Memories Of Love

Memories Of Love
Rencana



"Saya pamit. Tuan Jarvish sudah memanggil.saya untuk balik" Surya membungkukkan badannya di depan Joshua.


"Tunggu! Jangan pergi dulu! katakan padaku dulu, apa Luna dan Jarvish berpacaran saat ini?"


Surya menegakkan badan dan hanya memberikan senyum simpul ke Joshua kemudian asisten pribadinya Jarvish yang sangat setia itu berbalik badan dan pergi meninggalkan Joshua.


"Hei! Kau belum menjawab pertanyaanku, Sur! Kembali! Dasar gila!" Joshua berteriak kencang dengan wajah kesal.


Pria tampan berkacamata dan berambut abu-abu itu kemudian merenung di ata meja kerjanya dan bergumam, "Apa Luna dan Jarvish udah jadian? Apa mereka sudah berpacaran saat ini? Nggak! Luna sangat membenci Jarvish. Nggak mungkin Luna pacaran dengan Jarvish. Nggak mungkin!"


Luna merebahkan kepalanya dengan pelan di atas pangkuannya Jarvish.


Jarvish kemudian membuka jasnya untuk ia pakai menyelimuti istri imutnya yang sangat manis dan sangat ia cintai.


Sambil menunggu kedatangannya Surya, Jarvish terus membelai lembut kening Luna sampai akhirnya Luna lelap tertidur.


Jarvish tersenyum penuh cinta saat ia menunduk dan pria tampan itu kemudian bergumam, "Kamu sangat manis saat tidur. Aku paling suka wajah kamu pas tidur dan paling bersemangat saat melihat senyum dan tawa kamu. Kalau sadar kamu semanis dan seindah ini, Luna Aditya, sudah dari dulu aku menikahi kamu bukannya malah menghina kamu dengan selembar cek kosong dan meninggalkanmu. Aku memang bodoh banget saat itu" Jarvish terus bergumam sambil memandangi wajah Luna dan mengelus lembut kening istrinya itu.


Surya masuk ke dalam mobil dan menoleh ke jok belakang, "Nyonya muda tidur, Tuan?"


Jarvish menganggukkan kepala dan berkata, "Sssttt! Bicara yang pelan jangan sampai Luna bangun"


Surya langsung mengecilkan volume suaranya dan berkata,"Baik Tuan. Emm, Maafkan saya, Tuan. Saya membawa Nyonya muda ke sini dan ........."


"Lupakan saja!" Sahut Jarvish.


Eh! Kok, lupakan saja? Belum pernah Tuan Jarvish mentolerir kesalahan besar. Ada apa ini? Batin Surya.


"Kenapa malah bengong di depanku, Sur? Cepat jalankan mobilnya! Aku ingin Luna cepat rebahan di kasur. Tidur di mobil ini terlalu sempit"


Surya tersentak kaget dari lamunannya dan segera berkata sambil menghadap ke depan kembali, "Baik, Tuan"


"Aku tidak akan menghajar Joshua di kantornya lagi demi Dave dan Luna" Ucap Jarvish.


Syukurlah. Batin Surya lega.


"Tapi, aku tetap inginemberikan efek jera ke Joshua. Enak aja dia sudah berani melecehkan Luna dan melenggang santai begitu saja" Ucap Jarvish kemudian.


"Lalu, bagaimana cara Anda memberikan hukuman ke Tuan Joshua?" Tanya Surya tanpa menoleh ke jok belakang lagi.


"Setelah kamu mengantarkan aku dan Luna ke rumah, bawa rekaman yang ada di ponselku ke kantor polisi. Laporkan Joshua!"


"Untuk berapa lama, Tuan?"


"Tiga hari saja. Mengingat Papanya Joshua telah begitu baik menuruti permintaanku memindahkan Luna ke kantorku, aku hanya akan menebarkan Joshua mendekam di hotel Prodeo selama tiga hari saja" Sahut Jarvish.


"Baik, Tuan. Saya setuju dengan keputusan Anda. Ini lebih baik daripada menghajar Tuan Joshua di kantornya"


Laura mulai putus asa. Dia benar-benar sudah tidak dapat memikirkan cara lain untuk menculik Dave. Untuk itulah ia memutuskan pergi ke kafe. Dia melepaskan stresnya di kafe tersebut dengan minum minuman beralkohol kesukaannya.


"Kenapa kau memutuskan untuk masuk hari ini?" Tanya Joshua sambil terkekeh geli di depan Laura.


"Bukan urusan kamu. Lalu, kamu sendiri?"


"Juga bukan urusanmu" Sahut Joshua.


Keduanya kemudian tertawa geli secara bersamaan dan Joshua kemudian berkata, "Kita ridak udah saling bicara kalau gitu. Kita minum saja, oke?"


"Oke?!" Pekik Laura dengan tawa lebar.


Jarvish membopong Luna denah. pelan masuk ke dalam rumah dan langsung membawa Luna masuk ke kamarnya.


"Dave sudah tidur?" Tanya Jarvish saat ia keluar dari kamar dan berpapasan dengan Bi Nina yang tengah berjalan menuju ke dapur.


Bi Nina langsung menghentikan langkahnya di depan Jarvish untuk berkata, "Sudah, Tuan. Tuan muda tidur di kamarnya"


"Bagus. Tolong jaga Dave, ya, Bi"


"Baik, Tuan. Ini Bibi mau mengambil minum dan kembali ke kamar Tian muda lagi"


"Hmm" Jarvish kemudian berbalik badan dan masuk ke dalam kamarnya lagi.


Pemuda tampan itu naik ke ranjang setelah berganti baju dan langsung masuk ke dalam selimut untuk memeluk tubuh ramping istri tercintanya. Setelah mencium pipi Luna, Jarvish pun memejamkan mata lelahnya, merilekskan tubuh penatnya, dan lelap tertidur.


Keesokan harinya, Luna membuka mata bertepatan dengan bunyi burung Pipit yaitu burung kecil dari kayu yang keluar dari jam dinding ukiran kuno super mahal yang terpasang cantik di tembok, di atas ranjang mewahnya Jarvish Benjamin. Luna menghitung bunyi burung itu dan bergumam, "Sudah jam lima pagi ternyata"


Luna kemudian menoleh ke samping kirinya dan dia tersenyum saat ia melihat wajah tampan suaminya. Luna melongok ke dalam selimut, dia merona malu saat menemukan dirinya masih polos dan tangan Jarvish berada di atas perutnya.


Luna kemudian menoleh kembali ke samping kirinya. Dia mengusap pelan buku kata Jarvish dan bergumam. lirih, "Kalau dilihat sedekat ini, dia memiliki buku mata yang panjang dan lentik. Seperti buku mata cewek" Lalu, Luna menyentuh pucuk hidung Jarvish dan kembali bergumam lirih, "Dia punya hidung yang sangat bagus. Menjulang tinggi"


Lalu, Luna mendaratkan kecupan di pipi Jarvish dengan malu-malu Wanita itu kemudian menoleh ke samping kanan untuk minum, namun saat Luna hendak bangun untuk mengambil segelas air minum, wanita berwajah keibuan itu langsung mendesah dan kembali rebah di atas ranjang ketika rasa nyeri di pangkal pahanya menyergap ambang batas sakitnya. Gerakan Luna itu mengusik Jarvish.


Jarvish menjadi terbangun dan menatap Luna dengan penuh tanda tanya, "Ada apa, sayang?" tanya Jarvish sambil mengelus pipi Luna.


Sayang? Dia bahkan memanggilku Sayang, saat ini? Apa aku masih tidur dan bermimpi indah saat ini. Batin Luna sambil terus menatap Jarvish dengan wajah bengong.


Jarvish tersenyum geli melihat ekspresi imut di wajah Luna. Lalu, ia menoel dagu Luna sambil bertanya, "Apa yang kau pikirkan? Suami kamu khawatir dan bertanya, bukannya menjawab pertanyaan suami kamu, kamu malah bengong"


"A......apa?"


Jarvish terkekeh geli dan kembali menoel dagu Luna lalu berkata, "Karena kamu sangat menggemaskan begini, aku tidak tahan lagi untuk tidak memakan kamu"


Jarvish lalu menarik selimut dan mengajak Luna bericuman di dalam selimut dengan penuh gairah. Tangan Jarvish mulai beredar ke mana-mana dan bibirnya sudah menari-nari di atas dadanya Luna.


Kenapa malah jadi begini? Batin Luna.