
Papanya Luna hidup dengan terus bermuram durja sejak putrinya memilih pergi dari rumahnya, meninggalkan dirinya seorang diri. Pria yang sudah memasuki usia kepala lima itu seringkali menyesali perkataannya saat ia menyuruh Luna menggugurkan kandungan. Namun, gengsinya akan prinsip yang ia miliki lebih tinggi daripada rasa penyesalan itu. Jadi, walaupun wajahnya tidak pernah nampak jernih, pria paruh baya itu enggan untuk mencari keberadaan putri tunggalnya.
Sedangkan Joshua yang tidak pernah patah semangat terus mencari keberadaannya Luna, harus sering menelan kekecewaan. Pria tampan berkacamata dengan rambut berwarna abu-abu itu, tidak pernah berhasil menemukan keberadaannya Luna. Namun, Joshua tidak pernah menyerah. Dia terus mencari keberadaan wanita yang ia cintai itu demi untuk mengungkapkan perasaannya kepada wanita itu.
Luna naik bus, karena sejak ia keluar dari rumah papanya, dia juga keluar dari perusahaannya Joshua dan hidup menepi di lingkungan yang sepi, namun tidak terus gigit jari. Wanita itu hidup sendirian di kontrakan kecil dan membesarkan putranya dengan berjualan nasi uduk dan es buah di depan rumah kontrakannya. Untuk itulah untuk pergi mencari Jarvish, Luna tidak mampu naik taksi online. Dia hanya mampu naik bus.
Luna memutuskan untuk menemui Joshua terlebih dahulu karena ia tidak tahu bagaimana caranya menemukan keberadaannya Jarvish.
Joshua sontak bangkit berdiri saat ia melihat wanita manis yang sangat ia rindukan berdiri tegak di depan meja kerjanya saat ini.
"Ka.....kamu darimana?" Pertanyaan yang sudah lama ingin Joshua tanyakan terlempar begitu saja dari mulutnya saat ini.
"Dari......." Luna tampak ragu untuk mengatakan kalau dia dari rumah sakit dan yang sakit adalah anaknya. Dia tidak ingin Joshua tahu kalau dia sudah punya anak. Dia tidak ingin merepotkan Joshua.
"Darimana?" Joshua bertanya sembari berjalan keluar dari balik meja kerjanya untuk mendekati Luna.
"Nggak penting saya darimana, Tuan. Saya ke sini ingin meminta pertolongan Anda. Apakah Anda masih bersedia menolong saya?"
"Kenapa kau tinggalkan surat pengunduran diri kamu di malam itu. Satpam perusahaan meneleponku saat itu, tapi sayang sekali pas aku tiba di kantor, kamu udah pergi. Kau ke mana? Aku datang ke rumah Papa kamu, Papa kamu juga bilang kalau kamu pergi tanpa memberitahukan kau pergi ke mana"
"Ceritanya panjang dan saat ini saya tidak punya waktu untuk bercerita, Tuan. Maafkan saya. Saya harus segera bertemu dengan Tuan Jarvish Benjamin. Di mana Tuan Jarvish Benjamin saat ini? Ini antara hidup dan matinya seseorang. Tolong katakan keberadaannya Tuan Jarvish saat ini. Tolong, Tuan" Luna mulai menitikkan air mata dan tanpa menunggu detik berlalu, Luna berjongkok dan tergugu di sana.
Melihat Luna berjongkok dan menangis tergugu, Joshua sontak ikutan berjongkok dan berkata, "Jarvish kebetulan ada di sini. Dia ada di lantai satu. Dia ada di ruang kosong lima belas. Si arogan itu sedang.........."
Luna langsung bangkit berdiri dan ia mengucapkan terima kasih ke Joshua sambil berlari kencang. Di dalam laju larinya menuju ke lift, Luna menghapus air matanya. Ia tidak ingin Jarvish melihat sisi dirinya yang rapuh.
Joshua bangkit berdiri dan mematung saat ia melihat punggung Luna berlari menjauhinya. "Ada apa? Kenapa dia mencari Jarvish?" Ketika Joshua melangkah maju ingin berlari mengejar Luna, asisten pribadinya masuk dan berkata, "Anda ditunggu Pak Aris di ruang meeting, Tuan"
Joshua menghela napas panjang dan terpaksa mengurungkan niatnya untuk mengejar Luna.
Luna keluar dari dalam lift saat pintu lift terbuka lebar di lantai satu. Wanita manis itu langsung berjalan dengan langkah cepat dan matanya terus beredar mencari pintu bertuliskan nomer kosong lima belas.
Seorang pria tampan berkacamata membuka pintu tersebut dan Luna langung berkata, "Saya disuruh oleh Tuan Joshua Benjamin untuk ke sini. Saya ingin mengatakan hal yang sangat penting ke Tuan Jarvish Benjamin ada di dalam saat ini?"
Mendengar nama Joshua Benjamin, pria tampan berkacamata yang membukakan pintu itu langsung mempersilakan Luna untuk masuk sambil berkata, "Tuan Jarvish Benjamin ada di dalam. Silakan masuk, Bu"
Di usia yang terbilang masih muda yakni dua puluh delapan tahun, Luna memang tampak lebih tua karena tekanan hidup dan wanita itu tidak pernah merawat wajahnya. Untuk sekadar memakai bedak tabur saja, Luna tidak pernah melakukannya. Untuk itulah ia sering dipanggil Bu di usianya yang masih terbilang muda.
Luna melangkah masuk dan menghentikan langkahnya saat pria brengsek yang telah menghancurkan hidupnya berdiri di depannya dan menatap tajam dirinya.
"Siapa kamu?" Tanya Jarvish dengan wajah datar dan sorot mata dingin.
"Tidak penting siapa saya. Anda harus ikut saya ke rumah sakit sekarang juga untuk menyelamatkan anak yang tengah berjuang di antara hidup dan mati. Anak itu butuh donor sumsum tulang belakang Anda untuk melangsungkan hidupnya"
"Kau mabuk atau apa? Kenapa aku harus ke rumah sakit dan menolong anak itu? Lalu, apa untungnya bagiku kalau aku mendonorkan sumsum tulang belakangku untuk anak yang tidak aku kenal itu? Cih! Dasar wanita gila!"
"Tolong anak itu demi rasa kemanusiaan Anda, Tuan. Tolong anak itu! Tolong donorkan sumsum tulang belakang Anda, Tuan!"
"Kenapa kamu ngotot, hah?! Pergi! Aku tidak kenal denganmu! Pergi!" Jarvish berteriak kasar dan melotot ke Luna dengan wajah dingin sedingin es.
Di saat Luna mengatupkan kedua tangannya di depan dada sambil terus memohon, "Tolong selamatkan anak itu! Tolong selamatkan anak itu?!" Brian asisten pribadinya Jarvish diam mematung di tempatnya berdiri karena ia masih terus mengerutkan dahi untuk terus mencoba mengingat kembali siapa wanita itu. Karena wajah wanita itu, terasa sangat familiar baginya.
Joshua Benjamin meeting dengan kliennya di ruang meeting dengan tidak tenang. Pikiran dan hatinya terus terarah ke Luna. Joshua menyadari kalau dia jatuh cinta kepada Luna saat Luna meninggalkan surat pengunduran diri di meja kerjanya.
Astaga! Wanita ini adalah wanita yang ditiduri oleh Tuan Jarvish di malam pembukaan hote terbarunya Tuan Jarvish kira-kira lima tahun yang lalu. Batin Brian dengan mata membulat kaget.
Jarvish berkata, "Pergi atau aku akan suruh satpam menyeretmu keluar!"
Kedua bola mata Brian tambah membulat dan seolah ingin melompat keluar dari tempatnya saat ia melihat wanita itu jatuh bersimpuh dan memeluk kaki kanannya Jarvish Benjamin. Brian sontak diserang rasa pening yang sangat dahsyat saat ia mendengar wanita itu berkata, "Karena anak itu adalah anakmu. Jadi, selamatkan anak itu. Anak itu anak kamu"
Jarvish yang sudah melangkah setengah putaran badan sontak menghentikan langkahnya dan menundukkan wajah ke kaki kanan yang dipeluk oleh wanita yang tidak ia kenal itu. Pria dingin pembenci wanita itu, tertegun dan mematung saat ia mendengar kata, "Anak itu anak kamu"