
Laura meletakkan gelas berisi teh jahe di atas nakas dan langsung bangkit berdiri saat mamanya Jarvish berkata, "Jarvish sudah pulang bersama Dave dari tadi. Jauh sebelum Luna dan Joshua pulang"
"Apa Tante? Tante serius?"
"Iya. Tante juga kaget, kok, Jarvish pulang begitu saja ninggalin kamu"
"Saya tidak bawa mobil, Tante. Saya pulang pakai apa?"
"Tante sudah siapkan supir Tante untuk antarkan kamu pulang"
"Ah! Terima kasih banyak Tante" Laura langsung memeluk dan mencium pipi mamanya Jarvish.
Mamanya Jarvish mengelus punggung Laura dengan senyum senang, lalu mamanya Jarvish berkata, "Kamu bukan hanya cantik, tapi juga berpendidikan, tahu sopan santun dan berbudi luhur. Nggak seperti pacarnya Joshua"
Laura menarik diri dari pelukan mamanya Jarvish untuk kembali mengucapkan kata, "Terima kasih banyak, Tante"
Beberapa jam berikutnya setelah sampai di rumah papanya, Laura langsung masuk ke dalam kamarnya untuk menelepon nomer ponsel pribadinya Jarvish, namun terus saja tersambung dengan operator. Laura melemparkan ponselnya ke kasur sambil berteriak, "Ke mana Jarvish! Kenapa ponselnya dinonaktifkan?! Sial! Dia bahkan meninggalkan aku begitu saja di rumah Mamanya! Dasar Jarvish brengsek!!!!!!"
"Kamu senang, ya, Papa akan tidur di sini" Jarvish tersenyum ke putra tunggalnya dengan penuh cinta.
"Tentu saja senang. Dave senang sekali, Pa!" Dave masih melompat-lompat dengan wajah riang gembira.
"Nggak boleh!" Luna sontak berteriak.
Dave berhenti melompat-lompat dan menoleh ke mamanya.
Jarvish bertanya ke Luna, "Kenapa nggak boleh?"
"Aku wanita dan kamu pria. Kita tidak.eh, maksudku kamu tidak boleh tidur di sini"
"Kita sudah punya Dave. Kenapa kamu masih canggung aku ada di sini dan akan tidur di sini malam ini. Lagian kemarin pas Dave demam aku juga tidur di sini dan kamu nggak keberatan"
Luna langsung menghela napas panjang dan segera berkata, "Kemarin kamu ketiduran dan......"
"Kamu nggak bangunkan aku" Jarvish menatap Luna masih dengan tatapan tak bersalahnya.
"Kau......." Luna seketika kehabisan kata-kata.
"Ma, kasihan Papa kalau harus pulang sendirian. Ini sudah sangat malam dan hujan deras" Dave menangkup pipi Mamanya dengan kedua tangan mungilnya.
Luna menatap putranya dengan gamang..
Dave kembali berkata, "Dave sudah lama memimpikan ini, Ma"
"Memimpikan apa, Sayang?" Luna mengusap lembut pipi putra tunggal kesayangannya.
"Tinggal serumah dengan Papa dan Mama" Sahut Dave sambil mengerjap-ngerjapkan kedua kelopak matanya.
Jarvish dan Luna refleks saling menatap saat mereka mendengar impiannya Dave itu.
Karena merasa tidak tega melihat wajah memelas putra tunggal kesayangannya, akhirnya Luna berkata sambil mengarahkan pandangannya ke Jarvish, "Baiklah" Luna kemudian menghela nafas panjang sebelum ia berkata kembali, "Aku dan Dave akan tidur di kamarnya Dave dan kamu bisa tidur di kamarku"
Jarvish masih menatap dalam wajah manisnya Luna, lalu ia berkata, "Aku tidur di mana saja bisa. Tapi, Dave harus tidur denganku. Ini masih hak aku memiliki Dave sepenuhnya" Jarvish berkata seperti itu sebenarnya bukan hanya karena dia masih ingin tidur dengan Dave, tapi juga karena ia takut tidur sendirian di kala petir masih menggelegar kencang di luar sana.
Saat ini CEO dingin dan anti untuk jatuh cinta itu, memasukkan kedua tangannya di dalam saku celana untuk menyembunyikan tangannya yang spontan mengepal untuk menahan rasa takut setiap kali petir terdengar menggelegar. Daripada dia berlari memeluk Luna kembali, bisa kena tamparan dan senyum ejekan dari Luna. Gengsi dong kalau wanita di depanku ini sampai tahu aku takut sama petir, batin Jarvish saat ini.
"Dave mau tidur sama Papa, Ma"
"Baiklah. Boleh saja. Asal Dave bahagia. Ayo buruan bersihkan diri kamu dan tidur! Besok sekolah, kan?" Luna mengusap gemas puncak kepalanya Dave.
"Kenapa libur?"
"Persiapan untuk lomba dalam rangka hari Ibu yang diselenggarkan besok lusa. Mama harus ikut menemani Dave"
"Benarkah? Terus kita ikut lomba apa,.Sayang?"
"Papa tandai semuanya"
"Papa?"
"Iya. Lombanya untuk keluarga, Ma. Dave senang sekali tahun ini bisa ikut lomba sama Papa"
"Dan yang ditandai oleh Papa kamu, lomba apa saja Sayang?"
"Lomba lari estafet berpasangan. Mama dan Papa diikat kakinya terus berlari ke Dave dengan membawa tongkat, lalu setelah Dave dapatkan tongkatnya, Dave harus berlari kencang menuju ke garis Finish"
.
Luna sontak menoleh tajam ke Jarvish
Jarvish langsung berucap santai, "Aku lihat badan kamu kurus, pasti bisa berlari kencang"
"Tapi, kaki kita nanti diikat"
"Ah! Gampang itu" Sahut Jarvish dengan santainya.
Saat Luna ingin menyemprotkan kekesalannya ke Jarvish, Dave menarik ujung kaosnya dan dengan penuh semangat Dave kembali berkata, "Ma! Masih ada lagi lomba lainnya"
"Apa itu?" Luna langsung menatap Dave dengan senyum manisnya.
"Lomba makan kerupuk, memasukkan pensil ke dalam botol, dan lomba memasak. Semua ditandai sama Papa. Papa bahkan kasih uang banyak sekali ke ibu gurunya Dave, Ma. Kata Papa uangnya untuk beli hadiah pemenang lomba nanti. Kita harus menang, ya, Ma, ya, Pa?!" Dave menoleh ke Papanya dan Jarvish langsung berkata, "Tentu saja kita pasti pemenangnya. Mama kamu pinter memasak dan pinter berlari apalagi memasukkan pensil ke dalam botol. Jago banget dia. Masalah makan kerupuk, serahkan ke Papa. Apa jago makan kerupuk"
Luna langsung melotot ke Jarvish dan berkata, "Kenapa kamu bisa berkata seperti itu? Aku saja merasa kalau aku tidak bisa melakukan semua itu. Aku dan Dave.di tahun kemarin, pas Dave masih ada di kelas Playgroup, cuma ikut lomba memasak dan itu pun hanya dapat juara tiga. Kenapa kamu malah menandai semua lomba itu?"
"Aku jadi donatur terbesar. Tentu saja aku harus ikuti semua perlombaannya" Sahut Jarvish dengan wajah datar tak bersalah.
Luna hanya bisa menghela napas panjang,.lalu bangkit berdiri dan menggendong Dave masuk ke kamarnya Dave.
Jarvish masih duduk di sofa dengan sikap santai.
Luna keluar dari dalam kamarnya Dave dan langsung berkata, "Dave sudah menunggu Papanya. Masuklah!"
"Duduklah dulu di sini!" Jarvish menepuk sofa di sebelahnya.
"Nggak mau. Kenapa aku harus duduk di sebelah kamu?"
"Duduk di sini dengan suka rela atau aku akan memaksa kamu" Jarvish menatap tajam wajah manisnya Luna.
Luna akhirnya melangkah pelan mendekati Jarvish dan duduk di sebelahnya Jarvish.
Saat Luna duduk di sofa Jarvish langsung merosot turun dari sofa dan berjongkok di depan Luna dan setelah berkata, "Maaf" Ia mengelus lutut Luna di sekitar luka lecet yang diderita oleh Luna.
Luna terkejut dan refleks menarik kakinya sambil berkata, "Apa yang ingin kamu lakukan?!"
Jarvish berkata, "Sssttt! Diam!" Lalu, Jarvish menempelkan plester luka di lututnya Luna. Kemudian pria tampan itu bangkit berdiri dan meninggalkan Luna begitu saja.
Pandangannya Luna mengikuti arah perginya Jarvish dengan mulut ternganga.