Memories Of Love

Memories Of Love
Tamparan



Joshua langsung menutupi baju basah Luna dengan jasnya lalu membantu wanita itu untuk bangkit berdiri sambil berkata, "Kamu harus segera ganti baju"


Jarvish refleks menahan lengan bawahnya Joshua sambil berkata, "Dia belum menjawab pertanyaanku"


Joshua menepis tangan Jarvish dan langsung melangkah lebar meninggalkan Jarvish sambil merangkul bahu Luna.


Papanya Joshua langsung menggendong Dave sambil berkata, "Dave nonton film kartun sama Opa dulu, yuk!"


"Hmm" Sahut Dave sembari memberikan senyum manisnya ke opa barunya.


Mamanya Jarvish langsung membantu putra tunggalnya untuk bangkit berdiri dan dengan kasar Jarvish menepis tangan mamanya sambil berkata, "Aku tidak perlu bantuan Mama. Aku bisa berdiri sendiri" Lalu, pria tampan itu pergi begitu saja meninggalkan mamanya dan Laura.


Mamanya Jarvish sontak menoleh ke Laura, lalu mamanya Jarvish menatap punggung putra tunggalnya yang semakin menjauh sambil berteriak, "Jarvish! Kau tinggalkan Laura sendirian, nih!"


Laura langung berkata, "Makasih Tante sudah kasih napas buatan ke saya"


Mamanya Jarvish menoleh ke Laura dan dengan senyum manisnya, wanita cantik yang sudah berumur lima puluh lima tahun itu kemudian berkata, "Ah! Iya, sama-sama. Ayo kita pergi ke kamar Tante. Kamu harus segera ganti baju. Tante rasa baju Tante muat untuk kamu"


"Terima kasih, Tante" Laura tersenyum tulus ke mamanya Jarvish.


Jarvish mengambil baju olahraga yang bersih yang selalu ia sediakan di bagasi mobilnya dan berganti baju di toilet yang ada di ruang tamu. Jarvish mau berganti baju di kamarnya. Bagi Jarvish, kamar dia yang ada di rumah papanya Joshua adalah kamar yang penuh dengan kenangan buruk untuk itulah dia enggan masuk ke sana walaupun hanya untuk sekadar berganti baju.


Joshua membawa Luna ke kamar almarhum mamanya. Pria tampan berkacamata itu membawa Luna masuk ke kamar tersebut sambil berkata, "Ini kamar almarhum Mamaku dan......"


"Jadi, Kamu dan Jarvish bukan saudara kandung?" Luna langsung menyemburkan tanya.


"Bukan. Papaku selingkuh dengan sekeretaris pribadinya dan itu adalah Mamanya Jarvish di saat Mamaku koma di rumah sakit karena penyakit kanker otak. Setelah Mamaku meninggal dunia tidak lama kemudian Papaku menikahi Mamanya Jarvish"


"Oh" Sahut Luna dengan wajah prihatin.


"Cepatlah bersihkan diri dan ganti baju. Mamaku memiliki postur tubuh yang sama denganmu. Baju-bajunya pasti muat di tubuh kamu. Pilihlah sendiri! Aku tunggu di ruang keluarga"


"Baiklah. Terima kasih" Sahut Luna.


Di kamar mandi, barulah Luna menyadari ada luka di lututnya. "Pantes aja terasa perih ternyata lututku lecet"


Jarvish bergumam, "Aku lihat lutut wanita tadi lecet. Aku ambilkan plester aja sekalian" Setelah meletakkan baju basahnya di bagasi, Pria itu mengambil plester luka untuk Luna Aditya.


"Nggak usah aja. Nanti dia salah sangka sama aku kalau aku kasih plester luka ini" Jarvish memasukkan kembali plester luka di tempatnya.


Namun, di detik berikutnya Jarvish kembali mengambil plester itu sambil bergumam, "Ini demi kemanusiaan. Hanya balas budi. Dia sudah menyelamatkan nyawaku. Kalau aku kasih plester ini aku rasa wajar-wajar aja" Jarvish kemudian menutup bagasi mobilnya lalu bergegas masuk ke dalam rumah papanya Joshua untuk mencari keberadaannya Luna.


Mamanya Jarvish berkata ke Laura setelah Laura selesai membersihkan diri dan berganti baju, "Wah! Beneran ada yang cocok baju Tante di badan kamu. Kamu sangat cantik. Pantas saja Jarvish peduli banget sama kamu" Mamanya Jarvish mengusap lembut rambutnya Laura.


Laura tersipu malu dan berkata, "Terima kasih atas pujiannya, Tante"


"Kamu tiduran dulu di kamar ini. Tante akan suruh pelayannya Tante untuk membuatkan teh jahe buat kamu"


"Terima kasih Tante" Laura tersenyum ramah ke mamanya Jarvish.


Setelah menyuruh chef di rumahnya untuk membuat satu cangkir teh jahe, Mamanya Jarvish keluar dari dapur dan langsung menuju ke kamar almarhum mamanya sambil bergumam, "Wanita tidak tahu malu itu pasti dibawa sama Joshua ke kamar almarhum Mamanya. Aku perlu bicara empat mata dengan wanita tidak tahu malu itu"


"Ke mana Joshua membawa wanita itu? Apa mungkin Joshua membawanya ke kamar almarhum Mamanya?" Gumam Jarvish sembari membelokan dirinya ke kamar almarhum mamanya Joshua.


Sementara itu, Joshua tengah asik menemani Dave menonton kartun di ruang keluarga di saat papanya diharuskan pergi ke kantor pusat.


Luna keluar dari dalam kamar almarhum mamanya Joshua dan dikejutkan dengan tamparan keras di pipi kirinya.


Mamanya Jarvish langsung mendelik ke Luna dan berkata, "Kau ular Beludak yang tidak tahu malu. Kau merayu anakku dan saat kau sudah dapatkan uang dan anak dari Jarvish, kau ganti merayu Joshua. Apa masih kurang uang yang diberikan Jarvish padamu, hah?! Aku akan segera mendesak Jarvish untuk mengambil Dave cucuku dari wanita tidak tahu malu seperti kamu ini. Dave nggak boleh dibesarkan oleh wanita menjijikkan macam kamu ini!"


Luna menatap mamanya Jarvish dengan sorot mata tajam. Dia memberikan sorot mata tajam ke mamanya Jarvish karena ia ingin menyangkal semua yang dikatakan oleh mamanya Jarvish, namun dia tidak tahu harus memulainya darimana.


Plak! Tamparan kembali mendarat di pipi Luna dan seketika itu suara Jarvish menggelegar kencang, "Mama! Kenapa Mama menampar Luna?!"


Jarvish refleks menangkup pipi Luna yang di sebelah kiri dan Luna refleks menepis tangan Jarvish sambil mundur ke belakang satu langkah tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Jarvish langsung berkata, "Maaf aku refleks menyentuh pipi kamu" Pria itu langsung berdiri di tegah dan memunggungi mamanya.


"Jarvish! Kenapa.kau halangi Mama mendidik wanita itu, hah?! Minggir Jarvish!"


Namun Jarvish bergeming.


Luna hanya menatap Jarvish dalam diam.


Jarvish langsung berkata, "Ini plester untuk luka kamu dan pergilah! Joshua ada di rumah keluarga bersama Dave"


Luna menerima plester yang diberikan Jarvish dengan masih mematung kebingungan.


"Kenapa malah diam? Pergilah!"


Luna langsung berbalik badan dan pergi.


Jarvish dengan pelan berputar badan dan saat ia berhadapan dengan wajah kesal mamanya, pria itu langsung berkata, "Dia Mamanya Dave, Ma. Dia juga telah menyelamatkan nyawaku. Kenapa Mama menamparnya?"


"Karena dia wanita yang tidak tahu malu. Dia punya anak dari kamu tapi menggoda Joshua dan berpacaran dengan Joshua. Dia juga tanpa malu mencium bibir kamu di tepi kolam renang tadi"


"Dia tidak menciumku, Ma. Dia memberikan napas buatan"


"Tetap saja dia tidak tahu malu. Mama muak dengan wanita seperti itu dan ......"


"Bagiamana dengan Mama sendiri? Mama tidak muak dengan diri Mama sendiri saat Mama menggoda Papanya Joshua dan meninggalkan Papaku, meninggalkan aku begitu saja, hah?!"


Plak! Tamparan keras mendarat di pipi Jarvish.


"Mama hanya pandai menampar" Jarvish menyeringai kesal dan pergi begitu saja meninggalkan mamanya.


Jarvish muncul di ruang keluarga dan langsung menggendong Dave sambil berkata, "Kita pulang sekarang, Nak. Papa capek"


Dave berkata, "Baik, Pa" Lalu, anak kecil yang sangat tampan itu tersenyum sambil melambaikan tangan mungilnya ke Luna dan Joshua.


Di tengah perjalanan, Dave nyeletuk, "Pa, Papa melupakan dua hal penting"


"Apa itu?" Tanya Jarvish sambil menoleh sekilas ke Dave.


"Papa tidak mengajak Tante Laura pulang"


"Ah! Iya kamu benar. Biarkan saja. Dia udah gede, dia bisa pulang sendiri. Tanggung kalau mau putar balik" Sahut Jarvish dengan santainya. "Lalu, hal penting yang kedua apa?"


Dave kemudian berkata, "Yang kedua, Papa janji anter Dave ke apartemennya Mama untuk kasih kartu ucapan dan cokelat ke Mama"


"Oke, kita ke sana"


"Katanya tanggung putar balik, kok, ini Papa putar balik?"


"Kalau demi kamu, nggak ada kata tanggung" Sahut Jarvish sambil mengusap kepalanya Dave dengan penuh kasih sayang.


Dave tersenyum bahagia menatap papanya dari arah samping.


Jarvish dan Dave menuju ke apartemennya Luna.