
Laura terbangun di dalam dekapan hangat seorang pria muda yang sangat tampan. Laura mengusap lembut kening, hidung, dan pipi pemuda itu dengan senyum penuh cinta.
Pemuda tampan itu terbangun dan langsung tersenyum ke wanita cantik yang ada di dalam dekapan hangatnya, "Selamat pagi, Cintaku, Cantikku"
"Selamat, pagi, Cintaku"
Pemuda itu mengusap pipi Laura dan mengecup bibir Laura lalu bertanya, "Kamu bisa tidur nyenyak semalam"
"Bisa. Kamu udah menghajarku sebanyak dua ronde. Tentu saja aku bisa tidur nyenyak. Bahkan nyenyak sekali"
"Hahahahaha" Pemuda itu mempererat pelukannya dan berkata, "Aku sangat mencintai kamu, Laura. Kapan kamu mengenalkan. aku ke keluarga kamu? Aku ingin melamarmu secepatnya"
Laura berkata di dalam dekapan pemuda itu, "Kita,kan, sudah sepakat kalau hubungan kita ini adalah hubungan yang santai. Tidak saling menuntut. Jadi, jangan menuntut aku untuk mengenalkan kamu ke keluargaku. kalau kamu terus menuntut aku, lebih baik kita sudahi saja hubungan yang sudah dua tahun terjalin ini"
"Baiklah. Aku akan terus bersabar menunggu dirimu siap mengenalkan aku ke keluarga kamu, Laura"
"Hmm" Sahut Laura.
Dave sontak memekik kegirangan, "Boleh, boleh. Kalau Papa ikutan, Dave jadi tambah semangat makan sayurnya. Ma?! Mama?!"
"Hah?!" Luna tergagap kaget dan sendoknya tejatuh di atas piring menimbulkan suara klonthang! Yang cukup keras membuat Dave dan Jarvish mengangkat pundak mereka secara bersamaan karena kaget.
"Kamu hobi banget bengong" Sahut Jarvish.
"Boleh. Ayo kita mulai lombanya, ya, Ma?!" Dave kembali memekik dengan girang.
"Hmm" Luna terpaksa mengangguk dengan senyum tipis dan berdoa di dalam hati semoga Jarvish kalah.
"Bi! Kemarilah!" Teriak Jarvish.
"Iya, Tuan?"
"Jadi juri, ya. Kita bertiga mau lomba makan sayur. Yang paling banyak makan sayur itu pemenangnya. Nih, Bibi rekam pakai ponselku" Pinta Jarvish.
"Baik, Tuan" Sahut Bi Nina.
"Oke. Siap? Kita mulai sekarang!" Ucap Jarvish.
Kinan berusaha memakan sayur sebanyak-banyaknya karena dia ingin mengalahkan Jarvish. Kinan tidak mau kalau Jarvish menang dan dia harus mencium pipi pria aneh itu.
Sedangkan Dave malah santai memakan sayurnya. Dia tidak begitu menginginkan memenangkan lomba itu sebenarnya. Namun, dia makan sayur hanya untuk membuat mamanya senang.
Namun, di akhir lomba, Bibi Nina selaku juri memperlihatkan rekaman video lomba makan sayur itu dan nampak jelas kalau Jarvish yang menjadi pemenangnya.
Jarvish menatap tajam wajah manisnya Kinan dan dengan senyum tipis pria itu berucap, "Aku menang"
Jarvish berucap dengan nada datar padahal di dalam hatinya, pria itu ingin sekali memekik dan berteriak kencang, aku menang!!!!!!
"Selamat, Tuan" Sahut Bi Nina.
"Makasih, Bi" Jarvish menganggukkan kepala ke BI Nina dengan wajah datar.
"Bibi bawa semua perabot makan yang kotor ini ke dapur dulu, ya, Tuan, Nyonya"
"Hmm" Sahut Jarvish.
Luna tidak menyahut karena wanita berwajah manis itu masih sibuk berpikir mencari cara agar dia bisa pergi dengan cepat dan tidak mencium pipi Jarvish.
"Wah! Papa hebat banget! Papa Menang! Selamat, Pa" Dave mencium pipi papanya dengan senyum bangga.
"Terima kasih, Nak. Papa nunggu hadiah dari Mama kamu, nih" Jarvish mengusap kepala Dave sambil menoleh pelan ke Luna.
Saat ia bersitatap dengan pria aneh itu, Luna sontak kesulitan menelan air liurnya.
"Ma, hadiahnya. Papa nunggu, nih"
Luna langsung berdeham dan bangkit berdiri, "Hadiahnya besok, kan. Kita piknik bareng ke taman bermain"
"Kau mau ke mana? Apa begitu caranya kamu mendidik Dave?"
Luna berdiri di depan meja makan dan sambil mendelik ke Jarvish ia bertanya, "Apa maksud kamu?"
"Dave, tadi Mama kamu bilang apa saja hadiahnya?"
"Pergi ke taman bermain dan pemenangnya dapat ciuman di pipi" Sahut Dave.
"Berarti Mama kamu saat ini harus apa, Dave?"
"Mencium pipi Papa karena Papa adalah pemenangnya" Sahut Dave.
Luna menatap Jarvish dengan sorot mata tajam dan dada naik turun karena kesal.
"Ayo! Buruan kasih hadiahnya ke aku, kok, malah bengong lagi"
"Iya, Ma. Buruan kasih hadiahnya. kalau kelamaan, Dave bisa telat masuk sekolah" Sahut Dave.
"Ayo! Apa kau mau mendidik Putra kita tidak disiplin waktu?" Jarvish berkata dengan santainya padahal Luna diserang berbagai macam rasa di hatinya, dia membenci pria itu, tetapi sekaligus ia ingin menjaga martabat pria itu demi Dave. Luna masih trauma berdekatan dengan pria aneh itu karena pria itu telah memperkosa dia beberapa tahun yang lalu dan mencium paksa dia beberapa hari yang lalu.
"Ayo!" Jarvish mulai meninggikan nada suaranya.
Luna akhirnya melangkah maju dengan berat hati dan bahkan ia menyeret kakinya yang berat sekali untuk ia ajak melangkah maju.
Melihat Luna berjalan dengan berat, Jarvish menoleh ke Surya yang tiba-tiba muncul di ruang makan, "Ajak Dave ke mobil. Tunggu aku di mobil"
"Baik, Tuan" Surya langsung menggendong Dave.
Luna sontak mematung dan menatap Jarvish dengan sorot mata ketakutan.
"Aku nggak akan apa-apakan kamu. Aku akan menjaga martabat kamu mulai sekarang. Aku tidak akan bertindak kurang ajar lagi sama kamu. Cium pipiku saja, nih!" Jarvish menunduk dan mengarahkan pipi sebelah kirinya di depan bibir Luna.
Luna mengecup pipi Jarvish dengan cepat.
Jarvish masih mengarahkan pipinya ke Luna dan wanita itu menyemburkan protes, "Sudah aku cium. Kenapa kamu belum pergi dan melepaskan aku?"
"Belum terasa" Sahut Jarvish dengan senyum licik di dalam hatinya.
Luna kembali mengecup pipi Jarvish lebih lama dari yang pertama tadi.
Namun, Jarvish masih bergeming dan kembali berucap, "Masih belum terasa"
"Jarvish Benjamin, jangan membuatku kehilangan kesabaran dan ....."
"Kau yang jangan pernah coba-coba membuatku kehilangan kesabaran. Cepat cium pipiku agak lama atau aku akan mencium bibir kamu"
"La.....lama itu berapa lama? aku rasa aku sudah cukup lama mencium pipi kamu barusan"
"Aku akan hitung sampai sepuluh baru kamu lepaskan ciuman kamu"
"Mana boleh seperti itu? Aku yang adakan lombanya. Jadi, suka-suka aku yang kasih hadiah, kan? Seharusnya aku yang menentukan berapa lama aku harus mencium pipi kamu dan kamu tidak berhak ......."
"Cium sekarang juga atau aku akan mencium bibir kamu?"
Luna langsung mencium pipi Jarvish dan harus benar-benar memperpanjang ususnya untuk bisa bersabar saat Jarvish berhitung dengan sangat lambat. Bibir Luna menempel di pipi Jarvish cukup lama karena pria aneh itu berhitung dari satu sampai sepuluh dengan sesuka hatinya.
Luna mendengus kesal dan menyemburkan, "Kenapa berhitungnya lama banget?!" Saat Jarvish selesai berhitung dan melepaskan pinggangnya.
Jarvish tidak menyahut dan memilih untuk berputar badan sambil berkata, "Kamu ikut nggak? Kalau nggak kamu akan pergi ke kantor naik apa?" Jarvish berucap sembari melangkah lebar meninggalkan Luna.
Luna mengusap bibirnya dengan kesal dan berlari kecil menyusul Jarvish sambil bergumam di dalam hati, dasar Jarvish Benjamin brengsek!
Jarvish melangkah lebar di depan Luna dengan senyum semringah. Dia sangat bahagia bisa bercanda dengan Luna dan mendapatkan tiga ciuman hangat dari Luna di pipinya.
Namun, saat ia dan Luna masuk ke dalam mobil, Jarvish Kemabli memasang wajah dingin dan kaku.
Surya mengantarkan Dave terlebih dahulu ke sekolahannya Dave. Dave mencium punggung tangan Papa dan Mamanya lalu turun dan langsung melesat masuk ke kelasnya. Jarvish kemudian melangkah turun dari dalam mobil.
Luna sontak ikut turun untuk bertanya, "Kenapa kau ikut turun?"
"Aku akan masuk kelasnya Dave. Aku akan jaga Dave"
"Nggak boleh" Luna sontak mendelik ke Jarvish.
"Kenapa? Apa kau ingin aku duduk di sebelah kamu saat ini di jok belakang?"
"Bukan itu maksudku. Kalau kamu ikut turun dan masuk ke kelas, kamu tidak mendidik Dave untuk jadi anak yang mandiri. Biarkan Dave sekolah sendiri Dia anak cowok. Dia perlu dididik berani, kuat, dan mandiri"
"Tapi, ada banyak anak nakal di kelasnya. Aku nggak ingin Putraku di-bully. Enak aja! Aku akan temani dan awasi Dave di dalam kelas. Lagian aku duduk tenang, kok, di dalam kelas"
Luna menghela napas panjang lalu berkata, "Kalau seperti itu, Dave akan terbiasa tidak mencari problem solving sendiri. Justru kasihan kalau seperti itu, Dave akan bergantung terus sama Papanya"
Jarvish menatap Luna dan bergeming.
"Kamu ingin anak kita tumbuh menjadi anak cowok yang lembek, dikit-dikit ngadu ke Papanya, dan cengeng?"
Jarvish langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Kalau gitu, masuk ke mobil dan biarkan Dave sekolah sendiri. Barulah pas pulang nanti, kamu jemput Dave"
"Baiklah. Tapi, ijinkan aku duduk di jok belakang sama kamu. Kepalaku agak pusing duduk di depan lihat jalan macet dan ruwet"
Luna kembali menghela napas panjang dan berkata dengan sangat terpaksa, "Baiklah"
Jarvish hampir saja berteriak, hore!!!! Namun, pria dingin dan kaku itu bisa mengendalikan diri dan melangkah masuk ke jok belakang dengan sikap tenang.
Jarvish menoleh ke Luna yang terus mengarahkan pandangan ke jendela dan duduk menempel ke pintu mobil jauh dari dirinya.
Pria tampan itu kemudian bertanya, "Kenapa kamu tidak menuntut aku?"
Luna sontak menoleh dan mengeluarkan suara, "Hah?!"
"Aku sudah merenggut paksa segel kamu. Kenapa kamu tidak menuntut aku? Bahkan sampai sekarang pun kamu tidak mengatakan ke siapa pun kalau Dave adalah anak hasil dari perkosaanku?"
"Aku tidak siap menanggung malu saat itu kalau aku nekat melaporkanmu ke pihak berwajib dan setelah Dave lahir, aku ingin menjaga martabat kamu di depan Dave. Aku tidak mau Dave mengetahui soal perkosaan itu. Aku tidak mau Dave membenci Papanya. Aku ingin Dave merasa bangga memiliki kamu sebagai Papanya. Biarlah soal perkosaan itu kita berdua saja yang tahu"
"Saya tahu dan saya akan tutup mulut selamanya, Tuan, Nyonya muda" Sahut Surya.
"Terima kasih, Pak Surya"
Jarvish menatap Luna dari samping dengan kagum. Lalu, pria tampan itu berkata, "Terima kasih dan maafkan aku"
"Tidak perlu berterima kasih dan aku sudah memaafkan kamu. Semua aku lakukan demi Dave" Sahut Luna.
Sesampainya di kantor, Jarvish langsung duduk berhadapan dengan Surya untuk mengerjakan berkas-berkas bertumpuk.
Surya menatap Jarvish dengan heran, dia melihat tuannya beberapa kali mengulas senyum lebar dan pipi Jarvish merona merah.
Bahkan di dalam ruang meeting pun Jarvish kedapatan melamun dan mengulas senyum lebar yang mengundang banyak tanya dari para manajer. Semua manajer yang hadir di ruang meeting berbisik satu dengan yang lainnya, "Kenapa Tuan Jarvish tersenyum? Padahal selama kita bekerja bersama dengan beliau, Tuan Jarvish tidak pernah tersenyum seperti itu?"