
Karena terlalu lelah sepanjang hari belum beristirahat dan bosan mendengarkan celotehan Jarvish tentang strategi lomba esok hari, Luna ketiduran dengan memeluk Dave.
Dave memanggil papanya dengan suara lirih, "Pa, Mama ketiduran. Dave takut bergerak, nih. Dave takut membangunkan Mama"
Jarvish langsung menghentikan celotehannya dan menoleh ke Dave. Pria itu tertegun sejenak saat ia melihat Luna lelap tertidur dengan kepala terkulai di sandaran sofa dan kedua lengannya memeluk Dave seperti seekor burung Elang yang menyembunyikan anaknya di dalam sayapnya untuk melindungi anaknya dari serangan predator.
"Pa, kok malah melamun?" Dave Kembali berkata lirih.
"Ah! Maaf. Papa akan bantu kamu keluar dari dekapan Mama kamu pelan-pelan, lalu Papa akan membopong Mama kamu ke kamarnya.
"Hmm" Sahut Dave dengan suara lirih dan anggukkan kepala.
Jarvish menarik pelan kedua lengan Luna dan berbisik ke Dave, "Keluarlah dari pelukan Mama kamu sekarang!"
Dave merosot turun lalu berdiri tegak di depan papanya yang masih berusaha membopong mamanya.
Setelah berhasil membopong Luna, Jarvish berkata ke Dave, "Kamu masuk ke kamar kamu, gih! Tidur yang cepat karena besok, kita harus berangkat pagi"
"Hmm" Sahut Dave. Lalu anak laki-laki tampan itu berlari kecil menuju ke kamarnya sementara papanya menuju ke kamar mamanya.
Jarvish membaringkan Luna dengan pelan di atas kasur lalu merapikan rambut Luna yang menutupi wajah manisnya wanita itu. "Baru kali ini aku tidak marah melihat ada orang ketiduran di saat aku tengah berbicara. Berani benar kamu tidur di saat aku tengah menyampaikan point-point penting thank kita besok. Tapi, anehnya aku bisa marah sama kamu"
Jarvish kemudian menyelimuti Luna dan bangkit berdiri. Pria itu mengedarkan pandangan untuk melihat isi kamarnya Luna.
Jarvish berdiri cukup lama di depan lukisan anak kecil tengah bergandengan tangan dengan seorang wanita dan ada sebuah roket di belakang tengah meluncur ke bulan. Jarvish menitikkan air mata tanpa ia sadari saat pria itu membaca tulisan, "Aku, Mama, dan Papa bulanku"
Jarvish tersenyum bangga menatap lukisan itu dan bergumam, "Dave pandai melukis juga ternyata. Dia benar-benar fotokopi diriku"
Lalu, Jarvish mengambil titik air yang jatuh di pipinya kemudian ia menatap titik air yang kini ada di ujung jari telunjuknya sambil bergumam, "Titik air apa ini? Apakah aku menangis? Ah! Mana mungkin aku menangis. Aku sudah lama tidak kenal apa itu tangisan"
Dan saat Jarvish menunduk, ia menemukan foto Luna di sebuah bed rumah sakit. Di dalam foto itu Luna tersenyum sangat manis sambil mendekap seorang bayi mungil. Jarvish mengusap pigura foto itu dan bergumam, "Bayi ini pasti Dave"
Jarvish kemudian dengan perlahan berbalik badan untuk menatap Luna. Lalu, pria tampan itu bergumam, "Maafkan aku. Karena kebodohan dan kecerobohanku, aku telah membuatmu menderita. Kamu telah membesarkan Dave sendirian selama ini dan terima kasih banyak kamu tidak menggugurkan kandungan kamu. Terima kasih banyak kamu mempertemukan aku dengan Dave"
Pria tampan itu kemudian melangkah meninggalkan kamarnya Luna dengan perasaan campur aduk.
Saat Jarvish masuk ke kamar Dave, ia mendapati Dave sudah tertidur lelap. Pria tampan itu kemudian naik ke atas ranjang dan memeluk putranya dengan penuh ucapan syukur.
Keesokan harinya, Setelah selesai menyiapkan sarapan, Luna memasukkan semua bahan untuk limba memasak ke dalam tas belanja yang terbuat dari rotan. Saat Jarvish dan Dave sarapan, Luna menelepon Joshua, "Mas, hari ini aku datang ke kantor agak siang, ya?!"
"Ah, iya. Nggak papa. Kamu hari ini mendampingi Dave lomba dalam rangka hari Ibu, kan?" Sahut Joshua.
"Iya. Doakan Dave bisa mendapatkan. trophy juara satu yang selama ini ia idam-idamkan, ya, Mas"
"Pasti. Aku akan selalu doakan yang terbaik untuk kamu dan Dave. Semangat dan semoga berhasil membawa pulang trophy itu"
"Amin" Sahut Luna dengan senyum manisnya.
Jarvish terus menatap Luna dengan hati yang mulai terasa aneh dan hatinya tiba-tiba terasa sesak melihat Luna terus tersenyum ketika wanita itu mengobrol dengan Joshua melalui telepon genggam.
Luna yang masih tersenyum sangat manis, memasukkan telepon genggam untuk mulai sarapan. Wanita itu tidak menyadari kalau Jarvish terus menatapnya.
Sedangkan Dave masih asyik menikmati nugget sayur bikinan mamanya.
Alih-alih segera mengangkat panggilan masuk di telepon genggamnya, Jarvish justru berkata ke Luna, "Kenapa kau menatapku?"
"Lho, siapa yang menatap kamu? Telepon genggam kamu bunyi terus dan aku sontak mengangkat wajah karena kamu tidak segera mengangkat panggilan telepon itu"
"Oh! Iya. Aku akan mengangkatnya. Ini dari Laura"
"Iya. Buruan angkat! Kasihan Nona Laura nunggu lama" Sahut Luna.
"Kamu nggak keberatan aku mengangkat telepon dari Laura?"
Luna sontak menautkan kedua alisnya sambil bertanya, "Kenapa aku harus keberatan?"
"Kamu nggak merasakan apapun saat ini?" Jarvish menatap penuh selidik kedua bola matanya Luna. Pria itu berharap menemukan. tatapan penuh kecemburuan di sana.
Namun, dia justru mendengar kata tanya, "Merasakan apa?" Luna semakin menarik ke dalam kedua alisnya
Jarvish langsung bangkit berdiri dan dengan wajah kesal ia berkata, "Lupakan saja!"
Luna kembali menunduk untuk kembali menikmati sarapannya dengan tanpa rasa bersalah.
Dave menoleh ke mamanya, "Ma, Papa sepertinya kesal"
"Papa kamu memang wajahnya seperti itu terus. Cemberut dan dingin. Kesal atau nggak, tuh, nggak ada bedanya" Sahut Luna sembari mengusap lembut puncak kepalanya Dave.
"Kenapa lama banget angkat teleponnya?"
"Aku sibuk" Sahut Jarvish dengan nada santai.
Laura menghela napas panjang, "Kamu di mana? Aku cari ke rumah kamu dan ke kantor kamu dari kemarin, aku tidak menemukan kamu. Kamu juga nggak nelpon aku" Cerocos Laura dengan nada sedikit meninggi karena kesal.
"Mana pernah aku nelpon kamu?" Sahut Jarvish dengan santainya
Laura kembali menghela napas panjang dan berkata, "Baiklah aku ke kantorku dulu kalau gitu*
Banyak pasang mata menatap Luna, Jarvish dan Dave. semua kadang mata itu melihat keserasian Jarvish dan Luna.
Lomba pertama adalah lari estafet dengan menggunakan karung.
Luna berada di garis start dengan was-was.Sedangjan Jarvish ada di rendah lintasan kari, dan Dave berada tidak jauh di depannya Jarvish.
Luna menarik ujung karung dengan tangan kiri dan tangan kanan memegang balok kayu.
"Semangat jangan takut! Kamu pasti bisa" Terdiam Jarvish untuk memberikan dukungan semangat ke Luna.
.
"Ayo,Ma! Mama pasti bisa" Teriak Dave.
Saat peluit dibunyikan, Luna sontak melompat ke depan dengan karungnya.