Memories Of Love

Memories Of Love
Kebahagiaan



"Kamu tidur aja! Biar aku yang masak"


"Memangnya Mas bisa masak?"


"Aku akan nanya sama Bi Nina"


Jarvish mencium keningnya Luna , merapikan selimut, mencium pipi Dave yang masih meringkuk di bawah selimut, lalu Jarvish keluar dari kamar untuk memasak di dapur.


"Biar.saya saja yang masak Tuan" Sahut Bi Nina saat Jarvish menemuinya dan memintanya untuk mengajari Jarvish cara memasak makanan kesukaannya Luna.


"Aku pengen masak untuk anak dan Istriku, Bi. Ajari aku cara memasak nasi goreng"


"Tapi, kalau orang hamil malah kebalikannya, Tuan"


"Maksudnya?"


"Ibu hamil biasanya justru suka makan makanan yang menjadi favoritnya suami"


"Ah! Benarkah? Berarti ibu hamil itu unik, ya, Bi"


"Iya, Tuan. Unik dan tangguh. Ibu hamil selalu diserang mual di saat yang tidak terduga, belum lagi rasa pusing, pegal-pegal, dan........ Lho, kok, mau ke mana, Tuan, katanya mau diajari masak?! Teriak Bi Nina saat ia melihat Kabeh berputar badan dan langsung berlari meninggalkan dapur begitu saja.


Jarvish muncul di balik tembok dan langsung bertanya ke Luna, "Sayang, apa badan kamu terasa pegal-pegal dan pusing?"


"Iya. Tapi udah aku olesi minyak angin. udah nggak mual, nggak pusing dan pegal-pegalnya sedikit hilang"


Jarvish langsung duduk di tepi ranjang dan tanpa diminta ia memijit kaki Luna sambil berkata, "Kenapa nggak bilang? Kalau badan kamu terasa sedikit saja nggak enak, langsung bilang ke aku!"


"Iya, Mas"


"Aku akan pijit kaki kamu sampai kamu tidur, baru aku masak di dapur. Kamu pengen makan apa?"


"Aku, kok, selalu kebayang -bayang pas Mas makan tempe goreng dan sayur asem. Mas suka makan itu, kan? Saat itu Mas makannya lahap banget"


Jarvish yang masih memijit kakinya Luna langsung tersenyum dan menjawab, "Iya, aku sangat suka sayur asem dan tempe goreng"


"Nanti tolong minta sama Bi Nina nggoreng tempenya yang garing, ya, Mas. Aku pengen dengan suara kriuk-kriuk, pas makan nanti"


"Ih! Kok sama lagi. Aku juga suka tempe yang kriuk" Jarvish masih memijit kedua kakinya Luna.


"Iya. Entah kenapa aku sekarang terus kebaya-bayang sayur asem dan tempe kriuk"


"Oke. Nanti aku masakin itu. Enak nggak pijatanku?"


"Enak, Mas. Terima kasih"


"Sekarang pejamkan mata kamu dan tidurlah! Aku akan bangunkan kamu pas masakannya udah matang nanti"


"Terima kasih, Mas"


Jarvisih menunduk untuk mengecup pipi Luna lalu berkata, "Kalau bilang terima kasih lagi, aku akan kecup lagi bibir kamu"


Luna langung menarik selimut untuk menutupi bibirnya dan langsung memejamkan mata dengan wajah memerah malu.


Jarvish tersenyum geli sambil terus melanjutkan aktivitasnya memijat kedua kaki Luna sampai lima menit kemudian Luna tertidur pulas.


Setelah Luna tidur, Jarvish mencium kening Luna perlahan dan mencium pipi Dave, kemudian dia keluar dari dalam kamar untuk berlari ke dapur.


"Bi, ajari aku masak sayur asem dan nggoreng tempe kriuk. Luna pengen makan itu"


"Nah, Bibi benar, kan? Orang hamil biasanya jadi suka sama makanan yang menjadi favorit suaminya"


"Iya Bibi benar. Luna so sweet, ya, Bi"


"Iya, Tuan" Bi Nina langsung tertawa riang.


Saat Jarvish tengah asyik mengeksekusi resepnya Bi Nina, Bi Nina memasak nasi goreng kerusakannya Dave sambil berkata, "Bibi masak nasi goreng tidak pedas untuk tuan muda, Tuan Tuan muda, kan, tidak suka makan sayur asem. Kalau tempe kriuk suka banget"


"Iya. Terima kasih, Bi" Sahut Jarvish sambil asyik memasukkan semua sayuran ke dalam panci.


Masakannya Jarvish matang pas Dave muncul di ruang makan dan langsung duduk di meja makan. Jarvish mengusap rambut Dave dan berkata, "Mama masih tidur?"


"Iya. Adik bayi juga tidur. Dave cium perut Mama adik bayi diam saja" Sahut Dave.


Jarvish terkekeh geli mendengar ucapan pokonya Dave, lalu ia berkata, "Kamu makan dulu, gih! Papa akan bangunkan Mama dulu"


"Hmm" Dave tersenyum lebar ke Papanya.


Jarvish duduk di tepi ranjang dan mengusap pipi Luna, "Sayang, masakannya udah matang"


Luna langsung membuka mata dan tersenyum ke Jarvish.


Jarvish mengecup bibi Luna dan berkata sambil menempelkan keningnya di kening Luna, "Terima kasih udah jadi wanita tangguh, Luna. Aku membayangkan kamu pas hamil Dave dulu. Kamu seperti ini, pusing, mual, pegal-pegal, dan harus bekerja mencari uang sendiri untuk biaya persalinan dan......"


Luna menangkup wajah Jarvish dan mengajak Jarvish bericuman. Setelah merasa cukup mengajak suaminya berciuman, Luna menarik bibirnya untuk berkata, "Semuanya udah berlaku, Mas. Sekarang kita fokus ke masa sekarang dan masa depan saja, ya"


Jarvish lalu menarik pelan kedua bahu Luna kemudian ia peluk Luna dan berkata, "Aku sangat mencintai kamu, Luna"


Sepuluh menit kemudian, Jarvish dan Luna muncul di ruang makan dan tidak menemukan Dave di sana.


"Dave mana, Bi? Udah makan dia?" Tanya Luna ke BI Nina.


"Sudah, Nyonya. Setelah makan, Tuan muda pergi halaman belakang untuk memberi anjing kesayangannya makan lalu bermain di halaman belakang"


"Ooooo"


"Cuma itu perbedaan aku dan Dave. Dave tidak takut sama anjing dan aku takut banget sama anjing" Sahut Jarvish.


Bi Nina dan Luna sontak mengulum bibir menahan geli secara bersamaan dan Jarvish langsung merengut dan berkata, "Hei! Jangan ketawa kalian! Aku pernah dikejar dan digigit anjing pas aku masih berumur enam tahun"


"Iya, Mas, iya. Sekarang kita makan, yuk! Masakan Bi Nina mengundang selera, nih"


"Bukan Bibi yang masak, Nyonya, tapi Tuan. Semuanya Tuan yang masak kecuali nasi gorengnya" Sahut Bi Nina.


Luna langung menatap suaminya dan berkata, "Terima kasih, mas"


"Nggak usah berterima kasih. Sekarang coba cicipi, enak nggak?"


Luna menyendok sayu asem dan saat ia memasukkan sendok itu ke dalam mulutnya, Luna langsung membeliak kaget dan manggut-manggut sambil berkata, "Ini enak banget, Mas"


"Benarkah?" Jarvish sontak tersenyum semringah.


"Hmm"


"Syukurlah kalau kamu cocok dengan masakanku. Sekarang makan lagi yang banyak. Pakai tempe kriuknya juga"


Luna menggigit tempe kriuknya dan langsung tersenyum ceria sambil manggut-manggut.


"Gimana? Enak?"


"Hmm. Enak banget, Mas"


Saat Jarvish ingin mengambil nasi, Luna menatap Jarvish dengan sorot mata sendu.


"Kenapa? Ada apa? Kamu pengen muntah lagi?"


Luna menggelengkan kepalanya.


"Lalu, kamu pengen apa? kenapa menatapku dengan memelas seperti itu"


"Aku pengen makan satu piring berdua dengan kamu, Mas. Boleh?"


Jarvish tertegun sejenak, kemudian pria tampan itu tersenyum semringah dan berkata, "Tentu saja boleh. Sini aku suapin kamu. Ini permintaan kamu apa permintaan anak kita?" Jarvish mengusap perut Luna yang masih terlihat rata.


"Dua-duanya" Luna meringis dengan rona malu di di wajahnya.


Jarvish tekekeh geli, mencium pipi Luna, kemudian menyuapi Luna.


"Mas juga makan" Luna menyuapi Jarvish.


"Iya. Sini, aku bisa makan sendiri. Kamu duduk tenang saja. Aku akan makan sendiri sambil menyuapi kamu"


Setelah menghabiskan dua mangkuk sayur asem dan sepuluh tempe kriuk, Luna mengajak Dave dan Jarvish jalan-jalan di taman dekat rumah mereka. Di sana Luna kembali menatap Jarvish dengan sorot mata sendu.


"Ada apa? Kamu pengen muntah?"


"Aku lihat orang banyak gini, kok, pusing, ya. Biasanya nggak, lho"


Dave sontak mendongakkan wajah untuk melihat mamanya dan bertanya, "Kita pulang aja kalau gitu"


"Iya, Kita pulang saja" Sahut Jarvish sambil merangkul bahu Luna dan menggandeng tangan mungilnya Dave.


Sesampainya di rumah, Jarvish langsung menelepon Surya saat Luna dan Dave berjalan ke ruang keluarga. "Sur! mulai besok dan sampai Luna melahirkan, aku kerja di rumah. Aku mau menjaga dan mengawasi Luna seharian penuh. Aku nggak pengen Luna kenapa-kenapa. Lagian, sekarang ini Luna suka banget makan sepiring berdua denganku. Kalau aku kerja, kan, repot. Bawa semua berkas penting yang ada di kantorku ke sini, besok!"


"Baik, Tuan"


Demikianlah, Jarvish. Dia rela melakukan apapun demi Luna dan anaknya. Dia sangat menjaga kehamilannya Luna dan sangat memperhatikan kesehatannya Luna.Bahkan tidak mengeluh saat Luna membangunkannya jam dua belas malam dan bilang, "Mas, aku pengen cakue"


Jarvish langsung bangun dan berkata tanpa pikir panjang, "Oke. Aku belikan sekarang juga"


Jarvish pun belajar cara mengupas dan memotong mangga. Kalau soal panjat memanjat dia jagonya. Seperti yang ia lakukan di pagi hari ini, Jarvish memanjat pohon mangga tepat di saat usia kehamilannya Luna menginjak empat bulan lebih satu Minggu. Dokter menyatakan janin dan ibu bayi dalam keadaan sehat dan papa bayi sudah diperbolehkan menjenguk bayinya.


Untuk itulah kenapa saat Luna meminta mangga yang ada di halaman belakang rumah mereka, Jarvish langsung berkata, "Aku akan manjat pohon mangga dulu setelah itu aku akan manjat kamu"


Luna sontak tersipu malu dan menepuk bahu Jarvish.


"Lho, kata dokter udah boleh"


"Iya, Mas, iya. Aku juga udah siap untuk kamu"


Setelah mengupas dan memotong mangga, Jarvish memakan buah mangga itu bersama dengan Luna dan Dave. Jarvish dan Dave memakan buah mangga yang matang dan Luna yang masih mentah. Mangga harum manis itu membawa keharuman dan rasa manis di keluarga kecilnya Jarvish pagi ini.


Luna menatap kedua jagoannya sambil mengusap perutnya dan dengan senyum hangat dia bergumam, " Terima kasih, Tuhan untuk kebahagiaan yang akhirnya Engkau ijinkan untuk saya miliki"