
"Sebelumnya aku mau mengingatkan kamu, Mas Joshua tidak mencium pipiku tadi dan kau mendorongnya tanpa sebab"
"Nggak usah dibahas lagi soal itu. Buruan obati luka di sudut bibirku, ini!"
"Lha mana kotak obatnya?" Luna menatap Jarvish dengan sangat kesal.
Jarvish membuka laci meja kerjanya lalu mengambil sebuah kotak berwarna putih dan meletakkannya di atas meja sambil berkata, "Ini kotak obatnya. Di dalamnya lengkap dan semua obat yang ada di sini" Jarvish menepuk-nepuk bagian atas kotak putih tersebut, kemudian berkata lagi, "Obat yang spesial. Karena aku tidak bisa tahan dengan sembarangan obat. Kulitku sensitif, bibirku sensitif, hatiku pun sensitif"
Luna berjalan mendekati Jarvish sambil sedikit mencebikkan bibirnya.
"Kau mengejekku barusan?"
"Hah?!" Luna tersentak kaget dan refleks ia tersenyum sambil berkata, "Tidak. Aku, senyum, kok, nih"
Luna membersihkan dengan pelan darah yang sudah mengering di sudut bibir Jarvish. Lalu, ketika wanita berwajah manis itu mengoleskan salep lupa khusus untuk bibir, ia bertanya, "Perih nggak?" Luna menghentikan sejenak aktivitasnya mengoleskan salep itu di bibir Jarvish.
Jarvish menggenggam pergelangan tangan Luna dan menariknya sambil berkata, Kenapa berhenti? Teruskan saja! Semua luka di tubuh dan kulit aku bisa menahannya. Kalau luka di hati aku tidak bisa menahannya" Sahut Jarvish.
Luna menarik pergelangan tangannya dari genggaman tangan Jarvish dan kembali mencebikkan bibirnya.
"Hei aku lihat itu!"
"Apa?" Luna bertanya dengan ekspresi kaget.
"Kau mencebikkan bibir. Kau mengejekku, ya?"
"Tidak. Aku tersenyum, nih, lihat!" Luna kembali mengulas senyum manisnya dengan terpaksa.
Jarvish langsung diam membisu, tetapi arah pandangnya terus mengamati wajah Luna.
Sial! Kenapa dia manis banget kalau dilihat dari jarak dekat seperti ini dan wangi sekali rambut panjang indahnya. Arrgghhhh! Aku sangat ingin menyentuh rambutnya. Batin Jarvish. Keinginan untuk menyentuh rambut indah panjang nan wanginya Luna begitu kuat hingga pria gagah dan tampan itu mencengkeram kedua pahanya dengan sangat kuat. Dan setiap kali rambut Luna mengenai wajahnya, Jarvish sontak mengumpat kesal di dalam hatinya.
Luna akhirnya menarik wajahnya sambil berkata, "Sudah selesai. Katanya kuat menahan sakit fisik, kok, mencengkeram paha sekuat itu"
"Kau! Sial!" Jarvish langsung bangkit berdiri dan berlari meninggalkan Luna begitu saja karena dirinya sudah benar-benar tidak bisa menahan diri lagi untuk tidak menyentuh Luna.
Luna tersentak kaget dan sambil berputar mengikuti arah geraknya Jarvish, Luna bergumam, "Dasar pria nggak tahu sopan santun. Habis diobati bilang terima kasih, kek, kok, malah langsung ngeloyor pergi. Huuffttt! Sepertinya aku bakalan banyak belajar untuk bersabar selama bekerja dengan pria aneh itu"
Jarvish masuk ke ruang kerjanya Surya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu dan Surya yang tengah menatap berkas tersentak kaget, "Tuan, kenapa ke sini?!"
"Menghirup udara segar"
"Menghirup udara segar kenapa ke sini?"
"Karena kamu tidak punya rambut panjang yang sangat indah dan wangi" Ucap Jarvish sambil menghenyakkan tubuhnya di sofa.
"Hah?! Apa maksud, Tuan?"
"Diam! Jangan berisik! Aku butuh ketenangan saat ini" Jarvish berteriak kesal sambil menyandarkan kepala ke sandaran sofa lalu menutup wajahnya dengan telapak tangan.
Seketika Surya mengunci bibirnya dan kembali menatap berkas.
Lima belas menit kemudian, Surya berucap, "Tuan, saya tinggal menjemput Tuan muda dulu, ya?"
"Aku ikut" Sahut Jarvish dengan penuh antusias.
"Baiklah" Sahut Surya.
Sementara itu, Luna duduk di meja kerjanya dan bengong. Dia tidak tahu apa yang harus ia kerjakan karena Jarvish belum memberikan berkas apapun ke dia dan Jarvish juga belum membawanya ke departemen Food and Beverage.
"Aku telpon Mas Jo dulu aja. Bagaimana keadaan perutnya".
Joshua yang tengah memimpin rapat langsung mengangkat tangannya ke udara, "Maaf aku terima telpon dulu"
"Halo, Mas?"
"Ada apa, Sayang?"
"Perut Mas bagaimana? Tadi terkena tendangannya Jarvish, kan?"
"Tidak apa-apa, kok. Aku latihan taekwondo selama ini. Kena tendangan sekecil itu tidak terasa bagiku" Sahut Joshua dengan senyum semringah karena Luna mengkhawatirkannya.
"Syukurlah, Mas. Kalau gitu aku tutup dulu teleponnya. Selamat bekerja, Mas"
"Selamat kerja juga, Sayang. Aku mencintaimu"
"Hmm" Sahut Luna singkat kemudian wanita berwajah manis dan lembut itu menutup telepon genggamnya.
Kemudian Luna mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan dan bergumam, "Aku keluar saja bertanya ke karyawan sini di mana departemen Food and Beverage daripada di sini cuma duduk dan bengong saja. Aku tidak terbiasa hanya duduk kayak gini" Luna kemudian bangkit berdiri dan keluar dari ruang kerjanya Jarvish untuk mencari departemen Food and Beverage.
Jarvish langsung berjongkok saat ia melihat putranya berlari ke arahnya. Pria tampan itu tersenyum semringah dan memeluk putranya sambil berkata, "Dave, kalau kamu masuk ke ruang kerja Papa hari ini, kamu akan senang sekali"
"Ada Mama"
"Benarkah?" Dave menatap Papanya dengan sorot mata bersinar terang dan wajah penuh senyum bahagia.
"Kamu senang?"
"Senang sekali. Ayo kita cepat menemui Mama, Pa"
Jarvish langsung menggendong putra tunggal kesayangannya dengan tawa bahagia.
Kok, aku lihat yang lebih tampak bahagia, Tuan, ya? Apa Tuan sudah jatuh cinta sama Nyonya muda? Batin Surya.
Beberapa jam kemudian Jarvish dan Dave masuk ke ruang kerjanya Jarvish.
Dave menoleh ke papanya, "Mana Mama, Pa?"
"Lho, iya di mana Mama kamu?"
"Aku di sini"
Jarvish dan Dave sontak menoleh ke belakang secara bersamaan dan Dave langsung berlari melompat ke mamanya. Luna memekik kaget dan langsung memeluk Dave daam gendongannya sambil bertanya, "Anak Mama cakep banget hari ini. Kangen, ya, sama Mama"
"Hmm" Sahut Dave sambil mencium pipi mamanya.
Jarvish sontak kesulitan menelan air liurnya. Dia juga ingin bisa bebas seperti Dave, memeluk dan mencium pipi Luna. Namun, sayangnya dia tidak memiliki hak untuk melakukan semua itu.
Tiba-tiba terdengar pekikan cempreng, "Kenapa dia yang ada di sini?! Kenapa bukan Laura yang ada di sini?!"
Luna yang masih menggendong Dave menoleh kaget ke belakang dan Jarvish langsung berkata, "Bawa Dave masuk ke kamar!"
"Di mana letak kamarnya?" Luna menoleh ke Jarvish dengan wajah kebingungan.
"Itu" Dave mengarahkan jari telunjuknya ke sebuah luntur besar.
Luna langsung mengangguk ke mamanya Jarvish, lalu berlari kecil membawa Dave ke kamar.
"Jarvish! Kenapa wanita murahan itu ada di sini, hah?! Di mana Laura sekarang ini?!"
"Ma! Jaga bicara Mama! Ada Dave. Dan Luna bukan wanita murahan, Ma"
"Bodo amat!"
Jarvish langsung mencekal lengan atas mamanya dan menarik mamanya keluar dari ruang kerjanya. Pria tampan itu menutup rapat pintu ruang kerjanya dan mendelik ke mamanya sambil berkata, "Kalau Mama tidak bisa jaga sikap dan menahan perasaannya Dave. Maka mulai besok aku akan larang Mama masuk ke ruang kerjaku dan tidak aku ijinkan bertemu dengan Dave"
"Kau berani lakukan itu, hah?!" Mamanya Jarvish mendelik ke Jarvish sambil menarik lengan atasnya.
"Hmm" Jarvish menyahut singkat dan memberikan tatapan mematikan ke mamanya.
"Dia sudah tidur denganmu tanpa nikah. Dia merayu kamu dan Joshua. Apa itu bukan wanita murahan namanya?! Beda sama Laura dan....."
"Cukup, ma! Mama tidak tahu persis kejadiannya. Jadi, jangan hakimi Laura. Dia wanita baik dan Ibu yang sangat baik untuk Dave. Lalu, Laura? Asal Mama tahu, Laura justru wanita murahan yang sebenarnya. Dia selingkuh dan kedapatan bercinta dengan pria lain. Aku melihat dengan kedua mataku sendiri, Ma. Untuk itulah aku langsung memutuskan Laura. Aku dan Laura sudah nggak punya hubungan apa pun"
"Lalu, kamu ingin mendekati Luna Aditya? Untuk itulah kamu membawa dia ke sini menjadi karyawan kamu? Begitu, hah?!"
"Suami Mama yang ambil keputusan memindahkan Luna ke sini"
Tapi, atas permintaan aku, Ma. Batin Jarvish.
"Apa?!" Mamanya Jarvish mendelik kaget.
"Itu benar. Mama bisa tanya ke suami Mama itu"
"Lupakan soal pemindahan Luna ke sini. Kamu sudah putus dengan Laura, kan?"
"Hmm"
"Bagus! Kamu jomblo,kan, sekarang ini? Teman arisan Mama punya anak gadis yang baru lulus dari Amerika. Dia masih berumur dua puluh tiga tahun. Cantik, lembut, pintar dari keluarga terpandang"
"Lalu, apa kaitannya denganku?"
"Anaknya suka sama kamu. Dia ingin kenalan sama kamu dan ingin bekerja di sini. Mama akan atur biar dia bisa kenalan sama kamu dan Mama akan buat dia jadi karyawan kamu"
"Hah?! Nggak! Aku nggak mau, Ma. Titik!" Jarvish langsung berbalik badan dan masuk ke ruang kerjanya dengan tak lupa mengunci pintu agar mamanya tidak bisa menyusulnya masuk.
"Hei! Mama belum bertemu dan makan siang dengan Dave! Kenapa kau kunci pintunya?!"
Namun, tidak ada sahutan dari dalam dan pintu pun tidak terbuka.
"Cih! Kamu boleh menolak. Tapi, Mama tidak akan tinggal diam" Mamanya Jarvish kemudian berbalik badan dan pergi.