Memories Of Love

Memories Of Love
Cerita Masa Lalu



"Apa dia mimpi bertemu dengan almarhum papanya? Kasihan dia" Luna berucap sembari menepuk pelan-pelan dada Jarvish.


Kenapa dia bisa tahu almarhum Papaku? perasaan aku nggak pernah cerita. Ah, Bodo amat! Yang penting aku bisa meluk dia, hihihihi. Batin Jarvish.


Luna kemudian bersenandung lagu 'Nina Bobo' sambil terus menepuk-nepuk dada Jarvish.


Lama-lama pelukan Jarvish mengendur dan Luna menarik diri dengan perlahan lalu menyelimuti Jarvish.


Luna kemudian melangkah keluar tanpa menimbulkan suara dan di depan pintu ia langsung berhadapan dengan Surya


"Apa Tuan baik-baik saja?"


"Iya. Tadi dia mengigau ketakutan, tetapi sekarang sudah tidur sangat nyenyak"


"Terima kasih Nyonya muda. Anda sudah memberikan perawatan yang sangat baik pada Tuan"


"Sama-sama. Aku akan ke kamarnya Dave"


"Silakan Nyonya muda. Selamat malam Selamat beristirahat"


"Selamat malam. Selamat beristirahat Pak Surya"


Keesokan harinya, Luna yang terbiasa bangun jam setengah empat pagi, membuka mata tepat di saat jarum panjang sebuah jam di dinding yang berbentuk bola baseball berada di angka enam dan jarum pendek berada di angka empat


Luna merasakan ada sesuatu yang berat menindih perutnya. Dia menoleh ke kanan dan melihat Dave tengah tidur miring membelakanginya. Lalu, dengan perlahan ia menunduk dan "Kyaaaaaa!" Luna berteriak, memejamkan mata, dan mendorong siapa pun itu dalam waktu yang hampir bersamaan saat ia melihat ada tangan besar menindih perutnya.


Buk! Terdengar suara orang jatuh yang cukup keras.


Luna langsung menutup mulutnya yang masih terbuka lebar dan menoleh ke Dave. Dia menghela napas lega saat ia melihat Dave masih tidur dengan pulas. Lalu, dengan perlahan ia melongokkan kepalanya untuk melihat siapa yang sudah ia dorong dan jatuh dari atas tempat tidur.


"Hah?!" Luna berteriak dan langsung menutup mulutnya kembali sambil menoleh ke Dave. Dia kembali menghela napas panjang karena Dave masih bergeming.


Lalu Luna dengan perlahan turun dari atas tempat tidur dan berdiri di depan pria yang tidur meringkuk di lantai, "Kenapa dia bisa pindah ke kamar ini? Berani benar dia memeluk aku semalaman"


Luna kemudian berjongkok ingin membangunkan pria itu, tetapi dia kemudian mengurungkan niatnya sambil bergumam, "Lebih baik aku tidak mengusik Jarvish Benjamin di pagi hari. Aku tidak mau menanggung resiko yang aneh-aneh lagi. Biarin dia tidur di lantai. Nggak usah aku bangunkan" Luna kemudian bangkit berdiri dan melangkah keluar dari dalam kamar untuk memasak.


"Bi, selamat pagi" Luna menyapa Bi Nina asisten rumah tangganya Jarvish yang sudah terlebih dahulu sampai di dapur, sambil menggelung rambut indah panjangnya.


""Pagi, Nyonya muda. Kenapa sudah bangun? Ini masih sangat pagi"


"Saya sudah biasa bangun sepagi ini, Bi. Bibi mau masak apa?"


"Karena Anda yang lebih jago masak dan tahu seleranya Tuan muda Dave, lebih baik Anda yang menentukan menu hari ini, Nyonya"


"Apakah bahannya lengkap kalau saya ingin masak sup iga sapi?"


"Lengkap Nyonya muda. Sejak Tuan tahu kalau Tuan muda Dave hanya bisa makan masakan rumah, Tuan nyetok daging sapi dan daging ayam. Kalau sayuran dan bumbu-bumbu, saya yang belanja di pasar tradisional di dekat sini dianter sama Pak Temon"


"Oooo. Baiklah. Kita masak sup iga sapi saja"


"Baik, Nyonya muda saya akan membantu Anda"


"Terima kasih, Bi" Luna tersenyum manis ke BI Nina.


"Memangnya kenapa Nyonya muda bertanya seperti itu?" Tanya Bi Nina sembari memasukkan iga sapi beku yang sudah mencair dan sudah ia cuci ke dalam panci.


"Kenapa Tuan Jarvish bisa pindah ke kamar saya?"


"Oooooo. Kemarin hujan deras, Nyonya. Ada suara petir. Tuan langsung berlari keluar kamar dan masuk ke kamar Anda"


"Oh, iya. Saya ingat Bi. Tuan Jarvish memang takut sama petir. Lha biasanya kalau musim hujan kayak gini, dia kalau takut sama petir terus gimana?" Tanya Luna sembari memblender semua bumbu.


"Tuan mengajak Pak Temon masuk ke ruang tamu dan diajak bermain catur. Lalu, Tuan tidur di sofa ruang tamu" Sahut Bi Nina.


"Sampai segitunya?" Luna mengerutkan kening sambil menumis semua bumbu yang sudah ia blender.


'Iya, Nyonya"


"Apa Bibi tahu kenapa Tuan Jarvish bisa takut banget sama petir?"


"Tuan pernah cerita ke saya kalau dulu waktu Tuan masih kecil, umur sepuluh atau sebelas tahun Bibi lupa. Tuan sering ditinggal pergi Papanya yang suka judi dan mabuk-mabukkan di kamar kost yang sempit dan karena harus berhemat lampu kamar kost harus dimatikan nah setiap kali hujan dan ada petir, Tuan Jarvish kecil melihat ada bayangan seperti monster di tembok. Itulah kenapa setiap kali ada petir Tuan Jarvish langsung ketakutan samaoi sekarang"


"Kasihan sekali masa kecilnya Tuan Jarvish" Sahut Luna sembari mengaduk-aduk panci. Lalu, Luna bergumam sendiri, "Berarti dia menjadi dingin dan tidak berperasaan itu karena masa kecilnya sangat memprihatinkan"


"Iya, Nyonya muda. Tuan Jarvish itu sosok yang dingin, menakutkan, tidak berperasaan di luar. Tapi, sebenarnya dia baik dan hangat orangnya. Buktinya kalau sama Bibi dan Pak Temon, Tuan nggak pernah bersikap kasar. Bahkan sering kasih bonus dan kalau berpegang selalu kasih oleh-oleh"


"Benarkah?"


"Iya, Nyonya. Masak Bibi bohong"


"Oh, iya! Dulu saya pernah melihat Tuan Jarvish punya Istri. Lalu, di mana Istrinya sekarang ini, Bi?"


Bi Nina menoleh ke kanan, ke kiri, dan ke belakang untuk memastikan tidak ada orang lain selain dirinya dan Luna. Lalu, Bi Nina berjinjit dan berbisik di telinga Luna, "Istri Tuan muda selingkuh. Punya anak di luar nikah. Lalu, kecelakaan bersama selingkuhannya itu. Hendak kabur bareng. Kemudian meninggal di rumah sakit"


Luna menoleh kaget ke BI Nina lalu bertanya dengan suara sangat lirih, "Apa nama Istrinya itu Bella?"


"Benar, Nyonya" Bisik Bi Nina.


Luna seketika tertegun dan bergumam di dalam hatinya, apa waktu itu Jarvish Benjamin mabuk-mabukkan karena ditinggal mati Istrinya. Aku juga ingat kalau dia terus memanggilku Bella. Kasihan juga dia"


Jarvish mengernyit kaget saat dirinya menemukan lantai bukannya kasur empuk, "Kenapa aku bisa tidur di lantai? Aku terjatuh atau aku memang tidur di lantai semalaman?" Gumam Jarvish sembari bangkit berdiri dan mengelus-elus punggungnya yang terasa pegal.


Jarvish lalu melompat ke tempat tidur saat ia menemukan putranya masih tertidur pulas di hari Minggu nan cerah setelah semalaman hujan. Pria tampan itu menciumi wajah tampan putranya sambil berbisik, "Ayo bangun Jagoan! Katanya mau jalan-jalan sama Mama"


Dave langsung membuka kedua matanya lebar-lebar dan langsung bangun sambil berkata, "Ayo mandi, Pa!"


"Mandi di kamar Papa saja, ya. Kita bisa main sepuasnya di bathtub"


"Hmm" Dave menganggukkan kepalanya dengan senyum semringah penuh semangat.


Setelah urusan masak memasak selesai, Luna kembali ke kamar untuk membangunkan Dave dan mandi. Namu, saat ia membuka pintu, "Lho, mana Dave? Pria aneh itu juga udah hilang. Apa mereka berdua mandi di kamarnya pria aneh itu" Luna kemudian mengunci pintu dan melangkah lebar masuk ke kamar mandi untuk mandi dan bersiap diri untuk mengajak Dave jalan-jalan sebelum pulang ke apartemen. Minggu ini sampai Minggu depan Dave akan terus bersama dirinya dan dia sangat bahagia mengingat hal itu.


Sementara itu, Laura bersama dengan dua orang preman bayarannya mengintai dari kejauhan kediaman mewahnya Jarvish Benjamin. Ketiga orang itu mengobrol di dalam mobil sedan mewahnya Laura untuk membahas cara paling sukses menculik Dave.