Memories Of Love

Memories Of Love
Jahil



Jarvish kemudian memutuskan duduk di sofa ruang rawat inap kelas satu itu saat ia melihat Luna dan papanya ingin lebih lama menuntaskan kerinduan mereka masing-masing.


"Anak kamu sudah besar sekarang, ya?"


"Iya, Pa"


"Papa ingin bertemu cucu Papa, apakah kamu akan mengijinkannya?"


"Tentu saja boleh. Luna akan bawa Dave ke sini bertemu Opanya untuk pertama kalinya, besok"


"Terima kasih" Papanya Luna berucap sambil mengelus pipi Luna dan ada genangan air mata di kedua pelupuk matanya.


Jarvish menatap papanya Luna dari tempat ia duduk dengan bergumam di dalam hati, berarti papanya Luna belum pernah bertemu dengan Dave.Tega benar dia sama cucunya sendiri. Dia dulu ingin Luna menggugurkan kandungannya, mengusir Luna dan sekarang minta bertemu sama Dave. Tidak. Aku tidak akan biarkan dia bertemu Dave dengan mudah.


"Sudah umur berapa? Mirip siapa dia? Dia cowok, kan? Pasti mirip sama aku, Opanya, iya, kan?"


Jarvish langsung mengepalkan kedua tangannya sambil bergumam di dalam hati, enak aja mirip dia. Dave itu mirip aku.


Luna tersenyum manis dan sambil mengusap air mata di kedua pipi papanya ia berucap, "Iya. Anak Luna cowok dan dia mirip........"


"Aku" Jarvish berdiri menjulang di belakang Luna.


Papanya Luna sontak melihat pria yang ada di belakangnya Luna sambil bertanya, "Siapa dia?"


Luna sontak turun ranjang rumah sakit dan langsung menoleh ke belakang. Jarvish refleks memeluk Luna saat kening Luna membentur dadanya dan Luna hampir jatuh ke belakang.


"Kenapa kau memeluk Luna? Siapa kamu?!" Papanya Luna mendelik ke Jarvish.


Luna langsung menarik diri dari dalam pelukannya Jarvish dan langsung membungkam mulut Jarvish saat ia mendengar Jarvish berkata, "Aku Papanya....... hmmpppt!" Jarvish menunduk dan mendelik ke Luna.


Wanita berwajah manis itu langsung menoleh ke Papanya, "Sebentar, ya, Pa" Dan dia kemudian menarik Jarvish keluar dari kamar kelas satu itu.


Luna menutup pintu kamar dan bersedekap di depan Jarvish lalu berkata, "Tolong jangan membuat penyakit Papaku tambah parah dengan mengatakan kalau kamu adalah Papanya Dave"


"Kenapa?" Jarvish ikutan bersedekap, "Aku adalah Papanya Dave, kenapa aku tidak boleh memberitahu Papa kamu soal ini?"


"Kami masih nanya kenapa?" Luna mendengus kesal. Lalu wanita itu berjinjit untuk berbisik di telinga Jarvish, "Papaku tahu kalau aku hamil karena diperkosa. Dan kalau Papaku tahu kamu yang memperkosa aku, apa yang akan terjadi?" Luna menapakkan tumitnya ke lantai dan memandang Jarvish dengan wajah serius.


Jarvish menarik napas kesal lalu berkata, "Aku siap dihukum. Aku siap........"


"Papaku akan pingsan dan sakitnya tambah parah. Kamu paham, nggak, sih? Ini bukan soal kamu siap dihukum atau tidak. Tapi, untuk saat ini Papaku belum siap mengetahui kalau kamu adalah papa kandungnya Dave. Tidak sekarang. Aku mohon"


"Tapi, Papa kamu ngeselin banget. Dia bilang kalau Dave mirip sama dia. Aku nggak terima. Dave, kan, mirip banget sama aku"


Luna menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan-pelan dengan dengan memejamkan kedua matanya untuk menekan rasa frustasi di dirinya saat ia harus berhadapan dengan sifat kekanak-kanakan dan keras kepalanya Jarvish.


Melihat Luna menarik napas dalam-dalam sambil memejamkan mata Jarvish kembali berucap, "Benar, kan, Papa kamu ngeselin. Kamu juga kesal sama Papa kamu, kan, saat ini?"


Luna sontak membuka mata dan menyemburkan, "Kamu yang ngeselin!"


Jarvish langsung meletakan jari telunjuk di bibirnya sambil berkata, "Ssssttt! Ini rumah sakit, Luna. Kenapa kamu teriak-teriak?"


Luna merapatkan bibir, menatap Jarvish dengan sorot mata tajam, dan menarik napas kesal beberapa kali sebelum ia berkata, "Kamu tunggu di sini. Aku akan pamit sama Papaku dan kita pulang. Besok aku akan ke sini sendiri dama Dave"


"Nggak boleh!"


"Kenapa nggak boleh?"


"Pria tua itu, emm, maaf, Papa kamu maksudku. Papa kamu kalau jahatin Dave gimana? Sejak Dave masih ada di dalam kandungan kamu, dia, emm, Papa kamu maksudku, tidak sayang sama Dave, kan?"


Luna meraup wajahnya dengan kasar lalu masuk ke dalam dan menutup pintu. Dia memilih mengabaikan semua ucapannya Jarvish daripada dia teriak-teriak lagi dan kena lemparan sandal dari semua pasien.


Jarvish berjalan mondar mandir di depan pintu rawat inap papanya Luna sambil bergumam, "Tega benar dia kunci pintunya dan membiarkanku menunggu sendirian di luar kayak gini"


"Papa sepertinya pernah melihat dia. Tapi, di mana, ya, Papa, kok, lupa"


"Jangan terlalu banyak berpikir dulu, Pa" Ucap Luna karena Luna tidak ingin Papanya ingat kembali peristiwa waktu di pengadilan. Dia bersyukur papanya tidak mengingat wajah Jarvish Benjamin kala itu.


"Siapa dia? Pacar kamu, ya?"


"Ooooo. Presdir utama Grup Benjamin yang terkenal aneh, arogan, dan tidak berperasaan itu?"


"Hmm" Luna menggangguk dengan antusias karena dia sangat setuju dengan ucapan papanya itu.


"Dia Bos kamu sekarang?"


"Iya"


"Lalu, apakah tidak apa-apa dia kamu biarkan di luar dan kamu kunci pintunya?"


"Maka dari itu, Luna pamit dulu, ya, Pa. Besok Luna akan ke sini lagi sama Dave, anak Luna, cucu Papa"


"Iya. Terima kasih sudah ke sini dan terima kasih sudah memaafkan Papa"


Luna mencium kening papanya dan bergegas keluar sebelum Jarvish Benjamin mengamuk dan berteriak memanggil namanya.


Jarvish menghentikan langkah mondar mandirnya saat ia melihat Luna sudah keluar dari dalam kamar rawat inap papanya.


"Besok kamu tetap bawa Dave bertemu Papa kamu?"


"Iya. Besok, kan, Dave mulai tinggal bersama denganku" Sahut Luna sambil terus menatap jalanan di malam hari melalui jendela mobil.


"Aku ikut"


Luna menoleh ke samping kanannya untuk bertanya, "Kenapa kamu ikut?"


"Aku Papanya Dave. Aku perlu melindungi anakku"


"Melindungi Dave dari siapa? Papaku adalah Opanya. Papaku nggak akan menyakiti Dave"


"Pokoknya aku ikut. Titik nggak pakai koma"


"Terserah kamu" Luna melengos dan bersedekap.


Saat Jarvish ingin merebahkan kepalanya di tas bahu Luna, Luna menarik maju bahunya. Jarvish berdecak kesal dan langsung duduk dengan kepala tegak.


Keheningan seketika hadir di tengah mereka.


Jarvish kemudian berkata di dalam hatinya, berani benar dia menolak aku. Coba aja apa dia masih berani menolak aku pas kita turun dari mobil nanti.


Saat Supri pribadinya sudah menghentikan mobil mewahnya di garasi, Jarvish keluar dari dalam mobil sambil berteriak, "Luna! Papah aku! Aku,kok, tiba-tiba merasa pusing dan pandanganku buram, nih"


Luna berjalan melintasi Jarvish sambil berkata, "Tadi bisa berjalan gagah di rumah sakit. Kenapa sekarang minta papah. Jalan aja sendiri"


Jarvish mendengus kesal dan bergumam di dalam hatinya, Sial Dia masih menolak aku Berani benar kamu melawan perintahku dan mengabaikan aku. Lihat saja aku akan mengerjai kamu habis-habis.


Dan, bruk!


"Tuan Jarvish!" Pak Temon supir pribadinya Jarvish berteriak kaget.


Luna sontak menghentikan langkahnya dan berputar badan dengan cepat, "Hah?! Kenapa pingsan lagi? Dia tidak sedang berpura-pura, kan?"


"Nona! Tolong panggilkan Tuan Surya kemari. Tuan Jarvish beneran pingsan, nih"


Saat Luna berbalik badan, Jarvish langsung membuka mata dan berbisik ke pak Temon, "Panggil dia kembali! Suruh dia bantu kamu papah aku, cepat!" Lalu, Jarvish kembali berpura-pura pingsan.


Pak Temon tersentak kaget dan langung berteriak, "Nona!"


Luna berbalik badan menghadap pak Temon untuk bertanya, "Ada apalagi, Pak Temon?"


"Kelamaan kalau manggil Tuan Surya. Kita papah berdua saja Tuan Jarvish ke dalam"


Luna langsung berlari dan langsung membantu Pak Temon memapah Jarvish sampai Jarvish rebah di atas kasur. Pak Temon langsung berkata, "Saya keluar dulu, Non" Saat ia melihat kedipan mata tuan besarnya yang sedang kumat jahilnya.


Luna membetulkan letak kepalanya Jarvish dan merebahkan kepala Jarvish dengan pelan di atas bantal dan dengan nada panik Luna bergumam, "Maafkan aku! Aku menolak memapah kamu dan menolak waktu kamu ingin bersandar di bahuku. Aku kesal sama kamu. Aku kira kamu bercanda. Maafkan aku. Aku akan memanggil Pak Surya"


Jarvish langsung menarik lengan Luna dan berteriak dengan nada memelas, "Jangan tinggalkan aku! Aku takut" Jarvish terus menarik Luna sampai Luna terjatuh di atas dadanya dan pria tampan itu langsung memeluk Luna dan kembali berkata, "Jangan tinggalkan aku! Aku takut"