
"Makan yang banyak. Habiskan. Kamu kurus sekali aku perhatikan. Kalau berisi sedikit, kan, lebih bagus" Jarvish berucap sambil mengusap rambut indahnya Luna.
Luna hanya diam membisu dan tetap makan tanpa menoleh ke mana-mana. Wajahnya tetap tertunduk.
Apa ini? Kenapa dia membelai rambutku saat ini? Ada apa dengan pria aneh ini?" Batin Luna.
"Dave, kamu suka Mama kamu kurus atau gemuk?"
Apa sih? Kenapa malah nanya kayak gitu ke Dave? Luna semakin menundukkan wajahnya dengan pelan-pelan.
"Gemuk. Mama pasti lebih cantik kalau gemuk"
"Nah! Dua lelaki kamu berkata kalau suka kamu lebih gemuk. Tapi, dikit aja, ya, Dave, kalau gemuknya kebanyakan nanti Papa susah gendong Mama kamu"
"Setuju!" Pekik Dave dengan senyum semringah.
Dua lelakiku? Apaan, nih? Lalu, gendong, gemuk, ngomong apa pria aneh ini? masak dia mabuk di pagi hari sampai ngoceh nggak jelas kayak gini? Batin Luna.
Dan di seberang meja yang lain, Laura menutup wajahnya dengan buku menu dan beberapa kali wanita cantik bertubuh seksi itu mengumpat kesal, "Sial! Kalau begini ini gimana caranya aku menculik Dave dan mengikat Jarvish untuk menikahiku. Sial! Nggak ada celah sama sekali untuk menculik Dave. Lalu, kenapa Jarvish selalu mengulum bibir seperti itu sambil menatap Luna dari samping? Sial! Jangan-jangan Jarvish suka sama Luna? Arrghhh! Kenapa jadi begini? Dasar kau bodoh Laura kenapa kau bisa ketahuan selingkuh?" Laura menjambak rambutnya sendiri.
Joshua kemudian melangkah keluar dari dalam restoran karena dia tidak tahan melihat tingkah Jarvish yang terus bersikap manis ke Luna.
Tidak begitu lama, Laura juga keluar dari dalam restoran itu karena merasa kesal tidak menemukan celah sedikit pun untuk menculik Dave.
Sementara itu Surya menikmati waktu berpacarannya dengan santai karena tuannya tengah melakukan pendekatan dengan Luna Aditya.
Senangnya kalau begini terus. Aku bisa berduaan sangat lama dengan pacarku tanpa gangguan dering telepon genggam. Batin Surya dengan senyum semringah dan mencubit mesra dagu pacarnya dengan gemas.
Baru saja bergumam seperti itu di dalam hatinya tiba-tiba telepon genggamnya berdering cukup kencang di saat ia ingin mencium bibir pacarnya.
"Siapa?" Pacarnya Surya bersedekap dan merengut kesal.
"Tuan Jarvish. Aku angkat sebentar, ya Sayang. Sebentar, kok" Surya meringis ke pacarnya sambil menggerakkan ibu jari di atas telepon genggamnya.
"Halo, ada apa, Tuan?"
"Minta kunci ke apartemennya Joshua ke manajer apartemen itu. Pindahkan semua barang Luna dan Dave ke rumahku yang berada di sebelah rumahku"
Surya terkesiap kaget dan langsung bertanya, "Untuk apa, Tuan?"
"Mulai banyak nanya kamu?"
"Enggak Tuan, maaf. Saya akan kerjakan sekarang juga"
Klik! Sambungan telepon langsung ditutup oleh Jarvish.
Sepanjang perjalanan pulang, Luna memilih untuk bersandar di jok dan memejamkan mata. Dia berpura tidur, namun akhirnya dia beneran ketiduran.
Jarvish mengendarai mobil sambil sesekali melirik ke Luna dan ke jok belakang lewat rear-mirror vision untuk melihat Dave. Pria tampan itu lalu tersenyum dan berkata lirih, "Kenapa hatiku bahagia banget melihat mereka tidur lelap seperti ini. Berarti aku membuat mereka merasa aman dan nyaman, kan?" Jarvish lalu merapikan rambut yang menutupi wajah Luna dengan tangan kiri sambil bergumam, "Aku akan berjuang mendapatkan cinta kamu Luna karena aku nggak mau kehilangan kamu lagi"
"Maaf aku harus balik kerja, Sayang" Surya menatap pacarnya dengan wajah sedih.
"Bos kamu memang menjengkelkan. Tapi, kita perlu banyak uang untuk nikah. Jadi, ya sudah lah. Kerja sana!"
Jarvish menunggu Luna dan Dave bangun saat ia sudah memarkirkan mobilnya di halaman rumah megah yang letaknya berdampingan dengan rumah yang ia tinggali.
"Pa, sudah sampai, ya?" Tanya Dave sambil duduk dan mengucek-ucek kedua kelopak matanya. "Ini di mana, Pa?"
"Ini rumah baru untuk kamu dan Mama kamu. Papa belikan untuk kalian. Ada ayunannya tuh dan di dalam nanti, Papa akan bikin ruang bermain khusus untuk kamu"
"Horeeeee!" Dave mengangkat kedua kepalan tangannya ke atas dan Luna menjadi terbangun mendengar teriakannya Dave.
Luna sontak duduk tegak karena kaget dan menyemburkan tanya, "Ini di mana?"
"Ini rumah kamu dan Dave. Mulai hari ini kamu dan Dave tinggal di sini. Rumah ini bersebelahan dengan rumahku. Jadi, kalau ada apa-apa aku bisa langsung ke sini"
"Hah?! Jangan seperti ini! Aku tidak bisa membayar sewa rumah sebesar ini dan......"
"Dave turun dulu sama Om Surya, ya?!" Surya yang sudah membuka lebar pintu mobil atas perintah Jarvish langsung menggendong Dave untuk turun dari dalam mobil.
Jarvish menunggu Dave keluar dari dalam mobil, lalu menoleh ke Luna untuk berkata, "Aku sudah mencium kamu. Aku harus bertanggung jawab, kan?"
".Jangan bahas soal ciuman itu! Aku, emm aku........" Luna kesulitan mengurai rasa yang ada di dalam hatinya saat ini.
"Oke, aku nggak akan bahas lagi ciuman itu. Maafkan aku sudah nekat mencium kamu kemarin"
"Lupakan saja!" Luna memalingkan muka dan saat Luna hendak membuka pintu mobil, Jarvish memegang tangan Luna dan berkata, "Jangan pergi dulu! Dengarkan dulu penjelasanku!"
Luna menepis tangan Jarvish sambil berkata, "Nggak ada yang perlu dijelaskan" Luna nekat membuka pintu mobil dan Jarvish langsung menutup kembali pintu itu lalu mengungkung tubuh Luna dengan tubuhnya.
Luna terkesiap kaget dan langsung menyemburkan tanya, "Kau mau apa?"
"Sial! Aku sangat ingin mencium kamu saat ini"
Luna langsung menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan dan Jarvish sontak tergelak geli.
Apaan, sih? Kenapa dia malah tergelak geli? Luna mendelik kesal.
"Aku cuma bercanda kenapa kau ketakutan seperti itu. Aku cuma ingin kau dengarkan penjelasanku dulu. Joshua sudah memutuskan hubungan dengan kamu maka akan sangat aneh kalau kamu masih tinggal di apartemen miliknya. Lalu, apakah kamu bisa dengan cepat menemukan tempat tinggal? Aku nggak mau kamu kebingungan cari tempat tinggal"
Luna berucap dengan masih menutup mulutnya, "Tapi, aku nggak mau berhutang sama siapa pun"
"Tapi, aku nggak mau terima uang sepeser pun dari kamu" Jarvish menatap lekat kedua bola mata Luna.
"Tapi, aku nggak mau tinggal di sini kalau kamu nggak mau terima uang sewa dariku, lebih baik aku tinggal di........"
Cup! Jarvish mendaratkan ciuman di kening Luna.
Luna tersentak kaget dan langsung membuka mulutnya untuk menyemburkan, "Kenapa kau sekarang suka menciumku?"
Jarvish mencubit dagu Luna, "Kalau kamu tidak mau tinggal di sini tanpa perlu membayar, aku akan mencium bibir kamu sekarang juga"
Luna langsung menjawab, "Iya! Baiklah!"