Memories Of Love

Memories Of Love
Memories Of Love



satu bulan kemudian, Jarvish selalu meminta jatah di malam hari dan gairahnya selaku saja bangkit kembali di pagi hari setiap kali ia melihat wajah imut istri manisnya di pagi hari.


"Kenapa kau terlahir semanis dan seimut ini Luna" Jarvish berkata sembari mendaratkan puluhan ciuman di seluruh wajah Luna.


Luna hanya bisa pasrah ketika suaminya mulai mengajaknya berciuman dan tangan suaminya mulai menyusup ke dalam baju tidur.


Luna kemudian mendorong dada Jarvish dan berkata, "Sayang, ini udah enam. Masak iya mau lagi...... hmmmppppt"


Jarvish langsung membungkam bibir Luna dengan bibirnya. Mereka berciuman sembari terus melangkah masuk ke dalam kamar mereka. Kamar mewah bergaya klasik modern yang berhadapan langsung dengan kolam renang itu memberikan sensasi tersendiri bagi Luna dan memberikan debaran jantung yang tidak biasa di dadanya Luna. Rasanya sudah berabad-abad dia tidak merasakan cumbuan dan sentuhan sensual dari suaminya. Jarvish memang pria yang sangat pandai membuat Luna melayang-layang ke langit ke tujuh. Pria itu selalu penuh kejutan di ranjang dan Luna sangat menyukainya.


Jarvish melepaskan ciumannya lalu ia merebahkan Luna dengan pelan di ranjang mewahnya, kemudian Jarvish mengusap bibir Luna dengan ibu jarinya. Bibir yang masih basah karena ulahnya kembali mengundang Jarvish untuk mengecapnya lagi. Pria super tampan iru mencium lembut bibir ranum bagaikan buah strawberry itu dengan lebih intens dan menuntut.


Hingga akhirnya dia menarik Luna hingga Luna berakhir dengan duduk di atas perutnya Jarvish.


"Sayang! Kok aku ada di atas"


"Kita belum pernah mencoba gerakan woman on top. Sekarang lakukan! Aku akan mengajari kamu"


Luna sontak merona malu dan memekik, "Nggak mau! Aku malu"


"Ayolah! Aku akan mengajari kamu. Lagian kaya dokter untuk wanita hamil gerakan woman on top adalah gerakan yang paling dianjurkan"


Akhirnya dengan bantuan dan tutorial dari Jarvish, Luna berhasil memuaskan hasrat suaminya di pagi hari ini dengan gerakan woman on top.


Setelah mandi bersama, Jarvish dan Luna berjalan bergandengan tangan keluar dari dalam kamar. Luna wajahnya masih merah malu karena dirinya masih terbayang-bayang aksi tidak tahu malunya saat ia bergerak di atas tubuh suaminya dengan pekik kencang dan gerakan liar.


Jarvish melirik Luna dengan senyum semringah. Lalu, ia berisik di telinga istri manisnya, "Kau hebat banget tadi. Aku suka"


Luna langsung mencubit mesra pinggangnya Jarvish dengan wajah yang masih merona malu dan Jarvish langsung tergelak geli.


Setelah sarapan, Jarvish dan Dave pamit untuk pergi ke sekolah. Jarvish masih mengantar dan menjemput Dave ke sekolah, tapi setelah itu dia berdiam diri di rumah dan bekerja di rumah. Surya yang diharuskan pusing bolak-balik ke sana kemari, tapi rasa pusingnya Surya langsung hilang saat Jarvish berkata, "Aku naikkan gaji kamu tiga kali lipat"


Jarvish pulang dari mengantarkan Dave ke sekolah dan terkejut setengah mati saat ia melihat Luna limbung ke depan. Untungnya Jarvish dengan sigap bisa menangkap tubuh Luna sehingga perut Luna terhindar dari benturan keras lantai granit.


Jarvish memekik kaget saat ia melihat Luna Jatuh pingsan di dalam pelukannya. Dengan segera ia membopong Luna dan berkata ke Surya, "Nanti kau jemput Dave pulang sekolah. Aku akan bawa Luna ke rumah sakit sekarang juga"


"Baik, Tuan. Semoga Nyonya muda tidak kenapa-napa" Teriak Surya dengan wajah panik.


Luna langsung direbahkan di atas bed dan dokter yang menangani kandungannya Luna selama ini langsung memeriksa Luna.


Jarvish bertanya di sela-sela dokter tersebut memeriksa kondisinya Luna, "Apa Luna pingsan karena aku terlalu sering minta jatah. Tiap malam dan pagi hari aku selalu minta jatah. Yeeaahhh seminggu tiga kali"


Dokter tersebut menggelengkan-gelengkan kepalanya dan berkata, "Anda keterlaluan, Tuan Jarvish Benjamin"


"Hei! Jawab! Kenapa malah ngatain aku kayak gitu"


"Saya rasa minta jatah tidak akan membuat Nyonya Luna jatuh pingsan. Saya akan mengambil sampel darah dan memeriksa secara lebih mendalam lagi kenapa Nyonya Luna bisa sampai pingsan padahal sebulan yang lalu terakhir kontrol, Nyonya Luna baik-baik saja"


"Bagaimana dengan anakku yang ada di kandungannya Luna"


"Anak Anda sangat sehat dan sudah ketahuan kalau anak Anda cewek. Selamat. Anda ingin anak cewek, kan?"


"Benarkah?!" Jarvish sontak memekik kencang tanpa ia sadari. Pekik riangnya Jarvish membuat Luna membuka kedua kelopak matanya dengan lemah. Jarvish langsung mencium kening Luna dan berkata di sana, "Luna anak kita cewek"


Luna tersenyum lemah dan berkata lirih, "Syukurlah, Mas. Doa Mas dan Dave terkabul"


"Anda berdua tunggu dulu di sini. Saya akan ke lab dulu"


"Hmm" Sahut Jarvish sambil terus mengusap pipi Luna"


"Aku kenapa bisa ada di sini, Mas?"


"Kamu pingsan tadi"


"Benarkah? Anak kita baik-baik saja, kan?"


"Iya, Sayang, anak kita baik-baik saja. Kamu sekarang tiduran dulu di sini. Aku ke lab dulu sama menyelesaikan administrasinya dulu"


"Iya, Mas. Dave siapa yang njemput?"


"Syukurlah" Sahut Luna dengan senyum lega.


Setelah menyelesaikan administrasi, Jarvish langsung diantarkan ke dalam ruang besar oleh seorang perawat.


"Silakan duduk, Tuan Jarvish"


Jarvish duduk dan menatap kelima dokter yang berhadapan dengannya. "Ada apa ini? Istriku baik-baik saja, kan?"


"Saya to the point saja. Ada tumor di rahim Istri Anda. Stadium satu. Tumor itu akan sangat membahayakan nyawa Istri Anda kalau tidak idak segera diambil"


Jarvish langsung tertegun, kemudian bertanya dengan wajah datar, "Bukankah itu artinya Luna harus kehilangan bayinya. Anakku" Jarvish langsung meredupkan sorot matanya.


"Iya. Maaf kalau saya harus menyampaikan ini ke Anda. Anda harus memilih Istri Anda atau anak Anda saat ini"


Jarvish langsung menggebrak meja dan berteriak frustasi, "Tentu saja aku tidak bisa memilih, brengsek! Sial! Aku tidak bisa memilih" Jarvish lalu menutup wajahnya dan menangis terisak.


"Maafkan kami. Tapi, Anda harus mengambil keputusan secepatnya, Tuan" Sahut keempat dokter yang duduk di depan Jarvish.


Jarvish kemudian bangkit berdiri dan menatap semua dokter yang ada di depannya, "Aku sudah punya keputusan dan akan aku katakan ke Luna sekarang juga. Tunggu aku" Jarvish kemudian mengusap air matanya dan pergi meninggalkan ruangan itu.


Sesampainya di kamar rawat inapnya Luna, Jarvish langsung duduk di tepi ranjang, mengusap pipi Luna dan berkata, "Sayang, maafkan aku kalau aku harus mengatakan hal ini ke kamu"


Luna mengusap pipi Jarvish, "Mas, apa kamu habis menangis?"


Jarvish menggenggam tangan Luna yang menyentuh pipinya dan berkata, "Kamu harus kuat, ya?!"


"Ada apa, Mas?"


Jarvish menghela napas panjang untuk mengusir air mata yang ingin menetes keluar. Dia ingin tampak tegar di depan Luna, kemudian pria tampan itu berkata, "Ada tumor stadium satu di rahim kamu dan harus segera diambil, Sayang"


"Maksudnya, aku akan kehilangan anak kita?"


"Kita sudah punya Dave. Kita harus relakan anak kita ini demi keselamatan kamu, Luna. Aku memilih menyelamatkan kamu karena bagiku, kamu lebih penting dari apapun juga di dunia ini"


Luna langsung menarik tangan Jarvish untuk ia letakkan di atas perutnya dan berkata dengan derai air mata, "Rasakan kehadirannya, Mas. Ini memories of love kita. Mana mungkin aku bisa merelakannya pergi. Nggak! Aku nggak mau kehilangan anak kita. Lagian ini anak cewek kamu, jawaban dari doa kamu dan Dave. Kau bahagia banget waktu kau dengar kalau anak ini cewek tadi, tapi kenapa sekarang dengan mudahnya kamu ingin merelakannya pergi dari kita. Nggak, Mas!"


Jarvish langung memeluk Luna dan menangis di dada Luna sambil berkata, "Kamu lebih penting, Sayang. Kalau tumor kamu tidak segera diangkat maka tumornya akan membahayakan nyawa kamu"


Luna mengelus punggung Jarvish dan berkata, "Aku ingin menyelamatkan anak kita dan aku berjanji untuk berjuang tetap hidup, Mas. Aku berjanji tidak akan meninggalkan kamu, Dave dan anak kita ini. Aku akan hidup. Aku janji"


Jarvish akhirnya menciumi wajah Luna dan kembali menghadap ke tim dokter.


Akhirnya tim dokter berkata, "Kita tunggu dua bulan. Maksimal dua bulan dan kami akan berusaha mencari cara menyelamatkan keduanya. Kalau tidak bisa menyelematkan keduanya, Anda harus tetap memilih, Tuan"


Jarvish mengusap kasar wajah tampannya yang kini tampan lusuh, kemudian pria itu berkata, "Aku pilih Luna. Jika kondisi Luna memburuk, lakukan operasi dan selamatkan Luna!"


"Baik, Tuan"


Dua bulan kemudian, Jarvish mendorong kursi rodanya Luna dan mengajak Luna berjalan-jalan di taman rumah sakit. Sejak dua bulan terakhir ini, Luna diharuskan tinggal di rumah sakit. Luna tampak kurus dan sangat pucat. Jarvish sungguh tidak tega melihat kondisi istrinya.


Jarvish menghentikan kuris roda, mengunci kursi roda itu dan berjongkok di depan Luna. Seketika pria tampan itu panik dan membopong Luna saat ia melihat Luna mengalami pendarahan.


Luna langsung dibawa masuk ke dalam kamar operasi dan Jarvish berkata ke tim dokter, "Selamatkan Luna!"


Semua keluarganya Jarvish datang ke rumah sakit dengan segera, begitu juga paknya Luna dan Surya. Mereka berdoa bersama untuk keselamatan Luna dan bayinya.


Jarvish hanya diam membisu dan duduk selonjor di depan pintu kamar operasi.


Dua bulan kemudian, Jarvish berdiri di tengah taman dengan menggendong bayi perempuan mungil yang sangat cantik, Dave bermain bola dengan Joshua. Papanya Luna tengah makan puding bersama dengan Papa dan Mamanya Jarvish.


Luna melambaikan tangan ke semuanya dengan senyum bahagia. Luna baru saja kembali dari mobil untuk mengambil selimut. Dia kemudian menyelimuti bayinya dan langsung mendapatkan pagutan mesra dari suaminya di bibirnya.


"Mas! Kenapa main cium di tempat umum kayak gini"


"Tiap detik aku ingin mencium kamu. Karena kamu adalah wanita paling manis, imut, sekaligus paling tangguh di dunia ini. Terima kasih sudah berjuang untuk tetap hidup dan terima kasih kamu juga berjuang menyelamatkan memories of love kita. Bayi cantik kita ini. Aku mencintaimu, Luna" Jarvish kembali memagut bibir Luna dan Luna langsung memeluk suami dan bayinya sambil berkata, "Aku juga mencintaimu, Mas"


...❤️❤️❤️❤️❤️Tamat❤️❤️❤️❤️❤️...