Memories Of Love

Memories Of Love
Wajah Manis



Selama rapat berlangsung, selain senyum-senyum sendiri, Jarvish juga sering menunduk melihat telepon genggamnya. Dia melihat foto dirinya, Luna dan Dave saat menerima trophy di sekolahannya Dave.


Saat rapat telah selesai dan hanya tersisa Jarvish dan Surya di ruangan tersebut, Surya memberanikan diri untuk bertanya, "Tuan, Anda sudah lama sekali tidak tersenyum. Tapi, kenapa sepanjang hari ini saya lihat Anda sering banget senyum-senyum sendiri sambil menatap layar ponsel Anda?"


"Kau mau lembur selama seminggu ini?"


"Tidak. Tentu saja tidak. Kalau lembur terus selama seminggu saya bisa diputus sama pacar saya, Tuan"


"Kalau gitu jangan tanya kenapa aku senyum-senyum terus. Lagian siapa juga yang senyum-senyum terus" Sahut Jarvish sambil pergi meninggalkan Surya.


"Huufftt! Kenapa juga bibirku ini suka banget terasa gatal kalau tidak bertanya" Gumam Surya sembari berlari kecil untuk menyusul Jarvish.


Beberapa jam berikutnya, Jarvish makan siang bersama dengan mamanya dan Dave. Mamanya Jarvish bertanya, "Kenapa.kau senyum-senyum sendiri dari tadi? Apa.yang membuat kamu sesenang itu? Mama sudah lama tidak melihat senyuman di wajah kamu. Mama ikut senang melihatmu tersenyum" Mamanya Jarvish ikutan mengulas senyum lebar di wajah cantiknya.


Jarvish tersentak kaget dan langsung menghapus senyumannya lalu bangkit berdiri dan berkata, "Mama tolong temani Dave sebentar. Aku masih ada urusan penting di luar"


"Iya. Tentu saja Mama akan menjaga cucu Mama yang tampan, lucu, pinter, dan menggemaskan ini" Mamanya Jarvish mencium pipi Dave dan Dave langsung berkata, "Terima kasih Oma cantik atas pujiannya"


"Hahahahaha. Kamu memang paling bisa bikin Oma bahagia. Andai Papa kamu murah senyum seperti kamu, Oma akan lebih bahagia lagi. Sayangnya Papa kamu nggak pernah senyum dan nggak seramah kamu, Dave"


"Kalau sama Dave, Papa selalu tersenyum, kok, Oma. Tersenyum lebar seperti tadi" Sahut Dave sambil memakan makan siang yang dikirim oleh Bi Nina.


Mamanya Jarvish mengusap kepala Dave dan berkata, "Benarkah? Oma lega kalau gitu. Berarti Papa kamu sudah bahagia saat ini dan itu berkat kamu. Makasih, ya, Dave udah membawa kebahagiaan di hidup Papa kamu"


"Hmm" Sahut Dave.


Jarvish masuk ke ruang kerjanya Surya dan langsung duduk di sofa.


Surya tersentak kaget dan sontak bangkit berdiri dengan bertanya, "Ada apa, Tuan?"


"Lanjutkan saja pekerjaan kamu dan jangan hiraukan aku"


"Ah! Baik, Tuan"


Jarvish lalu menggerakkan ibu jarinya di layar telepon genggam mahalnya dan berkata, "Halo, Om" Pria tampan itu menghubungi papanya Joshua.


"Ada apa? Tumben nelpon Papa" Sahut papanya Joshua dengan senyum lebar. "Mama kamu ada di sana, kan? Kenapa kamu justru mencari Papa?"


"Aku mau minta tolong sama Om"


Jarvish yang tidak pernah berkata minta tolong membuat papanya Joshua mengerutkan kening dan bertanya dengan dengan tidak sabar, "Ada apa? Katakan saja dan Papa akan dengan senang hati menolongmu"


"Joshua masih ada di bawah kendalinya Papa, kan, di perusahaan?"


"Iya. Joshua bukan CEO seperti kamu. CEO-nya masih Papa. Joshua hanyalah Presdir dan dia masih di bawah kendalinya Papa. Kenapa memangnya?"


"Tolong buat peraturan baru kalau semua karyawan di perusahannya Papa termasuk presdirnya tidak boleh berpacaran dengan teman kerja"


"Kenapa Papa harus buat peraturan semacam itu?"


"Aku ingin menarik Luna pacarnya Joshua yang sekaligus adalah Mamanya anakku ke sini. Aku ingin Luna menjadi karyawanku, Pa"


"Kenapa begitu? Luna sudah nyaman bekerja di samping Joshua selama ini dan Papa senang dengan kinerjanya Luna"


Surya sontak menarik rahang bawahnya lebar-lebar saat ia mendengar ucapannya Jarvish.


"Masakan di hotelku mendapatkan beberapa kritik dan saran. Kata beberapa klien dan pelanggan, makanan di hotelku tidak enak dan rasanya hambar. Luna pandai memasak dan aku ingin dia bekerja di sini menjadi kepala chef dan menjadi penasehat dapur sekaligus menjadi sekretaris pribadiku. Kalau Papa kabulkan permintaanku ini, aku akan kabulkan juga permintaan Papa. Katakan apa permintaan Papa saat ini dan aku akan langsung kabulkan" Jarvish berucap dengan menggebu-nggebu.


"Hahahahaha. Papa belum pernah mendengar kamu meminta tolong dengan penuh antusias seperti ini, Jarvish. Oke, Papa akan kabulkan. permintaan kamu dengan sati syarat"


"Apa itu?"


"Mulai sekarang jangan panggil Om. Panggil Papa"


Jarvish langsung berkata, "Jangan permintaan yang itu, Om. Tolong yang lain saja. Seperti berlibur ke Amerika, atau belikan mobil sport keluaran terbaru, Jarvish. Asal bukan yang itu, Jarvish akan kabulkan, Om


"Tapi, Om hanya ingin itu, Jarvish. Om inginkan itu sudah sejak kamu masih kecil"


Jarvish diam membisu. Permintaan itu bagi Jarvish terasa sangat berat. Bagi dirinya, ia hanya memiliki satu Papa dan dia tidak bisa memanggil pria yang sangat ia benci karena pria itu sudah merebut Mamanya, dengan panggilan Papa.


"Kalau kamu tidak mau, ya, sudah. Papa tidak akan memaksa. Tetapi, Papa.juga nggak akan kabulkan permintaan kamu tadi" Sahut papanya Joshua dengan nada serius, tapi santai.


Dave memejamkan rapat-rapat kedua kelopak matanya dan setelah menghela napas panjang, pria tampan itu akhirnya berkata, "Baiklah"


"Baiklah apa? Panggil Papa mulai sekarang dan cobalah mulai sekarang!" Sahut Papanya Joshua.


"Baiklah, Pa" Jarvish berkata dengan membuka kembali kelopak matanya secara perlahan dan hatinya berdesir hangat. Alih-alih marah karena dirinya sudah mengkhianati prinsipnya sendiri dengan memanggil Papa ke Papanya Joshua, justru hatinya Jarvish berdesir hangat dan terasa nyaman.


"Terima kasih, Nak" Papanya Joshua mengusap titik air mata yang membasahi kedua pipinya. Lalu, pria paruh baya yang masih terlihat gagah, sehat bugar, dan tampan itu berkata, "Papa akan meminta Luna pindah ke hotel kamu sekarang juga dan besok, Luna Aditya sudah berada di hotel kamu menjadi karyawan kamu"


"Terima kasih"


"Terima kasih apa? Kok, terima kasih aja"


"Terima kasih, Pa" Sahut Jarvish.


"Sama-sama, Jarvish" Sahut papanya Joshua dengan senyum bahagia.


Saat Jarvish memasukkan kembali telepon. genggam mahalnya ke dalam saku jas, ia melihat Surya hendak membuka mulut dan pria tampan itu langsung bangkit berdiri sambil berkata, "Jangan tanya kalau kamu tidak ingin lembur selama seminggu penuh"


"Ah! Baiklah, Tuan. Saya langsung kunci rapat-rapat mulut saya, nih" Sahut Surya.


Jarvish kembali ke ruangannya dan mendapati Mamanya duduk sendirian di sofa, "Dave sudah tidur siang, ya, Ma"


"Iya. Kamu beruntung memiliki anak yang pintar, manis dan tidak cengeng"


"Itu semua berkat didikan Mamanya Dave. Mamanya Dave sangat pandai mendidik Dave. Dave beruntung memiliki Mama yang perhatian, baik, hangat, dan selalu menyayanginya"


Mamanya Jarvish sontak bangkit berdiri dan berjalan mendekati Jarvish untuk menangkup pipi putra tampannya sambil bertanya, "Apa Mama kamu ini tidak seperti itu, Jarvish?"


Jarvish menepis pelan tangan Mamanya sambil berkata, "Mama tahu sendiri jawabannya"


Mamanya Jarvish memandang wajah putranya dengan sorot mata sedih.


Jarvish langsung berkata, "Mama pulang saja. Aku sibuk. Terima kasih sudah menjaga Dave"


"Baiklah. Mama akan pulang. Mama menyayangi Jarvish"


Jarvish tidak menanggapi ucapan mamanya.


Sepeninggal mamanya, Jarvish duduk di meja kerja dan kembali memnadangi foto Luna di telepon genggamnya sembari bergumam, "Kenapa wajah manis kamu ini tidak bisa lepas dari pikiranku? Kenapa aku ingin selalu memandangi wajah manis ini?"