Memories Of Love

Memories Of Love
Ana



Jarvish memasukkan Luna dengan sangat hati-hati ke dalam mobil kemudian dia masuk ke dalam dan duduk di sebelahnya Luna.


"Jalan, Sur!" Ucap Jarvish sambil meletakkan kepala Luna di atas bahunya.


"Baik, Tuan"


Luna menegakkan kepalanya karena canggung. Dia masih belum terbiasa merebahkan kepalanya di bahu Jarvish.


"Tzk! Kamu baru aja lepas dari infus. Kamu pasti lemas dan sedikit pusing saat ini. Rebahkan kepala kamu di bahuku! Jarvish kembali merebahkan kepala Luna di bahunya lalu menahan kepala itu.


Luna hanya bisa menghela napas panjang.


Jarvish membelai rambut indahnya Luna yang sudah lama ingin dia belai sambil berkata, "Tidurlah!"


Luna menggeleng pelan dan berkata, "Aku tidak mengantuk"


Jarvish berkata, "Baiklah" sambil terus mengelus lembut rambut indahnya Luna.


Lama kelamaan, belaiannya Jarvish di kepalanya, membuat Luna mengantuk berat dan akhirnya dia jatuh tertidur.


Jarvish tersenyum dan ia menoleh untuk mendaratkan kecupan di kening Luna.


Surya melihat perhatian yang diberikan Jarvish ke Luna lewat rear-mirror vision dengan senyum senang.


Syukurlah Anda akhirnya bisa jatuh cinta pada wanita yang tepar, Tuan. Wanita yang baik hatinya, lugu, dan lembut. Batin Surya.


Akhirnya aku bisa mencium wangi rambut indahnya Luna dengan bebas. Aku bersyukur banget akhirnya aku bisa memiliki Istri sebaik ini. Jarvish bergumam di dalam jarinya sembari memainkan sejumput rambut hitam panjangnya Luna di jari jemarinya sambil sesekali ia ciumi rambut itu.


Sesampainya di rumah, Jarvish langsung berkata ke Surya, "Sur, kamu turun dulu aja. Aku nunggu Luna bangun. Kasihan tidurnya nyenyak banget. Dia imut banget kalau tidur aku nggak tega bangunin dia"


"Baik, Tuan" Surya lalu turun dari dalam mobil.


"Mama! Mama kenapa nggak pulang semalam? Mama sakit, ya, kata Pak Temon Mama menginap di rumah sakit" Dave berlari masuk dan hendak melompat minta gendong mamanya, Jarvish langsung maju dan merengkuh Dave ke dalam gendongannya sambil berkata, "Mama masih lemas. Jangan minta gendong Mama dulu, ya?!" Jarvish mencium pipi Dave dengan gemas.


Luna mengusap pipi Dave, mencium kening Dave dan berkata, "Tapi, Dave boleh menemani Mama bobok"


"Iya. Dave akan jaga Mama biar Mama pilih dan tidak lemas lagi" sahut Dave dengan mimik wajah yang sangat serius


"Papa akan antar kalian" Jarvish menurunkan Dave, menggandeng tangan Dave dan merangkul bahu Luna untuk ia giring menuju ke kamarnya.


Eh! Kenapa dia mengarahkan langkahku ke kamarnya? Luna sontak menahan langkahnya dan menoleh ke Jarvish dengan wajah panik.


Jarvish ikutan mengerem langkahnya dan menoleh ke Luna sambil bertanya, "Kenapa?"


"Kamarku dan Dave di sana. Kenapa kamu membawa aku ke sana? Itu, kan, kamar kamu?"


"Kita Suami Istri sekarang. Kita harus tidur sekamar mulai hari ini"


"Hah?!" Luna tersentak kaget.


"Dave juga mau tidur sama Papa dan Mama, boleh?"


"Boleh" Sahut Luna dengan penuh semangat dan Jarvish hanya bisa menghela napas panjang. Impiannya tidur seranjang berdua dengan Luna seketika buyar.


Nanti aja kalau Luna sudah kembali fit, aku akan bilang sama Dave secara pelan kalau Dave sudah besar dan harus belajar tidur sendiri di kamarnya sendiri. Batin Jarvish.


Jarvish membantu Luna merebahkan diri di ranjang dengan penuh kasih sayang, menyelimuti Luna, lalu menoleh ke Dave yang sudah melompat naik ke ranjang untuk berkata, "Tolong jaga Mama,ya, Mama mau menemui klien Papa"


"Siap, Pa"


Jarvish mencium kening Dave lalu Dave berkata, "Mama nggak dicium, Pa"


Luna mendelik ke Dave, Dave tersenyum lebar dan Jarvish langsung berkata dan mengedipkan mata ke Dave sambil berkata, "Cium dong" Lalu, mencium kening Luna..Setelah mengusap pipi Luna dan Dave secara bersamaan, pria tampan itu melangkah keluar meninggalkan anak dan istrinya untuk menemui kliennya.


"Ah! Iya. Aku mandi dulu" Jarvish memutuskan untuk mandi di kamar tamu karena dia tidak ingin menganggu istirahatnya Luna.


Setelah selesai mandi dan memakai setelan jasnya, dia berkata ke BI Nina, "Bi, tolong ingatkan Luna untuk minum vitamin. Vitaminnya aku taruh di nakas yang ada di kamarku"


"Baik, Tuan"


Jarvish lalu melangkah sambil berkata, "Kita berangkat, Sur"


"Siap, Tuan" Sahut Surya sambil mengekor tuannya.


Di sela-sela rapat dengan kliennya, telepon genggamnya Jarvish berbunyi dan saat Jarvish melihat panggilan itu dari mamanya, pria tampan itu menyerahkan telepon genggamnya ke Surya, "Kamu angkat telepon ini di luar! Berisik, ganggu"


Surya menerima telepon genggam itu dan langsung berlari keluar, "Halo, Nyonya"


"Lho, kok, kamu yang angkat teleponnya? Jarvish mana? Aku butuh bicara dengan Jarvish saat ini. Penting"


"Tuan masih rapat dengan kliennya, Nyonya dan Tuan sedang tidak ingin diganggu" Sahut Surya dengan nada sopan.


"Kalau gitu, bilang ke Jarvish untuk menemui aku di restoran Delima di jam makan siang. Ada hal penting yang ingin aku sampaikan ke dia. Jangan lupa!"


"Baik, Nyonya" Sahut Surya.


Tepat di jam makan siang, Jarvish berhasil menandatangani kontrak kerja sama bernilai milyaran rupiah. Setelah menyalami kliennya, Jarvish langsung bangkit berdiri dan berkata ke Surya, "Kita balik ke kantor, Sur. Kita temui karyawan kita yang bernama Budi terkait rekaman CCTV yang ada di ruang kerjanya Luna. Aku penasaran apa isi CCTV itu"


"Tapi, Nyonya meminta Anda datang di restoran Delima sekarang juga, Tuan"


"Untuk apa?"


"Katanya ada hal penting yang ingin Nyonya sampaikan"


"Sial! Wanita itu bikin aku penasaran aja. Apa Mama bilang hal penting apa?"


"Tidak Tuan" Surya menggelengkan kepalanya.


Kata hal penting selalu membuat Jarvish penasaran. Akhirnya pria tampan itu memutuskan untuk menemui mamanya terlbeih dahulu.


Setibanya di restoran Delima, Jarvish celingukkan mencari keberadaan mamanya. Tapi, sosok mamanya tidak tampak di dalam restoran yang tidak begitu luas tapi mewah itu.


"Lho, Mamaku mana?"


"Saya juga tengah mencarinya, Tuan"


Tiba-tiba ada suara lembut, "Jarvish Benjamin? "


Jarvish dan Surya tesentak kaget dan secara bersaman kedua pria tampan itu berbalik badan dengan pelan.


Jarvish dan Surya menautkan alisnya secara bersamaan saat mereka berhadapan dengan seorang wanita cantik dengan penampilan elegan dan mewah.


"Kamu siapa? Kenapa kamu bisa tahu namaku?"


"Aku Ana. Teman sekolah kamu dulu. Kamu lupa?"


Jarvish mendengus kesal dan berbalik badan sambil berkata, "Ray, kita pergi! Aku tidak kenal dia. Aku akan cari Mama dan ...."


"Mama kamu yang menyuruhku ke sini. Mama kamu adalah sahabatnya Mamaku" Sahut wanita itu dengan cepat sebelum Jarvish melangkah lebih jauh meninggalkan dirinya.


Jarvish kembali memutar badan dengan pelan dan menatap wanita cantik berpenampilan mewah nan elegan itu untuk berkata, "Aku tidak ingat sama kamu dan aku tidak tertarik sama kamu" Lalu dengan santainya Jarvish berputar badan kembali dan melangkah lebar meninggalkan wanita itu.


Surya langsung berlari menyusul tuannya dan wanita yang bernama Ana ikutan berlari menyusul Jarvish.