MERCIA

MERCIA
63. Pertolongan Nyx.



"Lady Minerva adikmu dan seorang lelaki ingin menemuimu." kata seorang pelayan.


"Lelaki? Oswyn?"


"kami tidak mengenalnya."


"biarkan mereka masuk."


Tak lama Freya dan August memasuki ruangannya diantar seorang penjaga. August mengamati Minerva, tampak aura dominan, mistis, dingin dan kejam bercampur menyelimutinya. Minerva juga melakukan hal yang sama, ia mengamati tajam August.


'Siapa lelaki ini? dia sangat berbeda, baru kali ini aku bertemu dengan lelaki yang berani menatap mataku' pikir Minerva.


"Apa lelaki ini pacarmu, Freya?" tanya Minerva.


Freya tak menyangka mendapatkan pertanyaan itu, sebelum ia menjawab August tiba-tiba berdiri di sampingnya merangkul pinggangnya, membuat wajah Freya memerah.


"Bagaimana kau tau?" tanya August.


'Brengsek, bagaimana Freya mendapatkan lelaki ini?' Minerva sedikit kesal, tapi ia tidak menunjukannya.


"Apa maksud kalian menemuiku?" tanya Minerva.


"Kakak.., aku ingin kau membebaskan kedua orang temannya." kata Freya.


"temannya?" Minerva sedikit bingung.


"seorang elf dan seorang Armeda." August menambahkan.


"Hahaha... jadi kalian berdua berpura-pura menjadi sepasang kekasih memintaku membebaskan mereka berdua?"


"Cukup, aku sebagai adikmu akan mengingatkanmu untuk terakhir kalinya."


Brakk..!


Minerva memukul meja, ia sangat geram mendengar perkataan Freya.


"kau menantangku Freya?" tanya Minerva.


"Jika itu memang cara terakhir."


Minerva menjentikan jarinya, Aruna lalu muncul berjalan dan berdiri di samping Minerva. August terkejut melihat perubahan peristiwa itu, Aruna tampak tak mengenali dirinya.


"Apa kau terkejut? Armeda ini sudah menjadi anjing penjagaku.. hahaha."


"Minerva apa yang telah kau lakukan?" August mengepalkan tangannya.


**


Sementara itu masih di area kastil hitam sisi lainnya, Helena berhasil memasuki ruang tahanan bawah tanah, belasan penjaga berhasil ia lumpuhkan. Helena memeriksa satu persatu dan akhirnya ia menemukan Sylvana. Sylvana tampak geram melihat kedatangan Helena.


Helena mendekatkan tongkatnya ke arah rantai yang mengikat Sylvana, rantai itu menghilang, Sylvana yang sudah terbebas dengan gerakan cepat sebuah busur dengan tali dan mata anak panah yang terbuat dari sinar berwarna emas muncul di tangannya, ia lalu mengarahkannya pada leher Helena.


"Wanita terkutuk kau telah diselamatkannya tetapi kau membalasnya dengan buruk." kata Sylvana.


"Tenanglah.., aku tau aku salah, tapi saat ini kita dipihak yang sama, aku, Mercia dan Freya akan membalaskan kalian berdua."


"Mengapa aku harus mempercayaimu?" tanya Sylvana.


"aku sudah tau siapa dia, aku akan berdiri di sampingnya." kata Helena.


Sylvana mengendurkan anak panahnya, seketika anak panah dan tali busur itu kembali menghilang.


"dimana temanmu?" tanya Helena.


"Wanita iblis itu merusak pikirannya."


"Sial.. Mercia dalam bahaya." kata Helena.


"apa maksudmu? dimana Mercia?" tanya Sylvana.


"menemui Minerva, dia pasti memerintahkan temanmu untuk membunuhnya."


"Cepat kita susul mereka." kata Helena.


**


August menatap tajam Minerva, membuat Freya sangat khawatir.


"tenanglah Mercia." kata Freya.


August tidak menggubris perkataan Freya, ia menerjang Minerva dengan tinjunya, hanya berjarak kurang dari dua meter sebuah tangan menangkap tinjunya, membuat gerakan August terhenti.


"Aruna..!" belum usai keterkejutannya Aruna menendang keras perut August dengan kaki kanannya, membuat August terpental beberapa langkah ke belakang. semua terjadi begitu cepat


"Hahaha.. ini sangat menarik.. kau bunuhlah lelaki itu..!" perintah Minerva pada Aruna.


Minerva menggerakan jari jemari tangannya sebuah portal muncul di belakang August bersamaan Aruna menerjang ke arahnya. August kembali terpental dan masuk ke dalam portal itu begitu juga Aruna.


"Sekarang tinggal kita berdua apa kau yakin masih ingin menantangku Freya?"


"selama kau masih menyakiti orang lain aku akan menantangmu."


"apakah kau masih ingat orang-orang itu telah menyakiti kita, tak ada yang mau menolong ayah, ibu yang akhirnya membuat mereka berdua mati terbunuh."


"Apakah kau tau apa yang telah ku korbankan untuk menjagamu? mencegah mereka menyakitimu! dan kau sekarang ingin menantangku?" kata Minerva.


"Kak.., selama ini kau hidup dalam kebencian. kau sudah lelah menjagaku, istirahatlah.., biarkan aku kali ini yang menjagamu." kata Freya.


"Apa yang kau tunggu Minerva inilah saatnya.!"


Suara seorang wanita menggema dalam ruangan itu. Minerva pucat mendengar suara itu, ia tampak mengetahui siapa pemilik suara itu, Minerva menghampiri Freya.


"Freya pergilah dari sini, sebelum terlambat." Minerva setengah berbisik.


Mengetahui ada yang tidak beres Freya semakin waspada.


"Jadi kau ingin mengkhianatiku Minerva?"


suara wanita itu terdengar lagi.


"Kalau begitu kau akan mati bersamanya." ancam suara itu.


Mendapat ancaman Minerva dan Freya menempelkan punggungnya masing-masing, saling menjaga.


"Siapa dia?" tanya Freya.


"Gessora, Guruku dia ingin aku membunuhmu, dia ingin meminum darahmu." kata Minerva.


"Meminum darahku?" Freya terkejut.


"dia harus meminum darah seratus orang penyihir putih untuk menyempurnakan kekuatannya, dia butuh satu orang lagi, dan kau lah orang terakhir yang dia jadikan target."


Tiba-tiba pintu ruangan di dobrak, Minerva dan Freya memandang ke arah pintu itu Helena dan Sylvana muncul. Sylvana segera mengarahkan panahnya ke arah Minerva namun Helena mencegahnya, Minerva sendiri terkejut melihat mereka berdua, namun konsentrasinya kembali


pada Gessora yang sosoknya belum terlihat.


"Tunggu..!" kata Helena.


"Kau jangan mencegahku membunuh wanita iblis itu." kata Sylvana.


"Lihatlah mereka sesuatu sedang terjadi."


Sylvana mengamati Freya dan Minerva tampak pandangan mereka menyapu sekeliling ruangan yang megah namun sedikit gelap di bagian langit-langit, mereka seolah tak peduli kedatangan dirinya. Sylvana meningkatkan kekuatan batinnya, di keningnya mulai muncul tanda seperti bulan sabit merah dengan kedua sisi runcingnya menghadap ke atas.


"Ada kekuatan energi yang sangat besar." kata Sylvana


lalu memejamkan matanya sesaat, tanpa membuka mata ia mengangkat busurnya lalu mengarahkannya ke satu titik di langit-langit ruangan itu dengan cepat.


Wuuttt...


**


Di sisi lain proxima sebuah portal tercipta seorang lelaki terpental keluar dari portal itu seolah ia telah di terjang sesuatu, lelaki itu adalah August, tak lama berselang Aruna juga muncul dari balik portal itu dan setelah itu portal itu tertutup lalu menghilang.


Dalam pikiran August mulai teringat pertanyaan Aruna beberapa hari yang lalu. 'kekuatanmu sangat besar, tapi apakah kau sanggup membunuhku?'


"Brengsek..!" August marah, tetapi kemarahannya bukan tertuju pada Aruna melainkan Minerva, orang yang membuat Aruna menderita.


"Aruna sadarlah.. ini aku August.., aku tau kau masih ada di dalam sana lawanlah."


Aruna tak terpengaruh perkataan August, dia terus menyerang, August hanya menghindar atau menangkis, ia benar-benar tak sanggup untuk membalasnya, tetapi ia terus berbicara untuk menyadarkan Aruna. Aruna tiba-tiba menghentikan serangannya, August seketika melihat secercah harapan. tetapi itu tak berlangsung lama.


"Aruna apakah kau sudah sadar?" tanya August.


"Sekarang apakah kau masih bisa menghindar." kata Aruna di tangan kanannya muncul sebuah tombak emas.


'sial.. akhirnya tombak emas itu muncul.' August mulai ekstra waspada, ia tau kemampuan tombak itu, ia juga yang meningkatkan energinya, ironi kini justru ia harus menghadapi tombak emas itu.


Aruna mengayunkan tombak emasnya, sinar kuning keluar dari ujung mata tombak melesat ke arah August, ia menghindar dengan melompat ke udara.


Zap.. blast...


sinar kuning itu menabrak batang pohon, tidak ada ledakan tapi pohon itu seketika berubah menjadi bubuk kayu.


'Aku tak bisa menangkisnya dengan perisaiku, akan sangat berbahaya bila berbalik mengenai dirinya, sial apa yang harus aku lakukan?' pikir August.


Aruna tak menghentikan serangannya, ketika melihat August melompat ke udara, ia merentangkan tangannya ke samping tombak emasnya melayang di depan dadanya lalu seolah-olah terbelah menjadi dua buah dengan ukuran yang sama besarnya, Aruna kembali meraih salah satu tombak itu dan membiarkan satu lainnya tetap melayang, tombak yang masih melayang lalu terpecah menjadi puluhan atau bahkan ratusan tombak kecil lalu melesat ke arah August, sedangkan tombak dalam genggamannya terus mengeluarkan sinar menyerang August membabi buta.


Wuss.. wuss.. zap.. zap.. wus..


August kuwalahan menghindari serangan sinar dan tombak kecil yang terus mengikuti kemana ia pergi, hingga satu sinar berhasil menghantam dadanya membuat ia terpental membentur sebuah pohon yang mengakibatkan pohon itu hancur. August memuntahkan darah, rasanya seperti ditabrak truk berkecepatan tinggi.


'Jika bukan baju pelapis milik Pendragon mungkin dadaku sudah jebol pikirnya, August mencoba menetralisir rasa sakitnya, tapi puluhan tombak kecil kini bergerak cepat mengepung dan siap menghujam tubuhnya, August sudah tak bisa menghindar, ia secara reflek mengangkat tangan kirinya untuk melindungi kepalanya.


Sebuah perisai segitiga muncul lalu tiba-tiba seekor naga emas keluar dari dalam perisai itu melindungi August dengan menahan puluhahan tombak kecil itu dan juga sinar yang mengarah padanya.


tret.. tret.. trang.. trang.. DUARRR..


Suara percikan api, dan dentingan logam terdengar ketika puluhan tombak itu mengenai tubuh naga itu, sedangkan ledakan besar terjadi karena dari mulut naga itu keluar sinar emas besar yang beradu dengan belasan sinar dari tombak emas itu.


August sangat terkejut melihat apa yang terjadi, ia tak tau bagaimana naga emas itu muncul dari perisainya, ia melihat Aruna terpental puluhan meter tak bergerak.


"Aruna...!" teriak August ia mencoba bangkit namun masih terasa berat karena luka di dadanya.


"Dia hanya pingsan, sembuhkan dirimu, baru kau sembuhkan dirinya." naga itu berbicara.


August terkejut. "siapa kau? bagaimana kau bisa ada dalam perisaiku?"


"Aku Nyx, akulah hal terakhir yang tidak bisa dimiliki Pendragon."


"Bukankah Pendragon adalah raja para naga?" tanya August sambil mengalirkan energi penyembuh ke dadanya dan rasa sakit itu akhirnya perlahan menghilang.


"Benar, tetapi pada masanya baju naga emas miliknya baru terbentuk dan belum sempurna, kini baju tempur itu berada padamu dan sudah sempurna, kekuatanku bisa menyatu, dan kau adalah tuanku aku akan menjagamu." kata Nyx.


"Kau belum menjawab bagaimana kau bisa berada di dalam perisaiku?" tanya August lalu bangkit dengan sekali melompat ia sudah berada di samping Aruna yang tak sadarkan diri. naga emas itu tetap mengikuti August.


"Putri para naga yang mempertemukanku denganmu." kata Nyx.


"Putri para naga?" August terkejut.


"Apakah Amara adalah yang kau maksud?"


"Benar, ia adalah salah satu keturunan pendragon." kata Nyx.


'jadi Amara adalah keturunan Pendragon, sebelumnya aku mengetahui jika Lyra adalah keturunan Calanis, apakah aku akan bertemu dengan salah satu keturunan tiga master lainnya pemilik kekuatan kristal itu?' pikir August.


"kau tau bagaimana caranya mengobati pikirannya akibat sihir itu?" tanya August.


Naga emas itu terbang mengitari tubuh Aruna lalu membuka mulutnya asap tipis keemasan mulai menyelimuti Aruna.


"setelah asap itu hilang kau bisa menyembuhkan lukanya aku akan kembali dalam perisaimu, kau bisa memanggilku dengan menyebut namaku."


"Baiklah, terima kasih Nyx."


Naga emas itu kembali terbang melayang lalu menghilang meninggalkan jejak debu keemasan.


'Amara semakin aku mengenalmu kau terlihat mengagumkan.' pikir August dengan senyum tipis terlihat, tapi senyum itu kembali menghilang ketika ia mengingat perkataan Amara tentang kebutaan matanya adalah karena pertarungan dengan wanita bertombak. August sangat khawatir jika mereka bertarung kembali kepada siapa dirinya akan berpihak, Aruna atau Amara? batinnya berkecamuk.