MERCIA

MERCIA
36. Kita Akan Berjumpa Lagi.



Sebuah mobil Mercedes hitam terlihat oleng lalu menabrak pagar sebuah villa yang terletak tak jauh dari sebuah danau. seorang lelaki keluar dari mobil itu dengan berlumuran darah karena satu lengannya terpotong.


"Tuan Ellias.. tuan Ellias tolong aku.." teriak lelaki itu.


Pintu villa terbuka, Ellias muncul di hadapan lelaki itu.


"Tuan Jacky apa yang terjadi denganmu?" tanya Ellias panik.


"Bajingan itu memotong tanganku." kata Jacky.


"tenanglah tuan Jacky aku akan menolongmu."kata Ellias.


"Leo, ambilkan bungkusan dalam kotak obat" pinta Ellias.


"baik" leo segera pergi, tak lama ia kembali dengan sebuah bungkusan berwarna coklat lalu menyerahkannya kepada Ellias.


"Tuan Ellias tolong bawa aku pergi segera dari kota ini." Jacky memelas.


"Leo siapkan mobilnya" kata Ellias.


"Baik tuan." jawab Leo.


Ellias membuka bungkusan, lalu mengeluarkan sebuah jarum suntik yang sudah terisi cairan berwarna biru yang tersimpan dalam sebuah kotak. saat mengambil suntikan itu ia sengaja menjatuhkan beberapa poto di tanah.


"cairan apa itu?" tanya Jacky.


"Kau sudah kehilangan banyak darah, serum ini akan menghentikan pendarahanmu, dan mencegah infeksi jika tidak kau tak akan selamat di perjalanan kau mau ambil resiko?" tanya Ellias.


"Lakukan." kata Jacky


Ellias lalu menyuruh Jacky mengangkat celanan bahan miliknya, lalu Ellias menyuntikannya ke paha kiri Jacky.


Jacky merasakan kaki kirinya kebas, ia jatuh terduduk.


"Hey hati-hati" Ellias menangkap tubuh Jacky.


"tunggulah sebentar, sepulang dari tempatmu ban mobil kami bocor Leo sedang menggantinya sebelum kau tiba, kau pasti akan selamat." kata Ellias.


"aku akan membantu Leo."


"Terima kasih tuan Ellias aku berhutang budi padamu." kata Jacky.


"tidak perlu sungkan." Ellias pun pergi meninggalkan Jacky.


Jacky merasa tenang, secercah harapan terlihat, ia sudah mulai menyusun rencana, setelah pulih, ia akan menuntut balas kepada August. tetapi rencana dalam pikirannya hilang ketika ia melihat tumpukan poto di bawah kakinya.


Ia memungut poto tersebut satu per satu, tangannya gemetar melihat wajah wajah di poto itu.


"Adrian Carwel"


"Benar"


"kau.. apa maksudnya ini tuan Ellias?" tanya Jacky wajahnya mulai terlihat pucat.


"a.. a.. apa hubunganmu dengannya?" tanya Jacky.


"akulah Adrian Carwel" kata Ellias.


"ti.. tidak mungkin orang itu sudah mati?" kata Jacky.


"Hahaha.. seorang wanita menyelamatkanku, aku mengganti identitasku, memulai bisnis dengan arahannya hingga aku menjadi seperti ini sekarang."


"apa kau bekerjasama dengan anak itu?" tanya Jacky.


"Jika kau tau siapa anak itu kau tidak akan berani menyentuhnya apalagi menyakiti orang orang disekitarnya. bahkan majikanmu Gorran tidak berani gegabah melawannya." kata Ellias.


"apa?!" Jacky tercengang.


"master Lee apa kau sudah menemukan lokasinya?" tanya Ellias.


"sudah tuan, puncak gunung Royan." jawab master lee.


"Jika kau ingin membunuhku mengapa jauh-jauh, bunuhlah aku sekarang." kata Jacky frustasi.


"aku semula ingin membunuhmu, tetapi anak itu mengajariku satu hal penting, membunuhmu terlalu mudah, aku ingin kau mencari kematianmu sendiri, kau bisa hidup hanya mengandalkan tangan kirimu, karena kedua kakimu sudah lumpuh. bila kau ingin mengakhiri hidupmu, kau bisa melompat ke jurang atau merayap menuruni lereng gunung dan menjadi makanan hyena."


"Leo bantu Master Lee mengantarkan bajingan ini ke peristirahatannya yang terakhir." pinta Ellias.


"Baik tuan." jawab leo.


Leo menyeret Jacky lalu memasukannya ke dalam bagasi mobil. ia mengantarkan Master Lee ke pintu masuk hutan, setelah itu Master Lee membopong Jacky menuju puncak gunung Royan. dimana itu akan menjadi peristirahatannya yang terakhir.


Sore tiba, August tiba di rumah Aira. baru beberapa saat lalu ia harus mengucapkan kata perpisahan yang berat, kepada Aruna, Julia dan kini kepada Aira.


August mendekati kamar Aira ketika ingin mengetuk pintu, ia mendengar isak tangis Aira. August pun mengurungkan niatnya. ia kembali berjalan ke ruang tamu lalu duduk menenangkan dirinya. August lalu berjalan menuju pintu rumah, ia membuka pintu dan menutupnya kembali dengan sedikit keras.


"Aira apa kau di rumah.. Aira..!" teriak August.


"ya aku di sini" kata Aira.


August mengetuk pintu kamar Aira.


"sebentar aku lagi mengganti bajuku" kata Aira.


Aira buru-buru menyeka air matanya. lalu ia membuka pintu kamarnya.


"Hey apa urusanmu sudah selesai?" tanya Aira.


"sudah" kata August dengan senyum yang dipaksakan.


"aku juga sudah menghancurkan markas kelompok black eagle, mereka sudah lenyap." kata Aira.


"terima kasih Aira." ucap August ia berjalan ke arah pintu balkon yang terbuat dari kaca.


"aku tak tau kalau kamarmu mempunyai balkon, rumahku terlihat lumayan jelas dari sini." kata August.


"ya.., aku bisa mengawasimu, hanya saja ketika kejadian yang menimpa kedua orang tuamu, aku sedang berada di tempat Lyra, aku minta maaf." kata Aira.


"Tak perlu minta maaf, itu bukan salahmu, setiap orang punya takdirnya masing-masing." kata August.


August mengeluarkan ponsel dari sakunya. jarinya bergerak memilah dan memmilih.


"apa yang kau lakukan?" tanya Aira.


"aku memesan makan malam dan makan di balkon ini." kata August.


Aira tertawa,


"Kau ini seharusnya mengajak wanita makan di restoran bukan di atas balkon, tidak ada romantisnya sama sekali." kata Aira.


"Hey.. aku sangat kelaparan.. jika pergi ke restoran, aku sudah mati duluan dalam perjalanan." kata August.


mereka berdua tertawa. tak lama makanan yang di pesan pun tiba.


"kau pesan makanan banyak sekali, aku bingung mau yang mana." kata Aira.


"makanan ini untukku, aku tak pernah bilang akan memberimu makanan ini." kata August.


"apa kau bilang? kalau begitu aku akan buang semua makanan ini biar kau mati kelaparan." kata Aira.


makan malam yang hampir berujung chaos itu selesai. setelah membersihkan semuanya. Aira masih melihat August duduk di balkon kamarnya.


"Kau tidak masuk? di luar dingin kau bisa kena demam." kata Aira.


"nanti." jawab August.


"kau ini.. aku ambil selimut dulu." Aira mengambil dua potong selimut lalu memberikannya satu kepada August. ia duduk bersandar di pundak kiri August.


"Makanan itu membuatku mengantuk." kata Aira.


"Tidurlah di sini." August menepuk paha kirinya sebagai isyarat.


Aira pun langsung merebahkan dirinya di paha August dengan posisi menyamping.


"Apa kau tidak mengantuk?" tanya Aira.


"belum, jika kau mengantuk tidurlah.. kau sudah menjagaku selama ini aku mengucapkan terima kasih untuk apa yang telah kau lakukan untukku.., biarkan khusus malam ini aku yang menjagamu.."


"kau berjanji tidak akan meninggalkanku tertidur di sini?" tanya Aira.


"aku janji, aku akan tetap di sini hingga kau terbangun dari tidurmu." kata August.


"Aruna sudah mengatakannya padamu?" tanya Aira.


"sudah, dan aku tak ingin mengucapkan selamat tinggal, karena aku yakin kita akan berjumpa kembali."


kata August.


"aku pun begitu" kata Aira.


August mengusap lembut kepala Aira, ia melihat mata Aira berkaca-kaca terlihat butiran air seperti akan terjatuh di salah satu sudut matanya, August menempelkan jarinya mencegahnya terjatuh.


"Jangan coba-coba menangis atau aku akan memencet hidungmu." ancam August.


Aira tertawa.


malam semakin larut. Aira akhirnya tertidur di pangkuan August. August mencoba untuk tetap terjaga, tapi ia tak kuasa menahan kantuknya ia pun ikut terlelap.


Sinar mentari menerpa wajah August. aroma pagi menusuk hidung, kicauan burung membangunkannya.


Aira tidak ada di pangkuannya, ia telah pergi, dan gadis itu menepati janjinya untuk tidak mengucapkan selamat tinggal. ternyata pepatah itu benar adanya.


kita akan mengetahui pentingnya arti sesuatu jika sesuatu itu telah hilang. August tersenyum pahit


August menghela nafas panjang. ia akhirnya pergi menuju kota Buckland.