Memories Of Love

Memories Of Love
Keputusan Pengadilan



Pengacara dari pihak Jarvish Benjamin membuka pernyataan, "Klien saya Tuan Jarvish Benjamin menuntut hak asuh penuh dari anak seorang wanita yang bernama Luna Aditya yakni tergugat. Karena klien saya menemukan bahwa Luna Aditya tidak pantas mengasuh seorang anak. Karena Luna Aditya adalah wanita penggoda dan menjadi simpanan Om-Om. Buktinya adalah hanya di dalam hitungan hari, Luna Aditya bisa berpindah tempat tinggal dari rumah sewa yang kecil ke sebuah apartemen yang mewah dan wanita itu memiliki anak dari Tuan Jarvish Benjamin karena dia, menggoda dan menjebak klien saya. Tergugat tidak memiliki moralitas yang baik dan tidak layak mengasuh dan membesarkan seorang anak"


Pengacara dari pihak Luna Aditya menanggapi, "Satu hal yang perlu digarisbawahi di sini, klien saya Luna Aditya bukan wanita penggoda. Luna Aditya adalah wanita mandiri, baik, dan pekerja keras. Moralitasnya tidak perlu diragukan lagi. Ini bukti-bukti yang memperkuat kalau moralitas klien saya adalah baik adanya" Felix Setiawan maju ke meja hakim dan menyerahkan sebuah map dan sebuah kotak. Lalu, Felix Setiawan menayangkan bukti-bukti yang dia miliki di layar LCD.


Di layar tersebut nampak perjanjian sewa apartemen dengan Joshua Benjamin. Luna Aditya menyewa apartemen mewah tersebut dan ada surat pernyataan dari perusahaannya Joshua Benjamin kalau Luna Aditya bekerja sebagai sekretarisnya Joshua Benjamin. Lalu, Felix Setiawan menceritakan apa yang ada di dalam kotak.Di saat Felix Setiawan sedang menceritakan tentang papanya Luna Aditya yang inginkan Luna Aditya menggugurkan kehamilannya, tiba-tiba ada suara menggema, "Saya adalah Hanung Aditya Papanya Luna. Saya bersedia bersaksi Yang Mulia"


Luna sontak bangkit berdiri dan menoleh ke asa suara dengan ekspresi kaget dan titik-titik air.mata mulai membasahi pipinya. Wanita itu menangis karena dia, sangat merindukan Papanya. Sudah lima tahun lebih dia tidak pernah melihat papanya.


Papanya Luna mengabaikan Luna dan langsung duduk di meja saksi untuk disumpah sebelum memberikan kesaksiannya.


"Luna Aditya anak yang baik. Bukan karena dia adalah Putri saya. Tapi, dia benar-benar anak yang baik. Putri saya diperkosa oleh seorang pria dan hamil. Saat saya memberikan dia pilihan antara menggugurkan kandungan atau pergi dari rumah saya, putri saya memilih mempertahankan kandungannya dan pergi dari rumah saya. Luna Aditya sangat menyayangi anaknya sejak anak itu masih berada di dalam kandungannya padahal anak itu adalah hasil dari perkosaan"


Dan berkat dari semua bukti yang diserahkan oleh Felix Setiawan dan pernyataan dari Hanung Aditya, Majelis Hakim memberikan pernyataan, "Sebelum saya memutuskan hak asuh atas Dave Aditya jatuh ke tangan siapa? Saya akan memberikan evaluasi selama tiga bulan ke depan. Selama tiga bulan ke depan, Luna Aditya dan Jarvish Benjamin mendapatkan giliran mengasuh, merawat dan tinggal bersama Dave setiap satu Minggu sekali. Dan Minggu ini, hak merawat, mengasuh, dan tinggal bersama Dave jatuh ke Jarvish Benjamin dan Minggu depan Jarvish Bejamin harus mengantarkan Dave Aditya kembali ke Luna Aditya. Begitu seterusnya sampai tiga bulan terpenuhi dan saya akan memberikan keputusan berdasarkan evaluasi saya nanti"


Dok, dok,dok! Majelis hakim mengetukkan palu saktinya di atas meja lalu hakim tersebut meninggalkan ruang sidang.


Hanung Aditya langsung menghilang karena dia masih merasa malu bertemu dengan Luna dan pria malang itu tidak kuat melihat penderitaan putrinya.


Luna yang langsung berlari keluar untuk mengejar papanya, harus jatuh bersimpuh di atas lantai dan menangis tergugu di sana sambil terus menggumamkan kata, "Papa, Luna sangat merindukan Papa dan Luna sudah memaafkan Papa sejak dulu. Sejak Luna melangkah pergi dari rumah Papa, Luna sudah memaafkan Papa dan Luna tidak pernah membenci Papa"


Jarvish berdiri mematung tidak jauh dari tempat Luna jatuh bersimpuh dan menangis tergugu.


Joshua menyalami Felix dan berkata, "Terima kasih banyak atas bantuannya. Paling nggak, Luna masih bisa bernapas lega dan masih bisa berusaha untuk mendapatkan hak asuh itu"


"Sama-sama, Jo!" Sahut Felix dengan senyum lebar.


"Aku akan transfer uang kamu dan ......."


"Nggak usah bayar" Felix langsung menahan tangan Joshua.


"Lho, mana boleh begitu"


"Pak Hanung Aditya pernah menolong aku waktu aku hampir tenggelam di pantai Anyer. aku berhutang nyawa sama beliau. Bayar aku dengan cara lindungi dan perlakukan Luna dengan baik. Kalau kamu bikin dia menangis dan celaka, aku akan rebut dia dan langsung menikahinya" Sahut Felix.


"Kau memang gila dari dulu. Terima kasih banyak" Sahut Joshua.


Ketika ada suara teriakan, "Nyonya jangan pingsan!"


Joshua dan Felix sontak menoleh ke arah suara sambil berlari kencang menuju ke sana.


Joshua melintasi Jarvish yang masih diam mematung di tempat.


"Iya. Santai saja! Urus saja Luna dengan baik"


Felix Setiawan tersenyum ke Joshua.


Felix berbalik badan dan baru menyadari kalau ada Jarvish Benjamin. Pengacara muda yang tampan dan hebat itu, melangkah mendekati Jarvish dan berkata, "Aku sungguh tidak menyangka kalau rumor itu benar. Aku lihat dengan mata kepalaku sendiri kalau Jarvish Benjamin benar-benar berdarah dingin, sombong, dan kejam. Aku bahkan meragukan bahwa kau pria sejati saat ini Kau bahkan hanya diam berdiri mematung saat kau melihat ada wanita tak berdaya jatuh pingsan di depanmu. Dengar Jarvish! Aku tidak akan pernah membiarkan kamu menindas Luna Aditya. Aku akan terus menolong Luna"


"Aku sudah lupa kehebatan dia di ranjang. Tapi, kau pasti masih ingat benar kehebatan wanita itu di ranjang. Semalam dia memberi kamu berada ronde dan sepanas apa dia melayanimu, hah?! Sampai kau bertekuk lutut demi wanita itu"


Bug! Kepalan maut andalannya Felix Setiawan mendarat di wajah tampannya Jarvish dan darah segar keluar dari sudut bibir Jarvish.


Setelah mengusap darah segar di sudut bibirnya, Jarvish mendaratkan bogem mentah andalannya di wajah tampannya Felix Setiawan.Darah segar pun mengucur di sudut bibir Felix Setiawan.


Saat Felix hendak membalas, empat petugas kepolisian yang masih berada di ruang persidangan itu langsung memisahkan Jarvish dan Felix.


Joshua langsung membawa Luna ke rumah sakit dan wanita cantik itu harus menjalani rawat inap karena penyakit asam lambungnya Luna ternyata cukup parah dan perlu ditangani lebih serius.


Joshua terus duduk di tepi ranjang dan sambil terus menggenggam tangan kurusnya Luna, ia menatap wanita cantik itu dan bergumam, "Aku sungguh tidak menyangka kalau ternyata Papa kandungnya Dave adalah Jarvish Benjamin. Aku akan bikin perhitungan dengan pria brengsek itu setelah kamu keluar dari rumah sakit ini, Luna"


Jarvish langsung membawa surat dari pengadilan dan pergi ke apartemennya Luna.


Bram yang membukakan pintu dan asisten pribadinya Joshua Benjamin itu langung menautkan kedua alisnya dan bertanya dengan sikap waspada, "Tuan Jarvish? Kenapa Anda ada di sini? Anda mau apa?"


Jarvish menunjukkan surat dari pengadilan dan berkata, "Aku ke sini mau mengambil anakku"


"Tapi, tanggalnya masih besok, Tuan dan saat ini Nyonya Luna tidak ada di tempat. Anda tidak bisa mengambil Dave sekarang ini. Tolong Anda balik lagi ke sini besok dan ........"


Brak! Jarvish menendang pintu apartemen dengan kasar hingga membuat Bram terjengkang ke belakang dan langsung berteriak, "Dave! Papa di sini untuk menjemput kamu!"


Saat Dave melangkah keluar dari dalam kamar, Jarvish langsung melesat maju dan menyambar tubuh Dave untuk ia gendong sebelum Bram sempat menyambar Dave.


"Tahan Bram!"" Perintah Jarvish ke anak buahnya sembari berlari keluar dari dalam apartemennya Luna dan mendekap Dave erat di dalam pelukannya.


Bram berhasil melepaskan diri dari kepungan anak buahnya Jarvish, namun saat ia berhasil berlari ke parkiran mobil, Jarvish sudah menghilang bersama dengan mobil Lamborghini hitamnya.


Bram langsung mengumpat kesal karena anak buahnya kalah hebat dengan anak buahnya Brian. Lalu, Bram segera menelepon tuannya untuk memberitahukan, "Tuan, maafkan saya, saya gagal melindungi Dave. Tuan Jarvish berhasil membawa Dave"


"Apa?!" Joshua sontak bangkit berdiri dan melesat keluar dari ruang rawat inapnya Luna.