
Jarvish langsung menggenggam erat tangan Luna saat mamanya dibawa masuk ke UGD. Lima menit kemudian seorang pria berbaju putih datang menghampiri Luna dan Jarvish, "Apa hubungan Anda dengan pasien?"
"Saya anaknya"
"Berarti golongan darah Anda sama dengan Mama Anda? Kami butuh satu orang pendonor bergolongan darah A rhesus negatif"
"Sayangnya golongan darah saya sama dengan almarhum Papa saya, O"
"Saya A Rhesus negatif, Dok. Ambil darah saya" Sahut Luna dengan cepat.
"Baiklah. Mari ikut saya. Saat ini pasien sudah dibawa masuk ke kamar operasi dan harus segera mendapatkan donor darah"
Luna langsung berlari mengikuti dokter tersebut dan Jarvish sontak mengekor dari belakang.
Setelah berjuang di ruang operasi selama tiga jam, mamanya Jarvish dinyatakan selamat dan tinggal menunggu pemulihan di ruang rawat inap VVIP yang sudah disediakan oleh Jarvish.
Dokter yang menangani operasi tersebut berkata ke Luna, "Terima kasih, darah Anda telah menyelamatkan pasien"
"Sama-sama, Dok. Terima kasih juga telah menyelamatkan Mama dari Suami saya"
Jarvish menoleh ke Luna mencium tangan Luna yang sedari awal Luna keluar dari ruang lab terus ia genggam dan berkata, "Terima kasih, Sayang"
"Nggak usah berterima kasih, Mas. Aku melakukannya dengan tulus ikhlas. Mama juga Mamaku, kan?"
Jarvish memeluk Luna dan berkata, "Iya, Mamaku juga Mama kamu, Sayang," Jarvish kemudian mendaratkan ciuman bertubi-tubi di pucuk kepalanya Luna.
Papa tirinya Jarvish datang dengan berlari kencang dan saat ia sampai di depannya Jarvish dan Luna, ia langsung bertanya, "Gimana Mama kamu?"
"Berkat Luna, Mama selamat. Luna telah mendonorkan darahnya untuk Mama"
"Terima kasih, Nak" Sahut papa tirinya Jarvish.
Luna mencium punggung tangan papa tiri ya Jarvish dan berkata, "Sama-sama, Pa. Sudah menjadi kewajibannya Luna untuk menolong sesama apalagi ini adalah Mama mertuanya Luna"
Papanya Jarvish tersenyum dan berkata, "Mamanya Jarvish dan Papa sangat beruntung memiliki menantu sebaik kamu" Dan di saat pria itu mengangkat tangan ingin mengelus rambut Luna, Jarvish langsung mendelik, "Papa mau apa?"
Papanya Joshua langsung mengusap rambutnya dan berkata, "Rambut Papa habis keramas rasanya lembut dan pengen Papa usap terus, hehehehehe"
Luna mengulum senyum.
Jarvish mendengus dan berkata, "Aku kira Papa mau ngapain"
Jarvish lalu mengangkat tangan dan mengusap rambut Luna sambil berkata, "Aku beruntung bisa bertemu dengan wanita sebaik ini, Pa dan wanita ini adalah Istriku sekarang ini"
Luna menoleh ke Jarvish dan berkata "Saya juga beruntung, Pa, bisa berada di tengah-tengah kalian. BIsa menjadi bagian di keluarga Benjamin. Saya berharap keluarga kita bisa rukun dan saling menyayangi" Sahut Luna.
"Amin" Sahut Papa tirinya Jarvish dan Jarvish hanya diam membisu dan mematung. Di ingin mewujudkan impian Luna untuk bisa hidup rukun di tengah keluarganya, tapi apakah Joshua mau menerima dia menjadi adik tirinya dan hidup rukun dengannya. Tapi, dia mau ingin mewujudkan impiannya Luna. Bahkan dia mau memaafkan semua kesalahan mamanya di masa lalu demi Luna.
Seorang perawat keluar dari kamar rawat inap mamanya Luna dan berkata, "Pasien ingin bertemu dengan Tuan Jarvish dan Nyonya Luna"
Luna menoleh ke Jarvish dan pria itu langsung menggandeng tangannya Luna, "Ayo kita masuk"
"Mama mencari kamu. Duduklah di tepi ranjang" Jarvish membantu Luna duduk di tepi ranjang dan terus menggenggam tangan Luna.
Mamanya Jarvish menarik tangannya Luna yang tidak digenggam oleh Jarvish dan wanita itu berkata,"Maafkan Mama sudah salah menilai kamu dan terima kasih sudah mendonorkan darah kamu. Terima kasih kamu sudah menyelamatkan Mama, Luna"
Luna sontak menoleh ke Jarvish saat ia mendengar mamanya Jarvish membahasakan dirinya Mama ke Luna.
"Mama sudah menerima kamu sebagai menantunya. Mama ingin kamu menyebutnya Mama sekarang" Jarvish mencium tangan Luna yang ia genggam lalu tersenyum penuh cinta.
"Iya. Jarvish benar. Mama sudah merestui pernikahan kalian"
Luna menoleh ke mamanya Jarvish dan terkejut saat ia melihat mamanya Jarvish merentangkan kedua tangan dan berkata, "Mama ingin memeluk kamu, Luna"
Luna masuk ke dalam pelukan mamanya Jarvish. Jarvish terpaksa melepaskan tangannya Luna dari genggamannya. Dan sambil mengelus lembut punggungnya Luna, mamanya Jarvish berkata, "Maafkan Mama. Mama tidak mendidik Jarvish dengan baik sehingga Jarvish memerkosa kamu dan tidak bertanggung jawab dengan benar"
"Semua sudah berlalu, Ma. Saya sudah memaafkan Ma Jarvish sejak dulu. Saya tidak suka menyimpan dendam, Ma. Saya juga sudah memaafkan Mama dari dulu"
Jarvish tersenyum penuh cinta melihat istri manisnya yang masih berada di dalam pelukan mamanya.
Mamanya Jarvish mengelus punggung Luna dan kembali berkata, "Kamu memang anak baik, Luna. Jarvish beruntung dipertemukan dengan kamu. Mama juga beruntung memiliki menantu sebaik dan semanis kamu Bahkan kamu udah memberikan Mama seorang cucu yang sangat tampan dan pintar. Terima kasih kamu mendidik anak kamu dengan sangat baik. Tidak sepeti Mama yang meninggalkan Jarvish saat Jarvish masih membutuhkan didikan Mama. Mama menyesalinya. Masukan kamu memaafkan Mama, Jarvish?"
Luna menarik diri dari pelukan mamanya Jarvish untuk menoleh ke Jarvish. Jarvish duduk di sebelahnya Luna. Meletakkan dagunya di dada Luna dan sambil memeluk pinggang Luna dari arah belakang, pria tampan itu berkata, "Aku banyak belajar memaafkan dan tidak menyimpan dendam dari Luna. Luna telah memaafkan Mama maka Jarvish juga memaafkan Mama. Luna menginginkan kerukunan ada di keluarga kita dan Jarvish akan berusaha mewujudkannya, Ma. Jarvish akan mulai mengakrabkan diri dengan Joshua"
Mamanya Jarvish mengelus pipi Luna dan berkata, "Terima kasih, Nak"
Luna tersenyum dan berkata, "Sama-sama, Ma"
Papanya Josua kemudian melangkah masuk ke dalam setelah ia selesai berbincang dengan dokter yang menangani istrinya dan say ia melihat istrinya tengah memeluk Luna dan Jarvish, pria tampan itu langsung berkata, "Aku juga mau dipeluk"
Luna, Jarvish dan mamanya Jarvish sontak tertawa renyah mendengar permintaan polos dari papanya Joshua itu.
Tawa mereka berempat langsung terhenti saat mereka melihat Ana masuk ke dalam ruangan rawat inap itu dan dengan wajah sedih dan isak tangis ia berlari mendekati ranjang mamanya Jarvish dan mendorong Luna untuk minggir. Beruntung Jarvish dengan cepat bisa memeluk Luna.
Saat Jarvish ingin mendamprat Ana, Luna menahan dada Jarvish dan menggelengkan kepalanya. Jarvish hanya bisa mendengus kesal dan menahan emosinya karena Luna yang memintanya.
Terjadilah drama di depan Luna, Jarvish, dan Papanya Joshua.
Ana memeluk mamanya Jarvish dan dengan isak tangis padahal tidak ada air mata sama sekali di pipinya, wanita itu berkata, "Tante, aku lega Tante nggak papa"
Jarvish terus memeluk Luna dan sesekali mendaratkan ciuman di pucuk kepalanya Luna.
Mamanya Jarvish langsung berkata, "Terima kasih udah nengok Tante"
"Aku bawakan pizza kesukaan Tante"
"Terima kasih"
"Tapi, pizza manapun nggak akan visa mengalahkan pizza bikinan menantunya Tante" Mamanya Jarvish melirik Luna dan Luna tersenyum ke mertuanya.
"Apa?! Menantu?!" What?!" Ana mendelik kaget dan langsung menarik diri dari pelukan mamanya Jarvish.