
Seorang perawat masuk ke kamar rawat inapnya Luna Aditya ketika ketukannya tidak mendapatkan sahutan. Perawat itu langsung mengulum senyum dan bergumam dalam hati, wah! Tuan Jarvish Benjamin sweet banget. Apa wanita ini kekasihnya? Beliau yang terkenal dingin ternyata bisa se-sweet ini sama kekasihnya.
Perawat tersebut kemudian menyuntikan obat ke selang infus yang terpasang di punggung tangannya Luna dengan sangat hati-hati supaya tidak menggangu Luna Aditya yang tampak tidur dengan sangat pulas di dalam pelukan hangatnya Jarvish Benjamin.
Setelah menyelesaikan tugasnya memberikan obat ke pasien, mengecek kondisi pasien, dan memeriksa cairan infus yang masih tersisa cukup sampai besok pagi, perawat itu melangkah keluar dari dalam kamar rawat inapnya Luna Aditya tanpa dan kembali mengulum senyum.
Pak Temon menghela napas lega saat ia mendapati Dave sudah tidur pulas di kamar dengan ditemani Bi Nina.
Bi Nina keluar dari dalam kamar Dave untuk berbicara dengan Pak Temon, Kenapa pulangnya lama banget? Tuan muda rewel tadi. Dia menanyakan mamanya terus. Untungnya kamar bermainnya udah jadi. Aku akan tuan muda bermain sampai dia kelelahan dan ketiduran di atas trampolin"
"Aku menemukan Nyonya muda pingsan di depan lift dan aku membawanya ke rumah sakit lalu aku menunggu di sana sampai Tuan Jarvish datang"
"Hah?! Nyonya muda sakit apa?"
"Hanya kelelahan. Tuan muda sudah menjaganya"
"Syukurlah" Sahut Bi Nina sambil menghela napas lega.
Pak Temon kemudian kembali ke kamarnya dan Bi Nina kembali masuk ke kamarnya Dave.
Sementara itu, Joshua Benjamin terbangun kaget di sebuah kamar VVIP dan pria tampan itu langsung menoleh tajam ke Bram asisten pribadinya, "Kenapa aku bisa ada di sini?"
"Anda ditemukan pingsan di dalam kantornya Tuan Jarvish, Tuan" Sahut Bram.
"Pingsan? Ssshhhh!" Joshua melepas jarum infus dari punggung tangannya sambil mendesis. "Kenapa kepalaku sakit banget?"
"Anda tidak ingat kenapa Anda pingsan, Tuan?"
"Nggak"
"Dari hasil lab, ada kandungan alkohol cukup tinggi di dalam darah Anda, Tuan. Apa Anda minum anggur di pagi hari?"
Joshua memilih untuk tidak
menjawab pertanyaannya Bram dan memilih untuk berganti baju lalu keluar dari dalam kamar.rawat inap itu sambil memakai kacamatanya.
"Tuan. Anda mau ke mana?" Tanya Bram sambil berlari mengikuti langkah tuannya.
"Pulang. Tidur di rumah sakit nggak enak" Sahut Joshua sambil terus melangkah sambil memijit-mijit pelipisnya.
Bram mensejajari langkah tuannya dan berkata, "Tapi, Anda masih pusing, Tuan. Paling nggak istirahat dulu semalam di sini"
"Nggak. Aku mau pulang"
"Saya lihat Nyonya Luna Aditya juga dirawat di sini, Tuan"
Joshua langsung mengerem langkahnya dan menoleh tajam ke Bram, "Kamar apa? Nomer berapa?"
"Di gedung VVIP ini juga dan kamarnya di sebelah Anda. Tapi, Tuan Jarvish melarang siapa pun masuk ke kamar itu dan Tuan Jarvish ada di dalam kamar itu"
Joshua langsung mengepalkan kedua tangannya di saat hatinya kembali terbakar cemburu. Lalu, pria tampan berkacamata itu kembali melangkah lebar ke depan dan diam membisu.
Bram terkesiap kaget dan langsung mengikuti langkah tuannya sambil bergumam di dalam hatinya, apa aku salah ucap?
Wanita yang bernama Ana, putri tunggal dari sahabat mamanya Jarvish Benjamin tidak bisa memejamkan kedua matanya malam itu. Ia menantikan perjumpaannya kembali dengan pria pujaan hatinya, Jarvish Benjamin esok pagi. Dia sangat merindukan melihat kembali wajah tampan dan dinginnya Jarvish Benjamin yang sangat ia sukai.
Keesokan harinya, Luna terbangun dan terkesiap kaget saat ia menunduk. "Aaaaaaaa!" Wanita berwajah manis itu sontak berteriak kencang dan refleks menendang orang yang ada di sampingnya tanpa melihat terlebih dahulu siapa orangnya.
Bug! Terdengar bunyi sangat keras.
Luna langsung menarik selimut untuk menutupi wajah memerahnya, lalu wanita berwajah manis dan imut itu berteriak dari dalam selimut, "Maaf!"
Jarvish mengulum bibir menahan geli melihat tingkah malu-malunya Luna. Lalu, pria tampan itu menarik selimut, menahannya dan mendekatkan wajahnya ke Luna yang tengah menatapnya.
Luna mengerjap-ngerjapkan kedua kelopak matanya beberapa kali sambil bertanya, "Ka....kau ...ma ....mau ....a......apa?"
"Memberi hukuman ke kamu karena kau sudah berani menendang Jarvish Benjamin" Jarvish pura-pura marah dan memasang tampang yang sangat menakutkan.
Luna sontak kesulitan menelan air liurnya, lalu wanita itu memberanikan diri untuk berkata, "Ka....kamu yang kurang ajar. Ke.....kenapa kamu naik ke ranjangku dan memeluk perutku?"
Jarvish menyusupkan wajahnya di telinga Luna untuk berbisik, "Kamu yang menahanku kemarin malam. Kau lupa? Kau bahkan mengundangku naik ke tempat tidur"
"Hah?!" Luna membeliak kaget.
"Kau lupa? Kau yang........"
"Kyaaaaaaa!" Luna memejamkan kedua matanya rapat-rapat dan refleks mendorong dada Jarvish. Namun, Jarvish bergeming dan pria tampan itu langsung menggeram, "Kau menendangku, mendorongku padahal kau sendiri yang mengundangku ke ranjang. Sepertinya aku memang perlu menghukum kamu"
Akhirnya Luna menyerah kalah dan memejamkan matanya rapat-rapat. Dia sudah pasrah mau dikasih hukuman apa pun, dia sudah pasrah
Jarvish mengulum bibir menahan senyum melihat tingkah Luna yang ketakutan seperti ini. Kemudian, pria tampan itu mencium kening Luna dengan penuh perasaan. Cukup lama dengan tangan kanan mengelus pipi kirinya Luna penuh kelembutan.
Luna terkesiap kaget dan langsung membuka kedua matanya. Hatinya terasa hangat dan nyaman. Dia dulu takut dan trauma setiap kali mendengar dan melihat Jarvish Benjamin. Namun, kenapa saat ini ia justru merasa sangat nyaman berada sedekat ini dengan Jarvish Benjamin.
Jarvish kemudian menarik bibirnya dari kening Luna untuk melihat kedua bola matanya Luna.
"I....itu hu ......hukumannya?" Luna bertanya dengan wajah yang tampak tegang.
Jarvish mencubit pucuk hidungnya Luna dan berkata, "Kau mau hukuman yang lain?"
Luna menggelengkan kepalanya dengan cepat dan Jarvish langsung tertawa terbahak-bahak.
"Kenapa kau bisa pingsan? Kau melihat apa? Dan kenapa Joshua datang menemuimu?"
Luna memilih untuk mengalihkan pembicaraan dengan berkata, "Tolong bantu aku turun dari ranjang. Aku pengen ke kamar mandi"
Jarvish langsung membantu Luna ke kamar mandi dengan menarik tiang infus. Dan di saat Jarvish masih berdiri di dalam kamar mandi, Luna langsung mendelik, "Kenapa kau tidak keluar?"
"Aku nungguin kamu. Siapa tahu kamu butuh bantuan. Kamu, kan masih diinfus"
"Aku bisa sendiri. Keluarlah!" Luna berucap dengan wajah memerah malu.
Melihat wajah Luna merah malu, Jarvish mengulum bibir kemudian berkata, "Oke. Aku keluar. Kalau butuh bantuan teriak, ya?!"
"Iya" Sahut Luna.
Begitu keluar dari dalam kamar mandi, Jarvish menelepon orang yang dia minta untuk menyelidiki kejadian di ruang kerjanya Luna.
"Gimana? Kau sudah cek CCTV-nya?"
"Sudah Tuan. Tapi, lebih baik Anda ke sini. Saya tidak bisa mengatakannya di telepon"
"Oke. Aku akan nunggu dokter datang memeriksa Luna kalau Luna sudah boleh diijinkan pulang. Aku akan bertemu empat mata dengan kamu"
"Baik, Tuan"