
Jarvish memesan alat bermain perosotan, mandi bola, trampolin mini yang aman untuk anak umur lima tahun ke atas, permainan keseimbangan yang terbuat dari kayu dan karet, lalu permainan pasir, dan alat bermain lainnya yang bisa dimainkan secara berkelompok seperti, karambol, catur, monopoli, ular tangga, permainan kartu kwartet, tidak lupa Jarvish juga membeli Play-Doh dan clay.
Dave kemudian menarik-narik ujung kaos papanya.
Jarvish menunduk untuk bertanya, "Kau mau apa? Ambil saja!"
"Dave pengen ambil pesawat terbang remote control itu, tapi Papa lihatlah! Mama berdiri menghalangi di sana dengan bersedekap dan lihatlah, Pa, wajah Mama menyeramkan"
Jarvish sontak tertawa terbahak-bahak dan langsung berkata ke manajer toko tersebut, "Ada stock di dalam, kan?"
"Ada, Tuan. Pesawat terbang remote control berwarna biru itu, kan, Dek?" Tanya Manajer toko tersebut ke Dave.
Dave tersenyum cerah dan menganggukkan kepalanya dengan penuh antusias.
"Ambilkan juga pesawat itu" Sahut Jarvish.
"Baik, Tuan"
"Horeeeee! Makasih, Pa. Papa jongkok, deh" Ucap Dave sambil mengayunkan tangan mungilnya.
Jarvish berjongkok dan Dave langsung mencium kedua pipi papanya, memeluk papanya sambil berkata, "Dave sayang sama Papa"
Jarvish langsung menggendong Dave dan menghujani wajah Dave dengan ciumannya sambil berkata, "Papa seribu kali lebih sayang sama Dave"
Luna langsung melangkah lebar menghampiri Jarvish dan Dave. Jarvish lalu menurunkan Dave dari gendongannya saat Dave berkata, "Apa Dave juga boleh mengambil boneka kecil berkepang dua itu untuk sahabatnya Dave?"
"Ambil saja!" Sahut Jarvish dengan senyum riang.
Luna menghentikan langkahnya di depan Jarvish dan langsung bersedekap, "Kenapa banyak banget pesannya? Kenapa semua yang Dave mau, kamu turuti? Nanti Dave bisa......."
"Anak-anak itu perlu bermain nggak harus belajar terus. Kamu juga perlu rileks sejenak nggak harus bekerja terus. Jadi, aku beli permainan yang juga bisa dibuat bermain secara kelompok. Kita bisa bermain catur, kartu kwartet, monopoli, ular tangga bersama Dave sambil mengajak Dave belajar. Cerdas, kan, aku"Jarvish menoel pucuk hidungnya Luna sambil tersenyum lebar.
Ih! Kenapa sekarang menoel juga? Luna terkejut dan sontak melangkah mundur.
Jarvish memperlebar senyumannya melihat tingkah Luna, lalu ia berkata ke manajer toko permainan yang supe besar dan super lengkap itu, "Antarkan berok pagi ke alamat yang aku kasih tadi!"
"Baik, Tuan Jarvish" Sahut manajer toko permainan itu.
"Udah, yuk, kita ke rumah sakit" Ucap Jarvish sambil merangkul bahu Luna dan saat Luna ingin menarik diri dari rangkulannya Jarvish, pria tampan itu mempererat rangkulannya dan berbisik sambil berjalan, "Kalau nggak mau aku rangkul maka aku akan mencium bibir kamu di depan semua orang"
Luna menarik napas dan akhirnya membiarkan bahunya dirangkul oleh Jarvish sampai mereka masuk ke dalam mobil.
Akhirnya mereka berempat sampai di depan pintu VVIP ruang rawat inapnya calon mertuanya Jarvish.
Luna menurunkan diri membuka pintu kamar itu Luna menoleh kaget ke Jarvish, "Kenapa kamar Papa dipindah ke sini?"
"Biar kamu dan Dave bisa lebih nyaman mengobrol dan bercanda dengan Papa kamu. Kemarin,kan, di kelas satu ada pasien lain di sebelah bed Papa kamu, kalau ngobrol dan bercanda, kan, kurang nyaman, lagian ruangannya juga sempit" Sahut Jarvish dengan santainya.
Luna sontak menepis jari telunjuk itu dan mendelik ke Jarvish dengan wajah sangat kesal.
"Semua aku yang bayar. Aku cuma nggak ingin Dave ketularan penyakit lain kalau dia menjenguk Opanya di kamar kelas satu. Pasien yang berada satu kamar dengan Papa kamu kemarin sakit demam berdarah, kan. Bahaya itu"
Luna hanya bisa menarik napas dalam-dalam lalu membuka pintu dan mengajak Dave masuk ke dalam.
"Kenapa Papa dipindahkan ke sini?" Tanya Papanya Luna begitu ia melihat wajah putrinya muncul di depannya.
"Ini fasilitas perusahaan, Pa. Bosnya Luna sekarang yang memindahkan Papa ke sini"
"Oooooo. Ini Dave?" Papanya Kuna menatap anak kecil tampan yang digandeng Luna dengan mata berkaca-kaca.
"Iya, ini Dave, Opa. Kasih salam sama Opa" Sahut Luna.
Dave melangkah maju, meraih tangan Opanya, dan mencium punggung tangan pria berumur lima puluhan tahun itu.
Papanya Luna langsung meminta Luna menaikkan Dave ke atas ranjang dan papanya Luna langsung memeluk Dave dan berkata di sela isak tangisnya, "Terima kasih kamu tumbuh sangat sehat, Nak. Terima kasih kamu tumbuh setampan dan sebaik ini"
Luna ikutan menangis dan memeluk kedua pria kesayangannya itu dengan erat penuh dengan rasa syukur.
Jarvish dan Surya menunggu di luar. Mereka duduk di sofa yang ada di depan sebuah taman yang sangat bagus, luas, dan asri. Ada kandang besar berwarna putih berisi burung beo. Jarvish memilih kamar tersebut karena dia ingin Dave dan Luna melihat burung beo tersebut karena setahu dia, Dave dan Luna menyukai burung sejak Dave dan Luna pernah menyelamatkan anak burung yang terjatuh dari sarangnya.
Anda sudah benar-benar jatuh cinta saat ini Tuan. Anda rela melakukan banyak hal untuk Nyonya dan Tuan muda. Anda rela merogoh kocek sangat dalam untuk memindahkan papanya Nyonya muda ke kamar rawat inap ini. Syukurlah akhirnya hati Anda kembali dihidupkan dengan cinta. Batin Surya.
"Kenapa Anda tidak ikut masuk, Tuan?"
"Sssttt!" Jarvish menoleh ke Surya dan mengayunkan tangannya agar Surya mendekat lalu ia berbisik, "Aku tidak menyukai Papanya Luna"
"Hah?! Kenapa tidak suka?" Bisik Surya dengan ekspresi kaget.
"Dia ingin Luna menggugurkan kandungannya dan mengusir Luna dari rumahnya. Aku tidak suka itu. Dan satu lagi, bisa-bisanya dia bilang kalau Dave mirip sama dia, cih! Percaya diri benar dia, orang Dave itu mirip aku. Iya, kan, Dave mirip sama aku" Ucap Jarvish masih dengan suara setengah berbisik.
"Iya. Tuan muda sangat mirip dengan Tuan. Tapi, Tuan, kalau Anda ingin mendekati Nyonya muda Anda juga harus mengambil hati Papanya Nyonya muda" Sahut Surya.
Jarvish lalu menegakkan kepalanya dan berkata, "Begitu, ya?"
"Iya. Harus begitu, Tuan. Suka nggak suka, kita harus mengenal dekat keluarga dari orang yang kita cintai. Seperti saya, saya juga nggak begitu cocok dengan Mamanya pacar saya yang ceriwis dan ........"
"Aku nggak tertarik dengan cerita cinta kamu, Sur" Potong Jarvish dengan cepat.
"Maaf, Tuan. Tapi, memang harus seperti itu. Kalau mendekati anaknya kita harus mendekati induknya dulu, kan?"
"Entahlah. Mungkin nanti. Tapi, saat ini aku masih malas berbasa-basi dengan pria tua sok pede itu" Sahut Jarvish sambil bersedekap.
Hah?! Ternyata sifat pendendam Anda masih belum hilang, Tuan. Wah! Perkara sulit ini. Batin Surya.