
Jarvish dan Joshua saling menatap dengan sorot mata tajam. Luna yang bahunya masih dirangkul oleh Joshua seketika merasa canggung berada di tengah-tengah kakak beradik yang tampak tidak akur itu.
Tiba-tiba Laura datang dan langsung bertanya, "Ada apa ini? Kenapa kalian tegang begini? Ayo dansa!" Laura melingkarkan tangannya di lengan atasnya Jarvish dan Luna refleks menatap tangan wanita cantik dengan balutan dress berwana silver itu.
Jarvish diam membisu dan mematung.
"Aku akan berdansa dengan Joshua dulu kalau gitu. Dansa ini, kan, dansa bertukar pasangan, jadi aku akan dansa dulu dengan Joshua setelah itu aku akan bertukar pasangan dengan Jarvish dan bisa berdansa lama dengan Jarvish. Ayok, Jo!" Laura langsung menarik pergelangan tangan Joshua.
Joshua melepas bahu Luna dan berkata, "Ayo ikut dansa biar aku bisa gantian pasangan dengan kamu"
"Pergilah, Mas! Aku tunggu di sini saja. Aku nggak bisa dansa"
"Kalau gitu, aku......."
"Ayo!" Laura terus menarik Joshua ke tengah lantai dansa dan dengan sangat terpaksa Joshua berdansa dengan Laura, namun pandangan Joshua terus terarah ke Luna.
Luna berdiri mematung di depan Jarvish.
Jarvish menyeringai, "Kau berharap aku ajak dansa, ya?"
Luna dengan cepat menggelengkan kepalanya dan berkata, "Aku tidak bisa berdansa"
"Kau tidak punya moral ternyata dan ini bisa aku jadikan senjata untuk menyerangmu di pengadilan nanti" Jarvish menyipitkan kelopak matanya dan berkata dengan nada sinis.
"Apa maksud kamu?"
"Kau pakai baju seksi dan datang ke pesta kaum eksekutif ini tanpa mengajak Dave. Kau mencari mangsa baru lagi, ya? Setelah berhasil mendapatkan anak dariku, lalu kamu mendekati dan menggoda Felix Setiawan di saat Joshua tidak berada di sampingmu. Cih! Dasar wanita menjijikkan"
Dan sebelum Luna sempat membalas ucapannya Jarvish, pemuda itu berbalik badan dan pergi meninggalkan Luna begitu saja.
Luna hanya bisa menghela napas panjang saat punggungnya Jarvish semakin jauh dan akhirnya menghilang dari pandangannya.
Luna kemudian berputar badan dan memilih untuk berjalan ke taman. Ucapan Jarvish membuat Luna duduk termenung di bangku taman yang menghadap ke kolam renang. Wanita itu kemudian membawa angannya kembali ke masa lalu dan ia menjadi lupa untuk mengisi perutnya yang kosong dan belum sempat diisi sejak siang.
Tiba-tiba Luna merintih kesakitan dan membungkukkan badan, "Aduh! perutku kenapa sakit sekali. Sepertinya asam lambungku kumat. Ah, iya benar. Aku belum makan ajak siang tadi"
Joshua langsung berlari saat ia melihat Luna membungkuk dan tampak kesakitan. Pria tampan berkacamata itu langsung berjongkok dan memeluk tubuh Luna untuk bertanya, "Sayang, kamu kenapa?"
Jarvish mengikuti arah laju larinya Joshua saat ia melihat kakak tirinya itu berlari kencang meninggalkan lantai dansa. Dari tempat Jarvish berdiri, Joshua tampak sedang berciuman dengan Luna. Seketika Jarvish merasa kesal tanpa ia tahu apa alasannya. Hatinya merasa gusar tanpa sebab yang jelas.
"Perutku sakit banget. Sepertinya asam lambungku naik. Aku lupa makan sejak siang tadi"
"Astaga! Kenapa bisa sampai lupa makan. Aku akan ambilkan air hangat dulu biar perut kamu enakan, lalu kita pulang, ya?"
Luna menyahut lemah, "Iya"
Saat Jarvish melihat Joshua bangkit berdiri dan meninggalkan Luna sendirian, Jarvish melangkah lebar untuk mendekati Luna. Saat pria tampan berwajah dingin itu berdiri menjulang di depan Luna, ia langsung berucap, "Kalau Dave melihat kelakuan Mamanya yang murahan kayak gini, dia pasti dengan rela hati ikut aku"
Luna terkejut dan langsung menegakkan badan lalu bangkit berdiri dengan lemas. Luna melangkah menjauhi Jarvish karena ia merasa malas mendengar dan ucapan pedas pria tampan berwajah dingin itu.
Namun, Jarvish berhasil memegang lengan atasnya Luna untuk menahan langkahnya Luna dan berkata, "Kau bahkan tidak punya malu berciuman dengan Joshua di tempat terbuka seperti ini, cih!"
Luna menoleh tajam ke Jarvish dan langsung menyemburkan, "Siapa yang berciuman?"
"Kau benar-benar wanita yang tidak bermoral dan menjijikkan. Dave pasti malu punya Mama seperti kamu, cih!"
Luna langsung menarik keras lengannya dari cengkeraman tangan pria tampan berwajah dingin itu dan tanpa sengaja lambaian tangannya mengenai gelas yang di bawa oleh Joshua.
Prang! Gelas itu terjauh di tanah dan pecah.
Saat mendengar suara gelas pecah, Luna sontak berputar badan dan gerakannya Luna itu membuat Luna hampir terjatuh.
Joshua langsung memeluk Luna dan Jarvish menarik kembali tangannya dan memasukkan tangannya ke saku celananya sambil mengumpat di dalam hati, sial! Kenapa juga aku ingin menangkap dia agar dia tidak jatuh?
"Apa yang kau katakan ke Luna?"
Di saat Joshua hendak mendaratkan bogem mentah di wajah Jarvish, Luna langsung menahan dada Joshua dan berkata, "Bawa saja aku pergi dari sini. Perutku semakin sakit dan aku pusing banget saat ini"
Joshua langsung membopong tubuh Luna dan membawa Luna pergi.
Hati jArvish semakin gusar melihat Joshua membopong Luna dan saat lengannya dicekal, pria tampan itu sontak menarik lengannya dan berteriak, "Lepaskan aku!"
Laura sontak mengerutkan keningnya dan bertanya dengan nada lembur, "Sayang, ini aku. Kau kenapa gusar begini? Apa yang baru saja terjadi? Kenapa ada pecahan gelas dan......"
"Berisik!" Jarvish langsung melangkah lebar meninggalkan Laura.
Laura tersentak kaget dan langsung berlari kecil menyusul langkah lebarnya Jarvish.
"Hei! Jarvish, kau kenapa? Apa salahku?" Laura langsung maju ke depan dan menahan langkah Jarvish.
Jarvish sontak mendelik ke Laura dan menggeramkan kata, "Minggir!"
Laura masih menempatkan telapak tangan kanannya di dada Jarvish. Kemudian wanita cantik itu tersenyum,."Oh, aku tahu! Kamu cemburu, ya? Aku berdansa dengan Joshua tadi. Maafkan aku, Sayang, aku tidak........"
"Siapa yang cemburu? Cemburu dan cinta tidak ada di dalam kamus hidupku!" Ucap Jarvish sembari menepis kasar tangan Laura.
"Lalu, kenapa kamu gusar seperti ini?"
"Entahlah. Aku sendiri juga nggak tahu kenapa hatiku jadi gusar dan rasanya sangat tidak enak seperti ini"
"Kamu sakit?"
"Aku baik-baik saja. Ayo kita pulang!"
"Tapi, acaranya belum selesai dan aku masih ingin......"
"Kau aku tinggal kalau gitu. Aku akan pulang" Jarvish langsung berjalan melintasi Laura dan pergi meninggalkan Laura begitu saja.
Brian berkata ke Laura sebelum ia menyusul tuannya, "Supir perusahaan sudah saya suruh ke sini untuk menjemput Anda di sini dan mengantarkan Anda pulang"
Laura hanya bisa menghela napas panjang dan berdiri di tempatnya dengan bersedekap. "Baiklah Jarvish. Aku akan bersabar untuk membuatmu jatuh cinta padaku" Gumam wanita itu kemudian.
"Kita ke mana, Tuan?"
"Ke rumah pengacara Satya. Pengacara Felix Setiawan sudah jatuh ke tangan wanita penggoda itu"
"Wanita penggoda? Siapa maksud Tuan?"
"Siapa lagi kalau bukan Luna Aditya. Cih! Aku benci wanita itu dan aku semakin membencinya saat tahu kalau dia sudah berhasil merayu Joshua. Berapa banyak lagi pria yang akan dia goda dan rayu ke depannya. Aku sungguh tidak sabar menjauhkan Dave dari wanita itu. Dia tidak pantas menjadi Mamanya Dave"
"Apa benar Nyonya Luna Aditya wanita yang seperti itu, Tuan? Saya rasa Anda salah dan......."
"Kau berani meragukan penilaianku sekarang?" Jarvish langsung berteriak kencang dari jok belakang.
Brian yang tengah mengemudi langsung berkata, "Maafkan saya, Tuan"
Jarvish tidak bisa tidur sama sekali malam itu. Dia sangat merindukan Dave. Jarvish beberapa kali berguling-guling di atas ranjang mewahnya saat bayangan Luna dirangkul dan dibopong oleh Joshua menari-nari di dalam benaknya. "Sial! Kenapa aku jadi seperti ini?"
Keesokan harinya, Joshua bersikeras mendampingi Luna di pengadilan. Penolakan Luna dengan berbagai alasan, tidak membuat Joshua menyurutkan tekadnya untuk mendampingi Luna di pengadilan. Selain mengkhawatirkan keselamatannya Luna, ia juga penasaran seperti apa papa kandungnya Dave.
Sebelum berangkat, Joshua mengajak Luna berdoa dan setelah kata mengucapkan kata amin, Joshua memegang kedua bahu Luna, mencium kening Luna dan berkata, "Felix pasti bisa memenangkan kasus ini. Tenang dan jangan takut!"
"Baik, Mas. Terima kasih untuk supportnya" Luna tersenyum ke Joshua.
Kemudian Luna melangkah maju ke depan untuk duduk di sebelah pengacara yang bernama Felix Setiawan.
Felix Setiawan tersenyum ramah ke Luna yang duduk di sebelahnya. Luna hanya mampu menganggukkan kepala ke pengacara muda dan tampan itu karena ia merasa sangat tegang sebab baru pertama kalinya bagi Luna masuk ke ruang pengadilan.
Ketika Jarvish Benjamin melangkah memasuki ruang sidang dan duduk di sebelah pengacara yang bernama Satya, Joshua tersentak kaget dan langsung bangkit berdiri. Sedangkan Jarvish mengabaikan keberadaannya Joshua dan Luna langsung menunduk untuk berdoa semoga tidak ada keributan di antara Joshua dan Jarvish.