
"Keluarlah Amara.. atau aku akan membunuh semua naga-naga ini." teriak seorang lelaki yang berada di tepi danau berwarna hijau.
"Putri kau pergilah, aku akan menahannya di sini."
"Ryn.. kau yang pergi, mereka mengincarku, mereka akan terus mengejarku."
"Aku tidak mau meninggalkanmu, dengan kondisimu saat ini kau tidak bisa melawan mereka."
"Ryn mengapa kau menentangku?"
"Maafkan aku putri, aku mohon biarkan aku tetap di sini."
"Baiklah tetapi berjanjilah jika hal buruk terjadi, kau harus segera pergi, ingat sumpahmu."
"Aku ingat putri."
"Wanita pengecut keluarlah!"
"Apa kau cari mati Gaemo?" Amara dan Ryn akhirnya keluar, mereka berdiri di belakang Gaemo dan puluhan anak buahnya.
"Hahaha.. akhirnya kau muncul, hari ini adalah hari dimana aku akan membelah jantungmu, dan mengambil batu jiwa milikmu."
"Kau akan mati lebih dahulu."
"habisi mereka semua..!" perintah Gaemo.
puluhan anak buahnya segera berubah wujud menjadi naga, mereka menyerang Amara dan pasukan naga miliknya.
Hanya dalam waktu singkat pasukan naga Amara berhasil di kalahkan. puluhan anak buah Gaemo saling berebut jantung naga-naga yang telah mati.
"BIADAB KALIAN SEMUA..!" Amara sangat marah, namun ia tak punya kekuatan untuk melawan.
"Hahaha.. kau tidak perlu khawatir Amara aku akan memberikan kematian yang cepat untukmu, tetapi setelah aku bersenang-senang denganmu. Hahaha.."
"Ryn pergilah..!"
"tidak aku ti.."
"RYNNN...!!"
"pergilah, bawalah tongkat ini."
"Putri.."
"Aku mohon.. Ryn..!"
Ryn menerima tongkat pemberian Amara. namun tiba-tiba sinar kemerahan menghantam dada Ryn yang membuatnya terpental menghantam tebing di belakangnya.
wuss.. brakkk..
"RYNNN..!"
Ryn jatuh diam tak bergerak. Gaemo segera melompat ke arah Amara dan mencengkram lehernya mengangkatnya ke udara lalu mendorongnya hingga membentur tebing.
"Kau sangat cantik sekali, sayang aku harus membunuhmu." Kata Gaemo sambil meraba-raba tubuh Amara.
Cuih..
Amara meludah ke arah wajah Gaemo.
"Dasar wanita laknat!"
Plak.. Plak..
Gaemo menampar kedua pipi Amara. ia lalu mengambil belati dari balik bajunya.
wus.. wus.. wus.. aaghh... aghhh.. akkkkhhh..
j
puluhan sinar menghujani area itu mengenai puluhan anak buah Gaemo, mereka seketika tewas dengan lubang seukuran bola tenis pada tubuh mereka.
Gaemo tercengang melihat kejadian itu, seseorang lalu melayang turun di atas batu besar di tengah danau, seekor naga berwarna hijau tampak mengelilingi danau tersebut.
"Lepaskan dia, maka aku akan membunuhmu dengan cepat."
Gaemo dengan sigap menarik tubuh Amara dan menjadikannya tameng. Amara sudah dalam keadaan kritis, ia tidak tau apa yang sedang terjadi.
"siapa kau? aku tidak mengenalmu." tanya Gaemo memasang kewaspadaannya sangat tinggi setelah melihat anak buahnya semuanya tewas dengan mudah.
"Kau tak pantas mengetahui siapa aku, yang perlu kau tau aku adalah orang yang akan membunuhmu hari ini."
Sementara naga hijau kini berubah menjadi seseorang, ia menghampiri Ryn.
"Ryn kau tidak apa-apa?"
"Famir.. cepat tolong putri Amara."
"hussssh.. tenanglah pertolongan sudah tiba, minumlah dulu."
"Siapa yang menolong putri?"
"Minumlah dulu lalu kau bisa lihat sendiri."
Ryn meminum air dalam botol tersebut. seketika rasa sakit dalam tubuhnya perlahan menghilang, tenaganya pun seketika pulih.
"Famir air apa ini? luka-luka ku langsung sembuh, dan tenagaku pulih seketika." tanya Ryn terkejut.
"aku tidak tau tapi lelaki itu menyuruh memberikannya padamu." kata Famir yang juga terkejut melihat perubahan luka-luka Ryn.
"Bodoh.. bodoh.."
"Kau kenapa?" tanya Famir.
"Jika aku tau ini air penyembuh, aku akan memberikannya pada putri, tetapi aku justru menghabiskannya.. hiks.. hiks.." kata Ryn sangat menyesal.
"Maafkan aku Ryn seharusnya aku bertanya padanya terlebih dahulu. aku tak bisa berpikir jernih setelah melihat kau dan putri terluka. mungkin kita bisa bertanya bagaimana ia mendapatkan air itu."
Ryn membenarkan perkataan Famir, walau ia masih menyesal.
"Siapa dia?"
"Aku bertemu dengannya ketika aku kembali, namanya Mercia dia menanyakan dimana putri Amara."
"Mengapa kau memberitahunya? bagaimana jika dia juga seorang musuh?"
"Ryn tenanglah aku tidak sebodoh itu. Nyx mengabdi padanya."
"Nyx naga emas maksudmu?"
"Benar.., Ryn aku melihatnya sendiri dengan mataku."
Famir dan Ryn semakin tegang ketika melihat Gaemo menempelkan belati pada leher Amara.
"Apa kau juga menginginkan batu jiwa miliknya?" tanya Gaemo.
"Aku hanya menginginkan kau mati."
"Paman Roza, Draco kalian datang tepat waktu."
"Apa yang terjadi siapa lelaki itu?" tanya Draco.
"Dia bernama Mercia, Nyx mengabdi padanya." jawab Famir.
"Nyx naga emas?"
"Kita harus menolong putri." kata Draco yang siap bergerak.
"Draco tunggu, biarkan lelaki itu menolong Amara, kita tidak boleh gegabah, dia pasti sedang memikirkan cara." kata Roza.
"Tapi paman.."
"Tenanglah kita tetap akan membantu menyelamatkan Amara."
"Lepaskan Amara atau kau akan mati dengan menderita, ini peringatanku yang terakhir!" kata August, ia benar-benar marah melihat kondisi Amara di hadapannya.
"Hahaha.. jadi kau kekasihnya.., aku akan melepaskannya ketika aku sudah membelah jantungnya dan mengambil batu jiwa."
'Brengsek aku tidak bisa menemukan celah untuk menyerangnya, aku harus mencari cara lain.' pikir August.
"Mengapa kau diam.. hahaha."
"Mengapa kau menginginkan batu jiwa miliknya?"
"Dia adalah keturunan Pendragon, dengan batu jiwa miliknya aku akan mendapatkan baju emas dan naga emas akan tunduk."
August tersenyum. "Lepaskan dia aku akan memberikan apa yang kau inginkan."
"Hahaha.. kau pikir aku bodoh ingin menipuku?"
"Baju emas dan naga emas tidak ada hubungannya dengan batu jiwa."
August memejamkan matanya.
Blarr...
ledakan besar terjadi seluruh air danau tiba-tiba terangkat dan melayang, August melayang sekitar satu meter di atas batu, hampir seluruh tubuhnya tertutup logam emas yang semakin berkilau terkena pantulan cahaya matahari, tak lama berselang, ular naga emas perlahan muncul dari balik batu terbang mengelilinginya.
Semua mata terbelalak melihatnya, bahkan Ryn harus menutup mulut dan rahangnya yang terbuka.
"Tidak mungkin bagaimana bisa?" kata Gaemo pelan.
"Kau menginginkan kekuatan ini? aku akan memberikannya padamu, lepaskan Amara, maka kau akan memiliki semua ini." kata August lalu bergerak melayang dan menjejakan kakinya di tepi danau. bersamaan dengan itu air danau kembali jatuh.
Kini August berjarak sekitar tiga meter dari Gaemo yang masih menyandera Amara. August menepuk dadanya, baju tempur emas miliknya tiba-tiba menjadi sebuah energi yang terhisap pada sebuah titik di dadanya, titik itu semakin besar, sebesar lingkaran ibu jari dan telunjuk yang bertemu, semakin padat dan membentuk sebuah batu kristal yang berwarna kuning keemasan, naga emas juga berubah menjadi sebuah energi lalu masuk ke dalam batu kristal yang melayang di dadanya. August mengambilnya lalu mengulurkan tangannya ke arah Gaemo.
"Lepaskan dia, ini milikmu."
"Berikan padaku terlebih dahulu baru aku akan melepaskannya."
"Singkirkan belatimu baru aku akan memberikannya."
Gaemo melempar belati miliknya.
"Kau jangan coba-coba, aku masih bisa membunuhnya."
"Aku tau." kata August lalu melempar batu itu.
Gaemo menangkap batu itu, ia lalu mendorong tubuh Amara. August dengan sigap menangkap tubuh Amara.
"Kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan, sekarang pergilah tinggalkan tempat ini." kata August membelai rambut Amara.
Gaemo membenturkan batu kristal itu didadanya, baju tempur emas dan naga emas muncul seketika.
"Hahaha.. aku tidak menyangka telah mendapatkan semua ini dengan mudah.
Tetapi apa yang terjadi selanjutnya benar-benar diluar dugaan Gaemo. ular naga emas yang terbang mengitari tubuhnya tiba-tiba membuka lebar mulutnya dan menghisap energi Gaemo.
"Hah... ahh.. aaaaaa..." tubuh Gaemo mengejang, baju emas yang melindunginya terlepas. naga emas terus menghisap energinya, perlahan-lahan penampilan Gaemo yang berbadan tegap berubah menjadi seorang kakek tua renta, tubuhnya kurus kering dengan rambut semua memutih.
"cukup Nyx." kata August.
Naga Emas itu menghentikan aksinya, ia terbang melayang-layang sesaat sebelum akhirnya menghilang bersama baju emas. Gaemo terjatuh. impian mendapatkan batu jiwa justru membuatnya kehilangan segalanya.
"Kau.. kau menipuku." kata Gaemo.
"Aku tidak menipumu, kau yang menipu dirimu sendiri. kau memaksakan mendapatkan kekuatan yang tidak menginginkanmu." kata August.
Draco dan lainnya menghampiri August.
"Bawa pergi lelaki ini, kalian jangan membunuhnya, biarkan dia mencari kematiannya sendiri."
"Brengsek kau..!"
Famir merubah wujudnya menjadi seekor naga hijau, lalu mencengkram pundak Gaemo dengan satu kakinya dan Membawa terbang pergi dari tempat itu.
"Amara bertahanlah kau akan baik-baik saja."
"Tuan Mercia, maaf aku tidak tau jika air yang kau berikan adalah air penyembuh, aku menghabiskannya." kata Ryn.
"tidak apa-apa, itu hanya air biasa, kau cukup isi kembali cepatlah bawwa kesini."
"Ba.. baik.." kata Ryn lalu pergi.
"Aku sudah memeriksa denyut nadinya, racun sudah merusak bagian dalam tubuhnya, aku ragu bisa menyembuhkannya." kata Roza.
"Kalian tenanglah, dia masih bisa di selamatkan."
"Amara kau akan baik-baik saja, bertahanlah.." kata August lalu tangan kanannya mengeluarkan cahaya kehijauan dan menekan luka di bagian perut Amara.
"Ryn.. aku bermimpi melihat dia datang menyelamatkanku." tiba-tiba Amara mengigau.
Ryn akhirnya kembali dengan membawa botol penuh air di tangannya lalu menyerahkannya pada August. August menggenggam bagian bawah botol itu, cahaya kehijauan mengalir dari tangannya menyelimuti botol itu.
"Kau dan paman pergilah dulu, siapkan tempat untuknya beristirahat."
Draco dan Roza tak banyak protes, mereka mengerti. mereka berdua pun menuruti perintah August.
August mengangkat baju yang menutupi luka di bagian perut Amara, ia lalu menyiram luka itu dengan air dari botol tersebut, Ryn tercengang, luka itu kini tak ubahnya hanya seperti noda tanah atau debu yang hilang sekejap karena tersiram air. begitu juga luka di paha kirinya yang kembali terlihat mulus.
"Isi kembali botol ini cepatlah."
"Baik." kata Ryn yang tampak senang melihat luka pada tubuh Amara telah menghilang.
August mengangkat tubuh Amara ia lalu membawa ke tempat yang sudah disiapkan Draco dan Roza lalu membaringkannya. tak lama Ryn menyusul, setelah memberikan energi penyembuh, August menyerahkan botol itu kepada Ryn.
"Bantu Amara meminum air ini, dia mungkin akan beberapa kali memuntahkan darah. kalian tak perlu khawatir."
"Aku mengerti." kata Ryn.
August pun pergi ke luar gua, ia mencari tempat yang nyaman, tak lama ia pun tertidur, ia tak perduli mayat-mayat anak buah Gaemo ataupun para naga. ia sudah terlalu lelah.