
Luna lalu bangun dan Jarvish langsung menahannya, "Mau ke mana?" Jarvish menarik Luna hingga tubuh ramping istri manisnya itu jatuh kembali di atas dadanya.
"Mas! Aku harus bangun, aku harus... hmmmppppt"
Jarvish membungkam bibir Luna dengan bibirnya dan berkata, "Aku menginginkannya Lagi"
Luna terkesiap mendengar ucapan suaminya dan sontak menarik bibirnya untuk berkata, "Hah?!"
Jarvish menoel ujung hidung Luna dan sambil terkekeh geli ia berkata, "Kok malah hah?! Aku pengen lagi" Jarvish menarik tengkuk Luna dan mengajak istrinya untuk berciuman.
Luna menarik diri lalu menahan dada Jarvish dan berkata, "Aku harus masak, Mas. Kata orang di luar sana, untuk memikat hati mertua harus dengan masakan"
"Nggak usah. Nanti kamu capek. Kamu urus saja Suami kamu ini. Kita nanti mampir ke restoran dan beli makanan untuk Mama"
"Nggak boleh seperti itu. Aku akan masak sekarang. Lepaskan aku! Kalau kita berolahraga lagi, aku bisa pingsan, Mas"
"Hahahahaha. Baiklah. Tapi, kasih aku ciuman dulu" Jarvish memonyongkan bibirnya.
Luna mengecup cepat bibirnya Jarvish lalu segera melompat dari atas tempat tidur dan sambil berlari kecil ia memakai kembali semua baju yang sudah ia pungut dari atas lantai dan Jarvish sontak tergelak geli melihat tingkah konyolnya Luna itu.
Jarvish lalu menelepon Surya, "Sur! Kamu jemput Dave dan bawa pulang ke rumah. Aku ada urusan penting sama Luna"
"Baik, Tuan" Sahut Surya.
Setelah menelepon Surya, Jarvish memakai baju untuk bersiap mengantarkan Luna ke salon dan ke butik lalu mengunjungi mamanya.
Jarvish keluar dari dalam kamar dan langsung menuju ke dapur Sesampainya di dapur, pria tampan itu melangkah pelan ke belakang tubuh istri manisnya dan langsung melingkarkan lengan kekarnya di pinggang ramping istri tercintanya.
Luna terlonjak kaget dan langsung menoleh. Kecupan hangat langsung mendarat di bibir Luna.
Luna refleks menoleh ke kanan dan ke kiri. Jarvish sontak terkekeh geli lalu berkata, "Kau cari apa? Nggak ada Bi Nina di sini. Aku bersyukur banget Papa kamu nggak punya asisten rumah tangga. Jadi, aku bisa bebas memeluk dan mencium kamu"
Jarvish kembali mengecup bibir Luna, "Kamu seharusnya nggak perlu bikin Pizza sendiri kayak gini. Kita bisa beli di luar" Jarvish masih melingkarkan lengannya di pinggang rampingnya Luna.
Luna kembali menatap pizza yang masih ada di penggorengan anti lengket dan mulai menaburi pizza itu dengan sosis, daging asap, bawang Bombay dan terakhir keju, lalu mengecilkan api kompornya sambil berkata, "Aku pengen masak pizza sendiri untuk Mama kamu, Mas. Kata Bi Nina, Mama kamu suka banget sama pizza"
"Hmm dan anaknya suka banget mencium wanita di depannya inj" Jarvish berucap sembari mencium cuping telinganya Luna.
Luna bergidik geli dan sontak berkata, "Sayang, jangan begini ah, pizza-nya bisa hangus dan pahit rasanya kalau kamu terus mengganggu aku kayak gini"
"Biar aja hangus dan pahit. Kalau gosong kita tinggal beli di luar nanti" Jarvish meneruskan aksinya dan kali ini pria itu menjilat kupingnya Melati.
"Aaahh, sayang, hentikan, aahh!" Luna mulai kewalahan menerima serangannya Jarvish dan refleks ia mematikan kompor.
Jarvish kini menempelkan wajahnya di leher cantiknya Luna sambil berkata, "Kita belum pernah melakukannya di dapur, kan, Sayang? Ayo kita coba"
Luna melenguh dan berusaha menjawab di sela sela cumbuan suaminya karena, dia mulai merasa lemas mendapat cumbuan manis yang bertubi tubi dari suami tercintanya "Aku....aaahh...sayang...aku...taruh pizza-nya di piring dulu, ya, aahh! Mas! Hentikan dulu!"
Jarvish tidak mau mendengarkan kata hentikan dulu, ia hanya mendengarkan lenguhan istrinya dan menjadi semakin bergairah lalu dengan pelan dia membalikkan badan Luna dan sekarang posisi mereka menjadi berhadapan dan berhimpitan.
Luna langsung melahap bibir istri manisnya
dan berucap di tengah tengah serangannya "Aku pengen memakan kamu terlebih dulu sayang, di sini, saat ini juga. Aku pengen nyoba melakukannya di dapur" Pria super tampan itu semakin memperdalam ciumannya dan tangannya mulai bergerilya.
Luna akhirnya hanya bisa pasrah dan menikmati cumbuan penuh cinta dari suaminya. Wanita itu juga membiarkan suaminya menggendongnya dan mendudukkannya di atas meja makan di saat dirinya sudah tidak berdaya lagi menerima serangan dari suaminya yang bertubi-tubi.
Biarkan saja ia melakukan apa yang ia mau. Lagian menolak suami, kan, dosa. Batin Luna.
Jarvish menyibak roknya Luna dan melesak masuk. Dia menyatukan raga dengan istri tercintanya di atas meja makan.
Jarvish kemudian membopong Luna dan memandikan Luna di saat ia melihat istrinya melemah kalah di dalam pelukannya.
Tiga puluh menit kemudian, Jarvish bertanya ke Luna yang tengah memejamkan mata di atas kasur, "Pizzanya tinggal ditaruh di piring, kan?"
Mendengar kata pizza, Luna langsung bangun dan Jarvish sontak tergelak geli, "Kau tidurlah! Aku akan menangani pizza masakan kamu tadi"
"Oke. Aku akan gendong kamu ke dapur"
Luna menepis pelan tangan Jarvish sambil berkata, "Nggak usah, Mas. Aku bisa bangun dan jalan sendiri,kok"
Namun, pria itu tetap membopong Luna sambil berkata, "Kamu capek mana bisa bangun dan jalan sendiri" Dan wanita berparas manis itu hanya bisa menghela napas panjang dan berkata di dalam hatinya, yang bikin capek aku, kan, kamu, Mas.
Jarvish menurunkan Luna dengan pelan di depan kompor dan berdiri terus di belakang Luna.
Luna menoleh ke belakang, "Kenapa Mas masih berdiri di belakangku?"
"Aku akan jaga kamu. Kalau kamu roboh aku bisa langsung menangkap tubuh kamu"
"Mana ada roboh, Mas. Aku cuma ngantuk berat, tapi masih bisa menahannya demi pizza ini"
"Pokoknya aku akan terus menjaga kamu seperti ini"
Luna kembali menghela napas panjang.
Setelah selesai memasukkan pizza bikinannya sendiri di dalam wadah khusus tahan panas. Luna menoleh ke suaminya dan sambil menjinjing wadah itu ia berkata, "Aku siap pergi sekarang!"
"Hmm" Jarvish kembali membopong Luna.
Jarvish membawa Luna ke sebuah butik mewah dan memilih dress sederhana yang berkelas dan Luna tampak sangat memesona memakai dress itu. Lalu, Jarvish membawa Luna ke salon. Pria tampan itu rela menunggui Luna di salon selama berjam-jam dan langsung berdiri tertegun saat Luna telah selesai didandani.
Jarvish langsung memeluk pinggang ramping Luna dengan kedua lengan kekarnya dan berkata, "Kecantikan kamu mengalahkan kecantikan semua putri di negeri dongeng"
Lalu, Jarvish membopong Luna dan Luna langsung mengedarkan pandangannya ke segala arah sambil memekik, "Mas! Ada banyak orang di salon ini dan semua melihat kita. Turunkan aku!"
"Bodo amat! Kamu adalah Istriku. Aku mau ngapain terserah aku" Jarvish lalu melesat keluar dari dalam salon itu dan membantu Luna masuk ke dalam mobil dengan perlahan.
"Mas, uang yang Mas keluarkan di butik dan di salon banyak banget. Apa nggak sayang?"
Jarvish mencium tangan Luna setelah ia memakaikan sabuk pengamannya Luna dan berkata setelah menoel pucuk hidungnya Luna, "Aku bahkan akan membeli butik dan salon itu kalau kamu menginginkannya"
"Apaan, sih, Mas. Kenapa selalu bercanda"
"Aku serius. Kamu mau bukti? Oke, aku, buktikan"
Luna langsung menahan lengan Jarvish, "Siapa yang pengen beli butik dan salon. Aku nggak hanya pengen Mas dan Dave terus ada bersamaku"
Jarvish mencium kening Luna lalu ia melepaskan tangan Luna kemudian membungkuk untuk membuka laci dashboard. Jarvish mengeluarkan amplop berwarna cokelat dari sana dan meletakkan amplop itu ke atas pangkuannya Luna.
"Apa ini, Mas" Luna menunduk.
"Buka dan masukkan ke dalam tas kamu setelah kamu keluarkan semua isi amplop itu"
Luna mengeluarkan isi amplop itu. Ada satu buah buku tabungan, dua buah kartu. Satu kartu berwarna biru muda dan satu kartu lagi berwarna hitam pekat. Lalu, Luna menoleh ke Jarvish, "Apa ini Mas?"
"Itu buku tabungan. Aku akan transfer gaji bulanan kamu di situ dan itu kartu ATM-nya dan kartu hitam itu adalah kartu kredit tanpa batas. Kamu bisa pakai kartu hitam itu sesuka kamu di dalam maupun di luar negeri"
"Gaji bulanan? Bukankah gajiku udah ditransfer ke rekeningku selama ini, Mas? Kenapa ada buku tabungan lagi dan.......astaga! Banyak banget, Mas" Luna terkejut melihat tulisan angka yang tertera di dalam buku tabungan itu.
"Itu kewajiban aku sebagai suami kamu. Itu gaji khusus dari seorang Suami ke Istrinya
"Hah?! Tapi, ini banyak banget, Mas"
"Kalau banyak banget, gimana kalau kamu berhenti bekerja dan di rumah saja ngurus Dave dan........"
"Aku suka bekerja, Mas. Maaf. Aku nggak bisa diam saja di rumah"
"Iya. Oke. Baiklah. Kamu boleh lakukan apa pun yang kamu suka. Aku nggak akan maksa kamu berdiam diri di rumah. jadi, nggak usah cemberut gitu" Jarvish menoel ujung hidungnya Luna dan terkekeh geli saat Luna menghela napas panjang.
Lalu pria tampan itu mulai melajukan mobilnya sambil berkata, "Sekarang kita kunjungi Mamaku"