MERCIA

MERCIA
96. Bantuan Tak Terduga.



Ledakan besar membuat area sekitar pertarungan mereka menjadi hancur, asap mengepul debu-debu berterbangan, Zelda dan Javelyn mengamati dimana posisi Elda terakhir berada. selang beberapa saat kepulan asap mulai menipis. kini di hadapan Javelyn Elda masih berdiri dengan tubuhnya tertutup logam tipis berwarna merah.


"Phoenix?" Zelda terkejut ia lalu melompat di samping Javelyn.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Javelyn.


"Kau tidak bisa mengalahkannya, aku akan membantumu."


"kau meremehkanku? kau pikir kau lebih hebat? cuih.."


"Kau tidak tau siapa dia."


"Aku tak peduli."


Beberapa menit sebelumnya.


Elda tak menduga Javelyn melemparkan jarum hitam itu, ia sangat terkejut ketika satu jarum itu berhasil menembus pundaknya. kepalanya terasa sakit, tiba-tiba ia teringat sesuatu.


'rasa sakit ini.., jarum ini.. aku pernah merasakan sebelumnya.. aku berlari.. terjatuh.. pria.. seorang pria memelukku.. menangis..' Elda memegangi kepalanya.


'ahh..'


'wajahnya.. wajahnya.. aku tidak mengingatnya.. tiba-tiba semua gelap.' Elda lalu mengalirkan energi pada luka di pundaknya. ia kini menatap tajam pada Javelyn.


"Hahaha... ternyata kau masih hidup, aku beritahu jika luka jarum itu tak kau obati, tubuhmu akan menjadi busuk sebelum senja.


"Kau tak akan mengetahuinya, karena sekarang kau akan mati."


"Hahaha.. kau pikir dengan baju tempurmu itu aku tidak bisa membunuh?"


"Javelyn.. jangan bilang aku tidak memperingatkanmu." kata Zelda.


"Diam kau..!" kata Javelyn kembali menerjang ke arah Elda.


Namun Elda bergerak lebih cepat, tinjunya menghantam dada Javelyn hingga membuatnya terpental beberapa meter ke belakang. Javelyn segera bangkit, ia mengeluarkan sebuah tombak pendek berwarna hitam, dengan ukiran kepala tengkorak digagangnya, tombak itu mengeluarkan asap hitam yang dengan cepat membungkus tubuh Javelyn, dan ketika asap itu menghilang, logam hitam terlihat menutupi tubuhnya.


"Sekarang saatnya kau mati, Hiaa.." Javelyn melompat lalu menghujamkan tombaknya.


Elda yang sudah bersiap menunggu Javelyn menyerang dibuat terkejut, Javelyn justru menghujamkan tombaknya ke tanah kosong, namun sebelum tombak itu menghujam tanah langit tiba-tiba gelap sinar matahari tertutup awan tebal, di belakang Elda tampak seorang lelaki berjalan, lelaki itu berbadan tegap dengan rambut panjang dikuncir di atasnya. sebuah pedang putih terlihat di belakang punggungnya, langkah kakinya seolah-olah tak menyentuh tanah.


Elda semakin waspada, lelaki itu adalah Nevan, setelah bertemu August ia ingin pergi menuju Wintervale, namun secara tak sengaja ia bertemu Isona dan Elyn yang melarikan diri keluar dari kota Hinar, Isona dan Nevan mengenal satu sama lain, Isona menceritakan apa yang mereka alami, Nevan menyuruh Isona dan Elyn untuk segera pergi menuju kuil bayangan, dan dia pergi menuju kota Hinar.


Nevan menghentikan langkahnya ketika berada di samping Elda.


"Berhati-hatilah, tombak iblis itu tidak perlu mengenai tubuhmu untuk membunuhmu, Javelyn hanya perlu mengincar bayanganmu."


"Bayanganku? kau yang membuat awan tebal itu muncul?"


"Itu hanya kebetulan."


"Keparat, siapa kau berani ikut campur?" tanya Javelyn.


"Aku cuma kebetulan lewat, tak perlu hiraukan aku." jawab Nevan, ia lalu berjalan menjauhi Elda namun matanya melirik tajam ke arah Zelda.


"Javelyn sebaiknya kita pergi." kata Zelda.


"Mengapa kau menjadi seperti seorang pengecut?"


"Clawrit memberi tugas penting, kita akan selesaikan ini di lain waktu, jika kau masih bersikeras aku akan meninggalkanmu." ancam Zelda.


"Huhh.. Brengsek..! kalian berdua beruntung.., aku tak akan melupakan ini, aku akan mencari kalian berdua." kata Javelyn.


Zelda dan Javelyn memutuskan pergi meninggalkan tempat itu. Elda kini melihat Nevan, ia mengamati lelaki itu, 'lelaki kuat berwajah tampan, apakah dia orangnya?'


"Siapa kau? apakah kau yang bernama Mercia?" tanya Elda.


"Mercia?" Nevan sedikit terkejut.


"Namaku Nevan, kau mencari Mercia?"


"Ya.. aku mencarinya, aku ingin bicara dengannya, apakah kau kenal?"


"aku tidak mengenalnya, tapi aku bertemu dengannya beberapa saat lalu di reruntuhan tak jauh dari tempat ini, tapi aku ragu ia masih berada di sana."


tanpa banyak bicara, Elda langsung melesat pergi.


'Main pergi saja.., bahkan dia belum mengucapkan terima kasih. ah aku lupa menanyakan namanya, hmm.. lebih baik aku kembali ke kuil mungkin Isona tau siapa wanita itu.'


**


Moonheaven.


"Violet mereka sudah tiba, dan mereka sudah nengepung kita jumlah mereka lebih dari seribu orang." kata salah seorang elf


"Violet apa yang akan kita lalukan?" tanya Pyriel.


"Cari tau siapa pemimpin pasukan itu, lalu kita bunuh, yang lain pasti akan goyah." kata Violet.


"Pyriel apakah Sylvana sudah meminum air itu?" tanya August.


"sudah, dia langsung tertidur kembali, aku tak tahu kapan dia akan terbangun." kata Pyriel.


"Violet kami melihat pimpinan pasukan itu."


"Baiklah aku akan membunuhnya." kata Violet.


"Tunggu..! aku punya rencana lain." kata August membuat violet dan lainnya menatap ke arahnya.


"Hancurkan pemukiman ini..! bunuh semua elf!" kata seorang yang duduk di atas kuda kepada pasukannya.


Para pemanah maju bersiap, sebagian dari mereka menyalakan api pada ujung anak panahnya. lelaki itu mengangkat tangannya.


"SERRR... aaaaaang..!"


Semua terkejut lelaki yang berada di atas kuda itu tiba-tiba menghilang.


"Apa yang terjadi? dimana pemimpin kita?" kata salah seorang prajurit diikuti yang lainnya, mereka semua tampak kebingungan, membuka mereka ragu untuk menyerang.


August bergerak dengan sangat cepat, menculik pemimpin pasukan itu dan membawanya ke dalam pemukiman. Gerakan yang sangat cepat telah membuat orang itu mual, begitu ia berada di atas tanah ia langsung mengeluarkan isi perutnya.


"Hoeeek..!"


Wajahnya mulai ketakutan, ketika ia menyadari tengah berada di dalam pemukiman dark elf.


"Ja.. jangan.. bunuh aku.., a.. aku punya keluarga."


"Kau pikir kami tidak punya?" kata Violet menampar wajah orang itu hingga mengeluarkan darah dari mulutnya.


"Tenanglah Violet." kata August.


Pyriel menghampiri August membawakan segelas air berwarna merah. August lalu dengan paksa memasukan air itu kedalam mulut orang itu.


"apa yang kau berikan padaku?" tanya orang itu tampak ketakutan.


"Racun yang sangat mematikan, terbuat dari darah ular berkepala dua." kata August asal. semua elf menahan tawa karena semua tau itu adalah ramuan obat tidur yang biasa mereka konsumsi bila mereka sangat kelelahan.


"Hah.. tolong ampuni aku tuan.. kita sama-sama manusia.. jangan bunuh aku.. aku mohon.."


"aku akan bertanya padamu, jika aku puas dengan jawabanmu kami akan memberikan penawarnya, aku yakin kau sudah merasakan sedikit efek racun itu, matamu tiba-tiba terasa berat, itu karena darah di dalam tubuhmu mulai mengering."


"Ba.. ba.. baik.. aku akan menjawab apapun." kata lelaki itu semakin ketakutan, ia memang mulai merasakan matanya mulai sedikit berat.


"Di istana itu siapa yang paling kuat?"


"Jendral Tassian, dia yang terkuat, dia panglima perang kami."


"Mengapa dia tidak memimpin pasukan ini?"


"Beliau sedang diutus raja Magnius, aku tidak tau kemana."


"Apa kalian menahan ratu Eirana dan elf lainnya?"


"Kami menahannya, tetapi ia sudah dipindahkan."


"PINDAH KEMANA?" bentak Violet.


"A.. aku tidak.. tau.."


"Mengapa orang sepertimu bisa memimpin lebih dari seribu orang?"


"i.. itu hal bi.. biasa.. Raja Magnius punya ratusan ribu prajurit, tersebar dimana-mana, kami mencari keberadaan elf, tuan aku sudah menjawabnya berikan penawar itu."


"Aku akan memberikannya, dan aku juga akan melepaskanmu, tetapi bila setelah kau keluar dari tempat ini masih memimpin mereka, aku akan menculikmu kembali dan memberimu racun lainnya yang lebih nematikan."


"Pyriel kau sudah menyiapkan racun ular berkepala tiga itu?"


"sudah." kata Pyriel yang bersusah payah menahan tawa.


Glek.


Lelaki itu semakin pucat, August lalu memberikan segelas air biasa kepadanya. ia pun dibebaskan. pasukan itu terkejut melihat pemimpin mereka keluar dari pemukiman itu dengan wajah yang sangat ketakutan.


"Ketua kau tidak apa-apa? apa yang terjadi apa kita akan menyerang?" tanya seorang diantara mereka.


"Terserah kau saja, sekarang kau pemimpin pasukan ini, aku tak ingin berurusan lagi dengan mereka, aku tidak ingin mati konyol." katanya sambil menaiki kudanya lalu pergi meninggalkan tempat itu.


Semua berpandangan. tampak sebagian mereka goyah seperlima pasukan itu pun akhirnya juga meninggalkan tempat itu.


"Jangan ada lagi yang pergi, bila Jendral Tassian mengetahui kalian semua akan dihukum dan di cap sebagai pengkhianat."


Mereka kembali bersiap menyerang, panah-panah api dilesatkan, para elf juga membalas dengan panah-panah mereka.


"Pyriel kau jaga tempat putri dan lainnya dari kobaran api, aku akan memimpin mereka di atas sana."


Pyriel mengangguk, Violet menengok ke arah Mercia.


"Lakukan saja Violet, aku akan menahan mereka memasuki pintu ini." kata August.


Tiba-tiba terdengar jeritan bersahut-sahutan di luar.


Akkk... aaaaa... aghhh...


"Apa yang terjadi?" tanya August.


"Kau apa yang terjadi di sana?" tanya Violet pada seorang elf di atas menara.


"u... u.. lar.. na... na.. naga..!"


"apa?" Violet terkejut begitu pula August.


'Ular naga?' jangan-jangan....'


"Buka pintu ini.." kata August.


Seorang elf yang menjaga pintu tampak ragu, namun setelah melihat isyarat Violet mengangguk ia pun membuka pintu gerbang. August bergegas keluar, ia kini melihat seekor ular naga besar berwarna biru memporak-porandakan pasukan istana, dan dalam waktu singkat seluruh pasukan itu tewas.


"Violet perintahkan mereka untuk tidak menyerang naga itu." kata August.


"Aku mengerti." Violet lalu mengisyaratkan pada yang lainnya dengan gerakan tangannya.


Ular naga itu melayang-layang, dan akhirnya diam melingkar di udara menatap ke arah August dan lainnya, Tak lama seorang wanita cantik berbaju putih, dengan tongkat putih melayang turun di antara liukan naga tersebut, setelah menyentuh tanah ia berjalan pelan menghampiri August.


"Amara.. aku tak menduga kau datang ke tempat ini."


"Kau bisa mengalahkan semua pasukan itu hanya dengan menjentikan jarimu, mengapa kau tidak melakukannya?"


Violet terkejut mendengar perkataan wanita itu tentang kemampuan August.


"Aku ingin melihat seperti apa bangsa elf berperang."


Setelah perpisahan itu, pertemuan keduanya terasa canggung. Ular naga biru itu akhirnya menghilang.


"Mercia aku sudah memikirkannya, aku akan membantumu mencarinya, tapi aku ingin kau berjanji satu hal untukku."


"Apa yang bisa aku lakukan untukmu?" sebelum kita mencarinya aku ingin mengenalnya terlebih dahulu, aku ingin tahu dimana ia tinggal, bagaimana kehidupannya, aku ingin kau bawa aku ke duniamu untuk melihatnya."


"Itu perkara mudah."


"bila kita menemukannya, dan dia bukan seperti yang kau kira, maka aku ingin kau menikah denganku."


hening.


"Apa kau menyanggupinya?"


August menghela nafas panjang. "Aku sanggup, aku berjanji padamu."


"Mercia.." panggil seorang wanita di belakang August.


August menengok ke belakang.


"Sylvana...?!"