MERCIA

MERCIA
89. Wanita Iblis.



August membuka matanya ia mendapatkan dirinya tengah berada di sebuah kamar, ia melihat ke samping Zelda tampak tertidur pulas dengan satu tangannya memeluk dirinya. ia menggeser tangan Zelda, tetapi gerakannya telah membangunkannya.


"Kau sudah sadar?" tanya Zelda.


"Ya.. apa yang terjadi?"


"Kau tiba-tiba pingsan setelah menebas tangannya."


"kau melihatnya?"


"tentu saja, tetapi seharusnya aku yang bertanya bagaimana bisa kau melihatnya?"


"Aku tidak tau, semua terjadi begitu cepat."


"Aku sudah mengetahui, aku biarkan tangan hitam itu, menyerangku, aku sudah mengirim energi untuk menyerang balik, tapi tiba-tiba kau memotong tangannya, energiku berbenturan dan kau akhirnya pingsan."


"Aku sudah membunuh lelaki itu."


"Lelaki?"


"orang yang duduk di pojok, dialah pemilik tangan yang kau potong itu."


August akhirnya kembali mengingat kejadian itu.


"Terima kasih, tidak pernah sebelumnya ada yang berbuat seperti itu padaku." kata Zelda.


"Maksudmu?"


"Membelaku."


"Karena kau temanku, aku tak mau orang lain menyakiti temanku."


"Jadi itu yang di lakukan seorang teman?"


August menatap Zelda. "Benarkah apa yang kau katakan sebelumnya, kau tak memiliki teman?"


Zelda menggeleng.


"apa kau masih tak mau berteman denganku?"


"aku mau."


August bangkit dari tempat tidur.


"Kau mau kemana?"


"dari pagi aku belum makan, perutku lapar sekali."


"Aku akan membawakanmu makanan."


"Apa kau akan marah-marah dan mengancam membunuh pemilik rumah makan itu?"


"Apapun caranya."


August hanya tersenyum. "Tidak perlu. kau tau meminta secara baik-baik terkadang kau bisa mendapatkan hal tak terduga."


"Itu terlalu lama."


"Kau istirahatlah."


"Apa kau akan kembali?"


"ya."


"baiklah."


August lalu meninggalkan kamar itu. 'hmm.. dia tiba-tiba berubah.'


August menuruni anak tangga, kini ia mengetahui, kamar itu adalah sebuah penginapan dan di lantai dasar itu adalah rumah makan yang sama. August melihat tempat itu sedikit hancur, seorang lelaki paruh baya dan seorang pelayan wanita tampak sibuk membersihkan tempat itu, beberapa bangku dan meja hancur berserakan. pelayan wanita terkejut melihat kemunculan August, ia segera berlari menghampiri, lelaki paruh baya yang melihat pelayan wanita berlari ia pun segera mengikuti, mereka berdua menunduk penuh ketakutan.


"A.. ada yang.. yang.. bi.. sa ku.. ban.. tu tuan?"


9


"Apakah semua ini karena perbuatan wanita yang bersamaku?" tanya August.


pelayan itu melirik ke arah lelaki di sampingnya.


"Tuan tidak apa-apa, kami senang kalian berdua mengunjungi tempat kami."


"Berapa semua biaya kerusakan ini, aku akan menggantinya."


"Tuan.. kau tak perlu menggantinya."


August hanya menggelengkan kepalanya. ia lalu mengambil kantong uang dari balik jubahnya. ia memberikan tiga puluh keping emas kepada lelaki itu


.


"Apakah kurang?"


Tangan lelaki itu gemetar menerima uang pemberian August.


"Tu.. tu.. tuan ini.. ini.. terlalu banyak."


"ambilah."


"Tuan aku tak bisa menerimanya, uang sebanyak ini bisa membangun dua penginapan yang lebih besar dari tempat ini."


"Kalau begitu anggap saja aku memberimu modal untuk mengembangkan usahamu. dan untuk membayar biaya menginap aku atau wanita itu mungkin sehari atau dua hari, ."


"Tuan kau dan dia bisa menginap selama kapanpun yang kalian mau." kata lelaki itu matanya berbinar, ia sangat senang.


"Baiklah, apa kalian memiliki makanan? aku sangat lapar sekali."


"kami akan segera buatkan, silahkan duduk tuan aku akan membawakan minuman untukmu."


"Linda buatkan makanan paling spesial untuk tuan ini."


"Baik, ayah."


'hmm.. jadi mereka ayah dan anak.'


Setelah beberapa saat makanan sudah terhidang di meja August. ia menyantapnya dengan lahap. ketika August sedang asyik menyantap makanannya, seorang pria dan seorang wanita menghampirinya.


"Boleh kami duduk di sini?" tanya si lelaki.


"Jika kalian ingin melihatku makan silahkan, jika kalian ingin makan meja lain masih kosong."


"Kami hanya ingin bicara denganmu."


"bicara saja, tapi aku tetap terus makan."


"Makanlah dengan pelan, kau terlihat menjijikan makan seperti itu." kata wanita itu.


August hanya menatapnya sesaat, ia kembali makan dengan cara yang sama.


"Aku lapar, aku makan sesukaku, apakah kau tak punya kegiatan lain dalam hidupmu selain mengamati cara orang makan?"


"Apa kau bilang?"


"Jane.. tenanglah."


"Maaf kami mengganggu waktu makanmu, namaku Rheno dan dia adalah Jane, kami berasal dari Naeron."


"Naeron? apakah itu sebuah kerajaan? apakah kalian perwira kerajaan?"


"Apa mau kalian?"


"Kami ingin bertanya tentang temanmu."


"Temanku?"


"Wanita yang bersamamu." kata Jane.


'hmm.. wanita ini angkuh sekali.'


"ada apa dengannya?" tanya August.


"Sejak kapan kau berteman dengannya?"


"Aku baru bertemu dengannya siang tadi, lalu aku tak sengaja bertemu dengannya lagi di sini."


"Sepertinya kau berhasil mendapatkannnya." kata Jane.


"Maksudmu?"


"Kau berhasil menidurinya, hanya dengan mentraktirnya makanan, jauh lebih murah di banding kau masuk rumah pelacuran itu, kau tak punya uang bukan? hingga mereka menendangmu keluar."


"Kau.."


"Kenapa? terkejut? aku melihatmu bahkan semua orang melihatnya."


"Jane..!" panggil Rheno.


"Hahaha.. jadi itu alasannya kau bersikap seperti ini, hmm.. apakah kau cemburu aku menidurinya?"


"BRENGSEK..!" Jane mencabut pedangnya.


"JANE...! Cukup..!"


"Apa kau tau siapa dia sebenarnya?" tanya Rheno.


"Dia adalah Zelda wanita iblis, dia telah membunuh ratusan orang, orang-orang dari dunia hitam dan putih sedang memburunya."


"Termasuk kalian?" tanya August.


Rheno dan Jane tak menjawab.


"Sudahlah pembicaraan kita selesai, aku ingin istirahat, tapi khusus untukmu Jane, pintu kamarku selalu terbuka aku bisa mengulur waktu istirahatku hanya untukmu." kata August berjalan pelan meninggalkan mereka berdua.


"Keparat..!" Jane ingin menyerang August, tapi lagi-lagi Rheno menahannya.


August berhenti sesaat.


"Kalian perlu tau, orang yang kalian sebut wanita iblis itu telah menyelamatkan nyawaku siang tadi, dan kalian berdua, bukankah kalian berdua anggota kerajaan Gavaria?"


Rheno dan Jane tercengang.


"Kenapa? terkejut? aku melihat lambang kerajaan Gavaria di gelang yang tersembunyi di balik bajunya ketika aku baru memasuki tempat ini."


Jane tersentak.


"Boleh kami tau siapa namamu?" tanya Rheno.


"Tanyakan pada Drake, siapa yang memberinya pelajaran belum lama ini." kata August lalu meninggalkan mereka tanpa pernah menengok ke belakang.


"Sial.. apa yang harus kita lakukan sekarang? aku tak percaya ia bisa melihat lambang di gelangku, lambang ini sangat kecil mustahil ia bisa melihat." kata Jane.


"Kita kembali, kita akan melaporkan pada ratu Janessa, kemunculan wanita iblis itu memang benar."


August kembali memasuki kamarnya, tampak Zelda sudah kembali tertidur dengan selimut menutupi tubuhnya. August berjalan ke arah sofa di dekat jendela ia duduk mengamati wajah Zelda yang tidur menyamping menghadap dirinya.


August mengingat kejadian siang tadi, orang-orang berlari berteriak tentang kemunculan wanita iblis, kini dua orang Gavaria berkata sama.


'Benarkah apa yang di katakan mereka, apakah Zelda telah membunuh ratusan orang?' August memijit keningnya.


"Sedang apa kau di situ? kau tidak tidur?" tanya Zelda melihat August duduk dengan kepala tertunduk.


"Ahh.. aku baru bersiap akan tidur." kata August lalu merebahkan dirinya di sofa.


"Tempat tidur ini masih luas, mengapa kau tidur di sana?"


"Emm.. tidak apa-apa, aku tak ingin membangunkanmu tadi."


"Aku sudah bangun, jadi tidurlah di sini, katamu teman harus saling menjaga, aku tak bisa menjagamu bila kau tidur di sana, cepat kemari."


"aa.. ba.. baiklah." August lalu bangkit dan menuju tempat tidur dan merebahkan dirinya di samping Zelda.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Zelda.


"Hah.. bukankah kau kau minta aku tidur di sini?"


"Lalu mengapa kau masih memakai bajumu?"


"apa maksudmu?"


"Kau memang orang hutan, pantas saja kau bodoh."


"Mengapa kau mengejekku?"


"Orang tidur itu tidak pakai baju. pantas kau tidak bisa membedakan mana buah beracun dan yang bukan."


"Apa hubungannya?"


"Sebelumnya aku juga tidur memakai baju, kau sendiri melihatnya."


"Kau tadi pingsan, bukan tidur."


"Memangnya kau tidak?"


Zelda bangkit dan membuka selimutnya.


"kau lihat ini buktinya."


Glek.


Mata August tak berkedip melihat pemandangan indah di depannya. Ia terpaksa melepas semua pakaiannya. mereka berdua tidur dalam satu selimut. Sangat berat bagi August untuk memejamkan matanya, terlebih posisi Zelda merapat padanya dan memeluknya.


"Apa yang kau lakukan?" tanya August.


"Menjaga temanku." kata Zelda yang semakin merapatkan dirinya, satu kakinya pun sekarang berada di atas tubuh August, menindih bagian yang paling berbahaya.


"Hentikan tanganmu jangan menepuk-nepuk pahaku."


"I.. i.. tu bukan tanganku."


Zelda tak menggubrisnya.


'Sial bagaimana aku bisa tidur dengan keadaan seperti ini? pikirkan yang lain.. pikirkan yang lain..'


'Ia lalu memejamkan matanya pikirkan politik.. pikirkan politik.. ia lalu memikirkan seorang tokoh politik tubuhnya besar perutnya buncit, berjalan melewati dirinya tiba-tiba ia menunjuk ke arahnya, lalu polisi menangkapnya, kepalanya ditutup kain hitam, ketika kain itu di buka August berada di ruang tahanan khusus dan Valery ada di sana.'


'Hah.. mengapa berubah jadi Valery? tidak.. tidak.. pikirkan yang lain.. pikirkan nenek-nenek peyot keriput, tetapi hal yang sama terjadi nenek-nenek itu berubah menjadi Helena yang manja.'


'Sial.. sial.."


Selama lebih dari dua jam ia berkutat dengan pikirannya, dan akhirnya dengan susah payah ia pun tertidur.