
"Terima kasih banyak Tante cantik untuk kadonya" Ucap Dave tanpa membuka tas ransel khusus untuk hewan yang berisi seekor anjing pudel kecil berwarna putih seperti salju.
"Dave tidak ingin membuka dan mengajaknya bermain di halaman depan? Atau mengajaknya berjalan-jalan di taman dekat rumah?" Tanya Laura. Laura berharap Dave mengiyakan dan itulah kesempatan yang baik bagi anak buahnya Laura untuk menculik Dave.
Namun, Laura harus mengepalkan kedua tinjunya yang berada di bawah meja makan saat Dave berkata, "Kalau kita sedang makan, kata Mama nggak boleh pegang apa-apa dulu. Selesaikan dulu makannya, baru boleh bermain"
Laura langsung mengulas senyum palsunya dan berkata, "Oh, gitu. Tante sudah selesai makannya. Tante lihat, Dave juga sudah selesai makan. Yuk, cuci tangan dan kita ajak anjing ini jalan-jalan"
Dave merosot turun dari kursi dan berjalan ke wastafel. Laura menggendong Dave untuk membantu anak kecil yang sangat tampan itu, cuci tangan.
Laura kemudian menggandeng tangan mungilnya Dave sambil berkata dengan wajah semringah,"Yuk! Kita buka tas ranselnya sama-sama dan kita........."
"Pak Temon" Dave memanggil Pak Temon dan Laura langsung mendelik kaget, "Kenapa malah memanggil Pak Temon?"
"Dave mau mengerjakan tugas sekolah dulu, Tante. Lagian ini siang, panas, Tante. Dave tidak tahan berada di bawah terik panas matahari di jam satu siang seperti ini" Sahut Dave.
Laura langsung mendengus kesal dan mulai gelisah karena frustasi. Dia masih belum berhasil mengajak Dave keluar rumah padahal anak buahnya sudah cukup lama menunggu di luar.
"Ada apa Tuan muda?" Tanya Lak Temon.
"Tolong bawa anjingnya ke halaman belakang. Dave aman menjenguk anjing itu nanti sore"
"Baik, Tuan muda"
Dave tersenyum Pak Temon dan berkata, "Terima kasih banyak Pak Temon"
"Sama-sama Tuan muda"
Dave kemudian menoleh ke Laura yang tengah celingukan dengan wajah gelisah dan mulai frustasi.
"Tante mencari apa" Tanya Dave dengan wajah penuh tanda tanya.
"Oh, itu, emm, Tante mau ke toilet. Tante belum pernah ke rumah ini. Jadi, nggak tahu di mana toiletnya"
"Oh! Toiletnya dan di ujung sana, Tante. Di dekat pintu keluar ke halaman belakang. Di halaman belakang dekat kolam renang juga ada toilet" Sahut Dave.
"Ah, iya. Terima kasih" Laura tersenyum ke Dave dan langsung berlari kecil ke toilet yang ditunjuk oleh Dave barusan.
Dave menunggu Laura keluar dari dalam toilet sambil duduk membaca buku cerita di sofa ruang tamu.
Laura menghubungi anak buahnya dari dalam toilet, "Agak lama, ya. Kalian sabar dulu. Anak itu sangat cerdas dan kalau sudah punya pendirian susah untuk dibujuk. Sial! Kenapa dia mirip banget dengan Papanya"
"Siap, Bos. Kami akan sabar menunggu Bos di luar" Sahut anak buahnya Laura.
Laura kemudian keluar dari dalam kamar mandi dan berjalan ke ruang tamu, "Dave, menunggu Tante?"
"Iya"
"Untuk apa? Apa Dave mau menemani Tante duduk sebentar di teras depan? Atau Dave mau menemani Tante beli es krim di mini market yang ada di ujung jalan?"
"Panas, Tante. Lagian kata Mama, kalau nggak ada Mama di rumah, Dave nggak boleh keluar rumah" Sahut Dave sambil bangkit berdiri.
"Lalu, untuk apa kamu menunggu Tante di sini?" Laura mulai meninggikan nada suaranya karena kesal.
Dave langsung mengerutkan keningnya dan bertanya, "Kenapa Tante keliatan kesal?"
"Oh, kesal? Tidak! Tentu saja tidak" Laura tertawa dengan terpaksa lalu wanita itu kembali berkata, "Tante hanya butuh es krim saat ini"
Sial! Anak ini kenapa bisa mirip banget dengan Jarvish. Tegas dan sulit dibujuk. Batin Laura.
"Baiklah. Tante pamit. Salam buat Mama dan Papa kamu, ya. Semoga kamu bisa berkata ria dengan kado dari Tante"
"Terima kasih Tante. Ati-ati di jalan dan maaf Dave nggak bisa anter Tante sampai depan rumah"
"Bibi yang akan mengantar Nona Laura sampai depan rumah. Tuan muda masuk aja ke kamar" Sahut Bi Nina"
"Terima kasih, Bi" Sahut Dave.
Sial! Gagal lagi rencanaku menculik Dave. Sial! Aku udah keluarkan uang cukup banyak untuk beli pudel itu dan aku nggak berhasil menculik Dave. Batin Laura sambil mulai melajukan mobilnya.
Sampai di pertigaan jalan, Luna menemui anak buahnya dan berkata dengan wajah kesal dan lelah, "Gagal lagi. Aku akan cari cara lain lagi"
Luna terkejut saat ia melihat Joshua Benjamin berdiri di depan meja kerjanya.
Wanita itu langsung bangkit berdiri dan berkata, "Kenapa Mas ke sini?"
Joshua memberikan senyuman mengejek sambil berkata, "Kau mendapatkan banyak kemewahan dari Jarvish ternyata. Ruangan ini, lalu jabatan kamu, dan sekarang kau tinggal di mana? Kenapa kau keluar dari apartemenku? Kau sudah menyewanya selama setahun dan ini belum ada setahun, Luna"
Luna langung berjalan keluar dari balik meja kerjanya sambil berkata, "Kita sudah putus, kan, Mas, jadi akan sangat aneh kalau aku masih tinggal di apartemen kamu. Ya, walaupun aku menyewanya, tetapi akan tetap terasa aneh dan nggak nyaman bagiku untuk tetap tinggal di sana"
Joshua menarik tangan Luna dan memeluknya. Luna tesentak kaget dan langsung mendorong tubuh Joshua sambil mendelik kesal ia berucap, "Jaga sikap kamu, Mas! Kenapa kamu jadi kayak gini? Nggak sopan dan kasar"
"Maafkan aku Luna. Aku terlalu tergesa-gesa meminta putus. Maafkan aku kerena cemburu buta aku tidak memercayai kamu"
"Kamu kalau aku paling benci tidak dipercayai, Mas. Apalagi oleh orang yang sudah sangat mengenalku" Ucap Luna sembari bersedekap dan melangkah mundur saat Joshua melangkah maju.
"Aku mencintai kamu Luna. Sangat mencintai kamu dan aku tidak bisa melupakan kamu. Tolong kembalilah padaku, ya?! Jadi pacarku lagi" Joshua melangkah maju menghampiri Luna dengan pelan dan Luna langsung melangkah mundur dan berkata, "Stop, Mas! Jangan maju lagi dan......."
Joshua menarik tangan Luna saat Luna tumit sepatunya terantuk meja dan hampir jatuh. Pria tampan itu lalu memeluk erat tubuh Luna dan nekat memagut bibir Luna yang selama ini selalu ia impikan.
Luna langsung mendorong Joshua dan menampar pipi pria tampan berkacamata itu.
"Kenapa kau menolakku? Kenapa kau menamparku, hah?!" Joshua berteriak kencang.
Luna langsung mendelik, "Ssstt! Ini kantorku, Mas. Jangan teriak-teriak! Nggak enak kalau kedengaran sampai di luar"
Joshua langsung melirihkan suaranya, sambil membetulkan letak kacamatanya, "Apa kau masih mencintai Jarvish?"
Luna langsung mendelik, "Kau yang menciumku dengan paksa untuk itulah aku menampar kamu. Kenapa jadi bawa-bawa Jarvish di sini?"
Joshua menyeringai dan berkata, "Dari dulu kamu ternyata tidak pernah berhenti mencintai Jarvish, Cih!"
Luna memilih untuk diam membisu. Karena bagi wanita berwajah manis itu, percuma berdebar dengan orang yang emosinya tengah meninggi.
"Cih! Ternyata benar. Kau masih mencintai Jarvish brengsek itu. Padahal pria brengsek itu sudah merenggut kesucian kamu, membuat hidupmu kacau balau dan susah, dia juga masih menindas kamu setelah itu. Tapi, kenapa kau masih mencintainya? Kenapa?!" Joshua Kemabli berteriak kencang.
Luna memilih berkata, "Lebih baik kita tidak bicara dan bertemu dulu sebelum emosi kamu reda, Mas. Aku tinggalkan kamu di sini. Aku akan pergi ke dapur" Luna segera berbalik badan dan saat Luna memegang handle pintu, Joshua mendekap tubuh Luna dari arah belakang dan mengunci pintu itu lalu mengambil kunci itu untuk ia masukkan ke dalam saku celananya.
Luna tersentak kaget dan langsung menyikut perut Joshua. Saat Luna berbalik badan, Joshua langsung mengungkung tubuh Luna dan dengan seringai mengerikan, dia berkata, "Jarvish sudah menikmati kamu dan bisa mengikat kamu dengan seorang anak. Aku akan melakukan hal yang sama. Aku akan menikmati kamu dan punya anak denganmu Luna" Setelah mengucapkan semua kata itu, Joshua memagut bibir Luna.
Luna mulai gemetar ketakutan dan menangis.