Memories Of Love

Memories Of Love
Menggaet Cewek



"Kamu kerja di sini saja! Duduk di depanku sana!" Ucap Jarvish sembari duduk di kursi kerja kesayangannya yang sudah membantunya menghasilkan banyak cuan.


"Baik, Tuan" Sahut Surya duduk di depan meja kerjanya Jarvish yang besar dan lebar.


Beberapa kali Surya menangkap Tuannya mengulum bibir menahan senyum. Namun, Surya memilih untuk mengabaikannya.


Suka-suka Anda lah, Tuan. Batin Surya.


Namun, Surya yang terbiasa kritis, lama-lama terganggu juga dengan tingkah tuannya yang aneh. Akhirnya asisten pribadinya Jarvish yang sangat tekun bekerja dan setia itu, tergelitik untuk bertanya, "Kenapa Anda sering mengulum bibir menahan tawa, Tuan? Apa yang Anda pikirkan?"


Jarvish langsung menatap Surya, "Suka-suka aku lah"


"Tapi, saya hitung, Anda cukup sering mengulum bibir menahan tawa, dan itu sangat membuat saya menjadi penasaran dan membuat saya ingin bertanya, Tuan. Maaf"


Jarvish mendengus kesal dan dengan sorot mata tajam pria itu meletakkan dua tumpuk berkas yang lumayan tinggi di depan Surya sambil berkata, "Hitung berapa tanda titik dan koma di semua berkas ini. Kamu harus laporkan satu jam lagi!"


"Hah?! Kenapa saya harus menghitung jumlah titik dan koma?"


"Daripada menghitung senyumku, cih! Itu berarti kamu kurang kerjaan, kan? Makanya aku kasih kerjaan baru, tuh, menghitung titik dan koma" Jarvish berucap sembari duduk kembali di kursinya.


"Tuan, tolong cabut perkataan Tuan barusan. Kalau Anda mencabutnya, saya akan kasih tahu caranya menggaet cewek"


"Ada apa Chef? Kenapa saya dipanggil lagi ke sini?" Tanya Luna.


"Emm, Maaf Nona Luna. Saya ingin membahas menu untuk makan siang dan makan malam sekalian. Emm, sama Snack untuk sore hari" Sahut chef yang bernama Steven itu.


"Tapi, kata Tuan Jarvish tadi, untuk menu makan siang, Snack sore, dan makan malam dibahas besok saja" Sahut Luna.


"Saya kebetulan longgar hari ini ,Nona. Jadi, kita bahas sekarang saja, ya? Soalnya kalau besok saya justru banyak kerjaan . Maaf, saya lupa kasih tahu Anda tadi. Maaf saya sudah menyuruh Anda balik lagi ke sini" Chef yang bernama Steven itu meringis ke Luna.


"Oke. Mari kita bahas sekalian" Luna menyahut sambil duduk di depan meja kerja chef tersebut.


"Anda bisa ajari saya cara memasak sayur lodeh? Saya lulusan dari Belanda. Saya cuma bisa masak masakan western. Saya kurang bisa masak masakan Nusantara, Nona"


"Baiklah. Saya akan ajari cara masak sayur lodeh sekalian saya tuliskan resepnya"


"Itu saja? Cara menggaet cewek cuma perlu itu?" Jarvish mendelik ke Surya. Lalu berkata, "Wah! Kamu pasti ngerjain aku, ya?"


"Mana berani saya ngerjain Tuan? Saya pakai itu untuk menggaet pacar saya. Pacar saya adalah primadona kampus, cantik, dan idola kaum Adam di kampusnya. Tapi, nyatanya saya berhasil menggaetnya"


"Cih! apa benar pacar kamu sehebat itu? Mana coba lihat fotonya?"


"Nih. Cantik,kan?'" Surya memperlihatkan foto mesra dirinya dengan pacar cantiknya


"Hmm, lumayan. Tapi, dia nggak sehebat wanita yang aku incar saat ini"


Surya yang sebenarnya sudah tahu siapa wanita yang diincar oleh tuannya, berpura-pura tidak tahu dan bertanya, "Siapa wanita itu, Tuan?"


"Rahasia. Aku nggak akan kasih tahu ke kamu sebelum aku berhasil menggaetnya"


"Oke. Anda coba saja jurus yang saya kasih tadi. Dijamin manjur"


"Lalu, bagaimana caranya memberikan kejutan yang manis dan romantis?"


"Anda harus cari tahu kesukaannya dulu Tuan"


"Bagaimana caranya aku bisa tahu kesukaannya?"


"Anda harus jadi teman mengobrol yang seru dulu bagi wanita itu"


"Kok, jadi panjang perkaranya? Tadi, kata kamu cuma perlu memberikan kejutan yang manis dan romantis"


"Lha ternyata Anda belum mengenal baik wanita itu makanya jadi panjang begini, Tuan"


Surya meringis di depan tuannya.


Jarvish menghenyakkan tubuhnya dengan kesal ke sandaran kursi dan sambil berkata, "Iya, kamu benar. Aku belum kenal dirinya dengan baik"


"Anda bilang Anda akan mendekati Nyonya muda. Apa wanita yang Anda maksud adalah Nyonya muda?"


"Kapan aku bilang begitu? Perasaan aku nggak pernah bilang gitu ke kamu"


"Iya, baiklah. Anda belum pernah bilang begitu ke saya. Maaf"


"Tapi, kok, kamu tahu soal itu?"


"Anggap saja dari bisikan rumput yang bergoyang, Tuan" Surya meringis ke tuannya dan Jarvish langsung menghela napas panjang.


"Apakah Anda bisa datang ke dapur sekarang juga, Tuan? Nona Luna ingin Anda datang ke sini untuk mencicipi masakannya"


"Oke" Jarvish langsung bangkit berdiri dan dengan semringah ia menatap Surya, "Ayo ikut aku ke dapur!"


"Berarti saya nggak usah menghitung titik dan koma lagi, Tuan?"


"Cih! kalau kamu tidak segera berdiri kamu akan menerima hukuman yang lebih......."


"Siap, Tuan. Saya akan menemani Anda ke dapur. Mari!" Surya langsung berlari kecil membukakan pintu untuk Jarvish.


"Sebentar aku akan cek Dave dulu"


"Dave di sini, Pa" Dave keluar dari dalam kamar sambil mengucek-ucek kedua kelopak matanya.


Jarvish langsung menggendong Dave dan berkata, "Wah! Anak Papa sudah bangun. Ikut Papa bentar, ya?"


"Hmm"


"Pinter" Jarvish mendaratkan ciuman di pipi Dave.


Surya, Jarvish dan Dave sampai di departemen Food and Beverage. Jarvish menoleh ke Surya, "Tolong ajak Dave sebentar. Kasihan kalau Dave harus disuruh ke dapur. Sebentar lagi aku akan suruh Luna menyajikan makanan di sini"


"Baik, Tuan" Surya lalu mengajak Dave duduk di depan meja bundar yang terbuat dari kayu yang sangat kokoh.


Jarvish berjalan ke dapur dan sambil melirik arloji mahal di pergelangan tangan kirinya sambil bergumam lirih, "Sial! Kenapa masih jam lima? Kenapa waktu berputar lama banget?"


"Mana sayur yang kamu bikin?" Jarvish muncul di dapur.


"Itu. Cicipilah" Luna berucap tanpa menoleh ke belakang karena dia, masih sibuk menggoreng ikan.


"Apa yang kamu goreng? Baunya sedap banget"


"Ikan. Sebenarnya sayur lodeh cocoknya sama gereh atau ikan asin layur yang tipis-tipis itu, besok tim dapur sudah aku suruh untuk membelinya. Yang ada ikan kakap, jadi aku goreng ikan kakap"


"Taruh di meja depan semuanya. Aku akan cicipi bareng sama anakku"


"Baik, Tuan" Sahut chef yang bernama Steven.


"Nah! Sudah selesai. Aku bisa pulang sekarang, kan?"


"Tunggu dulu! Aku belum mencicipinya. Kita cicipi dulu bareng sama Dave dan Surya. Mereka menunggu di depan"


"Dave sudah bangun, ya?" Luna langsung berlari kecil ke depan dan langsung duduk di sebelah Dave untuk memeluk Dave sambil berkata, "Anak Mama bangun tidur aja cakep banget, sih"


"Ayo kita cicipi masakannya Luna" Ucap Jarvish.


"Dave tidak bisa makan pedas. Jadi, Dave makan kakap gorengnya aja, ya?" Sahut Luna


"Hmm" Sahut Jarvish.


"Ini Enak.......aduh!" Surya mengaduh saat Jarvish tiba-tiba menginjak kakinya dan Jarvish langsung berkata, "Wah! Kurang mantap, nih! Perbaiki!"


"Masak, sih? Menurut Pak Surya gimana?"


Surya meringis karena dia masih merasakan kakinya cenut-cenut setelah diinjak oleh Jarvish.


"Tuh! Surya aja meringis aneh kayak gitu. Berarti emang kurang mantap. Perbaiki! Sama sekalian bikin risoles mayo dan kue lumpur untuk Snack sore besok. Aku ingin cicipi"


Luna mendelik ke Jarvish, "Ini sudah waktunya untuk pulang. Dave perlu mandi, kan?"


"Surya bawa Dave pulang dan jaga dia di rumah sampai aku pulang"


"Baik, Tuan"


Dave mencium pipi Papa dan Mamanya secara bergantian, lalu menggandeng tangan Surya untuk pulang.


"Aku juga butuh pulang dan mandi"


"Aku belum ijinkan kamu untuk pulang. perbaiki dulu sayur ini dan sekalian bikin risoles mayo dan kue lumpur untuk besok. Kau ingin mencicipinya"


Luna terpaksa bangkit berdiri dan berjalan kembali ke dapur untuk melakukan semua perintahnya Jarvish.


Jarvish mengekor Luna sambil melirik arloji mahalnya dan bergumam di dalam hatinya, kenapa masih setengah enam? Berapa lama masak risoles mayo dan kue lumpur coba? Kalau cepat, dia masih bisa pergi ke restoran itu untuk makan malam dengan Joshua. Nggak! Aku akan terus cari cara menahan Luna di sini"