
Luna duduk di tepi ranjang dan mengamati wajah pria yang dulu pernah sangat ia cintai. Wanita berwajah manis nan lembut itu berkata di dalam hatinya sambil tersenyum, dia manis banget kalau tidur anteng kayak gini.
Luna terkejut saat tiba-tiba Jarvish membuka mata.
"Kamu di sini?" Tanya Jarvish dengan suara lemas.
"Iya" Sahut Luna singkat.
"Kamu mengkhawatirkan aku?"
"Tentu saja"
Jarvish tersenyum senang dan baru pertama kalinya bagi Luna, ia melihat senyuman Jarvish yang seperti itu. Alih-alih menjawab pertanyaan pria itu, Luna malah tertegun, terhipnotis senyuman pria itu.
"Aku tahu aku memang tampan, sangat tampan malah, tetapi jangan terus menatapku seperti itu, aku bisa nekat mencium kamu"
Mendengar kata cium, Luna langsung bangkit berdiri dan Jarvish langsung menarik tangan Luna untuk membuat Luna duduk kembali di tepi ranjang.
Luna menarik tangannya dan langsung menyilangkan kedua tangannya di depan dada sambil berkata, "Kalau kamu berani menciumku aku akan mematahkan bibir kamu"
"Hei! Bibir nggak punya tulang mana bisa bibir patah. Dasar bodoh!" Jarvish tergelak geli.
Tawa Jarvish juga merupakan tawa yang pertama kali Luna lihat. Wanita itu kembali tertegun.
"Aku lihat kamu itu hobi bengong. Namun, aku lihat dan perhatikan, kamu bengong hanya di saat kamu berada di dekatku. Apa aku membuatmu merasakan sesuatu?"
Luna tersentak kaget dan spontan mengerjapkan kelopak matanya, lalu ia bangkit berdiri dan berkata, "Iya. Aku merasakan sesuatu. Aku membencimu. Aku ingin melupakan masa lalu yang pernah terjadi di antara kita. Tapi kenapa takdir justru mempertemukan aku denganmu terus dan malah membuatku semakin dekat denganmu"
Jarvish terkejut mendengar ucapannya Luna. Pria itu langsung melengos, memejamkan mata dan berkata, "Keluarlah dari kamarku! Tinggalkan aku!"
Melihat Jarvish melengos dan memejamkan mata, Luna seketika menyesali ucapannya. Luna kembali duduk di tepi ranjang dan berkata, "Maaf! Aku tidak bermaksud menyakiti perasaan kamu. Maaf aku......."
Kriiiiinnnggg!
Ucapan Luna dihentikan oleh bunyi dering Djadoel itu.
"Halo? Iya. Ini saya. Apa?!" Luna berteriak kaget cukup keras lalu bangkit berdiri dan Jarvish langsung membuka matanya, "Ada apa?"
"Papaku masuk rumah sakit. Papa pingsan di ruang kerjanya. Aku pamit ke rumah sakit sebentar. Aku akan kembali lagi untuk merawat kamu sebagai permintaan maaf aku karena aku sudah memaksa kamu makan banyak sekali hari ini"
Jarvish mencabut jarum infus di punggung tangannya sambil berkata, "Tunggu!"
Luna menahan langkahnya dan saat ia menoleh ia langsung berlari untuk memapah Jarvish sambil berkata, "Kenapa kau cabut jarum infus dan bangkit berdiri? Tidurlah lagi!"
Jarvish tersenyum di dalam hatinya karena Luna secara spontan memeluknya. Kesempatan bagi Jarvish untuk berpura-pura lemas agar Luna memeluknya semakin erat.
"Tuh, kan, kamu masih lemas. Ayo tidur lagi!"
"Aku nggak mau tidur lagi"
"Memangnya kamu mau ke mana?"
"Mengantarmu ke rumah sakit. Ini sudah malam. Tidak baik seorang wanita pergi sendirian di malam hari"
"Tapi, kamu masih lemas kayak gini dan......."
"Supirku akan mengantarkan kita ke rumah sakit. Pokoknya aku akan temani kamu ke rumah sakit*
Luna menarik napas kesal.menghadapi Jarvish Si Kepala Batu. Setelah melihat Dave aman di kamar dan tertidur pulas, Luna menoleh ke Jarvish yang tengah meminta Surya menginap di rumahnya malam itu untuk menjaga Dave dan akan memberikan bonus yang cukup besar sebagai ganti waktu lemburnya Surya. Tentu saja Surya langsung mengiyakan dengan wajah semringah.
Luna tersentak kaget saat Jarvish memilih masuk ke jok belakang dan saat Luna ingin keluar untuk pindah ke jok depan, Jarvish langsung menarik lengan Luna sambil berkata, "Aku bisa tiba-tiba saja pingsan. Katanya kamu ingin merawatku saya permintaan maaf kamu karena kamu sudah membuatku makan banyak hari ini. Jadi, tetaplah di sini"
Luna menarik napas kesal dan langsung berkata, "Kalau tiba-tiba bisa pingsan, kenapa tetap di sini bukannya masuk ke dalam rumah dan tidur"
"Ssssstttt! Jalankan mobilnya, Mon! Ke rumah sakit"
"Baik, Tuan"
Luna hanya bisa menarik napas kesal dan bersedekap.
Jarvish tiba-tiba merebahkan kepalanya di pundak Luna dan saat Luna ingin menggeser pantatnya untuk menjauhi Jarvish, pria itu menahan lengan Luna sambil berkata, "Kalau ingin meminta maaf jangan setengah-setengah! Aku pusing. Pinjam bahu kamu sebentar"
Laura menemui seseorang di restoran langganannya dan berkata, "Eksekusi rencanaku besok pagi. Jangan sampai gagal!"
"Baik, Bu. Kalau bayarannya sebanyak ini, kami akan sukseskan rencana Ibu besok" Sahut kedua pria berbadan kekar dan bertato itu.
Jarvish bertanya ke Luna, "Kamu belum menjawab pertanyaan ku tadi"
Luna yang tengah asyik melihat jalanan ibu kota di malam hari, sontak menoleh ke Jarvish dan bertanya, "Pertanyaan yang mana?"
"Apa kamu mengkhawatirkan aku?"
"Tentu saja"
"Kenapa?"
"Karena, kamu itu sesamaku manusia. Bukankah kita harus saling mengasihi sesama kita"
"Hanya itu alasan kamu?"
"Hmm"
Jarvish langsung merengut dan mendengus kesal sambil bergumam di dalam hatinya, kenapa dia masih belum peduli padaku seperti ia peduli sama Joshua?
Luna kembali mengalihkan pandanganya ke jendela untuk menikmati keramaian jalanan di malam hari.
Sementara itu, mamanya Jarvish meminta asisten pribadinya untuk membuat jadwal pertemuannya dengan Luna Aditya. Dia ingin berbicara empat mata dengan Luna Aditya tanpa gangguan siapa pun. Mamanya Jarvish ingin membuat Luna Aditya pergi jauh dari Dave, Joshua dan Jarvish dan akan memberikan uang yang sangat banyak.
Jarvish meraih tangan Luna untuk ia genggam.
Luna tersentak kaget dan refleks menarik tangannya sambil berkata, "Lepaskan!"
"Aku tiba-tiba kedinginan. Aku pinjam tangan kamu sebentar untuk aku genggam. Kalau dinginnya sudah hilang, aku akan lepaskan tangan kamu. Sebentar saja"
Luna menghela napas panjang dan demi rasa kemanusiaan akhirnya Luna berkata, "Baiklah"
Jarvish tersenyim senang dan berkata di dalam hatinya, dia ini lugu sekali. Kalau dia seperti ini terus, bisa bahaya juga untuknya.
Jarvish langsung berkata ke Luna, "Kamu hanya boleh sebodoh dan senaif ini denganku. Jangan gampang berbuat baik untuk pria lain, mengerti!"
Luna tersentak kaget dan langsung menarik paksa tangannya sambil menyemburkan, "Kamu ini kenapa? Tiba-tiba marah sama aku"
Jarvish menegakkan kepalanya dan menatap Luna, "Kamu boleh berbuat baik sama orang, tapi juga harus lihat-lihat. Jangan berbuat baik untuk sembarangan orang. Itu bisa berbahaya"
"Aku tahu itu. Aku sudah dewasa. Nggak usah kamu kasih tahu, aku juga tahu soal itu" Luna mendengus kesal.
Jarvish tersenyum senang dan refleks ia mencubit pipi Luna sambil berkata, "Anak pinter. Aku senang kalau kamu pinter kayak gini"
Jarvish melepas pipi Luna dan langsung menyandarkan kepalanya kembali ke bahu Luna sambil berkata, "Nggak boleh protes! Kalau protes aku akan cium pipi kamu sekarang juga"
Luna mengusap pipinya dan menatap Jarvish dengan kesal. Wanita itu langsung berkata ke Supri pribadinya Jarvish, "Pak Temon, bisa percepat sedikit laju mobilnya?"
"Baik, Non"
Luna merasa risih terlalu lama di dalam mobil bersama pria seaneh Jarvish Benjamin.
Sesampainya di rumah sakit, Luna langsung masuk ke ruang rawat inap papanya. Jarvish ikut melangkah masuk dan dari depan pintu, Jarvish tertegun melihat Luna memeluk erat pria berumur lima puluh tahun itu dengan tangisan yang cukup memilukan.
Papanya Luna ikutan menangis dan saat ia memeluk Luna, ia bertanya, "Kenapa kamu datang?"
Luna menyahut di sela isak tangisnya, "Tentu saja Luna datang, Pa. Papa, kan, Papanya Luna dan Papa masuk ke rumah sakit"
"Kamu tidak membenci Papa? Papa sudah menyuruh kamu menggugurkan kandungan kamu dan mengusir kamu dari rumah"
Jarvish yang masih berdiri tegak di depan pintu spontan mengepalkan kedua tinjunya saat ia mendengar ucapan papanya Luna itu.
"Luna sudah memaafkan Papa sejak Luna keluar dari rumah Papa waktu itu. Luna tidak pernah menyalahkan Papa dan membenci Papa, huhuhuhuhu"
Jarvish seketika merasa kagum melihat kebaikan hatinya Luna. Dia benar-benar mengagumi kebesaran hari wanita itu yang tidak pernah menyimpan dendam Dengan senyum haru, Jarvish bersumpah di dalam hatinya kalau mulai detik ini, dia akan benar-benar belajar mencintai Luna Aditya.