Memories Of Love

Memories Of Love
Luna dan Jarvish



Luna menyuapi Dave dengan penuh kelembutan dan Jarvish yang berdiri di depan ranjang terus memperhatikan perlakuan Luna ke Dave. Lalu, pria tampan itu berlari menuju ke nakas saat Luna ingin mengambil obat penurun demam dan berkata, "Aku akan bantu kamu"


"Terima kasih" Sahut Luna tanpa menoleh ke Jarvish.


Setelah selesai meminumkan obat ke Dave, Luna membantu Dave untuk rebah kembali di atas bantal dan menyelimuti Dave sambil membacakan sebuah dongeng.


Jarvish berinisiatif mengambil mangkuk bubur dan gelas ke dapur untuk mencucinya. Pria tampan itu tiba-tiba merasa lapar saat ia melihat sisa bubur yang masih cukup banyak di dalam panci yang masih nangkring di atas kompor. Jarvish lalu mengambil mangkuk dan memindahkan semua bubur di dalam panci ke mangkuk. Dia kemudian melangkah ke meja makan untuk mencicipi bubur itu. "Hmm, enak banget bubur ini. Benar kata Dave kalau mamanya sangat pandai memasak" Lalu, tanpa ijin dari si pemilik rumah, Jarvish membuka tudung saji dan menghabiskan semua tempe goreng yang ada di sana. Setelah selesai makan, Jarvish mencuci semua perabot makan yang habis ia pakai dan sambil berkata, "Pantas saja kalau Dave nggak pernah jajan. Mamanya sangat pandai memasak"


Saat Jarvish kembali ke kamar, Dave sudah tidur nyenyak.


Luna langsung bangkit berdiri dan menarik pergelangan tangan Jarvish untuk berkata di luar kamar, "Kenapa Dave bisa tiba-tiba panas? Apa Dave makan es krim atau makan makanan ringan seperti keripik kentang atau gorengan?"


"Iya"


"Dave tenggorokannya sensitif. Dia nggak bisa makan Snack ringan ataupun gorengan dari luar. Dia alergi sama penyedap rasa. Dave juga nggak bisa makan makanan dari luar karena masakan di luar mengandung banyak penyedap rasa. Itulah kenapa secapek apa pun, aku selalu masak untuk Dave. Masakanku hanya memakai garam dan gula tanpa penyedap rasa. Terus, setelah makan makanan yang banyak penyedap rasanya, kau kasih es krim ke Dave dan........"


"Iya! Maaf! Aku nggak tahu soal alerginya Dave sama penyedap rasa. Nggak usah ngomel lagi dan lepaskan pergelangan tanganku!" Jarvish menatap tangan Luna yang masih mencekal pergelangan tangannya.


Luna sontak melepas pergelangan tangan Jarvish sambil berkata, "Maaf


Jarvish lalu menarik Luna untuk duduk di sofa bersama dirinya dan Luna langsung bangkit berdiri sambil berkata, "Apa mau kamu, hah?! Kenapa kau tarik aku duduk di sofa sama kamu?"


"Cih! Pikiran kamu kenapa kotor banget. Aku cuma pengen kamu ajari cara baca kisah dongeng. Aku nggak bisa baca cerita dongeng. Kemarin Dave protes sama aku"


Luna langsung mengulum bibir menahan geli dan Jarvish sontak mendelik dengan kesal, "Jangan ketawa! Sejak kecil aku nggak pernah baca cerita dongeng dan tidak pernah dibacakan cerita dongeng"


Luna seketika menatap Jarvish dengan prihatin.


Jarvish yang masih mendelik langsung berkata, "Buruan ambil bukunya dan ajari aku cara baca dengan baik dan benar!"


Luna langsung duduk di sebelahnya Jarvish dan mengambil buku dongeng yang ada di bawah meja sofa. Kemudian Luna membuka buku dongeng anak-anak itu sambil menoleh ke Jarvish, "Dengarkan dengan baik cara bacanya!"


"Hmm. Buruan baca!" Sahut Jarvish sambil menyandarkan kepalanya di sofa.


Luna kemudian meletakan buku dongeng yang sudah ia tutup di atas meja sofa. Lalu, ia merebahkan kepala Jarvish dengan pelan di lengan sofa. Kemudian ia berlari ke dalam kamar untuk mengambil selimut dan menyelimuti Jarvish. Setelah itu, ia tinggalkan Jarvish dan dia masuk ke kamarnya Dave untuk mengecek kondisinya Dave.


"Syukurlah demamnya sudah ilang" Luna mencium kedua pipi Dave, lalu berjalan keluar dari dalam kamar dan sambil menuju ke dapur ia bergumam, "Aku akan makan sisa bibirnya. Sayang kalau harus buang-buang makanan lagian masih ada sisa empat potong tempe, lumayan lah buat teman makan bubur, tuh, si tempe"


Luna langsung celingukan dan bergumam, "Lho, pancinya kok sudah ada di rak piring dan sudah dicuci?" Lalu, Luna berjalan ke ruang makan dan melihat tudung saji sudah tergantung di cantolan yang ada di tembok sedangkan meja makan telah kosong.


"Apa pria aneh itu yang memakan sisa bubur dan tempe-tempeku? Syukurlah kalau ia habiskan semuanya. Masakanku tidak dibuang percuma"


Kemudian Luna kembali ke kamar putranya dan tidur di sebelah putranya. Namun, Luna tidak bisa tidur nyenyak, setiap dua jam sekali dia otomatis terbangun untuk mengecek kondisi Dave dan mengganti baju Dave kalau basah. Begitu seterusnya sampai di jam lima pagi, Luna kembali terbangun dan langsung mengecek Dave, "Ah! Syukurlah Panasnya sudah benar-benar hilang"


Sementara itu Jarvish terbangun dengan wajah linglung. Dia menyibak selimut yang belum pernah ia lihat sebelumnya, lalu ia bangun dan duduk di sofa dengan wajah kebingungan, "Aku di mana? Kenapa aku tidur di sofa ini? Lalu, siapa yang menyelimuti aku dan kasih aku bantal? Apa wanita itu?" Pria tampan itu kemudian bangkit berdiri sambil memijit pundaknya dan bergumam, "Sial! Badanku pegal semua nih karena semalam tidur di sofa sempit itu.


Lalu, CEO pendiri hotel The Rain itu, berjalan ke kamarnya Dave. Dia berdiri lama di pintu kamar yang terbuka lebar dan tertegun melihat Luna mengganti bajunya Dave dan melepas koyo penurun demam dari keningnya Dave. Pria tampan itu kemudian bergumam di dalam hatinya, tuh, kan, aku benar, bibir Dave mirip banget dengan bibir mamanya. Mungil, penuh, tipis yang pas dan ......sial! Kenapa aku memikirkan soal bibir lagi? Jarvish langsung memukul keras pucuk kepalanya dan saat ia mengaduh lirih, Luna menoleh ke dia.


Luna langsung bangun dan berkata, "Dave sudah hilang panasnya"


Lalu, Jarvish melangkah masuk ke dalam kamar dan membopong Dave yang masih lelap tertidur.


"Kenapa kau bopong Dave?"


"Aku mau bawa dia pulang ke rumahku. Panasnya sudah hilang, kan"


"Tapi, nggak bisa begitu" Luna langsung menahan lengan bawahnya Jarvish.


"Kalau kau tidak mau berurusan dengan pengadilan dan otomatis aku yang memenangkan hak asuh Dave, maka menyingkirlah dan biarkan aku membawa Dave pulang"


Luna melepaskan lengan bawahnya Jarvish dengan terpaksa dan dengan wajah tidak rela ia berkata, "Baiklah. Tolong jaga Dave dengan baik dan ingat kalau Dave alergi micin dan hanya bisa makan masakan rumah. Masaknya hanya pakai gula dan garam. Kalau mau makan es krim, jangan langsung diajak berenang atau bermain di luar karena itu bisa........."


"Iya aku tahu" Jarvish berucap sambil pergi meninggalkan Luna.


Luna hanya bisa menatap punggung Jarvish dengan helaan napas panjang dan bergumam, "Maafkan Mama Dave, Mama terpaksa melepasmu pergi. Nurut sama Papa selama Dave tinggal di rumah Papa, ya?"