Memories Of Love

Memories Of Love
Idaman



Luna sampai di depan pintu rumah mewahnya Jarvish dan Jarvish yang membukakan pintu, "Masuklah! Dave asyik membantu Laura memasak"


"Benarkah?"


"Hmm. Masuklah!" Jarvish berucap dengan nada datar dan wajah dingin.


"Lebih baik aku tidak usah masuk. Aku takut mengganggu kebersamaan kamu dengan Laura dan Dave. Aku nitip bolu ini aja untuk Dave"


"Kamu takut menganggu kebersamaanku dengan Laura atau kamu takut cemburu melihatku dengan Laura?"


"Jangan terlalu percaya diri" Luna mendelik kesal ke Jarvish.


"Aku tampan, aku cerdas, aku kaya raya. Kenapa aku tidak boleh terlalu percaya diri"


"Aku pulang"


Jarvish langsung mencekal lengan atas Luna dan berkata, "Kalau kamu enggak takut cemburu maka buktikanlah dengan masuk ke dalam dan menikmati makan malam di rumahku bersama dengan Laura. Lagipula tadi siang kamu secara tidak langsung sudah mengiyakan undangannya Laura. Jadi, kamu harus masuk"


Luna menarik lengannya sambil menghela napas panjang, mengulum bibir menahan kesal dan menatap Jarvish dengan sangat tajam.


Namun, Jarvish mengabaikan ekspresi kesalnya Luna. Pria tampan itu berbalik badan dengan santainya sambil berkata, "Aku memberi kamu waktu untuk berpikir sebelum kamu masuk ke rumahku"


Luna melepas sepatunya di depan pintu dan melangkah masuk dengan pelan ke dalam rumah dengan mengacungkan tinju ke punggungnya Jarvish sambil menggeram lirih, "Aku ingin menjauh dari kamu dan tidak pernah bertemu lagi denganmu. Tapi, sayangnya tidak bisa karena ada Dave di antara kita"


"Dapurnya lurus belok kanan. Ini bolunya bawa ke sana sekalian" Ucap Jarvish.


Luna meriah bolu dari tangan kanan Jarvish dan langsung berjalan di depan Jarvish tanpa menoleh ke pria tampan yang sangat aneh menurutnya itu.


Sesampainya di dapur, Luna langsung disambut pelukannya Dave, "Mama! Dave senang sekali Mama ada di sini"


"Mama merindukanmu, Sayang" Luna menciumi wajah Dave. Dave tergelak geli sambil berkata, "Dave juga sangat merindukan Mama"


Laura yang tengah merebus pangsit, langsung menoleh dan tersenyum ke Luna, "Selamat datang. Aku masak pangsit, mie goreng, dan nasi goreng. Kamu bawa bolu, kan, jadi aku tidak bikin makanan pencuci mulut. Maaf kalau nanti masakanku kurang sedap soalnya kata Jarvish aku tidak boleh memasukkan penyedap makanan karena Dave alergi sama penyedap makanan"


"Ah! Iya. Terima kasih sidah memperhatikan alerginya Dave"


"Aku menyayangi Dave seperti Putraku sendiri" Sahut Laura.


Luna tersenyum tipis di saat hatinya merasa tidak rela ada wanita lain berkata menyayangi Dave seperti putranya sendiri. Luna langsung berdeham untuk mengusir rasa dan pikirsn negatif itu, lalu berkata, Aku akan menata bolunya. Dave, bisa ambilkan nampan untuk menata bolu ini?"


"Bisa!" Sahut Dave.


Satu menit kemudian, Dave berdiri di depan Luna dan menyerahkan nampan yang terbuat dari plastik dan berbentuk bundar. Luna tersenyum ke Dave dan berkata, "Terima kasih, Sayang"


Dave menyahut dengan senyuman, "Sama-sama, Ma"


Luna kemudian menata bolu bikinannya di atas nampan itu.


Bi Nina, asisten rumah tangganya Jarvish berkata, "Tuan muda, ayo mandi dulu!"


"Baik, Bi. Ma, Dave mandi dulu, ya"


"Iya, Sayang" Sahut Luna.


Sepeninggalnya Dave, Laura langsung mendekati Luna untuk berkata, "Aku tidak akan bertanya bagaimana caranya kamu dan Jarvish bisa memiliki Dave. Itu adalah kesalahan kalian di masa lalu dan aku tidak mau ikut campur. Tapi, satu hal yang harus kamu camkan dengan baik, Jarvish milikku sekarang. Aku dan Jarvish akan segera bertunangan. Jadi, aku harap kamu tidak ......."


"Jangan khawatir! Aku tidak akan merebut Jarvish atau menuntut Jarvish untuk menikahiku karena ada Dave. Aku tidak mencintai Jarvish" Sahut Luna dengan cepat.


"Jangan salah paham padaku. Aku menyukaimu. Aku juga tidak cemburu padamu. Aku hanya menegaskan kepemilikanku atas Jarvish Benjamin"


"Kenapa kamu diam cemburu padaku? Apakah kamu tidak begitu mencintai Jarvish? Maafkan aku. Karena biasanya di dalam cinta, selalu ada rasa cemburu"


"Aku tidak cemburu padamu karena Jarvish tidak akan mungkin jatuh cinta. Dia pria yang tidak mungkin jatuh cinta. Dan dia berhutang budi padaku. Selamanya dia akan menghargai aku dan tidak akan menghargai wanita lain karena dia sudah berjanji padaku seperti itu. Aku adalah teman masa kecilnya yang sangat berarti baginya" Ucap Laura dengan senyum bangga dan penuh percaya diri.


"Syukurlah kalau begitu. Aku ikut senang dengan hubungan kalian" Sahut Luna.


Laura langsung menggenggam kedua tangan Luna dan berkata dengan wajah semringah, "Terima kasih banyak atas dukungan kamu. Aku menyukaimu, Luna"


"Aku juga menyukaimu, Laura" Luna tersenyum manis di depan wanita cantik yang memiliki tubuh molek itu.


Jarvish membantu Dave memakai baju sambil bertanya, "Apa kau menyukai Tante Laura?"


"Hmm. Tante Laura sangat cantik dan baik. Dave sangat menyukai Tante Laura"


Jarvish mengusap puncak kepalanya Dave dan mendaratkan ciuman di sana. Lalu pria tampan itu menggandeng tangan Dave dan sambil melangkah keluar dari dalam kamar, ia bertanya, "Lebih cantik mana Mama kamu atau Tante Laura?"


"Tentu saja Mama. Mama adalah wanita paling cantik sedunia. Mama juga wanita paling hebat sedunia" Sahut Dave dengan wajah semringah.


Iya, kamu benar Dave. Mama kamu memang paket komplit. Dia wanita idaman para pria. Batin Jarvish.


Pria tampan itu menggandeng Dave ke ruang makan dan di sana ia duduk di tengah-tengahnya Dave dan Laura.


Dave mengernyit saat ia mengunyah nasi goreng bikinannya Laura.


Luna langsung memberikan kode ke Dave untuk tidak melepeh makanan dan Dave langsung menelannya lalu minum dan berkata, "Maaf Tante Dave sudah kenyang dan mau makan bolu punya Mama saja"


Jarvish juga meletakkan sendok dan garpunya lalu berkata, "Aku juga sudah kenyang. Aku mau makan bolu saja"


Luna langsung menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan anak dan bapak yang tidak jauh beda.


Laura langsung bertanya, "Masakannya nggak enak, ya?"


"Masfkan aku. Aku biasa masak pakai penyedap rasa. Kalau pakai garam dan gula saja, aku nggak tahu takarannya yang pas"


Luna languang berkata, "Ini lumayan, kok"


"Lumayan apa? Aneh rasanya. Kamu harus belajar memasak sama Luna. Masakannya enak banget walaupun tanpa penyedap makanan" Sahut Jarvish tanpa basa-basi.


"Iya, masakanku rasanya aneh Padahal aku sudah masak banyak banget, nih.


"Kita ke daour lagi aja, bakmi goreng dan nasi gorengnya masih bisa diperbaiki. Tapi, pangsitnya tidak bisa"


"Oh benarkah? Terima kasih Luna"


"Pangsitnya biar Bibi bagikan ke tetangga-tetangga, banyak banget bikinnya sayang kalau dibuang" Sahut Bi Nina.


"Makasih, Bi" Laura tersenyum manis ke BI Nina.


Di daour Luna bertanya sembari memenangi masakannya Laura, "Kamu tidak sakit hati dengan ucapannya Jarvish tadi?"


"Aku sudah terbiasa. Jarvish memang orangnya seperti itu" Sahut Laura.


"Sudah terbiasa, ya? Menurutku kok aneh, hehehehe, maaf"


"Iya memang nyelekit ucapannya dan sikapnya yang cuek juga terkadang membuatku kesal, taoi rasa cintaku ke dia membuatku bisa mentolerir semuanya itu"


Luna menoleh ke Laura dan hanya memberikan senyuman.


Akhirnya masakan kembali terhidang di meja makan dan semuanya berkata, "Ini baru enak"


Luna tersenyum dan berkata, "Terima kasih"


Tiba-tiba telepon genggamnya Laura berbunyi dan setelah menerima panggilan telepon itu Laura bangkit berdiri sambil berkata, "Ada tamu penting datang ke hotelku dan aku harus menyambutnya. Maaf aku harus pergi"


Luna bangkit berdiri dan berkata, "Hati-hati di jalan"


"Terima kasih" Sahut Laura. Lalu, wanita. antik bertubuh molek itu mencium pipi Dave setelah itu ia menutup mata Dave saat ia mencium bibir Jarvish dengan penuh kelembutan.


Jarvish terkejut dan sontak menatap Luna. Luna menatap Jarvish dengan canggung dan wanita itu langsung memalingkan muka ke arah Dave.


Dave langsung menoleh ke papanya untuk bertanya, "Kenapa Tante Lauta menutup mata Dave barusan?"


Jarvish memilih untuk diam dan menatap wajah tampan putra tunggalnya dengan mengerjap-ngerjapkan kelopak mata.


"Tante Laura tidak sengaja melakukannya, Sayang. dia tergesa-gesa pergi jadi tidak sengaja menutup mata kamu" Sahut Luna dengan cepat.


"Ooooo, begitu" Sahut Dave.


Ni Inah telah kembali dari membagikan pangsit ke tetangga-tetangganya Jarvish dan Jarvish languang berkata, "Bi, tolong ajak Dave ke ruang keluarga . Ada yang ingin aku bicarakan empat mata dengan Mamanya"


"Baik, Tuan" Bi Inah langsung mengajak Dave ke ruang keluarga


Sepeninggalnya Dave, Jarvish menatap Luna dan bertanya, "Kamu wanita yang unik Luna. Seharusnya kamu membenci aku. Tapi, kenapa kamu tetap baik sama aku? Apa itu kalau bukan cinta?"


Luna menghela napas panjang lalu berkata, "Semuanya karena Dave. Aku harus memberikan contoh yang baik ke Dave untuk tidak tumbuh menjadi orang yang mudah membenci dan menjadi pendendam seperti......."


"Aku" Sahut Jarvish dengan cepat.


"Yeeaahhh bagus kalau kamu sadar diri. Dan jujur sebenarnya aku ingin jauh dari kamu, tapi urusan pengadilan belum selesai. Jujur aku ingin hidup damai berdua saja dengan Dave. Tapi, kamu sudah......."


"Aku berhak atas Dave" Sahut Jarvish dengan cepat.


"Yeaahhh, kamu benar karena kamu adalah Papa kandungnya Dave"


"Hmm. Bagus kalau kamu paham soal itu. Dari tadi aku lihat kamu ingin menyampaikan sesuatu, Apa itu?"


Luna langsung berkata begitu Jarvish memberikan kesempatan baginya, "Lusa adalah ulangtahunnya Dave, apa boleh aku mengajak Dave berlibur?"


"Lusa belum hari Minggu. Dave masih harus tinggal bersamaku. Nggak boleh!" Sahut Jarvish.


"Kurang sehari saja. Boleh, ya?" Luna mengatupkan kedua tangan di depan dada dengan wajah memohon.


"Boleh. kalau aku ikut" Sahut Jarvish dengan nada dan wajah tegas.


"Tapi, emm, apa boleh kamu ikut?"


"Memangnya kamu kan ajak Dave ke mana?"


"Mas Joshua mengajak aku dan Dave berlibur dengan kapal pesiar"


"No! Big No!" Jarvish langsung berteriak dan bangkit berdiri dengan wajah garang.


Luna sontak bangkit berdiri dan mendelik, "Jangan berteriak! Dave dengar nanti. Dave ingin banget bisa naik kapal pesiar. Kalau dia dengar soa ini dia akan sangat senang sekaligus kecewa karena kamu melarangnya pergi"


"Aku akan ajak Dave naik kapal pesiar denganku. Kamu pergi sana dengan Joshua brengsek itu"


"Tapi, nggak bisa begitu. Aku bisa bersenang-senang tanpa Dave"


"Kalau gitu kau pilih! Pergi dengan Joshua atau pergi denganku?"


Luna seketika membisu dan mematung di depan Jarvish.