Memories Of Love

Memories Of Love
Taman Bermain



Jarvish langsung melepas kaosnya dan memutuskan masuk ke dalam selimut dengan bertelanjang dada. Pria tampan itu mencium kening Dave, lalu menyusuri wajah Dave dan sambil mengusap pelan pipi putranya, pria itu bergumam lirih, kenapa Papa diijinkan Tuhan untuk memiliki kamu, Dave? Kenapa Tuhan mempertemukan kita berdua? Apa rencana Tuhan untuk Papa, Dave?


Sementara itu, Luna menatap langit-langit kamarnya dan bergumam lirih, Apakah maksud dari semua ini, Tuhan? Kenapa di saat saya sudah mulai bisa melupakan dia, Engkau hadirkan lagi pria itu di hidupku? Kenapa Tuhan tidak biarkan saja saya hidup tenang berdua saja dengan Dave. Kenapa, Tuhan?


Belum lama Jarvish dan Luna masuk ke kamar mereka masing-masing, lampu tiba-tiba padam. Ada pemadaman menyeluruh karena petir dan hujan yang sangat dahsyat.


Luna berjalan keluar dari dalam kamar dengan menggunakan senter yang ada di telepon genggamnya. Tiba-tiba wanita itu menabrak sesuatu yang empuk, hangat,dan terasa kenyal tepat di saat batere telepon genggamnya habis dan nyala lampu senter pun otomatis padam.


Jarvish menahan napas saat Luna terus menusuk-nusuk dadanya.


Dan di saat Luna bergumam lirih di tengah kegelapan, "Apa yang aku tusuk-tusuk ini, ya?"


"Dadaku" Jarvish menyahut dengan nada datar.


"Kyaaaaa!!!!" Luna sontak melangkah mundur dan dengan sigap, Jarvish menahan punggung Luna tepat di saat lampu kembali menyala.


Jarvish dan Luna sontak mematung dan saling menatap.


Jarvish langsung menarik Luna dan saat wajah Luna menempel di dada bidangnya, keduanya kembali mematung.


Tidak ada debaran jantung di antara keduanya. Namun, ada semacam magnet yang sangat kuat dan tidak terlihat tidak mengijinkan mereka untuk saling menarik diri.


Keduanya saling menatap dengan pertanyaan yang sama di benak mereka, apa arti dirinya bagiku? Pertanyaan itu terus berputar-putar di benak mereka sehingga membuat jantung mereka berdua lupa untuk berdetak kencang, namun keduanya mengalami sesak napas karena alasan yang sama yakni pertanyaan itu.


Perasaan cintanya Luna untuk Jarvish Benjamin sudah lenyap sejak Jarvish merenggut segel kesuciannya.


Sedangkan Jarvish Benjamin tidak bisa lagi merasakan jatuh cinta sejak dikhianati oleh Istrinya.


Namun, saat ini Luna dan Jarvish merasakan sesak napas yang sama di saat mereka saling menatap dan di kala tubuh mereka saling menempel walaupun rasa cinta benar-benar mereka sadari tidak ada di hati mereka.


Setelah otak mereka menghangat dan tidak lagi membeku, Luna dan Jarvish saling menjauhkan diri.


Luna langsung berbalik badan dan berkata, "Kenapa kamu berkeliaran di rumah orang dengan bertelanjang dada, hah?!"


Jarvish menatap punggung Luna dan setelah mengerjapkan mata sebanyak dua kali, pria tampan itu berkata, "Aku tidak bawa baju ganti. Jadi, aku memutuskan tidur seperti ini agar besok kaosnya tidak lusuh dan bisa aku pakai lagi"


"Tapi, tetap saja itu tidak sopan. Jangan diulangi lagi!" Luna berucap dengan masih membelakangi Jarvish.


"Hei! Kenapa kamu salah tingkah kayak gitu? Kita, toh, sudah punya Dave. Lalu, kau bilang jangan diulangi lagi? Apa kau berharap aku menginap lagi di sini lain waktu?"


Luna langsung berlari kecil masuk ke kamarnya tanpa menoleh ke belakang dan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Jarvish kembali mengerjapkan mata sebanyak dua kali lalu bergumam sambil melihat dadanya, "Apa yang salah kalau aku tidak memakai kaos? Toh, aku dan dia sudah punya Dave. Kenapa dia salah tingkah seperti itu? Ada apa dengannya? Dasar wanita aneh, cih!" Lalu, pria itu melanjutkan langkahnya ke lemari es untuk mengambil minum.


Luna merebahkan diri di atas kasur sambil menutup wajahnya dan memukul-mukulkan tumit kakinya di kasur sambil bergumam, "Kenapa perasaanku jadi aneh kayak gini? Dasar Jarvish gila! Bisa-bisanya dia berkeliaran di sini dengan santainya di sini tanpa memakai kaos. Arrrghhh! Dasar Jarvish gila!"


Keesokan harinya, Luna dan Jarvish kembali saling menatap saat mereka sarapan bersama di meja makan dan Luna langsung memalingkan wajahnya.


"Ma, Dave, kan, libur. Kita pergi ke taman bermain, yuk! Mumpung kita bisa kumpul kayak gini"


Luna dan Jarvish saling menatap kembali. Luna lalu menoleh ke Dave dan berkata, "Mama harus bekerja, Sayang. Papa juga harus bekerja"


Jarvish masih menatap Luna lalu pria itu berkata, "Aku bisa meliburkan diri kalau kamu juga meliburkan diri hari ini"


"Please, Ma!" Dave mengatupkan kedua tangan mungilnya di depan dada.


Luna menatap Dave dengan gamang.


"Ayolah! Demi Dave" Sahut Jarvish.


Luna masih diam membisu.


"Aku akan telpon Joshua untuk bilang kalau kamu ijin hari ini dan........"


Luna langsung menoleh tajam ke Jarvish dan berkata, "Nggak perlu! Aku bisa melakukannya sendiri"


"Jadi, Mama mau piknik sama Dave dan Papa?" Dave menatap wajah manis mamanya dengan sorot mata berkilau penuh harap.


"Iya, Sayang" Luna mengusap lembut pipi Dave dan Dave langsung melompat kegirangan sambil berteriak, "Hore! Mimpi Dave jadi kenyataan lagi. Hore!!!!!"


Jarvish dan Luna menatap Dave dengan senyum bahagia. Mereka berdua ikut merasakan kebahagiannya Dave.


Jarvish mengajak Dave dan Luna ke taman bermain terbesar dan terlengkap. Pria itu menyewa semua taman bermain itu seharian penuh. Dia tidak Inging kebersamaan dirinya dengan Luna dan Dave diganggu oleh orang lain.


Mereka bertiga bermain bump-bump car begitu sampai di taman bermain itu. Dave berada satu mobil dengan pakainya sedangkan Luna naik mobil sendiri. Beberapa kali Luna menabrak mobil yang dinaiki oleh Jarvish dan Dave dengan tawa riang.


Alih-alih membalas Luna, Jarvish justru tertegun menatap Luna dan pria itu kemudian bergumam di dalam hatinya, sial! tawanya manis sekali. Dia tidak pernah pakai make up komplit kayak Laura, tapi dia jauh lebih menarik daripada Laura.


"Papa kamu nggak bisa menyetir mobil bump-bump car, Dave!" Teriak Luna sembari menjulurkan lidahnya.


Jarvish sontak menggeram kesal dan langsung berteriak, "Siapa bilang aku tidak bisa menyetir mobil mainan sekecil ini, hah! Aku akan balas kamu"


Setelah puas bermain bump-bump car dengan penuh tawa riang, mereka bertiga menuju ke pertunjukan lumba-lumba sebelum ke wahana permainan berikutnya.


Luna mengajak Dave duduk di bangku pangling depan Ketika Jarvish masih membeli popcorn dan minuman.


Saat Jarvish mendengar Luna berkata ke Dave, "Impian Mama akan tercapai,nih, Mama sudah sejak lama ingin dicium sama lumba-lumba" Jarvish langsung mengayunkan tangannya ke salah satu pelatih lumba-lumba tanpa sepengetahuannya Luna.


"Ada apa, Tuan?" Tanya pelatih lumba-lumba itu.


Jarvish berbisik ke pelatih lumba-lumba itu, "Mamanya anakku pengen dicium sama lumba-lumba. Carikan lumba-lumba yang betina jangan yang jangan"


Pelatih lumba-lumba itu langsung mengulum bibir menahan geli kemudian segera berucap, "Baik, Tuan"


Dave kemudian duduk di sebelahnya Dave dan bergumam di dalam hatinya, sial! kenapa aku merasa nggak rela kalau wanita itu dicium lumba-lumba jantan? Ada apa dengan diriku?


Di akhir pertunjukan, Lina beneran dicium oleh lumba-lumba. Dave juga ikutan minta dicium oleh lumba-lumba. Sedangkan Jarvish berbisik ke pelatih lumba-lumba yang tadi, "Lumba-lumba yang mencium Mamanya anakku dan yang mencium anakku lumba-lumba betina, kan?"


"Iya, Tuan" Sahut pelatih lumba-lumba itu.


"Bagus" Sahut Jarvish sembari menjepret keceriaan di wajah Luna dan Dave saat mereka dicium lumba-lumba.


Lalu, mereka bertiga memutuskan untuk masuk ke museum mobil-mobil tua yang ada di taman bermain itu karena Dave dan Jarvish ternyata sama-sama menyukai mobil.


Di museum itu, Luna dan Dave banyak berpose di depan mobil tua pilihannya Dave.


"Ayo kita pose sakit perut Dave!" Luna berseri dan Dave langsung menyahut sambil tertawa lepas, "Siap, Ma!" Keduanya lalu berpose di depan kamera dengan gaya kedua tangan memegangi perut dan membungkuk layaknya orang yang sedang sakit perutnya.


Jarvish lalu berteriak dari tempatnya berdiri, "Oke! Pose selanjutnya!


Luna dan Dave saling menatap, lalu Dave berkata, "Pose orang gila, Ma"


"Siap!" Pekik Luna dengan tawa ceria.


Lalu, Luna dan Dave berpose di depan kamera dengan gaya menjambak rambut mereka sambil memamerkan deretan gigi putih mereka.


"Sekarang Papa yang foto sama Dave! Biar Mama yang ambil fotonya!" Teriak Dave.


Jarvish menyerahkan telepon genggamnya ke Luna dan setelah telepon genggam itu berpindah tangan, Jarvish berlari ke Dave.


Dave mendongak untuk bertanya ke papanya, "Kita mau pose pakai gaya apa, Pa?"


"Nggak tahu. Papa sebenarnya alergi foto dan Papa nggak pandai berpose di depan kamera Tapi, demi kamu Papa mau lakukan apapun" Sahut Jarvish.


"Makasih Pak! Dave sayang sama Papa" Dave menatap Jarvish dengan penuh kasih sayang.


Jarvish mengusap puncak kepalanya Dave sambil berkata, "Papa juga sayang sekali sama kamu"


"Kok, malah ngobrol? Buruan pose!" Teriak Luna.


"Papa nggak bisa pose, Ma" Teriak Dave.


Jarvish menatap Luna dengan wajah dan tubuh kaku.


"Pose sakit leher aja!" Teriak Luna sambil memeragakan gerakan memegang leher samping lalu menelengkan kepala ke samping.


"No! Aku nggak mau pose itu!" Teriak Jarvish dengan wajah kesal.


Luna terkekeh geli, lalu wanita itu kembali berteriak, "Kalau gitu pose sakit gigi aja! Kayak gini!" Luna memegang pipi sebelah kiri dan meringis.


"Luna Aditya! Bisa nggak kasih pose yang benar, hah?!" Jarvish kembali berteriak dengan wajah kesal.


Luna kembali terkekeh geli dan Dave langsung berkata ke papanya, "Papa gendong Dave aja! Kalau gendong Dave,kan, nggak perlu pose"


"Nah! Kayak Dave gini, dong! Cerdas kalau kasih ide. Nggak kayak kamu, nggak jelas!" Teriak Jarvish sembari menggendong Dave.


Luna kembali terkekeh geli sambil menjepret pose kakunya Jarvish yang menggendong Dave.


Saat bermain di wahana permainan Komidi putar, Dave ketiduran di pangkuannya Luna. Jarvish yang duduk di kuda yang berada di sebelahnya Luna, tiba-tiba bertanya, "Bagaimana caranya aku dan kamu bisa memiliki Dave?"


Luna spontan menoleh kaget ke Jarvish.