Memories Of Love

Memories Of Love
Sukses



Terlihat kedua alis Jarvish mengerut dan menekan area di sekitar hidung serta bibirnya menyempit. Itu tanda kalau pria tampan itu marah besar.


Sedangkan Luna yang tengah dilanda kesedihan, mata bagian atas turun ke arah bawah. Serta, mata Luna menjadi tidak fokus dan bagian sudut bibir sedikit turun.


Kemudian dengan ekspresi jijik yang dapat dilihat dari hidung Jarvish dan daerah mata yang mengerut di daerah bagian atas dan bibir sedikit diangkat, pria tampan itu menarik kakinya sambil mendorong keras bahu kanan wanita itu dan berteriak, "Jangan sentuh aku!"


Luna jatuh ke samping kiri dan sontak menoleh ke Jarvish dengan sorot mata tajam dan napas menderu penuh amarah.


Brian sontak membantu Luna untuk berdiri.


"Seret dia keluar! Aku tidak Sudi melihat wajahnya dan tidak sudi mendengar ucapannya yang penuh kebohongan!" Jarvish berkacak pinggang dan melotot ke wanita yang masih berdiri dengan wajah geram di depannya. "Kau mabuk! Kau meneriakkan kata nggak jelas dan sekarang kau berani menatapku dengan geram, hah?! Dasar wanita gila yang mabuk!!!!! Seret dia sekarang juga!!!!!"


Brian diam mematung dan Luna langsung berteriak dengan wajah menantang, "Kamu yang gila! Kamu pria yang cerdas. CEO terkenal yang hebat. Kamu pasti tahu kalau donor sumsum tulang belakang hanya bisa diterima Si pasien jika donor itu berasal dari orangtua kandung atau saudara kandung. Jadi, kau pasti bisa berpikir kenapa aku meminta kamu untuk mendonorkan sumsum tulang belakang ke anak yang masih berbaring lemah di rumah sakit. Anak yang masih berjuang untuk hidup dan itu adalah anakmu!" Luna mulai meremas dadanya saa dadanya terasa sakit dan sesak.


"Hei! Kita tidak saling kenal. Kenapa kau berani melotot dan berbicara dengan bahasa informal denganku, Hah?! Dasar wanita gila!"


"Karena kau tidak pantas untuk dihormati. Aku juga sebenarnya malas bertemu denganmu. Kalau tidak demi kelangsungan hidup anakku, aku nggak akan pernah menemuimu"


Brian langsung maju untuk melindungi Luna dan bergegas membuka suaranya saat ia melihat Jarvish melangkah maju dan sepertinya hendak menyeret Luna keluar. Asisten pribadinya Jarvish itu segera berkata,"Nona ini adalah perempuan yang Anda tinggalkan di kamar hotel waktu pembukaan hotel Anda sekitar lima tahun yang lalu, Tuan"


Jarvish sontak mengerem langkahnya dan mendelik ke Brian sambil berkata, "Minggir! Kenapa kau melindunginya?" Jarvish mengabaikan semua ucapannya Brian.


"Saya melindungi Nona ini karena saya rasa, Nona ini tidak sedang berbohong, Tuan. Anda sebaiknya pergi ke rumah sakit untuk membuktikan semuanya. Daripada nanti Anda menyesal kehilangan Putra Anda kalau ternyata Putra dari Nona ini benar-benar adalah Putra Anda bersama dengan Nona ini, Tuan" Sahut Brian.


Jarvish sontak menengadahkan wajahnya ke langit-langit sambil berteriak kesal, "Aaarrghhhhh!!!!!"


Luna dan Brian diam mematung di tempat mereka masing-masing.


"Baiklah! Ayo kita ke rumah sakit. Tapi, aku juga akan lakukan tes DNA. Kalau kau terbukti berbohong, aku akan langsung menyeretmu ke penjara" Ucap Jarvish sembari berjalan melintasi Luna dan Brian


Luna tersenyum bahagia dan dengan menitikkan air mata, ia menoleh ke Brian, "Terima kasih banyak, Pak"


"Sama-sama Nona" Sahut Brian.


Beberapa jam kemudian, Jarvish keluar dari ruang lab lalu berjalan ke ruang Rontgen.


Luna dan Brian duduk di ruang tunggu dengan wajah harap-harap cemas.


Setelah selesai menjalani serangkaian tes, Jarvish duduk di sebelah Brian dengan wajah datar dan diam membisu.


Di empat puluh lima menit menunggu di ruang tunggu operasi, Jarvish mulai mengeluh, "Kenapa lama sekali? Kenapa juga aku bodoh banget mau ke sini dan menunggu nggak jelas di tempat yang nggak nyaman ini?"


"Saya tahu Anda tidak menyukai bau khas rumah sakit, Tuan. Tapi, demi kepentingan Anda juga, demi mendapatkan kepastian, Anda harus bersabar menunggu Tuan" Sahut Brian.


Sedangkan Luna yang duduk di bangku paling pojok memilih diam dan terus berdoa.


Dua jam kemudian, seorang dokter berjalan melintas depan Brian dan Jarvish. Dokter tersebut langsung menatap Luna dan berkata, "Selamat Bu, sumsum tulang belakangnya cocok. Operasinya berhasil. Dave sekarang sedang tidur pulas. Saat ini. Kita tinggal menunggu Dave sadar kembali"


"Sama-sama, Bu Saya rasa kita juga harus berterima kasih kepada papa kandungnya Dave. Di mana papa kandungnya Dave yang sudah bersedia menjalani serangkaian tes yang rumit juga sakit dan yang sudah bersedia mendonorkan sumsum tulang belangnya" Ucap dokter tersebut dengan senyum lebar.


Jarvish tertegun mendengar ucapan dokter tersebut sampai tanpa ia sadari ia berucap, "Aku yang sudah mendonorkan sumsum tulang belakang itu"


Luna sontak maju dan berhenti di depan Jarvish. Dia bersimpuh di depan Jarvish dengan derai air mata dan berkata di dalam isak tangisnya, "Terima kasih sudah menolong Anak saya. Terima kasih sudah menyelamatkan nyawa Dave"


Jarvish menunduk untuk melihat Luna dan seketika mematung.


Dokter yang menangani Dave langsung membantu Luna untuk bangkit berdiri dan di saat Luna mengusap air mata yang terus turun di kedua pipinya, dokter tersebut berkata, "Ternyata Papanya Dave adalah Anda, Tuan Jarvish. Saya sungguh-sungguh tidak menyangka. Anda bukan saja seroang CEO yang hebat, namun Anda ternyata juga seorang Papa yang hebat. Pantas saja kalau Dave hebat. Asal Anda tahu, Dave, Putra Anda, sama sekali tidak mengeluh dan menangis selama ia menjalani serangkaian tes dan tidak takut menjalani operasi. Ternyata Dave mendapatkan kehebatan itu dari Papanya"


Jarvish hanya diam membisu dan mematung. Dia benar-benar syok mendengar semua ucapan dokter tersebut.


"Anda punya anak yang hebat karena Anda hebat" Dokter tersebut kembali berucap ketika ia melihat Jarvish hanya diam membisu dan mematung.


Jarvish kemudian mundur ke belakang dan dengan wajah syok Jarvish membuat kedua kaki Jarvish seketika melemah.


Brian refleks memeluk bahu bosnya agar bosnya tidak jatuh tergeletak di atas lantai.


Dokter tersebut kemudian berkata, "Apa Anda baik-baik saja, Tuan? Anda pasti lemah dan lelah setelah menjalani serangkaian tes tadi. Apa Anda perlu rebahan dulu di ruang one day care?"


Jarvish menggelengkan kepala dan sambil menegakkan tubuhnya, ia berkata, "Saya baik-baik saja, Dok"


"Syukurlah kalau Anda baik-baik saja. Dave sudah siap untuk dipindahkan. Dave akan masuk ke kamar kelas berapa?" Ucap dokter tersebut.


"Kelas tiga aja, Dok" Sahut Luna.


"Lho, kenapa bukan VVIP. Apa Tuan Jarvish mengjinkan putranya masuk ke kamar kelas tiga yang penuh sesak dan sempit padahal Dave baru saja menjalani operasi berat dan......."


"Taruh anak itu di kamar VVIP. Aku akan tanggung semua biayanya" Sahut Jarvish dengan wajah datar,.dingin, dan kaku.


Luna sontak menoleh ke Jarvish untuk menolak Jarvish, namun Jarvish langsung berkata, "Jangan katakan apa pun saat ini!"


Luna langsung merapatkan bibirnya dan diam mematung.


"Baiklah. Mari ikut saya mengantarkan Dave ke kamar VVIP. Setelah menjelaskan kondisinya Dave, dokter tersebut pergi meninggalkan kamar VVIP tersebut dan Luna langsung pamit ke Jarvish untuk mengambil obatnya Dave ke apotik.


Sepeninggalnya Luna dan dokter tersebut, Jarvish duduk di tepi ranjang dan terus menatap wajah anak kecil yang masih tertidur pulas dengan wajah yang dipenuhi kabel alat-alat medis.


Jarvish meraih tangan mungil anak itu yang tidak dipasangi infus dan menggenggamnya erat sambil berkata, "Hasil tes DNA belum keluar. Tapi, kenapa aku merasa kalau aku punya ikatan dengan anak ini. Aku merasa kalau aku tiba-tiba menyayangi anak ini"


"Saya rasa Tuan tidak perlu menunggu hasil tes DNA. Semuanya sudah jelas. Golongan darah anak ini persis sama dengan golongan darah anda yang langka, sumsum tulang belakang Anda juga cocok untuk anak ini, dan wajah anak ini persis sama dengan wajah Anda, Tuan" Sahut Brian.


"Tapi, aku tetap akan menunggu hasil tes DNA keluar sebelum aku mengakui anak ini anakku" Sahut Jarvish sembari mencium tangan mungil anak laki-laki tampan yang berbaring di depannya dengan wajah tenang dan damai. "Dia sangat tampan" Tanpa sadar Jarvish menggumamkan kata itu.


"Iya, Tuan. Mirip sekali dengan Anda" Sahut Brian.