Memories Of Love

Memories Of Love
Kejam



Jarvish kembali ke kantornya dan mulai menekuri berkas-berkas kerjaan sebanyak dua tumpuk. Berkas-berkas itu sama sekali belum ia sentuh sejak istrinya meninggal dunia.


Brian asisten pribadinya Jarvish terus melirik telepon genggamnya yang lampunya berkedip-kedip tanda ada panggilan masuk dan itu adalah panggilan masuk yang kedua kalinya. Di layar tampak nama Mona. Mona adalah pacarnya Brian. Seketika itu Brian tanpa sadar menghela napas panjang dan berdiri dengan tidak tenang. Asisten tampan itu mulai gelisah.


Jarvish bisa merasakan kegelisahannya Brian. Pria super tampan itu, mengangkat wajahnya dan menoleh ke Brian, "Kenapa?"


Brian tesentak kaget, "Hah?! Kenapa, apa, Tuan?"


"Aku dengar kamu beberapa kali menghela nas dan aku bisa merasakan kalau kamu gelisah. Kenapa?"


"Oh, itu, anu, a......apakah saya boleh keluar sebentar untuk menjawab panggilan masuk yang ......."


"Nggak boleh! Matikan telepon kamu saat ini juga!" Jarvish mendelik ke Brian dan klik! Brian langsung menonaktifkan telepon genggamnya dengan berharap di dalam hati, Mona jangan putuskan aku, ya, Sayang! Maafkan Abang harus menonaktifkan ponsel Abang, hiks, hiks, hiks.


"Ini jam kerja. Ponsel harus dinonaktifkan. Sekarang kamu duduk dan jelaskan kontrak kerja sama yang ada di map ini, ini, dan itu!"


"Ba......baik, Tuan" Brian langsung duduk dan mulai membuka map yang ditunjuk oleh Jarvish. Ia membuka dan menjelaskan isi di dalam map itu satu per satu.


Pria tampan berkacamata dengan rambut berwarna abu-abu itu, kemudian berjongkok, memegang sandaran bangku meja makan, menatap Luna yang masih tertunduk menangis, dan bertanya dengan sangat hati-hati, "Siapa yang telah melakukannya? Siapa pria brengsek yang telah melakukannya?"


Luna diam membisu dan alih-alih menjawab pertanyaan dari Joshua, ia justru terus menggelengkan kepalanya dan semakin histeris menangis.


Joshua langsung bangkit berdiri dan memeluk kepala Luna sambil berkata, "Baiklah. Baiklah. Tidak usah kau katakan. Tenanglah, ada aku di sini. Tenang, ya, cup, cup, cup" Pria tampan berkacamata itu terus mengelus rambut Luna.


Sejak berjumpa pertama kalinya dengan Luna, Joshua sejujurnya sudah menyukai Luna pada pandangan pertama, karena gigi gingsul dan rambut panjang Luna yang indah, mengingatkannya pada almarhum mamanya. Apalagi Luna pribadi yang sopan, lemah lembut, dan baik hati. Gadis itu juga cerdas. Itulah kenapa semakin hari Joshua semakin menyukai Luna dan selalu mencari-cari alasan untuk bisa terus melihat Luna. Itulah kenapa semalam dia menjemput Luna untuk pergi ke pesta pembukaan hotel terbarunya Jarvish dan pria tampan berkacamata itu kebingungan saat ia tidak menemukan Luna di jam pesta telah usai. Sampai-sampai ia rela mendatangi rumah papanya Luna yang jaraknya cukup jauh dari rumahnya demi untuk memastikan bahwa Luna ada di rumah itu.


"Kamu harus tenang! Papa kamu sebentar lagi pulang dari kerja bakti. Kalau Papa kamu melihat kamu menangis seperti ini, Papa kamu pasti kebingungan. Apa kamu sudah siap menceritakan apa yang kamu alami semalam ke Papa kamu?"


Luna menarik wajahnya dari pelukan Joshua. Kemudian, perempuan itu menghentikan tangisannya dan segera mengusap kedua pipinya dengan punggung tangan dan bangkit berdiri.


"Kau mau ke mana?" Tanya Joshua.


"Mau cuci muka, Tuan. Maaf saya tinggal sebentar" Luna berucap sembari berputar badan.


Joshua menatap punggung Luna yang menjauh dengan sorot mata sedih.


Lalu, pria tampan itu berputar badan untuk kembali ke ruang depan sambil membawa kopi dan sepiring kroket.


Setelah meletakkan piring yang masih berisi penuh kroket dan cangkir kopi berisi kopi kental favoritnya, Joshua Benjamin kembali duduk di tempatnya semula.


Empat jam lebih sedikit, Jarvish telah selesai menandatangani dua tumpuk berkas yang ada di depannya. Lalu, pria tampan itu mengangkat wajahnya untuk bertanya ke asisten pribadinya, "Apa jadwalku di hari ini?"


"Anda ada makan siang dengan Nona Betty di restoran Palem Hijau, Tuan. Setelah itu, Anda harus meninjau hotel baru Anda dan di malam harinya, Anda harus makan malam dengan Nona Julia Prist" Sahut Brian.


"Oke. Kita pergi sekarang kalau gitu"


"Baik, Tuan" Sahut Brian.


Papanya Luna kembali dari kerja bakti dan mendapati Luna dan Joshua tengah mengobrol santai di ruang tamu. Papanya Luna langsung berkata, "Maaf, saya cuci tangan dulu, Tuan"


Setelah kembali dari cuci tangan, papanya Luna kembali ke ruang depan dan Joshua langsung bangkit berdiri untuk pamit pulang.


Luna mengantarkan bosnya sampai di depan mobil dan sebelum masuk ke dalam mobil, Joshua meletakkan tangan di atas kepala Luna sambil berkata, "Jangan khawatirkan apa pun. Aku akan selalu ada untuk kamu mulai sekarang"


Luna tersenyum dan berkata, "Terima kasih, Tuan"


Sementara itu, Jarvish tengah mengeram kesal di depan klien wanitanya ketika wanita cantik dengan baju seksi itu berkata, "Saya akan menjamu Anda di ranjang sebagai tanda terima kasih saya. Apakah Anda berkenan, Tuan?"


Semua wanita di dunia ini busuk! Dasar menjijikkan! Gumam Jarvish di dalam hatinya.


"Bagaimana, Tuan? Saya masih menunggu jawaban Anda"


Brian hanya bisa diam mematung di samping Jarvish sembari membatin, wanita ini sangat seksi.Dia cantik karena makeup tebal. Dia bukan tipe Tuan Jarvish. Pasti Tuan Jarvish akan menolaknya dan ........"


"Baiklah"


Mendengar jawaban Jarvish, Brian sontak menoleh ke tuan mudanya untuk melemparkan protes, "Tuan, kenapa Anda menjawab baiklah?"


Alih-alih menjawab pertanyannya Brian, Jarvish menatap tajam wanita seksi dengan makeup tebal di depannya untuk berkata, "Tapi, aku tidak mau ada ikatan di antara kita setelahnya dan aku tidak mau mengulangi tidur denganmu lagi di lain waktu. Aku hanya akan tidur denganmu sekali saja dan jangan hubungi aku lagi setelah itu walaupun hanya untuk sekadar makan bersama. Kalau ada masalah di lapangan terkait proyek kita, kau hubungi dan temui asistenku ini!"


Brian langsung kesulitan menelan air liurnya dan kembali diam mematung di samping tuannya.


"Baiklah. Toh, kontrak kerja sama kita sudah beres. Selanjutnya saya rasa saya tidak perlu lagi bertemu dengan Anda"


"Oke. Aku akan ikuti kamu ke kamar kalau gitu" Jarvish berucap dengan wajah dingin dan bergumam di dalam hati, mulai sekarang aku akan memperlakukan semua wanita dengan sengat kejam karena semua wanita di dunia ini pantas untuk aku berikan hukuman untuk kebusukan mereka. Aku juga tidak akan jatuh cinta lagi.