Memories Of Love

Memories Of Love
Hiks, hiks, hiks



"Pa, ada apa?"


"Kalian sudah selesai mengobrol?"


Jarvish merangkul bahu Luna dari belakang dan berkata ke papanya Luna, "Belum, Pa"


"Kalau begitu kalian lanjutkan lagi ngobrolnya"


Luna menutup pintu dan Jarvish langsung memutar badan Luna untuk kembali mencium bibir Luna dengan penuh damba. Di saat lidahnya mengajak lidah Luna menari liar, pintu kembali diketuk.


Luna kembali berputar badan untuk membukakan pintu. "Papa?"


"Sudah belum ngobrolnya?"


"Anda sebenarnya ingin apa, Pa?" Tanya Jarvish dengan wajah datar menahan kesal.


"Papa kesepian. Dave udah tidur setelah asyik bermain dengan robot yang Papa berikan sebagai kado ulangtahunnya"


"Lalu?"


"Papa minta salah satu dari kalian menemani Papa bermain catur sambil menemani Papa makan masakan yang kamu bawakan. Banyak banget masakannya. Papa nggak bisa menghabiskannya sendiri. Dave sudah makan tadi. Papa yang suapi"


Jarvish langung merangkul Luna dan berkata,"Tapi, kami harus segera pulang dan ......."


"Dave udah tidur. Kasihan kalau dibangunkan. Lagian Papa kesepian. Tolong temani Papa malam ini saja. Kalian menginap di sini semalam saja. Besok pagi kalian bisa berangkat kerja dari sini"


Luna merasa tidak tega melihat nada memelas papanya. Kemudian ia menoleh ke Jarvish dan berkata, "Tolong, temani Papa main catur, ya, Mas. Aku akan bikin teh manis hangat untuk kalian"


"Tapi, kita tidak ......."


"Aku ingin menginap di sini semalam saja. Lagian Dave udah tidur"


"Baiklah. Demi kamu" Sahut Jarvish dengan wajah ogah-ogahan.


Papanya Luna langsung semringah dan menarik tangan Jarvish untuk ia ajak ke ruang keluarga. Di atas meja sudah tertata rapi semua masakan yang Jarvish bawa.


"Kenapa rumah Jarvish kosong? Bi Nina dan Pak Temon juga nggak ada. Apa Bi Nina dan Pak Temon cuti?" Mamanya Jarvish berkata sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling rumahnya Jarvish.


Ana kembali menghela napas panjang. Dia kembali gagal menemui Jarvish dan keinginannya untuk bisa mengobrol sambil makan santai dengan Jarvish kembali sirna.


Akhirnya Mamanya Jarvish mengajak Ana meninggalkan rumahnya Jarvish dan untuk mengobati rasa kecewanya Ana, mamanya Jarvish mencoba menghibur Ana dengan cara membawa Ana makan lalu belanja sepuasnya di sebuah butik mewah dan mamanya Jarvish yang membayar semua belanjanya Ana.


"Akhirnya aku bisa menemukan orang yang bisa menandingi aku dalam permainan catur. Kalau di kantor pas istirahat aku,kan, mengajak temanku main catur, tapi aku menang terus hanya dalam waktu yang sangat singkat. Nah! Baru kali ini aku bisa bermain catur cukup lama dan berpikir keras"


"Saya sebenarnya tidak begitu suka bermain. Saya dari kecil nggak pernah bermain. Saya sibuk mencari uang agar saya dan Papa saya bisa makan tiap hari" Sahut Jarvish sambil menggerakkan bidak catur menterinya ke depan dan kemudian berkata, "Skak!"


"Eh! Aku kalah? Beneran kalah, nih?!" Papanya Luna tersentak kaget.


Luna datang dengan menbaea nampan, lalu meletakkan dua cangkir di atas meja.


"Duduk sini, Sayang!" Jarvish menepuk kursi di sebelahnya dan Luna duduk di sebelah Jarvish sambil memangku nampan.


"Aku kalah. Baru kali ini aku kalah main catur. Kita main lagi" Sahut papanya Luna sambil menatap kembali semua bidak caturnya.


Jarvish berbisik ke Luna, "Bakal lembur, nih aku, hiks,hiks"


Luna sontak mengusap bahu Jarvish dan berkata, "Aku akan menemani kamu, Mas"


Di tengah-tengah permainan catur yang kedua, Jarvish melirik Luna yang beberapa kali menguap. Karena tidak tega melihat Luna sudah mengantuk berat, pria tampan itu berkata, "Tidurlah dulu sana! Aku akan susul kamu"


"Tapi, Mas nanti........"


"Nggak papa"


Luna kemudian menatap papanya,"Pa, udahan aja main caturnya! Mas Jarvish capek seharian menyetir dan........"


"Nggak bisa! Aku masih penasaran kenapa tadi aku bisa kalah" Sahut papanya Luna.


Luna menoleh ke Jarvish dan sambil mengelus tangan Luna yang ada di atas pangkuannya Luna, Jarvish berkata, "Nggak papa. Tidur aja dulu, gih! Kamu capek dan udah ngantuk banget, kan?"


"Iya. Aku tinggal bobok dulu, ya, Mas"


"Hmm" Jarvish mengelus kembali tangan Luna.


Belum lama Luna meninggalkan ruang keluarga, Jarvish kembali berkata, "Skak!"


"Lho, lho, lho! Kok kalah lagi? Kok bisa? Kita main lagi" Papanya Luna kembali menata bidak caturnya.


Jarvish langsung berkata, "Satu kali aja, ya, Pa"


"Oke! Satu kali lagi"


Akhirnya Jarvish memilih untuk membiarkan papanya Luna menang, Naum tidak kentara kalau dia memang mengalah untuk menang. Pebisnis hebat macam Jarvish memang sudah terbiasa untuk memiliki banyak taktik yang menguntungkan bagi dirinya.


"Nah! Aku hebat,kan? Tadi aku agak ngantuk dan belum panas otakku. Setelah panas, aku bisa menang, kan"


"Iya, Papa sangat hebat. Sekarang saya bisa pergi ke kamar?"


"Hmm" Sahut papanya Luna.


Jarvish langsung bangkit berdiri dan melangkah lebar ke kamarnya Luna.


Jarvish masuk ke dalam kamar dan menemukan kamar kosong, Luna tidak ada di sana dan saat Jarvish berbalik badan untuk ke kamar satunya, dirinya bertabrakan dengan papanya Luna.


Jarvish sontak melangkah mundur dengan wajah kaget dan berkata, ""Maaf, Pa"


"Kita tidur di kamar ini berdua karena kamar yang satunya udah dipakai sama Luna dan Dave"


"Saya bisa ke sana. Saya bisa tidur bertiga dengan anak dan Istri saya, Pa"


Papanya Luna langsung menahan dada Jarvish dan berkata, "Kamarnya dikunci. Luna menguncinya tanpa sadar karena udah terbiasa. Aku ketok beberapa kali nggak ada sahutan. Mereka berdua udah tidur pulas jangan diganggu! Udah ayo kita tidur!"


Jarvish akhirnya menghela napas panjang dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan melepas kemeja dan celana jins pendeknya. Dia keluar dari dalam kamar mandi dengan hanya memakai celana kolor dan kaos dalam. Jarvish berdiri canggung di depan papa mertuanya.


"Ayo tidur! Ngapain berdiri di situ?"


"I......iya" Jarvish merebahkan diri di sebelah papanya Luna dengan wajah muram. Pria tampan itu langsung memunggungi papa mertuanya.


Papanya Luna jatuh terlelap dengan mudah sementara Jarvish yang tidur miring dengan tubuh kaku, sama sekali tidak bisa memejamkan mata. Dia tidak pernah tidur seranjang dengan pria dewasa. Apalagi itu adalah papa mertuanya yang belum dia kenal dengan akrab.


Sepuluh menit kemudian, Jarvish


melompat turun dari ranjang saat ia mendengar papanya Luna berteriak, "Maling! Maling!"


Jarvish langsung mengernyit saat ia melihat papa mertuanya menunjuk-nunjuk lemari pakaian sambil berteriak maling berulangkali.


"Wah! Ngelindur dia" Jarvish kemudian menuntun papanya Luna dengan pelan untuk rebah kembali di atas kasur, menyelimuti papanya Luna dan saat Jarvish hendak berbalik badan untuk merebahkan diri kembali di atas kasur, papanya Luna menendang pantatnya Jarvish.


Jarvish menoleh ke belakang dengan kaget dan sambil mendelik kesal ia bergumam, "Elo tandang pantat Gue lagi, maka Gue akan......."


Papanya Luna tiba-tiba bangun dan duduk bersila.


Jarvish sontak melompat mundur dan mengumpat di dalam hatinya, sial! Apa dia dengar apa yang aku gumamkan barusan?


"Sepertinya tidak. Dia masih memejamkan mata"


Jarvish mengernyit kaget saat ia melihat Papanya Luna menunjuk-nunjuk ke depan dan dengan memejamkan mata, papanya Luna berteriak, "Pergilah kau Genderuwo! Atau akan menendang pantat kamu lagi. Sini kalau berani lawan aku! Sini!"


"Wah! Ngelindurnya parah bener, nih, orang. Aku bisa begadang semalaman,nih. Hiks, hiks, hiks"


Saat papanya Luna berdiri di atas kasur, Jarvish langsung menarik pelan tubuh papanya Luna dan merebahkan kembali


tubuh yang mulai renta di umur kepala lima itu dengan pelan sambil berkata, "Pa, nggak ada Genderuwo. Adanya cowok tampan, nih, menantunya Papa. Jangan ngelindur lagi, ya?! Please?!"


Jarvish tersenyum senang saat ia melihat papa mertuanya mulai tenang dan dadanya bernapas pelan.


Namun, saat Jarvish hendak berputar badan, papanya Luna menarik tubuh Jarvish sampai Jarvish jatuh di atas tubuh papanya Luna dan papanya Luna mendorong tubuh Jarvish sampai Jarvish jatuh terlentang di sebelahnya lalu pria berumur kepala lima itu mengempit tubuh Jarvish dengan kakinya dan memeluk erat tubuh Jarvish itu.


Jarvish terkejut setengah mati dan langung mewek sambil bergumam, "Hiks,hiks, hiks, nggak bisa tidur sampai besok pagi, nih, Gue, hiks,hiks,hiks"


Keesokan harinya, Jarvish bangun dengan badan kaku-kaku semuanya dan bola mata hitam kayak panda. Dia tidak terbiasa tidur dengan pria dewasa apalagi pria dewasa itu memiliki penyakit mengigau yang sangat parah seperti papanya Luna.


Laura menemui Joshua dan setelah duduk di sofa wanita cantik itu langsung berkata, "Lupakan soal kita! Kita sudah sama-sama dewasa dan aku sudah minum obat pencegah kehamilan. Jadi, nggak usah bahas soal kita lagi"


"Lalu, kamu ke sini mau apa?" Joshua duduk di depan Laura dengan menautkan alis.


"Kamu masih mencintai Luna, kan?"


"Iya. Aku tidak bisa mencintai wanita lain selain Luna"


"Aku juga masih sangat mencintai Jarvish"


"Lalu?"


"Bagaimana kalau kita bekerja sama untuk mendapatkan apa yang kita mau?"


"Kerja sama? Gimana caranya?" Joshua mengernyit.


"Aku akan carikan cara secepatnya dan aku akan kasih tahu kamu nanti"


"Baiklah. Asalkan bisa mendapatkan Luna kembali, aku siap melakukan apa pun"


"Bagus" Laura tersenyum lebar di depan Joshua.