Memories Of Love

Memories Of Love
Bahagia



Saat Jarvish menyusupkan wajahnya di leher Luna, Luna langsung mengambil kesempatan untuk berkata, "Sayang, katanya ada kado untuk aku" Ucap Luna sambil menepis pelan tangan Jarvish yang mulai ke mana-mana.


"Nanti aja aku masih sibuk" Ucap Jarvish sambil menciumi leher Luna.


Luna mendorong pelan dada Jarvish dan berkata, "Sayang, ampuni aku kali ini saja. Aku benar-benar capek. Pinggangku rasanya mau copot. Jangan hukum aku pagi ini, ya"


Berhasilkah? Tanya Luna di dalam hatinya.


Jarvish langsung menarik wajahnya.


Yes! Berhasil! Pekik Luna di dalam hatinya.


Jarvish memagut bibir Luna sebanyak dua kali, lalu menarik Luna untuk duduk di tepi ranjang dan sambil berkata, "Aku lepaskan kamu kali ini karena kamu kelihatan sangat lelah dan aku ingin buruan kasih kamu kejutan dariku"


Jarvish membawa satu kotak besar lalu meletakkan kotak itu di atas kasur dan menarik Luna ke pangkuannya.


"Kyaaaaa! Kok dipangku? Tangan jangan ke mana-mana,, ya, Sayang. Aku mau buka kadonya dulu"


Jarvish menyahut, "Hmm" Sambil meletakkan dagu di atas pundak Luna.


Luna membuka kotak besar dan terkejut saat ia mengeluarkan dua tas punggung couple. Luna menoleh kaget ke Jarvish, "Sayang, tasnya bagus banget"


"Hmm. Aku lihat tas punggung kamu udah jelek banget. Jadi, aku kepikiran belikan yang baru sekalian berpasangan denganku. Kamu suka?"


"Suka banget"


Jarvish mencium cukup lama wajahnya Luna sampai Luna hampir kehabisan napas. Lalu, pria itu melepaskan ciumannya dan berkata, "Kita pakai ke kantor besok"


"Kok, besok? Kenapa nggak hari ini?"


"Aku pengen pakai kaos yang kamu belikan. Kita bertiga piknik hari ini. Dave nggak usah ke sekolah dan kita nggak usah kerja"


"Tapi, apa boleh begitu?"


"Boleh aja. Aku CEO-nya. Apa yang aku katakan maka harus dilaksanakan"


"Tapi, Pak Surya gimana? Lalu, jadwal menu harian bagaimana?"


"Surya, ya, tentu saja tetap kerja. Menu harian kamu kirim ke emailnya Surya kayak kemarin, kan, bisa"


"Tapi, kalau Chef....... hmmppttthh


Jarvish langsung membungkam bibir Luna dengan bibirnya dan saat Luna gelagapan, Jarvish langsung melepaskan ciumannya dan berkata, "Mau bilang tapi lagi? Aku akan membuatmu tidur seharian ini"


Luna langsung menutup mulutnya dengan dua tangannya dan menggelengkan kepala dengan cepat.


Jarvish langsung membopong Luna.


Luna kembali berteriak, "Sayang! Mau di bawa ke mana aku?"


"Mandi. Kita mandi bareng biar cepat. Biar ke pantainya tidak kesiangan"


"Hah?! Mandi bareng?"


"Hmm"


"Tapi Beneran mandi bareng, ya, jangan aneh-aneh lagi"


"Tergantung situasi dan kondisi di dalam nanti"


"Sayang!!!!!" Luna kembali berteriak panik dan Jarvish sontak menggemakan tawa riangnya.


Satu jam kemudian Luna dan Jarvish keluar dari dalam kamar.


Jarvish berseri-seri wajahnya dan Luna menunduk malu.


Jarvish menggendong Dave yang berlari menghampirinya. Lalu setelah mencium pipi putra tunggal kesayangannya itu, Luna mengusap pipi Dave sambil berkata, "Dave pakai kaos ini, ya"


"Wah! Kembaran sama Papa dan Mama, ya?" Pekik Dave sambil merosot turun dari gendongannya Jarvish.


Luna tersenyum lebar, mengangukkan kepala dengan semangat dan berjongkok untuk mengganti baju seragamnya Dave dengan kaos yang dia bertuliskan, Son.


Jarvish ikutan berjongkok dan setelah menopangkan telapak tangan di pucuk kepala Dave, ia berkata, "Om Surya sudah mengijinkan kamu ke sekolahan kamu. Kamu tidak sekolah hari ini"


"Lho, kenapa? Dave nggak sakit dan ini bukan hari libur"


"Papa ingin kita piknik hari ini"


"Dave suka. Tapi, lain kali pikniknya jari libur saja, ya, Pa. Dave nggak suka melanggar aturan"


Luna mengulum senyum geli sambil bangkit berdiri.


Jarvish menggendong putranya dan berkata di pipi Dave, "Iya, Bos. Siap! Kita hanya akan melanggar aturan hari ini"


Dengan pengawalan ketat Jarvish menyetir mobil mewahnya sendiri menuju ke pantai bersama anak dan istrinya.


Di tengah perjalanan menuju ke pantai, Luna nyeletuk, "Mas, Papaku........"


"Papa kamu itu Papaku juga, kan saat ini?"


"Iya"


"Berarti nggak usah pakai kata ku"


"Ah, iya! Maaf dan.........."


"Nggak usah pakai maaf juga. Kita ini Suami Istri"


"Ah, iya! Ah! Aku jadi lupa mau ngomong apa, nih" Luna menepuk pelan bahunya Jarvish dan Jarvish sontak tertawa.


"Apa Opa pengen kita ke rumah Opa, Ma?" Sahut Dave.


"Ah! Iya, benar! Papa ingin. aku dan Dave ke rumahnya. Papa ingin kasih kado ke Dave"


"Baiklah. Aku kan antar kalian nanti"


"Apa, Mas nggak capek?"


"Nggak. Untuk kalian berdua aku nggak pernah kenal kata capek. Aku bahkan rela memberikan jiwa dan ragaku untuk kalian. kalau itu perlu"


"Aku juga" Sahut Luna lirih. Namun, Jarvish bisa mendengar ucapannya Luna itu dan pria tampan itu itu tersenyum senang sambil menggenggam tangan Luna yang ada di atas pangkuannya Luna.


Luna menunduk dan saat ia melihat tangan Jarvish menggenggam tangannya seketika hatinya berdesir hangat. Ia mulai merasakan ada rasa menggelitik aneh.


Apakah ini rasanya cinta? Rasanya unik, menggelitik sekaligus membuat hangat hati ini. Tapi, entahlah aku, kan, belum pernah merasakan apa itu cinta. Batin Luna.


Jarvish mengajak Luna dan Dave ke Safari Beach. Pantai yang sekaligus mengenalkan hewan seputar pantai, seperti burung-burung yang sering berkeliaran terbang di sekitar pantai itu , lalu ada beraneka ragam ikan, ada atraksi lumba-lumba kesukaannya Luna dan juga ada atraksi burung-burung pantai baik burung pemakan daging seperti Elang pantai atau burung pemakan biji-bijian seperti Rangkong Badak. Namun, di sadari beach tersebut juga ada kuda dan gajah yang bisa ditunggangi oleh para pengunjung


Dave dengan berani naik gajah bersama Papanya. Luna sibuk merekam kebersamaan papa dan anak itu dengan telepon genggamnya.


Di atraksi burung, Jarvish dan Dave berani maju ke depan merentangkan tangan kanan mereka dan dua ekor burung elang putih. Yang satu ekor hinggap di lengan Jarvish dan satu ekornya lagi hinggap di lengan Dave. Burung elang putih yang lebih kecil ukurannya sangat pandai, burung itu memilih hinggap di lengan mungilnya Dave.


"Wah! Papa dan putranya ini bukan saja sama-sama tampan, tetapi juga sama-sama pemberani. Tepuk tangan untuk ketampanan dan keberanian mereka" Ucap si pelatih burung-burung tersebut


Dave dan Jarvish saling pandang dengan tawa renyah mereka. Luna yang masih sibuk merekam aksi keberaniannya anak dan suaminya ikutan tertawa senang.


Setelah melihat atraksi burung, sebelum menuju ke tempat di mana atraksi lumba-lumba akan dipertontonkan, Jarvish melepas topinya lalu ia pakaikan topi itu di kepalanya Luna.


"Untuk apa topinya? Aku nggak kepanasan, kok"


"Ssstttt! Banyak pria melihat wajah kamu yang manis ini. Aku nggak mau menangkap lebih banyak pria melihat wajah manis kamu ini. Cih! Enak saja mereka melihat wajah manis Istriku tanpa permisi dulu"


Luna hanya bisa menghela napas panjang dan membiarkan Jarvish menurunkan moncong topi ke bawah.


"Eh! Kalau diturunkan Teru, aku nggak bisa melihat ke depan, dong Sayang"


"Pegang tanganku aku akan menuntun langkah kamu"


Luna kembali menghela napas panjang.