Memories Of Love

Memories Of Love
Panggil aku, Mas!



Sementara itu, Laura dan Joshua berteriak kencang secara bersamaan saat mereka terbangun, bersitatap, dan menemukan mereka berada di ranjang yang sama, berpelukan dan tidak memakai sehelai kain pun.


"Kau!" Laura menarik selimut.


"Kau!" Joshua juga menarik selimut


"Jangan tarik selimutnya ke sana terus!" Laura mendelik ke Joshua.


"Jangan tarik ke sana juga! Aku nggak pakai apa pun, nih" Joshua melotot ke Laura.


"Kamu cowok! Nggak masalah kalau nggak pakai apa pun. Cepat berlarilah ke kamar mandi dan ganti baju di sana!" Laura berteriak kesal ke Joshua.


Joshua langsung berlari ke kamar mandi dan mengurung diri cukup lama di sana.


"Jarvish! Lepaskan aku! Heri hampir siang dan aku harus menyiapkan kebutuhan Dave untuk sekolah. Aku juga harus menyiapkan sarapan. Ah! Jarvish! Hentikan!"


Jarvish menarik wajahnya dari dada Luna dan berkata sambil menatap Luna, "Aku akan Lepaskan kamu kalau kamu memanggilku Mas atau Sayang"


"A.....aku......"


Jarvish menunduk dan menggigit pelan leher Luna.


"Ah! Jarvish hentikan!"


"Jarvish! Jarvish! Aku sudah memanggilmu Sayang. Ayo panggil aku Sayang atau Mas. Lagian kita sudah resmi banget jadi suami istri, kita sudah menyatukan raga kemarin di mobil. Masak kamu masih manggil aku Jarvish! Jarvish! Ayo panggil aku Mas atau Sayang lalu aku akan lepaskan kamu"


Luna merona malu dan berkata, "Jangan ingatkan lagi soal kemarin"


Jarvish mengulum bibir menahan geli dan berkata sambil mencubit dagu Luna, "Kenapa? Kau bahkan tidak malu berada di bawahku tanpa sehelai kain pun kayak gini"


Blush! Wajah Luna semakin memerah dan wanita itu langsung menutup matanya dengan kedua telapak tangan.


Jarvish tergelak geli melihat tingkah Luna. Lalu pria itu berkata, "Sepertinya Nyonya Jarvish tidak ingin suaminya melepaskannya pagi ini. Oke, aku akan dengan senang hati ......."


Luna sontak membuka telapak tangannya dan berkata, "Mas Jarvish, tolong lepaskan aku"


Jarvish langsung tertegun. Ia menatap Luna dengan sorot mata sendu dan berkata, "Aku ingin mendengarnya lagi. Katakan lagi!"


"Ka.....Ka.......kalau aku katakan lagi, kamu akan beneran melepaskan aku, kan?"


"Hmm" Jarvish menatap Luna dengan sorot mata penuh misteri.


Entah apa yang ada di benak pria itu. Luna merasa curiga, terapi dia tidak punya pilihan lain selain mencoba berkata, "Mas Jarvish, tolong lepaskan aku" Wajah Luna merona malu dan jantungnya berdegup kencang saat ia mengucapkan kata itu.


Hei! Jantung berhentilah berdetak! Jangan khianati aku! Batin Luna.


"Ah! Kenapa kau imut sekali saat ini dan kenapa jantung kamu berdetak sekencang ini? Aku rasa aku harus menolong kamu meredakan jantung kamu terlebih dahulu sebelum aku melepaskan kamu" Jarvish mengedipkan matanya.


"Dengan apa kau akan meredakan detak jantungku?" Luna semakin curiga.


"Degan ini" Jarvish memagut bibir Luna dan Kemabli mengajak Luna berciuman.


Aaaaaaa!!!! Kenapa malah seperti ini. Luna mengerang frustasi di dalam hatinya.


Joshua dan Laura telah berpakaian dan mereka kembali bersitatap. Laura duduk di tepi ranjang dan Joshua berdiri di depan Laura dengan jarak satu setengah meter.


Sial! Aku bahkan lupa apakah kemarin aku benar-benar melakukannya dan memakai alat pengaman? Kalau aku benar-benar melakukannya tanpa alat pengaman bagaimana? Aku tidak mencintainya. Lalu, kalau dia sampai hamil, aku harus bagaimana? Batin Joshua tanpa melepaskan tatapannya dari wajah cantiknya Laura.


Laura kemudian bangkit berdiri dan berkata sambil berbalik badan, "Aku akan minum obat pencegah kehamilan kalau itu yang kau khawatirkan. Aku tidak akan hamil dan minta kamu bertanggung jawab. Ini kecelakaan dan lupakan saja!" Lalu, wanita itu melangkah pergi meninggalkan Joshua.


Joshua kemudian menjambak rambutnya dan berteriak frustasi, "Aaaarghhh! Kenapa aku bodoh banget! Alkohol benar-benar berbahaya ternyata"


Luna tidak pernah membayangkan betapa bibir pria yang menurutnya masih aneh itu bisa menggairahkan seperti yang dirasakannya saat ini. Luna bahkan menyerah kalah hanya dalam hitungan detik. Diperhatikannya bibir Jarvish bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Dilihatnya bibir Jarvish mencari-cari seperti anak kucing yang kelaparan, ke sana kemari. Lalu, kenikmatan yang Luna rasakan membuat wanita itu tanpa sadar mengeluarkan suara lenguhan dan rintihan.


Jarvish tersenyum senang dan berkata tanpa menghentikan aktivitasnya, "Bersuara lah, Sayang! Aku senang mendengar suara kamu"


Kepala Jarvish kemudian bergerak ke bawah, lelaki super tampan itu menciumi perut dan setiap tulang rusuk Luna.


Selimut telah bersarang di sekeliling kaki pria itu, namun pria itu tidak memberikan kesempatan padanya untuk melarikan diri.


Diciumnya pusar Luna, lebih rendah lagi. Dikecupnya tempat-tempat yang selama ini tidak diketahui dan disadari Luna bisa dicium.


Luna terhanyut dalam samudera perasaan dan menggeliat merasakan hal baru, yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Penyatuan raga di mobil mewahnya Jarvish kemarin terlalu tergesa-gesa, indah dan nikmat memang, namun beda dengan yang ia rasakan saat ini.


Napas pria itu nyaris tak terkontrol dan menerpa wajah Luna dalam hembusan yang hangat, saat pria itu akhirnya menyatukan raga dengan raganya.


Setelah melengkingkan kepuasan secara bersamaan, Jarvish menatap Luna dengan berapi-api dan berkata, "Aku masih menginginkanmu"


Aaaaaaa! Kau gila, Tuan Jarvish! Badanku sudah remuk redam, nih. Kenapa kau masih bergerak liar di atasku? Aaaaa! Luna menjerit pasrah di dalam harinya.


"Bersiap-siaplah kali ini aku akan memakan kamu seperti yang selalu aku inginkan" Ucap Jarvish dengan senyum misterius.


"A....aku.....Aaaaaa!!!!" Luna hanya bisa menjerit pasrah kemudian di detik selanjutnya hanya terdengar suara lenguhan dan rintihan.


"Aku suka melihat wajah kamu di pagi hari, Sayang. Kamu cantik banget pas bangun di pagi hari" Jarvish mengusap wajah Luna yang tampak kelelahan.


Luna hanya bergumam, "Hmm" Sambil memejamkan kedua matanya secara perlahan.


"Hahahaha, kamu lelah banget, ya? Maafkan aku, tapi itu salah kamu sendiri kenapa kamu menggoda aku di pagi hari"


Siapa yang menggoda kamu?! Dasar aneh! Kamu yang terus-menerus memeluk, mencium dan akhirnya, Ah! Dasar aneh. Batin Luna di dalam hatinya.


Melihat Luna bergeming dan memejamkan matanya, Jarvish mengulum senyum dan setelah mencium kening, pucuk hidung, pipi, dan bibir Luna, Jarvish bangun lalu pergi ke kamar mandi.


Setelah keluar dari kamar ganti, Jarvish mematut diri di depan cermin dan melihat Luna masih tidur pulas di ranjang dari cermin itu. "Tidurlah sepuas kamu, Manisku. Aku sangat mencintaimu"


Setelah memasang dasi, Jarvish kembali mendaratkan ciuman di bibir Luna, lalu melangkah keluar dari dalam kamar.


Dave memekik girang melihat pintu kamar Papanya akhirnya terbuka dan Papanya melangkah keluar, "Papa! Lho, Mama mana, Pa?" masih tidur, ya? Aku akan cium Mama dan bangunkan Mama"


Jarvish langsung menahan langkah Dave yang ingin masuk ke dalam kamarnya. Lalu, ia menggendong Dave dan berkata, "Mama capek banget. Biarkan Mama tidur dulu, ya?! Papa yang kan temani kamu sarapan dan mengantarkan kamu ke sekolah"


"Tapi, Dave belum dapat morning kiss dari Mama" Dave merengut.


"Muuahh" Ini morning kiss dari Mama dan, "Mmuuahh" Ini morning kiss dari Papa" Jarvish mendaratkan dua ciuman di pipi kanan Dave.


Dave tersenyum di depan papanya, tetapi hatinya masih merasa belum puas. Dia masih menginginkan mamanya yang mendaratkan morning kiss di pipinya.


Setelah mengantarkan Dave ke sekolah, Jarvish memerintahkan pengawalnya untuk benar-benar menjaga Dave. Setelah itu ia pergi ke kantor bersama dengan Surya.


Jarvish terus mengulas senyum bahagia.


Ada apa dengan Tuan pagi ini? Kenapa wajahnya memerah terus dan senyum terus? Batin Surya.


Setibanya di lobi, ada seorang satpam yang kedapatan mengangkat telepon genggam di depan Jarvish.


Satpam tersebut terkejut setengah mati dan langsung memasukkan telepon genggamnya di saku baju seragamnya dan segera membungkukkan badan, "Maafkan saya, Tuan. Istri saya ada di rumah sakit tengah melahirkan. Dia mengabarkan kalau anak saya sudah lahir dengan selamat. Tolong jangan pecat saya, Tuan"


Wah! Sial kau satpam! Kau bakal dipecat pagi ini. Batin Surya.


Jarvish yang tidak menyukai karyawannya menerima panggilan pribadi di sela tugas mereka, selalu memecat karyawannya tanpa ampun setiap kali ia menangkap basah karyawannya melakukan hal itu.


Tapi, yang terjadi adalah, "Anak kamu apa? Cewek apa cowok?"


Surya spontan melongo di depan Jarvish dan satpam itu sontak mendongakkan kepalanya karena kaget dan langsung menundukkan kepala lagi, "Maafkan saya, Tuan. Emm, anak saya cewek"


"Aku jadi pengen anak cewek" Jarvish tersenyum lebar.


Eh! Kok, malah senyum? Nasib Si Satpam gimana, nih? Tanya Surya di dalam hatinya.


Jarvish lalu menoleh ke Surya, "Kasih bonus lima juta rupiah untuk dia atas kelahiran anak ceweknya dan aku tidak akan memecatnya"


Surya langsung berkata, "Baik, Tuan" Dengan wajah penuh tanda tanya.


Satpam itu langsung bersimpuh, menangis terharu, dan sambil memegang kaki Jarvish ia berkata, "Terima kasih banyak atas kemurahan hati Anda, Tuan Jarvish Benjamin. Saya doakan Anda bisa secepatnya memiliki seorang Putri"


Jarvish menunduk dan membantu satpam itu untuk bangkit berdiri, kemudian berkata, "Aku tidak memecat kamu kali ini demi anak cewek kamu yang baru lahir. Tapi, jangan kamu ulangi lagi kesalahan kamu! Menerima telepon pribadi di sela tugas kamu"


"Baik, Tuan. Sekali lagi terima kasih banyak"


Jarvish kemudian melangkah pergi meninggalkan satpam itu dan bergumam, "Aku akan rajin-rajin mengajak Luna berolahraga. Aku akan bikin anak cewek bersama Luna. Dia pasti lucu dan imut mirip Luna. Dave sudah mirip sama aku. Jadi, kali ini aku akan bikin anak yang mirip sama Luna"


Surya terus menatap tuannya dari arah samping dengan heran, namun asisten pribadinya Jarvish tidak berani mengajukan pertanyaan apa pun. Dia takut merusak wajah bahagia tuannya.


Ana menunggu Jarvish di dalam ruang kerjanya Jarvish dengan penuh antusias.