
Joshua menggeram kesal, "Ke mana Jarvish membawa Dave? Di rumahnya nggak ada, di apartemen, dan kamar hotel yang biasa ia tinggali juga nggak ada. Sial! Bram, kita balik ke rumah sakit dulu. Aku mengkhawatirkan Luna"
"Baik, Tuan"
"Apa makanan kesukaan kamu?"
"Nasi uduk bikinan Mama"
"Selain itu?"
"Apa, ya? Dave setiap hari makan nasi uduknya Mama. Jadi, nggak tahu makanan lain"
"Apa aja yang ada di nasi uduk, Sur?"
"Ada telur cokelat, tempe dan tahu digoreng, irisan telur dadar, kentang goreng, bakmi goreng, sambal goreng, dan terakhir serundeng, Tuan"
"Ah, Om Surya benar. Om Surya dapat nilai seratus" Sahut Dave dengan tawa ringan dan Surya langsung menyahut, "Terima kasih, Tuan muda*
"Kamu nggak pernah makan kentang goreng dan ayam goreng yang ada di mall-mall?"
Dave menggelengkan kepalanya. "Mama sibuk dan Mama nggak punya uang lebih untuk mengajak Dave makan di luar"
"Kamu tidak protes sama Mama kamu?*
"Mama mengajarkan Dave untuk selalu mensyukuri apa yang ada di depan mata. Dave juga udah kenyang, kok, makan nasi uduknya Mama"
"Apa Mama kamu cuma bisa masak nasi uduk?"
"Mama pandai memasak. Cuma, Mama, kan, jualan nasi uduk di depan rumah. Kalau nasi uduknya Mama laris manis dan habis terjual, barulah Mama masak sayur asem, atau cuma bikin telur ceplok, telur dadar, atau nasi goreng"
"Mama kamu hanya jualan nasi uduk selama ini?"
"Hmm"
"Tapi, kau lihat di lemari hias Yanga da di ruang tamu apartemen Mama kamu, Papa melihat ada banyak piala dan piagam penghargaan. Itu tandanya Mama kamu pinter, kan? Kenapa cuma jualan nasi uduk?"
"Karena, Dave nggak ada yang jaga mungkin, jadi Mama jualan aja di depan. rumah sambil jagain Dave. Mama jualan pagi jam lima terus jam tujuh tutup sebentar untuk anter Dave ke sekolah terus buka lagi, lalu jam sepuluh habis nggak habis harus tutup karena Mama, harus jemput Dave ke sekolah"
"Naik apa?"
"Naik Bus"
"Lalu, kenapa sekarang Mama kamu bisa bekerja di perusahaannya......"
"Om Joshua?" Tanya Dave.
"Hmm" Jarvish menganggukkan kepalanya.
"Karena dulunya, kata Om Joshua, Mama adalah sekretarisnya Om Joshua. Mama sangat pinter, jadi terpilih menjadi sekretaris pribadinya Om Joshua"
"Oh" Jarvish kemudian tersenyum dan mengusap kepala putra tampannya sambil berkata, "Habiskan makanan kamu!"
"Baik, Pa"
Jarvish mengajak Dave makan di restoran mewah dan memesan banyak sekali makanan karena dia tidak tahu makanan kesukaannya Dave.
"Kamu suka udang, ya?"
"Dave suka semua makanan, Pa. Karena kata Mama apa makanan yang ada di depan kita harus kita syukuri dan kita makan. Kita nggak boleh pilih-pilih makanan"
"Hmm, iya, baiklah" Jarvish berkata dengan nada kesal dan wajah ditekuk karena pria tampan itu, merasa cemburu. Ia cemburu karena Dave selalu saja membanggakan mamanya. CEO muda itu, semakin menyalahkan Luna karena wanita itu tidak memberitahunya sejak awal kalau dia punya anak. Dia menyesal terlambat bertemu dengan Dave, dia menyesal tidak mengikuti tumbuh kembang Dave dari awal, dan untuk itu dia menyalahkan Luna Aditya.
"Mama kamu cerita apa soal Papa?"
"Kata Mama, Papa adalah seorang pahlawan. Papa pernah menyelamatkan banyak orang pas terjadi gempa di kampus tempat Mama kuliah, puluhan tahun yang lalu. Terus, karena di bumi sering terjadi gempa, Papa pergi ke Bulan untuk menyiapkan tempat yang lebih nyaman bagi Dave"
Seketika Jarvish mematung. Dia sungguh tidak menyangka kalau Luna Aditya menceritakan ke Dave kalau dirinya adalah seseorang yang patut untuk dibanggakan. Luna Aditya mengatakan ke Dave kalau dirinya adalah seorang pahlawan. Jarvish seketika itu mengulas senyum dan langsung bertanya ke Dave, "Berarti, Dave bangga punya Papa seperti ini?" Mata Jarvish tanpa ia sadari mulai berkaca-kaca.
Jarvish tersenyum bahagia dan sambil meraih tubuh Dave untuk ia pangku, Pria tampan itu berkata, "Ini air mata bahagia, Nak" Tidak apa-apa anak laki memperlihatkan air mata bahagianya di depan umum. Biar semua orang tahu kalau dia tengah bahagia saat ini" Jarvish menciumi wajah Dave dan Dave membalas mencium pipi papanya.
Luna yang terus menerus menggumamkan nama Dave, membuat Dave bisa merasakan kalau mamanya mencari dirinya dan anak laki-laki tampan itu bertanya ke papanya saat papanya menggandengnya masuk ke sebuah rumah besar di pinggir pantai, "Pa, Dave merasa kalau Mama merindukan Dave saat ini. Apa Dave boleh menelepon Mama?"
Jarvish menggendong Dave dan membawa masuk Dave ke dalam sebuah kamar yang luas sambil berkata, "Nggak boleh. Biar sekali-kali Mama kamu merasakan rindu buat kamu. Rasa rindu itu bagus buat kesehatan jantung Mama kamu"
Surya langsung menautkan kedua alisnya dan bertanya di dalam hatinya, benarkah rasa rindu baik untuk kesehatan jantung? Wah! Mulai ngawur,nih, Tuan Jarvish. Namun asisten pribadinya Jarvish itu tidak berani melontarkan tanya ataupun protes.
"Begitu, ya, Pa? Tapi, Mama baik-baik saja, kan?"
"Tentu saja Mama kamu baik-baik saja. Mama kamu menitipkan kamu ke Papa selama seminggu dan Sabtu depan, Papa akan antarkan kamu ke Mama kamu. Selama kamu bersama Papa, jangan cari Mama kamu, ya?!"
Dave hanya mengerjap-ngerjapkan kedua kelopak matanya beberapa kali tanpa mengatakan apa pun.
"Baiklah. Papa akan bantu kamu membersihkan diri di kamar mandi, lalu ganti baju dan bobok"
Dave mengikuti semua perintah Jarvish dan di saat ia rebah di atas kasur, anak kecil yang sangat tampan itu berkata, "Pa, Mama selalu bacakan dongeng untuk Dave. Kalau belum dibacakan dongeng, Dave nggak bisa bobok, Pa"
Jarvish merebahkan diri di samping Dave dan berkata, "Dongeng? Aduh! Papa nggak punya buku dongeng di sini"
"Tapi, Dave nggak bisa bobok kalau belum dibacakan dongeng, Pa. Apa Papa nelpon Mama aja, Mama bisa bacakan dongeng ke Dave lewat Video Call, kan? Om Joshua pernah menelepon Dave lewat panggilan Video Call" Dave yang cerdas masih mencoba mencari cara untuk bisa berbicara dengan mamanya lewat telepon. Karena hari Dave merasa gusar dan tiba-tiba dia sangat mengkhawatirkan mamanya.
"Nggak boleh. Mama kamu pasti sudah tidur saat ini. Jangan ganggu Mama kamu. Emm, Papa akan cari cerita dongeng lewat ponsel. Sebentar" Jarvish menggeserkan ibu jarinya beberapa kali di layar ponselnya dan kemudian pria tampan itu memekik senang, "Nah! Ada cerita tentang Si kancil dan Si Gajah, nih. Kamu mau Papa bacakan cerita ini?"
Dave terpaksa mengangguk sambil mencari cara lagi bagaimana dia bisa menelepon mamanya.
Jarvish yang tidak pernah membacakan sebuah dongeng ke anak kecil, membaca kisah dongeng itu seperti ia membaca notulen rapat dan Dave langsung meluncurkan protes, "Pa, baca dongengnya, kok, gitu? Mama kalau baca dongeng nggak begitu, Pa. Kita Video Call Mama aja, ya? Biar Mama yang ........"
"Kamu udah bisa baca?"
"Bisa. Emangnya kenapa, Pa?"
"Nih, kamu baca dongeng ini seperti Mama kamu waktu Mama kamu bacakan dongeng ke kamu biar Papa bisa belajar dari kamu"
Dave tersenyum dan setelah menghela napas panjang karena dia masih belum berhasil menelepon mamanya, dia meraih telepon genggam papanya dan berkata, "Baiklah. Papa dengarkan baik-baik, ya, cara Mama bacakan dongeng ke Dave itu seperti ini, Pa"
"Hmm. Papa akan dengarkan dan pelajari" Sahut Jarvish dengan wajah serius.
Dave mulai membaca dongeng tersebut dan belum lama Dave membacakan dongeng itu, terdengar suara dengkuran lembut. Anak kecil tampan itu sontak menoleh ke arah suara dan tersenyum geli saat ia melihat papanya tertidur pulas.
Anak kecil tampan itu kemudian menyelimuti tubuh papanya, mencium pipi papanya sambil bergumam, "Selamat bobok, Pa. Mimpi yang indah"
Lalu, anak kecil yang sangat tampan dan sangat cerdas itu memencet nomer telepon genggam mamanya. Joshua yang mengangkat panggilan masuk di ponselnya Luna itu.
Dave langsung berkata, "Halo, Ma"
"Dave, syukurlah. kamu baik-baik saja, Nak? Ini Om Joshua"
"Dave baik-baik saja, Om. Dave bersama Papa dan Papa sangat menyayangi Dave. Mama di mana Om?"
"Mama kamu juga baik-baik saja" Joshua terpaksa berbohong agar Dave tidak panik mendengar Luna terbaring lemah di rumah sakit.
"Kenapa Mama nggak angkat teleponnya?"
"Mama kamu sudah tidur. Dia kelelahan bermain petak umpet sama Papa kamu. Papa kamu bawa kamu ke mana?"
"Ke rumah di pinggir pantai, Om"
"Baiklah. Jaga diri kamu baik-baik, ya, Dave. Besok Om dan Mama kamu akan ke sana bawakan baju ganti untuk kamu"
"Baik, Om"
Setelah terdengar bunyi klik, Joshua langsung bergumam, "Kamu bawa Dave ke vila pribadi kamu ternyata. Besok aku akan ke sana untuk bikin perhitungan dengan kamu Jarvish brengsek!"