Memories Of Love

Memories Of Love
Putus



Setelah merasa tenang, Luna melepaskan diri dari pelukannya Joshua dan berkata, "Terima kasih sudah kasih dukungan dan memberiku semangat, Mas. Aku akan menyiapkan riang meeting"


Joshua mengusap puncak kepala Luna dengan sorot mata penuh cinta dan senyum tampan.


Laura masih asyik berduaan dengan kekasihnya yang adalah seorang mode ternama. Model pria itu lebih muda tiga tahun. dari Laura dan sangat tergila-gila pada Laura. Bagi mode pria itu, Laura adalah wanita yang paling cantik, paling seksi, dan paling segalanya di dunia ini.


Laura dan model pria itu berkenalan di sebuah acara fashion show yang sering Laura datangi dan acara fashion show tersebut adalah debut perdana bagi model pria itu.


Dan di sanalah mereka kemudian mulai berkencan, menjadi dekat dan berhubungan layak suami istri padahal mereka berdua belum terikat ikatan pernikahan yang suci. Sebenarnya Laura bukan hanya mengkhianati Jarvish. Namun, dia juga mengkhianati model pria itu. Diam-diam Laura menjalin hubungan dengan dua orang pria tampan super keren dan dia menikmati kegilaannya itu karena Jarvish dan model pria itu tidak tahu kalau mereka Laura duakan.


Sementara itu di tengah lalu lalang kendaraan bermotor baik roda dua maupun roda empat, tampak dua orang yang masih asyik mengobrol di tengah laju mobil. Mereka berdua adalah Jarvish dan Surya.


"Aku sudah menang satu langkah dari Joshua. Luna besok adalah sekretaris pribadiku bukan sekretaris pribadinya Joshua lagi"


"Ah! Anda hebat, Tuan"


"Satu lagi"


"Apa itu, Tuan?"


"Setelah ini, aku benar-benar akan berhenti bermain dengan wanita. Aku tidak akan lagi berkencan dengan wanita karena aku ingin fokus pada Luna"


"Bukankah Anda sudah tobat berkencan dengan banyak wanita saat Anda memutuskan untuk berpacaran dengan Nona Laura, Tuan?"


"Ah, iya! Benar juga, ya. Kenapa aku bisa lupa?"


Surya kembali menghela napas panjang.


"Anda juga akan memutuskan untuk berhenti merokok, Tuan?"


"Hmm. Aku sudah buang semua rokokku. Kalau itu demi Dave. Dave tidak suka sama asal rokok. Kalau kena asap rokok dia batuk"


"Apa Anda pernah merokok di depan Tuan muda, Tuan?"


"Belum"


"Lalu kapan Tuan muda batuk-batuk terkena asap rokok?"


"Waktu Laura masuk ke ruanganku dan dia lupa belum mematikan rokoknya"


"Hah?! Nona Laura merokok?"


"Hmm. Aku juga kaget waktu itu. Pas aku tanya, ia bilang kalau dia lagi banyak tekanan di pekerjaannya, jadi ia merokok"


"Ternyata dia bukan orang baik seperti yang saya kira selama ini"


"Hmm. Waktu bisa merubah seseorang. Dia baik waktu kecil. Tapi, ia sudah berubah sekarang. Banyak berubah"


"Saya kira Anda berhenti merokok karena Nyonya muda, Tuan" Ucap Surya kemudian sambil membelokkan kemudi.


"Apa Luna tidak suka dengan asap rokok?"


"Lho, saya tidak tahu, Tuan"


"Bagus kalau kamu jawab tidak tahu. Kalau kamu jawab tahu, aku akan desak kamu dengan pertanyaan yang lebih rumit karena aku curiga kalau kamu punya hubungan spesial dengan Luna secara sembunyi-sembunyi"


"Jawaban saya berarti pas lagi, dong, Tuan?"


"Hmm"


"Kalau gitu, saya akan dapat bonus lagi, dong, Tuan?"


"Maaf Tuan, ya, namanya juga usaha siapa tahu dikasih lagi, hehehehehe"


Jarvish menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kamu sudah siapkan meja dan peralatan kerja seperti laptop dan peralatan tulis untuk Luna besok, kan?"


"Sudah Tuan"


"Bagus"


Beberapa saat kemudian keheningan terjadi. Jarvish dan Surya tidak lagi saling mengobrol. Surya kehabisan bahan obrolan dan Jarvish terlalu capek hari ini.


Surya memarkirkan mobil di luar lobi hotel ya Laura saya permintaan Jarvish dan Jarvish melangkah keluar dari dalam mobil disusul Surya dengan langkah santai tanpa beban. Jarvish memang tidak pernah mencintai Laura dan di saat ia akan memergoki perselingkuhannya Laura, menangkap basah pengkhianatan Laura atas kepercayaan yang Jarvish berikan selama ini. Untuk itulah Jarvish merasa santai dan tanpa beban saat ini.


Jarvish berdiri di depan meja resepsionis dan langsung berkata, "Aku minta kunci kamar 807"


"Maaf, Tuan. Itu kamar pribadi Presdir kami, Nona Laura. Bukan kamar untuk tamu"


"Kau tidak kenal aku?"


"Tidak"


"Berikan kunci cadangan kamar 807 padaku sekarang juga maka aku akan berikan posisi manajer di hotelku" Jarvish meletakkan kartu namanya di meja resepsionis.


"Tapi, Tuan. Kita tidak tahu pendidikannya. Kenapa tiba-tiba jadi manajer dan........."


"Ini Tuan kuncinya" Petugas resepsionis itu langsung menyerahkan kunci cadangan 807 dan Jarvish langsung menoleh ke Surya, "Urus perekrutannya sekarang juga dan besok dia sudah bisa jadi manajer di hotelku"


Surya hanya bisa menghela napas panjang dan berkata, "Baik, Tuan"


Jarvish masuk ke dalam lift memnecet tombol nomer delapan lalu pria tampan itu melamun sambil bergumam di dalam hatinya, Luna maafkan aku. Aku ceroboh, aku tidak bertanggung jawab kala itu dan membuatmu harus menanggung banyak kesulitan. Kamu wanita hebat. Seharusnya kamu menjadi tulung rusuk, tetapi menjadi tulang punggung. Melahirkan, mendidik dan membesarkan Dave sendirian. Setelah masalahku dengan Laura selesai, aku akan belajar untuk mencintaimu.


Ting! Lamunan Jarvish buyar saat pintu lift terbuka.


Jarvish melangkah keluar dari dalam lift dan belok ke kanan. Kamar 807 berada di ujung selasar. Pria tampan itu akhirnya berdiri di depan pintu kamar 807 dan berharap menemukan kebersamaan Laura dengan model pria itu.


Jarvish menempelkan chip card ke bawah handle pintu dan terbukalah pintu kamar 807 itu. Jarvish melangkah pelan di atas lantai yang berselimutkan karpet bulu tebal berwarna cokelat muda.


Sayup-sayup Jarvish mendengar suara pria dan wanita bersendau gurau dan cekikikan.


Laura langsung mendorong pria muda yang tengah bergerak penuh hasrat di atas tubuhnya saat ia melihat Jarvish berdiri di depan ranjang ambil bersedekap dan menyeringai.


Model pria itu terjengkang di atas lantai dan langsung bangkit berdiri untuk menyemburkan, "Kenapa kau mendorongku sampai jatuh, Sayang? Apa salahku? Apa aku bermain terlalu kasar?"


Laura langsung membelitkan selimut untuk menutupi tubuh polosnya sambil berteriak ke model pria itu, "Diam! Kau diam saja!" Lalu, Laura melompat turun untuk memeluk Jarvish dan berkata, "Ini tidak seperti yang kamu sangka Jarvish. Dia bukan siapa-siapa bagiku"


Model pria itu langsung menarik celana kolornya untuk ia pakai dengan cepat saat ia melihat ada seorang pria di dalam kamar itu selain dirinya sambil menyemburkan, "Hei! Laura! Kita sudah berhubungan cukup lama dan kau bilang aku bukan siapa-siapa bagi kamu? Lalu, siapa kamu? Kenapa kamu bisa masuk ke kamar pribadinya Laura?"


Jarvish menyeringai ke model pria sambil mendorong kasar Laura, "Dia bukan siapa-siapa bagiku"


"Jarvish! Jangan bilang begitu! Aku hanya mencintaimu dan dia bukan siapa-siapa bagiku"


Jarvish melangkah mundur dan menghindar saat Laura ingin memeluknya kembali sambil berucap, "Aku bersyukur bisa memutuskan hubungan kita di saat belum ada cinta untuk kamu di hatiku. Jangan temui aku lagi!" Jarvish kemudian berputar badan dan melangkah lebar meninggalkan Laura.


"Tidak!!!! Jarvish, jangan tinggalkan aku!!!!!"


Jarvish kembali pulang ke rumahnya dan tidur memeluk tubuh mungil putra tunggal kesayangannya dengan hati lega.


Keesokan harinya, setelah mengantarkan Dave ke sekolah, pria tampan itu bergegas ke kantornya. Dia ingin segera bertemu dengan Luna Aditya. Jarvish menunggu kedatangan Luna dengan tidak sabar. Dia mengetuk-ngetukkan jari jemarinya di atas meja sambil bergumam lirih, "Kenapa dia belum datang juga?"