
"Aku pulang, ya" Joshua menatap dalam wajah manis pujaan hatinya.
"Iya" Sahut Luna singkat.
"Lho, kok, iya? Kok nggak ditahan sebentar lagi, sih?" Joshua langsung mengerucutkan bibirnya.
"Ini sudah malam, Mas. Lagian aku capek banget hari ini"
Joshua langsung berkata, "Iya" sambil mengelus mesra rambutnya Luna.
"Ati-ati di jalan, Mas" Luna tersenyum ke Joshua.
Joshua dengan pelan menundukkan wajah karena ia ingin mencium bibirnya Luna, namun Luna refleks memundurkan wajah sambil berkata, "Maaf, Mas. Aku masih belum siap"
Joshua lalu memeluk Luna untuk mendaratkan ciuman di kening Luna dan berkata di sana, "Nggak apa-apa. Aku akan sabar menunggu"
Sepeninggalnya Joshua, Luna langsung menutup pintu apartemen dan bergegas duduk di sofa untuk mengambil plester untuk luka yang diberikan oleh Jarvish yang dia simpan di saku dressnya.
Luna mengamati plester untuk luka itu cukup lama. Lalu, ia letakkan plester itu di meja sambil bergumam, "Kenapa pria itu hobi banget membagikan plester untuk luka? Bertahun-tahun yang lalu dia berikan plester untuk luka ke aku pas terjadi gempa di kampusku. Sekarang dia juga berikan plester luka lagi ke aku. Dia itu koleksi plester anti luka yau bagaiman, sih? Hmm! Dasar pria yang aneh Eh! Tapi, Dave juga gitu. Nggak nyangka ternyata Dave benar-benar mirip dengan papanya dalam banyak hal"
Tingtong, tingtong, tingtong.
Mendengar bunyi bel pintu, Luna sontak bangkit berdiri dan melangkah ke pintu sambil bergumam, "Apa Mas Joshua kembali lagi? Apa ada yang ketinggalan, ya?"
Wanita berwajah manis dengan gigi gingsul itu tersentak kaget saat ia membuka pintu apartemennya.
"Mama!" Dave langsung melingkarkan kedua lengan mungilnya di pinggang Luna.
Luna langsung membungkuk dan menggendong Dave untuk ia ciumi wajah tampan putra semata wayangnya itu sambil berkata, "Wah! Kejutan yang menyenangkan"
"Papa,kok, nggak disapa, Ma?"
Luna tersentak kaget dan refleks menatap ke depan. Wanita itu langsung membeku saat ia bersitatap dengan Jarvish Benjamin.
"Kamu nggak ngerti sopan santun, ya? Ada tamu, kok, dibiarkan berdiri lama di depan pintu" Ucap Jarvish dengan wajah kaku dan ekspresi mata yang dingin.
"Ah! Iya, maaf. Silakan masuk"
Jarvish langsung melangkah masuk dan duduk di sofa. Pandangannya langsung tertegun di meja sofa saat ia melihat plester luka yang di beberapa jam yang lalu ia berikan ke Luna.
Luna langsung menurunkan Dave dari gendongannya untuk berlari ke meja sofa dan mengambil plester luka itu untuk ia masukkan kembali ke dalam saku dressnya. Lalu, Luna berkata dengan canggung saat Jarvish terus menatapnya, "Aku akan bikin minum dulu" Wanita itu kemudian bergegas berbalik badan dan berlari kecil menuju ke dapur.
Jarvish menarik pelan tubuh Dave untuk ia pangku dan bertanya, "Mama kamu kalau terluka nggak pernah pakai plester luka, ya?"
"Nggak pernah. Mama kalau terluka cuma dikasih salep lalu dibiarkan saja lukanya terbuka sampai akhirnya kering sendiri" Sahut Dave.
"Oh. Kalau Papa beda. Papa nggak bisa lihat darah terlalu lama. Jadi, tiap ada luka, Papa langsung tutup lukanya dengan plester" Sahut Jarvish.
"Dave juga sama, Pa. Dave juga nggak bisa lihat darah terlalu lama. Kalau luka, Dave langsung beli plester luka dan menutup luka Dave pakai plester"
"Toss dulu" Sahut Jarvish.
Dave tersenyum lebar sambil memberikan toss ke papanya.
Luna muncul kembali di ruang tamu sambil membawa dua cangkir berisi teh hangat dan satu toples camilan tepat di saat Jarvish mencium pucuk kepalanya Dave.
Luna tanpa sadar melukis senyum bahagia di wajah manisnya melihat wajah Dave cerah ceria di atas pangkuan Jarvish Benjamin.
Melihat Luna tersenyum ke arahnya, Jarvish sontak tergelitik untuk bertanya, "Kau menatap aku apa Dave saat ini?"
Dave dan Jarvish spontan mengarahkan cangkir ke Luna secara bersamaan.
Luna langsung melambaikan tangan sambil duduk di depan Jarvish dan Dave.
Dave langsung melangkah maju untuk mengelus dada mamanya. Melihat Dave mengelus dada Luna, perasaan Jarvish mendadak terasa aneh. Di saat Jarvish merasakan wajahnya memanas, dia langsung duduk, menyesap kopi dari cangkir yang masih ia pegang, lalu mengalihkan pandangannya ke sisi kanan sambil mengumpat kesal di dalam hatinya, sial! Melihat Dave mengelus dada mamanya, kenapa pikiranku langsung ke mana-mana dan wajahnya memanas kayak gini. Huffttt! Dasar otak mesum kau Jarvish! Hardik Jarvish di dalam hatinya untuk dirinya sendiri.
Saat Jarvish meletakkan cangkir berisi teh hangat di atas meja.
"Kenapa kalian ke sini malam-malam begini?"
Belum sempat Jarvish menjawab pertanyaannya Luna, terdengar suara petir menggelegar kencang. Dave tak ketinggalan Jarvish sontak melompat maju dan memeluk Luna hampir bersamaan. Jarvish dan Dave juga berteriak, "Aaaaaaa!" Secara bersamaan.
Luna terkejut bukan main karena Jarvish juga memeluk dirinya. Wanita cantik itu langsung terkekeh geli.
Mendengar Luna terkejut geli, Jarvish langsung menegakkan diri dan berdeham dengan rona malu di wajahnya.
Dave ikutan menarik diri untuk menatap papanya dan bertanya, "Papa juga takut sama petir?"
Jarvish menatap Dave dan langsung berkata, "Nggak! Papa cuma khawatir kamu dan Mama kamu takut sama petir, jadi Papa spontan memeluk kalian berdua tadi. Maafkan aku" Jarvish menatap Luna di kata terakhirnya.
"Iya" Sahut Luna singkat sembsri mengulum bibirnya menahan geli.
Jarvish spontan mendelik ke Luna, "kau menertawakan aku, ya?"
Luna langsung melambaikan tangan dan segera bertanya kembali, "Ada apa kalian kemari? Bukankah ini belum hari Minggu?"
"Dave mau kasih kartu ucapan ke Mama dan kasih cokelat ini. Selamat Hari Ibu, Ma" Dave mencium pipi mamanya.
"Wah! Mama sampai lupa kalau ini adalah hari Ibu. Makasih, Sayangku" Luna mencium kedua pipi Dave dengan tawa bahagia dan disambut tawa riangnya Dave. Kemudian Luna membuka kartu ucapan dari Dave untuk ia baca, "Mama adalah Mama terhebat di dunia. Dave sayang sekali sama Mama" Luna menghapus titik air mata yang jatuh di pipinya dan dia langsung menarik Dave untuk ia peluk erat.
"Papa juga mau kasih kartu dan cokelat ke Mana" Ucap Dave di dalam pelukan hangat mamanya.
Luna langsung memangku Dave untuk menatap Jarvish dengan wajah penuh dengan tanda tanya.
Jarvish berdeham. Lalu, ia menyugar kassr rambutnya dengan tangan kiri. Lalu, pria itu berkata sambil menyerahkan kartu dan cokelat ke Luna, "Ini tanda terima kasihku karena kamu telah melahirkan dan membesarkan Dave"
Luna menerima cokelat dan kartu dari Jarvish. wanita itu mengucapkan kata, "Terima kasih" dan masih menatap Jarvish dengan penuh tanda tanya.
Jarvish seketika merasa canggung terus ditatap oleh Luna. Pria itu kemudian berdeham dan berkata, "Buka dan bacalah!"
Luna lalu membuka kartu dari Jarvish dan membacanya, "Ibu adalah guru perdana bagi anak. Ibu adalah guru yang pertama kali dicintai oleh anak. Ibu adalah guru yang pertama kali mengajarkan anak berbicara, melangkahkan kaki, bersopan santun, membaca, menulis, dan mengenal warna-warni dunia. Walaupun aku iri dan cemburu dengan semua itu karena aku, tidak bisa menjadi yang pertama bagi Dave, tapi aku tetap mau ucapkan selamat hari Ibu, mamanya Dave yang hebat"
Luna relfeks mengangkat wajahnya untuk menatap Jarvish.
Jarvish menatap Luna dengan wajah datar dan berkata, "Maaf, aku tidak pandai merangkai kata"
"I....ini....Ba......bagus, kok" Luna menyahut dengan canggung dia masih bingung harus bersikap bagaimana terhadap pria yang menurutnya aneh itu.
"Kamu menyukainya?"
"Ti....tidak, ah! Iya. Maaf, emm, tapi, aku, i.... itu, aku sudah menerima kartu dan cokelat dari kamu dan.........terima kasih banyak. Lalu, kenapa kamu masih ada di sini?"
"Di luar hujan. Aku nggak bisa nyetir kalau hujan dan Dave takut sama petir. Jadi, aku putuskan, aku dan Dave akan tidur di sini saja malam ini"
"Horeeeee!" Sahut Dave sambil melompat kegirangan.
Dan Luna sontak melotot kaget dan menyemburkan, "Hah?!"