
Jarvish datang menemui Joshua di restoran tepat jam tujuh malam tanpa Luna. Luna tengah tidur pulas di kamar setelah bermain liar di atas ranjang bersama Jarvish.
"Di mana Luna? Kenapa kamu datang sendirian?"
"Aku datang sendirian karena aku ingin memintamu bertobat. Luna sudah menikah denganku dan jangan menggangunya lagi apalagi memiliki niat jahat untuk menjeratnya ke dalam pelukan kamu" Jarvish bersedekap dan menyandarkan bahunya.
"A....apa maksud kamu?"
"Aku sebenarnya sangat gatal ingin memasukkan kamu ke penjara lagi, tapi demi keinginan Luna melihat keluarga kita rukun, maka aku memilih untuk mengajak kamu bicara saat ini"
"Jangan membuatku pusing, Jarvish! Katakan apa maksud kamu!"
"Laura sudah tertangkap. Sejak Laura memberikan anak anjing ke Dave, aku mulai menyuruh detektif untuk memata-matai Laura. Aku paham betul watak liciknya Laura karena aku pernah berpacaran dengannya. Dan dari laporan detektif sewaanku, kamu dan Laura ingin menjebak Luna malam ini. Setelah Laura gagal menculik Dave beberapa kali, ia berganti rencana menjebak Luna, cih! Kalian berurusan dengan orang yang salah. Kau lupa siapa aku. Aku jauh lebih licik dari kalian semua"
"Sial!" Joshua sontak bangkit berdiri dan sambil membetulkan kacamatanya ia berkata, "Aku tidak tahu soal itu"
"Duduk! Kalau kamu keluar maka kamu akan aku lemparkan ke polisi"
"Sial!" Joshua duduk kembali dan sambil menatap Jarvish, pemuda berkacamata dan berambut putih itu berkata, "Apa mau kamu sekarang?"
"Berdamailah denganku. Terimalah aku menjadi adik dengan tulus. Walaupun kita tidak ada hubungan darah, tapi aku mau menerima kamu sebagai Kakak dengan tulus. Demi Luna"
Joshua tertegun mendengar ucapannya Jarvish dan kembali bertanya, "Hanya itu yang kau mau?"
"Hmm. Hanya itu. Kalau kamu mau berdamai denganku. Menerimaku menjadi adik dengan tulus, maka aku akan membebaskan kamu dari kasus ini dan kamu tidak akan aku jebloskan ke penjara. Ingat di kasus yang sebelumnya, Papa bahkan membiarkan kamu masuk ke penjara agar kamu mendapatkan pelajaran. Jadi, aku rasa Papa akan lebih........"
"Baiklah! Aku akan berdamai denganku dan mengikhlaskan Luna"
"Satu lagi"
"Apa?!"
"Berdamailah juga dengan Papa kamu dan Mamaku! Aku akan serahkan jabatan Presdir pertama ke kamu. Aku akan fokus ke hotel dan resortku saja. Perusahaan Papa sepenuhnya milik kamu. Warisan Papa juga sepenuhnya milik kamu"
"Ka......kamu serius?"
"Hmm"
"Aku akan berdamai dengan semuanya, tapi aku minta satu lagi dari kamu"
"Apa?"
"Aku menginginkan kapal pesiar kamu sejak lama. Apa aku boleh memilikinya?"
"Ambil saja" Sahut Jarvish dengan entengnya.
Joshua langsung bangkit berdiri dan melompat memeluk Jarvish sambil berkata, "Terima kasih adikku!"
Jarvish mendorong Joshua dan berkata, "Jangan main peluk dadakan. Aku belum terbiasa"
"Hahahahaha. Baiklah. Aku akan ajari kamu berpelukan denganku secara perlahan"
"Cih! Nggak usah pakai pelukan" Jarvish lalu bangkit berdiri dan pergi meninggalkan Joshua.
Jarvish kembali ke rumah dan naik ke ranjangnya dengan kaget karena ternyata di balik selimut ada Dave yang tengah meringkuk dan memeluk mamanya.
Jarvish terkekeh geli dan bergumam lirih, "Untung saja aku memakaikan kembali dressnya Luna sebelum aku pergi tadi"
Jarvish kemudian merebahkan kepala di atas bantal dan memejamkan mata setelah ia memeluk anak dan istri tercintanya.
Satu bulan kemudian, Jarvish dibangunkan Luna dengan puluhan ciuman di wajah tampannya.
Jarvish membuka mata dan langsung tersenyum lebar menatap Luna, "Selamat pagi, Manis"
Luna memegang sesuatu di tangannya dan berkata, "Aku membawakan kejutan manis untuk kamu, Mas"
"Apa itu?" Jarvish langsung bangun dan duduk di atas ranjang.
Luna merangkak naik di atas ranjang lalu duduk bersila di depan suaminya.
Jarvish langsung memeluk pinggang Luna dan kembali bertanya, "Apa itu?"
"Aku hamil. Garis dua, Mas. Lihatlah!" Luna memekik girang.
Jarvish menatap garis dua berwarna merah itu dengan tidak percaya sambil bergumam, "Ini berarti kamu hamil?"
"Hmm"
Jarvish langsung menarik tengkuk Luna dan mencium bibir Luna dengan penuh cinta dan kebahagiaan yang membuncah.
Namun, kebahagiaan Jarvish berganti kerucut di bibirnya saat dokter yang memeriksa kandungannya Luna berkata, "Anda dilarang menyatukan raga dulu dengan Istri anda sampai kandungan Istri Anda mencapai empat bulan"
Luna langsung menepuk pelan bahu suaminya dengan senyum geli.
"Emang harus merasakan pusing juga, emangnya mau enak terus" Sahut dokter yang menangani kandungannya Luna.
"Yeeaahhh, oke lah kalau begitu, nanti aku gas pol lagi kalau kandungan Luna udah empat bulan"
Dokter tersebut terkekeh geli dan Luna langsung tersipu malu.
Sesampainya di rumah, Mereka langung memberitahukan soal kehamilan Luna ke Dave, "Sayang, jagoannya Papa, sini Papa pangku! Ada yang Papa dan Mama kasih tahu ke kamu"
"Apa, Pa?"
Jarvish mengelus perut Luna yang masih tampak rata dan berkata, "Di dalam perut Mama kamu, ada adiknya Dave"
"Benarkah?" Kedua bola mata Dave membeliak senang.
"Hmm. Dave senang?" Tanya Luna.
"Hmm. Senang banget Dave pengen adik cewek, Ma"
"Toss dulu sama Papa. Papa juga pengen adiknya Dave nanti cewek. Biar lengkap. Dave tampan kayak Papa dan adiknya Dave manis kayak Mama"
Dave toss sama papanya dengan tawa bahagia.
"Mama juga biar ada teman bermain. Masak Dave main catur terus sama Mama dan Mama nggak bisa ikutan" Sahut Luna dengan senyum bahagia.
"Oma juga suka cucu cewek biar nanti Oma sama Mama kamu ada yang menemani belanja baju, hehehehe" Sahut Mamanya Jarvish yang tiba-tiba muncul di depan Luna dan Jarvish.
Luna langung bangkit berdiri untuk mencium punggung tangan mertuanya, namun mamanya Jarvish langsung menarik Luna masuk ke dalam pelukannya dan berkata, "Terima kasih sudah membawa banyak kebahagiaan dalam keluargaku, Luna"
"Terima kasih juga Mama selalu menyayangi kami"
Papanya Joshua langsung menggendong Dave dan melirik Jarvish sambil berkata, "Papa juga mau meluk cucu Papa yang ada di kandungannya Luna, dong"
Jarvish langsung menahan dada papa tirinya dan memeluk papa tirinya sambil berkata, "Aku wakili saja, ya, Pa"
Semuanya akhirnya tertawa di ruang keluarga itu.
Joshua yang juga muncul di ruang keluarga langsung berkata, "Aku juga mau berpelukan" Joshua langsung memeluk papa dan Jarvish dengan tawa riang.
Keriangan itu kemudian berlanjut di meja makan. Luna menatap kedamaian dan kerukunan yang tampak di depan matanya dengan penuh rasa syukur dan bahagia.
Keesokan harinya, Jarvish menciumi wajah manisnya Luna dan saat Luna membuka mata, Jarvish bertanya, "Kamu tidak ingin makan sesuatu atau pengen muntah? Ayo aku bopong ke kamar mandi"
Luna menautkan alisnya lalu tersenyum dan berkata, "Nggak, Mas. Aku nggak pengen apa-apa dan nggak pengen muntah"
"Lalu, kamu pengen apa? Pas kamu hamil Dave apa juga seperti ini? Nggak pengen apa-apa?"
"Aku termasuk wanita yang beruntung, nggak diberi ngidam yang aneh-aneh waktu hamil Dave. Cuma pengen makan mangga mentah dan untungnya tetangga sebelah rumah punya pohon mangga" Luna mengelus pipi suami tampannya.
"Aku akan tanam pohon mangga juga besok di halaman belakang. Aku akan suruh Surya cari pohon mangga yang sudah ada buahnya dan di tanam di halaman belakang"
Luna tersenyum geli bercampur bahagia melihat tingkah polos suaminya.
"Terus apalagi?"
Aku pengen mandi terus pergi kerja"
"Nggak! Kamu nggak aku ijinkan ke kantor sampai kandungan kamu kuat"
"Tapi, Ma, aku nggak bisa berdiam diri saja di rumah"
"Kamu bisa masak untuk aku dan bekerja dari rumah, kan?"
Luna langsung mengerucutkan bibirnya.
"Nurut apa kata suami. Kalau nggak nurut dosa, lho"
"Iya, Mas" Luna mengelus pipi Jarvish.
Lalu, pria tampan itu membopong Luna.
"Mas mau bawa aku ke mana?"
"Ke kamar mandi. Aku nggak mau kamu terpeleset makanya aku gendong kamu dan mandikan kamu mulai hari ini"
Luna hanya bisa menghela napas panjang.