MERCIA

MERCIA
45. Dunia yang Aneh.




Dunia Yang Aneh.



August merentangkan tangannya memejamkan matanya menghirup udara Proxima.


"ah segar sekali" ia terkejut menatap langit, ia melihat dua buah matahari dengan ukuran berbeda dan sangat aneh, entah kenapa ia bisa menatap langsung tanpa menyilaukan dan tidak membuat sakit matanya, ukuran matahari itu terlihat sepertiga lebih kecil dari bumi, dan satu lagi setengahnya.


August berdecak kagum "indah sekali" ia meloncat-loncat kecil tanpa menggunakan kekuatannya, ingin merasakan gravitasinya


'sepertinya gravitasi di dunia ini lebih kecil padahal kudengar dunia ini lebih luas dari bumi. benar-benar aneh' pikirnya. ia tak sadar ada sepasang mata yang melihatnya.


"mengapa kau rusak tanaman bungaku?" terdengar suara seorang wanita.


August terkejut. ia menengok ke belakang seorang wanita memegang tongkat kayu menatap tajam. ia lalu menengok ke bawah kakinya, beberapa tanaman bunga telah rusak karena ia injak. August panik.


"ma.. maaf aku tak sengaja.. aku akan memperbaikinya."


"apa kau mata-mata?"


tiba-tiba dua orang wanita dan seorang lelaki datang mendekat.


"Dasar wanita gila, tugasmu mengambil air bukan berpacaran" kata seorang wanita memakai baju hijau.


"Hey.. Elyn bila guru tau kau berpacaran, dia akan menghukummu." sahut wanita lainnya yang memakai baju coklat.


'hmm.. jadi gadis ini bernama Elyn.' pikir August.


"aku tidak pacaran, aku menangkap mata-mata."


"Hentikan kalian bertiga, mengapa kalian selalu mengganggunya?" kata seorang wanita yang baru datang mencoba menengahi suasana.


"kau jangan membelanya Isona, apa kau tak dengar kata-kata Elyn? dia berhasil menangkap mata-mata." ucap seorang lelaki.


"kau pikir aku tak tau kau ingin menjebak Elyn, Hey Dion kau lupa posisimu saat ini?"


"tunggu.. ini semua salah paham, aku kebetulan lewat sini dan tak sengaja menginjak tanaman bunga milik nona Elyn ini." kata August.


Isona melihat ke arah August. 'hmm.. lelaki ini tak memiliki kekuatan apapun' ia lalu melihat tempat dimana August bediri, tampak beberapa bunga hancur terinjak.


"Elyn mengapa kau berpikir dia adalah mata-mata? tanya Isona.


"dia telah merusak bunga kesukaan ibuku."


Isona miris mendengarnya. "Elyn pergilah mengambil air, jangan sampai guru marah, aku akan memperbaiki, bunga kesukaan ibumu ini."


"baik, terima kasih Isona."


"kalian bertiga juga pergilah."


"jangan kau pikir ini sudah berakhir Isona!" kata wanita berbaju coklat lalu berjalan pergi.


"kau juga sebaiknya pergi, mereka akan kembali dan membawa masalah besar untukmu."


"terima kasih atas bantuanmu, tapi aku tak akan pergi aku ingin memastikan Elyn tak mendapatkan masalah karena keberadaanku." kata August.


"ada atau tidak adanya kau Elyn selalu mendapatkan masalah dari ketiga orang itu, mereka selalu mengganggunya."


"jika kau bersikeras membantunya, bantulah ia membawakan air dari sungai untuk gurunya."


"baiklah, aku akan pergi membantunya."


August pun pergi meninggalkan Isona, ternyata jarak ke sungai lumayan jauh, pikirnya. ia sangat terkejut melihat sekitar lima belas jerigen besar tergeletak menunggu Elyn memasukan air kedalamnya.


"Hey.. Elyn..!"


Elyn menengok "kau.. mau apa kau jangan macam-macam aku akan menghajarmu."


"tenanglah.. Isona menyuruhku untuk membantumu mengangkat air itu."


"benarkah.. jadi kau bukan mata-mata?"


"bukan! aku hanya kebetulan lewat, aku minta maaf telah merusak bunga kesukaan ibumu"


"jika Isona bilang kau bukan mata-mata, aku percaya."


"siapa yang membantumu mengangkat jerigen ini?"


"bukankah kau bilang akan membantuku?"


"mengapa kau melakukannya?"


"guru akan memberiku uang untuk membeli obat untuk ibuku, terkadang aku juga boleh ikut berlatih, Isona yang mengajariku. hey siapa namamu?"


"Namaku Mercia."


"namamu aneh"


August merasa kepribadian Elyn luar biasa. ia sangat kuat. ia sangat sabar demi ibunya.


"bisakah kita antar air itu sekarang."


"baiklah" Elyn mengambil satu jerigen yang sudah terisi lalu mengangkatnya. Sementara August membawa dua buah jerigen, ia melihat jalan yang mereka lalui sangat menanjak, membuat Elyn sedikit kesulitan.


"Elyn tunggu sebentar."


"ada apa? kau lelah? seharusnya kau bawa satu saja."


"tidak bukan itu, ada masalah di pundakmu, kau bisa cedera dan latihan beladirimu akan sia-sia." kata August pura-pura.


"darimana kau tau?!"


"Hey aku ini belajar pengobatan jadi tau, begini saja aku akan buktikan aku akan menekan titik syaraf di pundakmu itu kau akan merasakan perbedaannya nanti."


August menekan pundak dan punggung Elyn. August hanya asal bicara ia hanya ingin menyalurkan energinya kepada Elyn, ia tak tega gadis itu mengangkat belasan jerigen besar sendiri.


"mengapa punggungku terasa dingin?" tanya Elyn.


"aliran darahmu tersumbat, sekarang mulai sedikit lancar, sudah selesai."


Elyn segera mengambil jerigennya. ia terkejut.


"mengapa jerigen ini jadi terasa ringan?" tanya Elyn.


August hanya tersenyum, mereka berdua akhirnya kembali berjalan menuju sebuah kuil. ketika memasuki kuil tersebut semua mata memandang kearah mereka berdua.


"Guru itu mereka." kata Dion.


Seorang lelaki paruh baya memandang kearah August dan Elyn, ia lalu berjalan mendekati di sampingnya tampak seorang wanita menggunakan pakaian berwarna hitam.


"jadi kau sekarang berani membawa mata-mata ke kuilku?" tanya pria paruh baya itu pada Elyn.


Isona yang melihat Elyn dalam masalah segera berlari "Guru Irric, dia bukan mata-mata."


Isona lalu menceritakan kesalah pahaman yang terjadi antara August dan Elyn.


"aku tidak akan menelan ceritamu begitu saja Isona, hanya ada satu cara membuktikannya, nona Ravenna apakah kau bersedia?" tanya Irric.


"tentu saja." Wanita yang bernama Ravenna itu tiba-tiba menyentil jarinya lalu muncul sinar seukuran kuku kelingking mengarah ke kening August


August tidak menyangka mendapatkan serangan wanita itu, ia merasa mengantuk ia pun tertidur dalam posisi berdiri.


"siapa namamu?" tanya Ravenna.


"Mercia" jawab August masih dalam kondisi tak sadar.


"apa kau mata-mata?"


"aku bukan mata-mata."


"Mengapa kau ada di sini?"


"aku hanya kebetulan berada di sini, tak kenal siapapun disini."


"Mengapa kau tidak pergi?"


"aku tak ingin Elyn mendapatkan masalah karena diriku, aku kasian dengan gadis itu, ibunya sakit namun orang lain selalu mengganggunya dan gurunya tidak bersikap adil padanya."


Isona dan Elyn senang mendengar penuturan August. tidak bagi Irric dan Dion, mereka seperti di tampar di hadapan Ravenna.


"sudah cukup." kata Irric.


Sementara bagi Ravenna ia sedikit terkejut, keterangan August tentang Irric sangat kontras dengan hal yang sering di dengarnya tentang Irric.


"Elyn mulai hari ini dan seterusnya kau tak perlu lagi, mengantarkan air lagi, ini bayaranmu." Irric melempar dua keping koin emas ke arah Elyn.


"guru Irric aku minta maaf, aku berjanji bekerja lebih giat lagi, ibuku sakit aku butuh uang untuk membeli obat." tangis Elyn pecah.


"itu urusanmu.. sekarang cepat pergi.. bawa pacarmu itu!" Irric menunjuk August."


August mulai tersadar, ia sedikit bingung dan perlahan mengerti apa yang telah terjadi. sementara Ravenna benar-benar terkejut melihat sifat Irric yang sebenarnya.


"Guru Irric kasihanilah ibuku, dia adalah pendiri kuil ini, biarkan aku bekerja disini."


August dan Ravenna tercengang. sementara Irric emosi mendengarnya ia mengangkat tangannya untuk menampar Elyn. ketika tangan itu hampir mengenai pipi Elyn, August menangkap tangan Irric.


"aku akan mematahkan tanganmu, bila kau mencobanya lagi."


Irric segera menarik tangannya.


hening.


Tak ada yang menyangka ada yang berani mengancam Guru Irric. Ravenna dan Isona pun dibuat terkejut, menurut mereka August tidak punya kemampuan apapun.


"Elyn benarkah ibumu pendiri kuil ini?!" tanya August.


"i.. iya.. lalu ibuku jatuh sakit dan guru Irric menggantikannya."


"Elyn.. mari kita temui ibumu, aku akan mencoba mengobati penyakitnya." ajak August.


"Mercia benarkah kau bisa mengobati ibuku?"


"kita akan mencobanya." August dan Elyn ingin berjalan pergi, tetapi mereka melihat pintu gerbang itu langsung ditutup.


"kau pikir bisa pergi begitu saja setelah menantangku?


"apa kau ingin aku mempermalukanmu di hadapan murid-muridmu itu?" kata August tanpa rasa takut.


Irric segera melesat kearah August. August pun menerjang mengarahkan tinjunya kearah dada Irric lalu kembali ke posisinya dengan super cepat. tak ada yang bisa melihat gerakannya terkecuali Ravenna, ia pun hanya bisa melihat sekilas. dan itu kembali membuat dirinya takjub.


Irric tidak tau apa yang membuatnya terpental memuntahkan darah, ia memandangi August sebelum jatuh pingsan. semua orang yang berada disana terkejut.


"kau.. kau berani melukai guru Irric?" kata Dion.


August melirik ke arah Dion. "ya.. dan aku akan mematahkan kaki dan tanganmu bila kau masih mengganggu Elyn."


"apa kau tidak tau siapa aku? aku Dion putra Valon raja dari kerajaan Galan."


"kalau begitu aku akan mematahkan kaki dan tanganmu lalu menyeretmu ke depan gerbang istana ayahmu, katakan padaku dimana letak kerajaanmu." tanya August.


"Hah.. kau.."


"Tuan Mercia, namaku Ravenna, aku harap kau tidak melakukan itu pada dion, aku akan menjamin dia tidak akan mengganggu Elyn lagi."


"apa hubunganmu dengannya?"


"dia keponakanku."