Memories Of Love

Memories Of Love
Modus Terus



Luna menggandeng tangan Dave untuk keluar dari dalam kamar saat Jarvish mengetuk pintu dan berkata, "Makan siang sudah siap"


"Maaf kalau aku lancang bertanya, kenapa aku dan Dave kamu suruh ke kamar saat Mama kamu ke sini tadi?"


Jarvish berbisik di telinga Luna, "Mamaku tidak menyukaimu. Aku tidak ingin Dave melihat kalau Mamaku tidak menyukaimu. Bagaimana pun dia adalah Omanya Dave"


Luna langsung mendorong dada Jarvish dan bergumam, "Kenapa harus berbisik sedekat ini?"


"Hei! Kalau berbisik harus mendekat, kan?"


Luna memilih mengabaikan Jarvish dan mengambilkan makanan untuk Dave.


"Ini yang masak Bibi Nina, Ma. Bi Nina tiap hari masak dan menyuruh pak supir mengantarnya kemari"


"Benarkah? Hmm! Enak juga masakannya Bi Nina"


"Iya, enak. Tapi, Dave merindukan masakan Mama. Masakan Mama itu yang terbaik"


"Wah! Mama merona malu, nih, dipuji sama anak setampan kamu" Lina mengusap lembut kepala Dave dan Dave langsung mencium pipi mamanya dengan senyum ceria.


"Kalau aku kasih pujian. masakan kamu enak, aku dapat ciuman di pipi juga, nggak?"


"Papa lucu, kenapa selalu minta cium di pipi sama Mama?" Sahut Dave.


"Papa lucu kayak apa?"


"Ya, kayak Papa" Sahut Dave sambil terkekeh geli.


Jarvish ikutan terkejut geli.


Dan Luna langsung berkata, "Udah kita makan aja. Nggak usah perhatikan Apa kamu"


Jarvish makan sembari terus memandangi kebersamannya Luna dan Dave. Pria tampan pemilik banyak hotel dengan nama The Rain yang menjamur di dalam dan luar negeri itu, sesekali tersenyum saat ia melihat tawa Dave dan senyumnya Luna. Dia menyukai itu. Dia menikmati makan bersama dengan Luna dan Dave. Bahkan Jarvish mengagumi sifat keibuannya Luna yang belum pernah ia lihat dan ia dapatkan dari mama kandungnya sendiri. Entah untuk ke berapa kali Jarvish bergumam di dalam hatinya, Dave lebih beruntung dari aku. Dia memiliki Mama yang sangat lembut, baik, perhatian, dan sangat menyayanginya.


Tok,tok, tok.


Jarvish dengan enggan memalingkan pandangannya dari bingkai indah kebersamaannya Luna dan Dave untuk bangkit berdiri. Dengan langkah pelan dan malas ia membuka kunci pintu ruang kerjanya, "Ada apa? Kenapa ke sini? Biasanya kamu kelua makan siang dengan pacar kamu"


"Pacar saya ada kerjaan di luar kota, Tuan"


"Ada apa? Kenapa wajah kamu nggak enak dilihat kayak gitu?"


Surya berbisik, "Ada Nona Laura. Dia memaksa masuk ke ruangan Anda dan saya tahan dia di ruang penerimaan tamu, Tuan"


"Sial! Kenapa wanita itu belum nyerah juga?" Jarvish langsung menoleh ke belakang, "Dave, Luna, lanjutkan makan siang kalian! Kalau kurang kalian bisa bilang ke Surya"


Luna menoleh ke Jarvish, "Kamu mau pergi ke mana? Sebagai sekretaris pribadi kamu, aku harus temani kamu, kan?"


"Ini beda urusan. Kamu di sinis aja temani Dave. Aku tidak lama, kok"


"Kamu, kok, pergi lagi?" Luna bertanya lagi dan kali ini wajahnya tampak kecewa.


Jarvish tersentak kaget dan langsung berputar badan, "Kamu nggak ingin kau pergi? Kamu ingin aku terus berada di sisi kamu, gitu?"


"Bukannya gitu. Kalau kamu pergi terus, kapan aku kerja? Aku nggak mau duduk aja dan makan gaji buta"


Jarvish langsung mendengus kesal dan berbalik badan dengan cepat sambil berkata, "Lanjutkan saja makan kamu! Soal kerja gampang"


Di depan pintu ruang penerimaan tamu, Jarvish sontak berbalik badan dan hampir saja menabrak Surya.


"Tuan! Kenapa Tuan tiba-tiba berbalik badan?" Bisik Surya dengan ekspresi kaget.


"Untuk apa aku ke sini?"


"Lho, kok, untuk apa? Mau menemui Laura, kan, Tuan?" Bisik Surya dengan kerutan di keningnya.


"Aku nggak mau melihat wajahnya lagi. Bilang ke wanita itu kalau aku nggak mau menemuinya lagi. Untuk apa aku menemuinya. Aku tiba-tiba merindukan Dave dan ingin bersama dengan Dave lagi saat ini juga" Jarvish lalu melintasi Surya dan berlari kecil meninggalkan Surya.


Surya menatap punggung tuannya dengan melongo, lalu ia bergumam, "Kenapa nggak dari tadi bilang kalau tidak mau menemui Laura. Dan bilang aja kalau yang dia rindukan itu Nyonya muda bukan Tuan muda. Huffftttt!" Surya melangkah masuk ke ruang penerimaan tamu dan langsung berkata, "Tuan Jarvish mau bertemu denganmu lagi. Jangan pernah datang ke sini dan mencarinya lagi! Kalau masih nekat, aku akan ambil tindakan kasar terhadap kamu"


Laura langsung melemas dan bersimpuh di atas lantai dan saat asisten pribadinya Jarvish pergi meninggalkan dia, wanita cantik bertubuh molek itu langsung mencengkeram kedua pahanya dan bergumam, "Aku akan membuatmu kembali padaku, Jarvish. Aku akan membuatmu bersimpuh di depanku dan memohon padaku untuk kembali menjadi pacarku. Tidak, tidak, bukan hanya pacar, tetapi suami. Kau akan menikahiku. Tidak lama lagi, Jarvish"


Jarvish kembali ke ruang kerjanya dan mendapati meja makan sudah bersih. "Dave mana?"


"Dave sudah tidur" Sahut Luna.


"Oh! Kenapa.ceapr sekali dia tidur?"


"Katanya tadi di sekolahan ada lomba menggambar dan dia kecapekan"


"Oooooo. Dia pasti menang. Aku lihat anak kita ada bakat menggambar.


Luna tertegun saat Jarvish berkata anak kita. Kata anak kita masih terdengar asing dan aneh bagi Luna.


Melihat Luna bengong, Jarvish Kembali berkata, "Dia dapat bakat itu dariku"


Luna tersentak kaget dan langsung menyahut, "Ah! Iya"


"Kamu sudah makan?"


"Sudah. Aku siapkan satu piring nasi goreng beserta lauknya untuk kamu. Kamu,kan, baru makan beberapa sendok tadi"


"Kamu memperhatikan aku? Kau mulai ada rasa, ya, sama aku?" Jarvish langsung mengulas senyum senang di wajahnya dan Luna langsung berucap dengan wajah kesal, "Bukan begitu. Salah satu tugasku, kan, menjaga kesehatan Bos. Kalau Bos tidak aku perhatikan makannya, Bos bisa sakit, kan?"


Jarvish melangkah ke meja makan dengan perasaan kacau. Entah apa yang dia rasakan saat ini dia sendiri pun tidak bisa menggantikannya.


Luna duduk kembali ke mejanya dan sambil menunggu Jarvish selesai makan, dia mencatat beberapa point penting di buku catatannya.


Jarvish tiba-tiba beridri di depan mejanya Luna dan bertanya, "Apa yang kau catat?"


"Aku tadi sudah ke departemen Food and Beverage hanya melihat-lihat dan membeli beberapa makanan. Setelah mencicipi beberapa masakan di sana seperti nasi goreng dan cake lemon. Rasanya, kok, hambar?"


"Aku akan suruh Surya kemari dan........"


"Saya sudah di sini, Tuan"


"Bagus. Kamu jaga Dave. Aku akan kenalkan Luna ke departemen F and B dulu" Tanpa sadar Jarvish berucap sembari menggenggam tangan Luna.


Luna sontak menarik tangannya dan berkata, "Aku bukan orang buta. Aku bisa jalan sendiri tanpa digandeng"


"Maaf, aku terbiasa menggandeng Dave. Jadi, emm, maaf"


Luna kemudian mengekor langkah Jarvish dengan wajah kesal dan Surya langsung bergumam di dalam hatinya sambil mengulum bibir menahan senyum, modus terus, Tuan! Modus terus!