MERCIA

MERCIA
48. Wanita Buta.



"Ibu kau sudah sembuh?" tanya Hedya.


"Sudah.., bibimu yang mengobatiku." kata Lyra.


"apakah August sudah kembali?"


Lyra menggeleng. Hedya tampak kecewa.


"kau merindukannya?" tanya Lyra.


"tidak.. aku pikir dia sudah kembali, aku hanya ingin tau seperti apa bentuk bunga edianna." kata Hedya.


"Benarkah? kau tau di proxima itu banyak wanita cantik dan.."


"aku akan berlatih lagi." Hedya meninggalkan ibunya tanpa menunggunya selesai bicara.


'oh Hedya aku pun sangat ingin kau bersanding dengannya, tapi kau bukanlah takdirnya, aku tak ingin kau terluka.' pikir Lyra.


**


'Ternyata Proxima memang berbeda dari bumi, tidak ada kendaraan bermesin, ini seperti bumi di masa lampau.' pikir August.


August berjalan memasuki sebuah kota kecil, penampilan August sedikit berubah ia menggunakan jubah hitam tanpa penutup kepala dan menggunakan buff hitam pemberian Ravenna. hari sudah menjelang sore, terdengar alunan suara rock n roll dari dalam perutnya, ia lalu mencari rumah makan.


August hanya memesan beberapa potong roti, kue dan minuman, ia masih asing dengan makanan di dunia ini. August asyik menyantap makanannya, ia tak peduli banyak pasang mata mengawasinya. ia hanya sesekali melirik seorang wanita yang baru saja menghabiskan hidangan di atas mejanya. wanita itu berusia sekitar dua puluh tahunan, menggunakan pakaian tanpa lengan sebatas dada berwarna hijau muda. tampak dua gumpalan itu telah menambah selera makan August.


Tak lama wanita itu pergi meninggalkan rumah makan, tatapan August sekilas bertemu dengan wanita itu, August tersenyum, wanita itu acuh dan melangkah pergi. August sedikit terkejut ia melihat sebuah pedang emas terselip di pinggang wanit itu.


'hmm.. apakah dia dari klan Armeda? jika iya dia teman Aruna atau Aira? lebih baik aku bertanya padanya'


Ia pun segera menghabiskan makanannya lalu pergi, tapi sial, ia kehilangan jejaknya.


'cepat sekali perginya, aku pun tak bisa merasakan energinya di tempat makan itu, ahh.. andai saja aku tidak kelaparan.. tunggu jika ia memang benar dari Armeda pasti jalur yang ia tempuh sama denganku.'


August kembali bersemangat, ia membuka peta lalu meneruskan perjalanannya melewati hutan kecil. baru tiga puluh menit ia bergerak, August berhenti. perut yang kekenyangan membuat ia malas bergerak, ia memutuskan untuk beristirahat sebentar, memberi waktu perutnya mencerna makanan lebih baik. semilir angin membuat ia mengantuk. ia bergumam dalam hati 'penyakit manusia bumi, habis makan ngantuk.'


August pun tertidur bersandar pada batu tak jauh dari jalan setapak.


Lagi pulas tidur August, sebuah tongkat berwarna putih menekan nekan kepala August, ia masih tertidur, tongkat itu pun menekan dada August tetap belum membuatnya tersadar, namun ketika tongkat putih itu menekan tongkat milik August di antara kakinya keduanya terbangun, August reflek menarik tongkat putih itu, tubuh pemilik tongkat itu kehilangan keseimbangan ia lalu terjatuh ke arah August. terdengar pelan teriakan seorang wanita.


ahhhh..


August yang masih dalam posisi berbaring melihat tubuh wanita akan terjatuh ia pun menangkapnya, tetapi tangannya mengarah ke arah dada wanita itu. wanita itu terkejut.


"ehhhghh.."


hening.


"Kau tidak apa-apa?" tanya August.


mendengar suara seorang lelaki menyentuh dadanya, wanita itu panik.


"ehhh.. apa yang kau lakukan lepaskan aku.. dasar lelaki mesum" kata wanita itu.


August melepaskan tangannya, sontak tubuh wanita itu jatuh menindih tubuh August. wanita itu meronta-ronta.


"lepaskan aku.. lepaskan aku.. tolong.. tolong..!" teriak wanita itu.


August panik. "berhentilah berteriak..! kau menindihku ..!"


wanita itu tersadar ia meraba-raba tanah sekitar.


"oh" ucapnya.


"mengapa kau tidur di tengah jalan?" tanya wanita itu.


"apa kau buta? aku tak tidur di tengah jalan.


"aku memang buta, apa kau buta tidak melihat wanita buta" sahut wanita itu kesal.


August mengamati wanita itu, ia mengenakan gaun putih seperti belum dijahit, posturnya sangat mirip dengan Julia, tubuhnya padat berisi, dadanya yang wah, ia memegang tongkat putih dengan ukiran naga berwarna biru. kedua matanya ditutupi selembar kain berwarna putih. terselip sebuah tiara emas dengan intan kecil berwarna biru.


"kau harus tanggung jawab." kata wanita itu.


"Hah... tanggung jawab apa?" tanya August terkejut.


"kau telah menyentuhku, jangan coba-coba lari." kata wanita itu menunjuk-nunjuk ke arah kanannya.


"aku di sebelah kirimu." kata August kesal.


"kau harus ikut aku ke tempat pamanku." ancam wanita itu.


"aku tidak melakukan apa-apa"


"kau jelaskan saja nanti kepada pamanku, biarpun aku buta pamanku bisa melihat siapa yang melukaiku."


"aku tidak menyakitimu."


"kau menyentuhku, jika tidak tanggung jawab artinya kau menyakitiku." kata wanita itu menarik lengan kanan August dan memasangkan gelang rantai dan ujungnya satunya ia pasang di tangan kirinya sendiri.


"apa yang kau lakukan?" tanya August.


"agar kau tak lari, gelang ini tak akan hancur oleh senjata apapun, jadi percuma jika kau mencoba ingin membukanya."


"apa kau tidur di dekat batu besar?"


"ya"


"jalan terus hingga menemukan sebuah pohon besar lalu ke kanan."


"siapa namamu? tanya August.


"untuk apa kau tau namaku?"


"kau memintaku tanggung jawab dengan alasan tak jelas, apa aku tak boleh tau namamu?"


"oh.. iya.. aku lupa.. namaku Amara kau siapa?"


"Mercia"


"Nama yang aneh."


mereka terus berjalan, August selalu melirik ke arah Amara. 'Wajah wanita ini mengapa mirip sekali dengan Julia.' pikir August.


"Mengapa kau diam" tanya Amara.


"aku ingin menanyakan sesuatu, tapi aku takut kau tersinggung." kata August.


"kau ingin bertanya mengapa aku buta?"


"ya"


"sekitar dua atau tiga bulan yang lalu aku bertarung dengan wanita bersenjata tombak, kekuatan tombaknya sangat besar efeknya membuatku buta" kata Amara.


August terkejut ia membatin 'apa Aruna yang membuatnya buta? masalah apa yang membuatnya bertarung melawan Aruna.'


"Mengapa kau bertarung melawan wanita bertombak itu?" tanya August


"Wanita itu diutus untuk membunuh pamanku."


Mendengar cerita Amara membuat August lemas, apakah Aruna kembali menjadi pembunuh berdarah dingin yang kejam.


"Amara bolehkah aku mencoba mengobati matamu?" tanya August.


"Hahaha.. apa kau seorang tabib ahli pengobatan?"


"bukan tapi tidak ada salahnya untuk mencoba bukan?" tanya August.


"Baiklah, bagaimana caranya kau mengobatiku?" tanya Amara.


"bukalah penutup matamu, dan teteskan air ini pada kedua matamu!" August memberikan sebotol air yang sudah diberi energi penyembuh. ketika ia melihat seluruh wajah dan bola mata Amara yang berwarna biru membuat August tercengang.


'dia benar-benar mirip Julia, yang membedakan hanya bibir dan potongan rambutnya.' pikir August.


"Hey mana airnya.." Amara menunggu.


"Maaf.. mata mu sangat indah.." jawab August.


"air apa ini?" tanya Amara pura-pura tak mendengar.


"itu air suci yang kudapat dari tetesan embun pada gerhana bulan merah." August menjawab asal.


Amara menuangkan air dalam botol itu ke telapak tangannya lalu meneteskan ke matanya.


"lalu apa selanjutnya?" tanya Amara.


"aku akan memijit syaraf di sekitar pelipismu."


August melepaskan energi keemasan ketika memijit pelipis Amara. setelah beberapa saat ia berhenti.


"apakah ada perubahan?" tanya August.


"tidak ada, semua tampak hitam"


"buka dulu matamu" August sedikit kesal.


"aku lupa" Amara membuka matanya.


"masih sama semuanya hitam gelap."


August menggerak-gerakan kelima jarinya di wajah Amara, tak ada respon dari kedua matanya.


"Baiklah, maafkan aku tidak berhasil."


lupakan, kita lanjutkan saja perjalanan.


"Amara ini penutup matamu!"


"buang saja, kain itu sudah lama kupakai, nanti aku ganti yang lebih bersih."


entah kenapa August merasa kecewa, ia sangat ingin menyembuhkan Amara.


'mengapa aku merasa bersalah' August bingung.