Memories Of Love

Memories Of Love
Debaran Jantung



"Tapi, sepertinya akan sangat sulit untuk bisa berhasil menculik Putra konglomerat itu, Bos" Sahut preman bertato yang berkepala botak.


"Iya. Penjagaan di rumah itu ketat. Sistem keamanannya pun luar biasa canggih. Lagian kalau anak itu keluar rumah, dikawal sama banyak sekali bodyguard" Sahut preman bertato yang berambut gondrong


"Makanya kita memantau dari sini untuk mencari celah yang tepat. Ribut aja terus. Percuma aku bayar kalian dengan sangat mahal" Laura langsung menyemburkan rasa kesalnya.


Luna memutuskan memakai baju terusan berbentuk celana panjang yang sering disebut jumpsuit berwarna hijau tosca. Jumpsuit itu memiliki ritsleting di bagian belakang dan di bagian depan kerah berbentuk huruf V itu cukup rendah. Wanita itu sempat meragu saat ia berdandan dan mematut diri di depan cermin. Namun, dia akhirnya memutuskan memakai jumpsuit itu daripada celana pendek jins dan kos santai berwarna cokelat terang.


"Pak Surya, ya, benar-benar ngerjain aku. Nyiapin baju ganti untukku,kok, seksi semua kayak gini. Hmm!" Ucap Luna dengan masih berdiri tegak di depan cermin.


Surya yang tengah sarapan di apartemen mewahnya sontak bersin-bersin dan setelah menyesap air putih, dia bergumam, "Pasti Tuan Jarvish tengah nyinyirin aku sekarang ini. Bikin aku terbatuk-batuk aja, hmm! Sabar, Surya!"


Luna menunggu selama hampir satu jam di meja makan. Kalau dihitung-hitung Jarvish dan Dave berada di dalam kamar mandi lebih dari satu setengah jam. "Ngapain aja mereka, kok, lama banget berada di kamar mandi? Keburu siang kalau mau ke pantai, nih" Saat Luna bangkit berdiri untuk memanggil Jarvish dan Dave, kedua pria tampan yang berwajah sangat mirip itu muncul di depan Luna dengan rambut tampak basah dan wajah semringah.


Luna kembali duduk sambil berkata, "Buruan sarapan, Dave. Mama mau ajak kamu ke pantai"


"Aku ikut, lho. Aku memenangkan lomba makan sayur, kan, kemarin?" Sahut Jarvish sembari membantu Dave untuk duduk.


"Iya" Sahut Luna dengan wajah dan nada terpaksa.


"Kok, jawabnya gitu? Nggak ikhlas, ya, aku ikut?"


"Iya. Aku sudah jawab iya" Sahut Luna sembari mengambilkan Dave nasi.


"Aku juga mau diambilkan nasi. Tolong" Jarvish berucap sembari mengulas senyum lebar di wajah tampannya.


Luna meletakkan piring nasinya Dave lalu mengambil nasi kembali untuk Jarvish.


"Terima kasih" Jarvish memberikan senyum paling tampannya untuk Luna.


"Lho, Pak Surya, kok, nggak ikut sarapan? Semalam Pak Surya tidur di sini, kan?"


"Nggak Nyonya. Tuan Surya semalam pulang. Katanya hari ini ada kencan dengan pacarnya" Sahut Bi Nina sembari meletakkan perkedel kentang yang baru saja ia angkat dari penggorengan.


"Terima kasih, Bi" Sahut Luna.


Jarvish mengamati Luna secara diam-diam dan dia langsung berkata di dalam hatinya, good job Surya! Kamu pilihkan baju yang pas untuk Luna. Hari ini Luna sangat sedap untuk dipandang. Manis banget kayak permen lollipop rasa melon, hihihihi.


Surya yang tengah menyetir mobil kembali bersin-bersin. Pria tampan berkacamata trendi itu kembali bergumam dengan kesal, "Tuan Jarvish tolong jangan sebut nama saya di hari libur kayak begini, hiks,hiks,hiks, saya bisa bersin-bersin terus dan itu capek, tahu!"


Jam delapan tepat, Luna, Dave dan Jarvish meluncur ke pantai dengan diikuti dua buah mobil Van berwarna hitam yang berisi sepuluh anak buah terbaiknya Jarvish yang dipilih secara langsung oleh Surya.


"Tuh, kan, gimana kita bisa culik itu anak kalau kayak gitu pengawalannya" Sahut preman yang berambut gondrong sembari melajukan mobil sedan mewahnya Laura secara perlahan.


Alih-alih menanggapi ocehan preman berkabut gondrong itu, Laura justru bergumam kesal, "Kenapa Luna ada di rumahnya Jarvish? Apa Jarvish memutuskan hubungan denganku karena wanita itu?"


Jarvish yang mengemudikan mobil sportnya sendiri.


Untuk mengisi keheningan, Jarvish mencoba trik yang diajarkan oleh Surya untuk membunuh kesunyian saat tengah berduaan dengan seorang cewek. Yeeeahhhh, walaupun dia tidak berduaan. Ada Dave di jok belakang.


Jarvish mencoba mengingat-ingat tebakan yang pernah Surya ajarkan padanya. Tapi, menurut Jarvish semua tebakannya Surya receh semua. Akhirnya dia mencoba untuk membuat sendiri tebakan yang bisa membuat hati wanita bertekuk lutut.


Jarvish melirik Luna yang tengah memandangi jalanan dengan menyandarkan pelipis ke kaca jendela dan Dave tidur terlentang di jok belakang.


"Emm, kenapa pantai itu pilihan liburan yang tepat untuk semua orang?"


"Kenapa?" Luna menyahut sambil menoleh pelan ke Jarvish.


"Karena debaran ombaknya bisa menenangkan pikiran. Sama seperti debaran jantung kita. Debaran jantung kita juga bisa menenangkan pikiran"


"Iya benar banget. Aku setuju"


"Lho,kok, setuju aja?"


Luna langsung mengerutkan kening dan wajahnya penuh dengan tanda tanya.


Melihat kerutan di kening Luna, Jarvish langsung berkata, "Lupakan saja"


Sial! Kenapa dia tidak merona malu dan bilang, ah! so sweet banget sih Mas Jarvish? Kenapa malah bilang setuju dengan santainya. Batin Jarvish.


Lalu, Jarvish mencoba tebakan yang pernah Surya berikan padanya.


"Kenapa wortel baik untuk kesehatan mata?"


Luna yang masih mengerutkan kening langsung berkata, "Karena mengandung Vitamin A"


"Salah"


"Lalu? Apa jawabannya?"


"Karena kelinci suka wortel dan kelinci tidak ada yang pakai kacamata" Jarvish lalu meringis karena ia merasa jawaban dan tebakannya Surya itu aneh kayak orangnya.


Luna sontak tertawa terbahak-bahak dan tanpa Luna sadari ia menepuk bahu Jarvish.


Jarvish tersentak kaget dan langsung melirik bahunya yang ditepuk oleh Luna. Seketika itu hatinya terasa hangat.


Luna kemudian paham dan sambil mengeraskan tawanya ia berkata, "Oh! Yang pertama tadi juga tebakan? Aku kira kamu kasih tahu aku soal debaran di pantai dan debaran di hati, hahahahaha. Kamu ternyata lucu juga, ya" Luna kembali menepuk bahu Jarvish.


"Oke kita main tebak-tebakan. Aku juga punya tebakan untuk kamu"


"Kamu punya tebakan?"


"Punya"


"Oke. Apa itu. Eits, tunggu dulu. Kalau aku bisa jawab hadiahnya dicium di pipi lagi, ya?!"


"Apaan, sih. Kalau bisa jawab, aku belikan es kelapa muda di pantai nanti"


"Oke lah" Sahut Jarvish.


"Nenek siapa yang suka melompat?" Tanya Luna.


"Nenek katak" Sahut Jarvish.


"Yeeaahhh, kok, tahu, sih"


"Lho, bener, ya?"


"Iya bener, nenek katak jawabannya" Luna merengut.


"Yeeeaayy aku bakalan ditraktir es kelapa muda"


Luna langsung mengulum bibir menahan senyum saat ia menatap Jarvish dari arah samping sambil bergumam di dalam hatinya, dia bisa menjawab tebakanku dengan cepat dan tepat. pantas saja Dave cerdas. Papanya aja sangat cerdas.


Luna langsung mengalihkan wajahnya ke jendela mobil saat ia merasakan jantungnya berdebar dan wajahnya memanas. Ada apa denganku? Kenapa aku tiba-tiba merasa aneh saat ku menatap Jarvish? Batin Luna.


"Sudah sampai" Ucap Jarvish sambil memarkirkan mobilnya.


Luna langsung menoleh ke jok belakang untuk menyentuh dada Dave dan berkata, "Dave, bangun Sayang. Sudah sampai, nih"


Dave langsung bangun dan berteriak kegirangan, "Yeeaayyy pantai!"


Dave langsung membuka pintu mobil dan berlari ke pantai dengan diikuti pengawalnya Jarvish.


Jarvish turun dari mobil dan berlari kecil untuk mensejajari langkahnya Luna untuk bertanya, "Anak kita belum pernah ke pantai?"


"Belum. Dave belum pernah pergi ke mana pun karena aku sibuk mencari uang selama ini"


Jarvish langung tertegun dan diam membisu.


Luna, Dave, dan Jarvish bermain kejar-kejaran . Lalu, bermain lempar-lemparan air dengan tawa ceria.


Setelah puas bermain, Jarvish mengajak Luna dan Dave menaiki anak tangga yang tidak jauh dari pantai.


"Tangga ini menuju ke mana?" Tanya Luna.


Jarvish yang menggendong Dave menyahut, "Di atas ada hotel bintang lima"


"Ada hotel bintang lima di dekat pantai ini?" Tanya Luna sambil menaiki satu demi satu anak tangga.


"Ada. Aku sudah booking dua kamar tadi pas kamu dan Dave membuat istana pasir"


"Lho, kita nginap? Nggak. Aku pulang aja dan ......."


"Iya. Kalau masih keburu kita bisa pulang. Kamarnya cuma untuk mandi dan ganti baju. Aku nggak mau Dave dan kamu mandi dan ganti baju di toilet umum" Jarvish mendengus kesal.


"Oooo" Sahut Luna.


Luna masuk ke kamar dan langsung dijaga oleh anak buahnya Jarvish. Sedangkan Jarvish mengajak Dave masuk ke kamar yang berada di sebelah kamarnya Luna.


Luna terkejut saat ia melihat sudah ada baju ganti di tas ranjang. "Dia perhatian juga ternyata"


Setelah mandi dan berganti baju, Mereka bertiga bertemu di depan pintu dan melangkah menuju ke restoran untuk makan.


Mamanya Jarvish meradang marah saat tahu anaknya mengajak Luna pergi ke pantai dengan Dave. Mamanya Jarvish langsung berkata ke supirnya, "Susul mereka!" Mamanya Jarvish yang datang ke rumahnya Jarvish karena ingin mengajak Dave dan Jarvish berlibur, tapi Jarvish malah pergi ke pantai dengan Luna dan Dave, membuat wanita itu marah besar karena cemburu, anaknya lebih mementingkan Luna Aditya.


Setelah makan, Dave mengajak Luna masuk ke kamarnya di saat Jarvish tengah menerima telepon penting. Jarvish menerima telepon cukup lama sampai Dave dan Luna ketiduran di sofa.


Jarvish meletakkan telepon genggamnya di meja lalu duduk perlahan di sofa bertepatan dengan terbukanya kedua kelopak matanya Luna.


"Maaf, aku kelamaan terima telepon"


"Nggak apa-apa"


Jarvish lalu membantu Luna merebahkan Dave di sofa dan saat Luna hendak menarik tangannya dari dada Dave, Jarvish memegang tangan Luna.


Luna membeku saat Jarvish menatapnya begitu dalam dengan mata sendu.


Lalu, Jarvish menunduk pelan dan mengecup bibir Luna.


Luna masih membeku saat Jarvish menatapnya kembali setelah pria itu mengecup bibirnya.


Debaran jantung keduanya seketika berpacu sangat kencang............