kalian, peperangan besar akan segera tiba." kata Helena lalu berjalan ke arah Mercia, ia menjentikan jarinya, kubah yang melindungi Mercia lenyap.
"Bawa dia, biarkan dia istirahat. kembalilah kalian, aku berterima kasih pada kalian semua telah membantu mengalahkan Gessora." kata Helena.
Mereka semua membungkuk lalu membubarkan diri.
Freya yang sudah bisa bangkit berjalan ke arah Sylvana.
"Katakan padaku, apa kau seorang dark elf yang sedang mencari Moonheaven?" tanya Freya.
"Benar!"
"Freya ada apa?" tanya Minerva.
"Ibu kita adalah penghubung antara dunia dark elf dan para penyihir, aku baru mengetahuinya pada saat kematiannya, ia memberikan sesuatu padaku agar menyerahkannya suatu saat nanti pada seorang dark elf yang beda dari lainnya." kata Freya.
Freya mengambil kalung yang ia pakai, lalu menyerahkan pada Sylvana.
"kunci?" Sylvana terkejut, bandulan kalung itu adalah sebuah kunci yang terbuat dari emas.
"Aku tidak tau ini kunci apa, aku hanya diminta untuk menyerahkannya padamu." kata Freya.
Sylvana mengambil kalung itu lalu memakainya. "Terima kasih."
"Bolehkah aku tau siapa nama ibu kalian?" tanya Sylvana.
"Luciana."
"Istirahatlah Sylvana, aku yakin kau dan Mercia bisa melanjutkan perjalanan esok hari." kata Freya.
"Baiklah, aku terlebih dahulu akan melihat kondisi Mercia." kata Sylvana lalu melangkah pergi.
"Freya mengapa kau tak menceritakan padaku?" tanya Minerva.
"Ibu berpesan untuk tidak menceritakannya pada siapapun."
"Apalagi yang ia katakan?"
"beliau memintaku untuk tidak menyerah padamu, karena pada saat elf itu datang kau akan kembali."
Minerva terduduk lemas, air matanya mengalir deras.
"A.. a.. aku.. maafkan aku Freya."
'Kau telah merubah semuanya Mercia, ini era baru Innodale.' Helena tersenyum melihat keduanya. ia pun melangkah pergi.
Pagi pun tiba, August dan Sylvana sudah berpamitan dengan Freya, Minerva dan Helena juga sebagian penyihir yang menyempatkan diri untuk datang ke kastil hitam, mereka berdua akhirnya melanjutkan perjalanannya.
Sekitar dua jam mereka tiba di hutan kecil di bawah kaki gunung emas.
"Mercia menurut peta ini di belakang gunung emas ini adalah tempatnya, aku tak tau apa yang akan kita temui di gunung ini." kata Sylvana.
"Apapun itu kita akan menghadapinya bersama-sama." kata August menatap puncak gunung emas.
Sylvana tersenyum mendengarnya, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh sesosok nenek tua renta keluar dari hutan kecil. ia membawa setumpuk roti yang terbungkus plastik dengan rapi, nenek itu menghampiri mereka berdua.
"Eh.. kalian berdua apakah kalian sedang menunggu kendaraan untuk pergi ke kota Innodale?
"tidak nek, kami ingin pergi ke kota di sebelah sana." kata August menunjuk sembarang tempat.
"Nenek dari mana? untuk apa pergi ke Innodale?" tanya Sylvana.
"Aku ingin menjual roti, biasanya cucuku yang berjualan di kota itu, tapi hari dia sakit jadi aku yang menggantikannya.. uhuk.. uhuk.."
Sylvana melihat roti yang di bawa nenek itu yang hanya sepuluh bungkus itu, lalu melirik ke arah August.
"Biar aku beli saja roti itu semua nek." kata Sylvana.
"Benarkah kau akan membeli semua?" mata nenek itu berbinar-binar.
Sylvana mengangguk.
"Kamu cantik, hatimu juga cantik, terima kasih.. pacarmu itu pasti sangat menyukaimu." kata nenek itu.
Wajah Sylvana memerah. "Dia bukan pacarku, dia tenanku."
"Syukurlah.. eh maksudku sayang sekali, maafkan aku."
Sylvana tersenyum kaku. "tidak apa-apa."
Nenek itu menyerahkan semua roti yang ia jual kepada Sylvana.
"Hey makanlah roti yang ini, cucuku hanya membuat satu buah tiap harinya, ini roti yang sangat spesial."
"Terima kasih nek, hey Mercia.., bayarlah nenek ini."
"Aku kira kau yang akan membayarnya." kata August.
"Bagaimana aku bisa punya uang? aku baru tiba disini."
August menggelengkan kepalanya. "Berapa nek?"
Nenek itu menggaruk kepalanya lalu menghitung jarinya.
"Aku tidak tau.. aku lupa menanyakannya pada cucuku."
"Ya ampun.." August lalu memberikan lima koin emas kepada nenek itu.
"Jika itu kurang suruh cucumu menagih pada Helena atau Freya di kota Innodale.
"Baik.. terima kasih tampan." kata nenek itu genit lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
Sylvana hanya tertawa cekikikan pelan sambil memakan roti pemberian nenek itu.
August menggelengkan kepalanya sambil memperhatikan nenek itu pergi. ia merasa sedikit aneh.
"Mengapa nenek itu sangat familiar sekali, bagaimana menurutmu Sylvana?"
tak ada jawaban. August menoleh sontak ia terkejut melihat Sylvana terkulai lemas.
"Brengsek.. nenek itu..!"
August lalu mengejar ke arah nenek itu pergi.