
"Sudah jam sepuluh, saya ijin menjemput anak saya sekolah dulu, ya. Tuan Jarvish sudah memberikan ijin" Luna memperlihatkan pesan text dari Jarvish ke chef Steven.
"Anak? Nona sudah punya anak? Eh, salah, emm, maksud saya, Nona, sudah menikah, eh, salah lagi, kalau sudah menikah pasti punya anak, ya, emm, maksud saya......." Steven langsung menggantung kalimatnya karena pusing sendiri dan sambil garuk-garuk kepala dia meringis di depan Luna.
Luna terkekeh geli melihat tingkah Steven dan sebelum ia melangkah pergi, wanita berwajah manis dan lembut itu berkata, "Iya, saya sudah menikah dan sudah punya anak" Lalu, Luna menganggukkan kepala sambil tersenyum dan bergegas pergi meninggalkan Steven untuk menjemput Dave.
Sepeninggalnya Luna, chef Steven langsung bergumam dengan masih garuk-garuk kepala, "Nona Luna Aditya masih sangat muda. Nggak nyangka ternyata dia sudah menikah dan punya anak. Lalu, anaknya udah sekolah berarti anaknya udah gede, tapi kenapa bodinya Nona Luna masih ramping dan indah kayak anak abege? Ah, tau, ah, gelap!"
Jam sebelas tepat, Luna dan Pak Temon sampai di depan sekolahannya Dave dan seperti biasa, mobil Pak Temon diikuti tiga dua buah mobil Van yang berisi pengawalnya Jarvish Benjamin.
Laura dan anak buahnya kembali mengumpat kesal saat mereka melihat Dave berlari masuk ke dalam pelukannya Luna. "Mamanya selalu menjemput tepat waktu dan dikawal sebanyak itu. Gimana caranya kita culik anak itu, Bos"
"Diam! Aku sedang memikirkan cara lain" Bentak Laura dengan wajah kesal.
"Kita mampir beli kue dulu,ya, Pak Temon. Baru kita pergi ke restoran untuk beli mie dan beberapa makanan lain. Lalu, kita pulang Kita makan sama-sama di rumah bareng sama Bi Nina juga. Hari ini Dave ulang tahun" Sahut Luna.
"Wah! Selamat ulang tahun Tuan muda, semoga sehat selalu dan panjang umur" Sahut Pak Temon.
"Amin" Sahut Luna dan Dave secara bersamaan.
"Terima kasih Pak Temon" Ucap Dave kemudian.
"Sama-sama Tuan muda" Sahut Pak Temon.
"Dave pikir Mama nggak ucapin selamat ulang tahun ke Dave lagi tadi karena Mama berniat merayakan ulang tahun Dave bareng sama ulang tahunnya Papa"
Luna mencium pipi Dave dan berkata, "Maafkan Mama. Mama lupa karena bangun kesiangan tadi. Maaf, ya" Luna mencium pipi Dave lagi dan lagi sampai Dave tergelak geli. Lalu, Luna menghentikan ciumannya dan bertanya, "Papa kamu juga ulang tahun bulan ini? Kapan?"
"Lusa" Sahut Dave dan Pak Temon secara bersamaan.
"Tapi, Tuan tidak pernah merayakan ulang tahunnya. Tuan hanya memberikan libur sehari dan bonus ke Pak Temon dan Bi Nina setiap kali beliau ulang tahun.Tuan lebih suka menyendiri pas beliau ulang tahun" Pak Temon berucap dengan nada sedih.
Baik juga dia ternyata dan kasihan juga kalau setiap tahun malah sendirian di rumah. Batin Luna.
"Lalu, Mama dan Papanya Tuan Jarvish juga kakak tirinya, tidak datang mengucapkan selamat ulang tahun?"
"Mereka datang, tetapi Tuan tidak pernah mau menemui mereka" Sahut Pak Temon.
Dasar kepala batu. Aneh. Ada orang datang mau ngucapin selamat, kok, nggak diterima Batin Luna.
"Ma, makan-makannya diundur lusa aja. Biar kita bisa ngerayain sekalian ulang tahunnya Papa" Sahut Dave.
"Kita rayakan dulu ulang tahun kamu hari ini secara sederhana. Lalu, lusa kita rayakan lagi bareng sama Papa kamu" Luna mengelus kepala Dave dengan senyum manisnya.
"Baiklah. Dave pengen bikin kue sendiri untuk Papa. Mama nanti ajari Dave, ya"
"Iya" Sahut Luna dengan senyum ceria.
Tuan beruntung memiliki anak yang cerdas seperti Tuan muda dan Istri sebaik Nyonya muda. Anda sudah menemukan kebahagiaannya an Anda dan semoga Anda bahagia selalu, Tuan Jarvish Benjamin. Amin. Batin Pak Temon.
"Dave boleh video call Papa nanti pas mau tiup lilin?" Tanya Dave.
"Boleh. Tentu saja boleh. Semoga Papa kamu pas tidak sibuk" Sahut Luna.
Dave langsung berteriak, "Hore!" Dengan wajah riang gembira.
Luna dan Pak Temon ikutan tertawa riang melihat keceriaan di wajah Dave.
Satu jam kemudian, tepat di jam istirahat makan siang, Luna menghubungi Jarvish kembali, tapi kali ini via video call.
Jarvish langung memekik ke Surya, "Sur! Luna video call"
"Iya, diangkat, dong Tuan. Kenapa malah teriak ke saya?" Surya langsung mengerutkan keningnya.
"Sisir Sur! Kamu bawa sisir?"
"Buat apa?"
"Buat bikin dodol" Sahut Jarvish.
"Hah?!" Surya langsung bangkit berdiri saking kagetnya.
"Kamu mau mati, ya" Jarvish mulai menggeram kesal dan Surya langsung mengeluarkan sisir kecil dari saku belakang celana kainnya.
Jarvish menyisir rambutnya dengan cepat dan bertanya ke Surya, "Bagaimana penampilanku?"
"Masih lengkap, hidung, mata, dan mulut masih pada tempatnya, Tuan"
"Kau mau mati, ya" Jarvish kembali menggeram kesal.
"Halo" Jarvish langsung mengangkat panggilan video callnya Luna di nada dering yang kelima.
Nah, gitu, dong, angkat telponnya jangan malah sisiran. Batin Surya dengan kesal.
Jarvish agak kecewa karena yang muncul di depan layar ponselnya adalah wajahnya Dave. Namun, pria tampan itu langsung tersenyum semringah, "Hai, Dave! Kangen, ya, sama Papa"
"Dave mau tiup lilin dan Dave pengen Papa melihatnya"
"Ya ampun! Kamu ulang tahun hari ini, ya. Maaf Papa lupa. Papa akan bawakan hadiah nanti pas Papa pulang, ya. Kamu pengen apa?"
"Terserah Papa saja" Sahut Dave.
"Oke. Papa akan bawakan yang spesial untuk anak Papa yang sangat cerdas dan tampan ini"
"Pa, temani Dave tiup lilin, tapi sebelumnya doakan Dave dulu, ya, Pa
"Oke" Sebelum Dave tiup lilin, Jarvish langsung mengucapkan doa, "Tuhan, berkati Dave dengan umur panjang di tangan kiri dan kekayaan di tangan kanan, amin" Lalu, Dave meniup lilinnya dan mengucapkan terima kasih ke papanya dengan senyum ceria.
Luna kemudian berkata ke Dave, "Maaf, Mama bicara dengan Papa sebentar, ya, Dave makan dulu sama Pak Temon dan Bi Nina"
"Iya, Ma" Sahut Dave.
"Ada apa? Kenapa kau semangat banget pengen bicara denganku. Kangen, ya, sama aku?" Dave tersenyum semringah ke Luna.
"Aku cuma mau nanya, kok, kamu doanya gitu? Kenapa nggak doakan Dave tambah pinter, sehat selalu, sukses dalam meraih cita-citanya dan ........."
"Kalau sehat selalu, sukses dalam meraih cita-citanya dan pinter dapetnya apa kekayaan, kan? Kenapa nggak langsung minta kekayaan aja. Aku pebisnis Luna, aku nggak suka bertele-tele, aku suka to the point" Sahut Jarvish dengan cepat.
Luna hanya bisa menarik napas panjang saat ia merasa ucapan Jarvish ada benarnya juga.
"Aku akan bawakan Dave kado spesial pas aku pulang nanti. Kamu pengen apa? Biar sekalian aku belikan"
"Aku nggak pengen apa-apa. Udah, ya, Dave mencariku" Klik! Luna mematikan begitu saja panggilan video callnya dan Jarvish langsung bengong menatap layar ponselnya yang menggelap.
Percuma sisiran,kan? Ujung-ujungnya bengong. Batin Surya.
"Kenapa dia mematikan teleponnya begitu saja? Batalkan semua janji hari ini. Aku malas kerja hari ini" Jarvish berkata sambil membanting ponsel mahalnya di atas meja.
"Lho, kok, dibatalkan? Pak Hartawan sudah otewe ke sini, Tuan"
"Bodo amat! Aku mau naik ke kamar"
"Eits, tunggu dulu!" Surya langsung menahan lengan Jarvish dan langsung berkata, "Nyonya muda,kan, pemalu, Tuan. Dia tidak seperti wanita lain yang pernah berkencan dengan Anda. Jadi, Nyonya muda mematikan telepon karena malu ada Dave, Pak Temon, dan Bi Nina. Nanti malam pas.mau tidur, Nyonya muda pasti nelpon Anda lagi"
"Begitu,ya?" Jarvish kembali duduk.
"Iya. Tentu saja" Sahut Surya dengan meringis karena dia juga nggak yakin dengan ucapannya.
"Awas kalau Luna nggak nelpon aku nanti malam. Aku akan memotong separuh gaji kamu, Sur"
Glek! Surya langsung berkata, "Maaf, Tuan saya ke toilet sebentar"
"Hmm" Sahut Jarvish.
Surya langsung menelepon Luna begitu ia masuk ke dalam toilet, "Halo, Nyonya muda tolong selamatkan hidup saya"
"Lho, Anda kenapa Pak Surya?"
"Tolong nanti malam Anda telepon Tuan Jarvish, ya, Nyonya muda, tolong?! Kalau tidak, hidup saya dalam bahaya"
"Ah! Baiklah. Jam berapa saya harus telpon Tuan kamu?"
"Di atas jam delapan"
"Baiklah, Pak Surya"
"Fiuuhhhh! Terima kasih banyak Nyonya muda"
"Sama-sama Pak Surya"
Surya kemudian keluar dari dalam toilet dengan senyum lega.
"Sudah lega, kamu? Senyum kamu sampai selebar itu?" Tanya Jarvish saat Surya kembali duduk di depannya.
Surya terus tersenyum lebar sambil berkata, "Iya, Tuan. Saya sangat lega, hehehehehe"