
August berjalan menuju tepi danau, ia sangat yakin ada sesuatu di bawah danau itu. tetapi Aruna tak merasakan apapun.
"apa kau yakin? aku tidak merasakan apapun." kata Aruna.
"aku tak tau benda apa itu, sepertinya memiliki dua lapisan energi" kata August.
August mencelupkan tangannya ke dalam danau lalu mengangkatnya kembali.
"aneh" gumam August.
"ada apa?" tanya Aruna penasaran.
"Lapisan paling atas benda itu menghisap energiku, lalu mengubahnya menjadi semacam pelindung, lapisan kedua itu melindungi benda itu" kata August.
"tunggu kau bilang menghisap energimu?" tanya Aruna.
"ia.. tapi hanya ketika aku mengeluarkan energiku" kata August.
"Lyra pernah mengatakan ketika ia tiba di dunia ini kekuatannya seperti terhisap sesuatu, aku dan Aira pun merasakannya" kata Aruna.
"apa portal kalian muncul di tengah danau ini?" tanya August.
"tidak, portalnya muncul di kota Buckland." kata Aruna.
"itu sangat mustahil, sesuatu di dalam danau ini hanya mampu menghisap energi dengan radius beberapa kilometer saja, sedangkan kota Buckland berjarak puluhan kilometer dari danau ini." kata August.
August dan Aruna sontak saling memandang.
"kecuali ada sesuatu di kota Buckland." ucap mereka bersamaan.
"Hey Aruna tombak emasmu dari mana sumber energinya?" tanya August.
"Cahaya." jawab Aruna.
"Boleh kupinjam?" pinta August.
Aruna menadahkan telapak tangan kanannya. tak lama muncul tombak emas. ia menyerahkan kepada August.
August lalu menancapkan tombak itu di pinggiran danau. dari ujung tombak yang tertancap itu keluar energi berkelok kelok menuju area di tengah danau. August membuka baju, sepatu dan celananya.
"apa yang mau kau lakukan" tanya Aruna wajahnya sedikit memerah.
"jangan memikirkan yang bukan bukan." jawab August lalu ia menyelam mengikuti alur energi yang keluar dari tombak tersebut.
Emang aku memikirkan apa. gumam Aruna dalam hatinya.
Hampir sepuluh menit August tak muncul di permukaan, seandainya Aruna adalah manusia bumi ia pasti sudah sangat cemas, ia masih sabar menunggu, ia tau kekuatan August sangatlah besar, apa yang di tunjukan di kuil itu hanyalah sebagian kecil saja, kekuatan sesungguhnya pasti sangatlah menakutkan.
Tiba-tiba di tengah danau terlihat cahaya, air bergejolak. August pun terlihat muncul di permukaan. ia berteriak.
"Aruna cabut tombaknya"
tanpa banyak bertanya Aruna mencabut tombaknya. ketika ia menyentuh tombaknya ia sempat terpental mundur dua langkah. sementara August kembali tak terlihat. tak berapa lama terjadi ledakan kecil di tengah danau.
Blarr..
August meloncat dari bawah air di tengah danau itu dan mendarat di depan Aruna di lengan kiri August menempel sebuah perisai berbentuk segitiga berwarna biru berkilauan.
"i.. i.. itu perisai cahaya." Aruna tercengang.
"kau tau perisai ini?" tanya August.
"guruku pernah bercerita, perisai itu milik seorang wanita yang mampu memanipulasi cahaya, banyak orang mencari perisai itu tapi tak berhasil hingga keberadaannya di anggap mitos." kata Aruna.
August melihat danau itu kembali, ada yang berubah, danau itu telihat hitam di gelap malam. tak lagi terlihat biru.
ternyata rahasia danau ini berwarna kebiruan di malam hari adalah aura perisai ini. kata August dalam hatinya.
"Baiklah kita temui Rafael sekarang." kata August.
Aruna hanya mengangguk.
Pukul delapan malam Rafael selesai dengan pekerjaannya, di seberang Golden Lane August dan Aruna telah menunggu. Begitu melihat August Rafael senang bukan kepalang.
"Bro, aku tak percaya bisa melihatmu lagi, kemana saja kau?" tanya Rafael.
"Aku belum bisa menceritakan padamu saat ini, mungkin di masa depan." jawab August.
"aku mengerti, dan aku yakin kau punya banyak pertanyaan dalam benakmu selama setahun ini." kata Rafael.
"Mari bicara sambil makan malam, restoran mana kita akan pergi?" tanya August.
"Bro.. kita makan di pinggir jalan dekat taman saja." jawab Rafael.
"Hey kita saudara, walau aku miskin aku masih sanggup mentraktirmu di tempat yang lebih baik." kata August.
"Tidak bukan itu maksudku, saat ini hampir gedung di kota ini punya mata dan telinga." kata Rafael.
"baiklah mari ke taman." kata August.
setelah memesan beberapa potong kebab dan minuman. Aruna memutuskan untuk memberi privasi pada mereka berdua.
"aku akan berjalan berkeliling sebentar." ucap Aruna.
"Apa Jacky di balik semua ini?" tanya August.
"Benar"
"Jacky adalah otaknya, Bryan eksekutornya."
"Setelah mereka mengeluarkanmu dari kampus, mereka ingin membunuhmu, namun kau menghilang, mereka frustasi mencarimu sebagai pelampiasan mereka mengincar orang terdekatmu."
"Mereka membunuh kedua orang tuamu seolah-olah terjadi kecelakaan. lalu melakukan sesuatu yang buruk terhadap Nora." Rafael menitikan air mata.
"apa yang terjadi dengan Nora?" tanya August.
"Bryan dan anak buahnya melakukan..." Rafael tak sanggup melanjutkan kata-katanya.
"Hal itu membuat mental Nora hancur kini ia berada di rumah sakit jiwa.
Mendengar itu tangan August mengepal kuat, amarah terlihat di matanya.
"Bahkan Bos mu Borris terkena imbasnya. bisnisnya hancur, istri dan anaknya meninggalkannya, ia mengakhiri hidupnya dengan menggantung lehernya." kata Rafael.
"Bagaimana dengan Julia?" tanya August.
Rafael tak menjawab.
"Tolong katakan padaku.. apa yang terjadi dengannya?" tanya August.
"Waktu itu aku berada di rumahnya untuk mengingatkannya segera pergi, tapi terlambat Bryan dan anak buahnya tiba."
"Apa yang telah mereka lakukan terhadap Nora mereka ingin mengulanginya kembali pada Julia."
"BRENGSEK!" August tak kuasa menahan amarah.
"Ayahnya terbunuh demi melindunginya, Aku berlutut di hadapan Bryan agar ia melepaskan Julia dan Ibunya, sebagai gantinya aku menyerahkan seluruh aset keluargaku." kata Rafael.
"Bryan menerimanya, ia pun merampas seluruh aset keluarga Lockhart."
"Julia dan Ibunya pergi meninggalkan kota ini. semenjak tragedi itu ibunya jatuh sakit, tiga bulan yang lalu ia menemuiku memberi kabar bahwa ibunya telah meninggal. aku tak tau dimana ia sekarang, namun ia memintaku untuk menyampaikan pesan padamu." kata Rafael.
"Pesan apa?" tanya August.
Rafael mengambil sesuatu dari sakunya. lalu menyerahkan kepada August.
"semoga kau berbahagia" kata Rafael.
August menerima kotak musik itu, hatinya perih. ini sangat menyakitkan.
"aku yang bersalah atas semua peristiwa ini, kau boleh percaya atau tidak bahwa waktu itu aku tidak lari" kata August.
"Bro.. aku sangat mengenalmu, pasti terjadi sesuatu padamu yang membuat kau menghilang!" kata Rafael
"aku ingin bertanya satu hal lagi padamu." kata August.
"apakah kau berasal dari proxima?" tanya August.
Rafael terkejut.
"bu.. bu.. kan aku dari dunia ini" jawab Rafael gugup.
"tenanglah." kau tak perlu gugup.
"Jadi kau tau kalau Aruna itu.."
"ya aku tau, juga Aira." potong August.
"Hah.. Aira juga?" Rafael tak percaya.
"aku ingin menawarkanmu dua pilihan." kata August.
"katakan" ucap Rafael.
"apa kau ingin seluruh aset keluargamu kembali atau kau ingin menemaniku melihat proxima? kata August.
"jadi alasanmu menghilang.."
"Baik aku akan mengikutimu." jawab Rafael bersemangat.
"sekarang pulanglah besok kau tak perlu bekerja lagi aku ingin kau mengawasi keluarga Longstaf, darah harus dibayar dengan darah."
"Ok bro." ucap Rafael.
Rafael menyetop taksi, dalam perjalanannya ke rumah , ia berpikir bahwa August telah berubah, tatapannya mengerikan, mengapa ia merasa August terlihat sangat kuat. Bro apa hubunganmu dengan proxima? Rafael dalam hatinya.